Jauh Jauh Ngopi ke Yogya


Jalan Jalan / Sunday, July 21st, 2019

Kamu kamu penikmat kereta saat ini, mungkin kamu belum pernah ngerasain kereta jaman dulu. Iya, nggak dulu-dulu banget sih, sekitar 10-15 tahunan yang lalu (*ketauan tua banget ya, gw..). Saat itu, kalau naik kereta ekonomi dari Stasiun Pasar Senen dimungkinkan sekali kamu bisa satu gerbong dengan kangkung dan sayur mayur lainnya. Belum lagi banyak orang tidur di lorong. Selain nggak nyaman, Aduh, bener-bener malu-maluin kalau ada turis asing.

Beda banget dengan sepuluh tahun terakhir, kereta api Indonesia sungguh sungguh berbenah. Pelan tapi pasti semua stasiun dibenahi. Nyaman, aman dan hampir tidak ada lagi kesan kumuh khas negara terbelakang. Tidak ada lagi namanya kereta ekonomi yang jadi simbol kemiskinan. Kereta ekonomi pun sekarag bersih, ber AC dan nyaman. Apalagi sekarang bisa pesan online. Yes banget! Kalau dulu hanya bisa lewat web PT KAI, sekarang beberapa travel agen online pun sudah membuka penjulan tiket kereta online. Salah satunya Pegipegi. Com. Terus terang, dari dulu saya sering cari hotel di Pegipegi karena harganya lebih miring dari travel agent online lain. Silakan buktikan sendiri, deh.. Nah, pas tau tiket kereta api juga bisa dibeli melalui Pegipegi, rasanya komplit banget deh! Makin bangga kan jadi warga +62…

Oya… catatan nih, kalau mau naik kereta, usahakan jangan beli mendadak, karena ada komunitas pekerja Jakarta asal Yogya yang menamakan diri PJKA (Pergi Jumat Pulang Ahad), yang pasti memenuhi gerbong kereta di akhir pekan. 

Saya terakhir naik kereta jarak jauh ke Yogyakarta. Entah kenapa, Yogya adalah salah satu kota yang membuat saya merasa “hommey”. Entah mungkin karena saya memang numpang lahir disana atau karena Yogya selalu menawarkan kedamaian yang membuat waktu seolah berjalan perlahan.

Saya menumpang kereta malam dari Stasiun Gambir pukul 22.00 dan tiba di Stasiun Tugu pukul 04.00. Nggak berasa, karena kita bisa tidur dengan enak sepanjang perjalanan. Saat tiket pesawat mahal banget beberapa waktu belakangan, kereta benar-benar jadi alternatif yang tepat. Dihitung-hitung waktu ke bandara, menunggu boarding kurang lebih sama deh dengan perjalanan dengan kereta. Enaknya lagi, stasiun Tugu kan berada di pusat kota, jadi nggak perlu rempong cari kendaraan seperti jika kita mendarat di bandara Adi Sucipto.

Selepas menyimpan koper, tujuan pertama saya di Yogya adalah Malioboro. Saya memang doyan banget hunting batik  dan aksesori murah. Lumayan bisa dapet celana batik adem yang modis hanya 50 ribu saja. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan makan gudeg. Nah, kali terakhir saya ke Yogya, aktivitasnya bertambah, apalagi kalau bukan ngopi. Ini gara-gara tahun 2017, film Ada Apa dengan Cinta syuting di salah satu warung kopi di daerah Prawirotaman. Sellie Kopi namanya. Seingat saya kopi-nya masih di-brew manual, tepatnya agak sempit dengan pencahayaan yang diatur remang-remang. Pas buat ngobrol santai. Tidak disarankan kesini membawa gadget buat kerja, tempatnya memang buat bercengkerama.

Prawirotaman bisa dibilang pusatnya warung kopi di Yogya. Disini penginapannya juga murah-murah, makanan pun terjangkau, tempat nongkrong dekat-dekat. Nggak heran banyak bule backpacker betah berlama-lama disini.

Yang paling unik, saya sempat main ke Klinik Kopi. Tempatnya di daerah Kaliurang dan agak blusukan. Saya bolak-balik dengan abang ojek online, nyaris nggak ketemu. Uniknya, cara pesannya bukan dengan daftar menu, tetapi dengan memberi nomer antrian sebagai nomer konsultasi tentang kopi. Persis seperti klinik dokter. Meski tempatnya jauh dan nyarinya susah, ternyata antriannya ramai, gaes! Buat kamu yang sukanya kopi sachet yang manis dan creamy, siap-siap aja di klinik kopi kita “dipaksa” minum kopi hitam secara utuh yang memang terasa mirip wine.

Jadi sekarang Yogya bukan hanya wisata budaya, tapi sudah jadi wisata kopi. Ikutan dong kalau mau ke Yogya!

 

 

(Visited 40 times, 3 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *