Vaksin di Amerika? Bisa!


Obrolan / Monday, May 24th, 2021

Keberangkatan ke Amerika tahun ini, bisa jadi yang memiliki persiapan paling rempong selama ini. Gara-gara apalagi kalau bukan pandemi. Tahun lalu, Amerika nyaris ditutup total, kalaupun bisa masuk, syaratnya ribet termasuk harus karantina yang bayar sendiri. Setahun setelah pandemi hadir, semua sudah lebih ringan. Tidak ada lagi karantina dan macam-macam test setelah ketibaan.

Walaupun Amerika-nya sendiri hampir tidak mensyaratkan apa-apa untuk masuk ke negaranya, tetapi maskapai yang saya tumpangi (Qatar Airways) mewajibkan seluruh penumpang menunjukkan hasil PCR negatif yang tes-nya dilakukan maksimal 72 jam sebelum keberangkatan.

Nah, karena aktivitas yang makin padat menjelang keberangkatan, saya tidak mau mengambil risiko. Banyak kejadian para OTG, yang tau-tau aja positif. Jadi, untuk antisipasi saya melakukan tes antigen seminggu sekali. Yah, incase kalo ada apa-apa, saya masih bisa recovery sebelum berangkat. Tepat satu minggu sebelum keberangkatan, salah satu staf di kantor dinyatakan positif. Duh, mau nggak mau saya harus PCR karena memang sehari sebelumnya melakukan kontak langsung, Masa 1×24 jam menunggu hasil PCR ternyata sangat mendebarkan. Alhamdulillah hasilnya negatif. Nah, menjelang keberangkatan,  saya tetap harus tes lagi, karena PCR pertama sudah lewat masa berlakunya. Thank God, semua lancar dan saya pun bisa berangkat tanpa kendala.

Fakta, di Indonesia saya tidak masuk golongan mana pun yang harus diprioritaskan, baik dari sisi usia maupun profesi. Menunggu giliran pun, nggak jelas deh giliran saya (kita) kapan. Ya sudah, saya bertekad mencari informasi agar bisa divaksin di Amerika, negara produsen vaksin covid 19 terbesar di dunia.

Keluarga saya disini, satu rumah seluruhnya sudah selesai vaksin sejak April 2021. Vaksin disini pun relatif lebih mudah, dan sangat cepat. Bukan mau membandingkan dengan negara kita, tapi saat tulisan ini dibuat sudah lebih dari 40% penduduk Amerika Serikat yang divaksin, sementara di kita, belum juga sampai 4%. Ya sudah, sekali lagi bukan buat perbandingan ya! Tapi untuk menegaskan, kalau menunggu vaksin di Indonesia, kayaknya saya baru bisa dapat giliran tahun depan.

Setelah googling, memang syarat-syarat vaksin diutamakan bagi mereka yang memiliki social security number atau orang-orang yang memang menetap disini seperti pekerja dan mahasiswa. Di Amerika, jika sudah terdaftar sebagai penerima vaksin, kita tinggal membuka website masing-masing wilayah dan mencari lokasi terdekat kemudian membuat janji ketemu. Di beberapa kasus, banyak juga dilakukan vaksinasi massal dengan syarat membawa ID dan social security number.

Singkat cerita, saya berhasil mendapatkan vaksin secara gratis tis,tis.

Lah, gimana? Saya kesini kan dengan visa turis biasa. Jawabannya : diplomasi. Kebetulan banget, ada kegiatan vaksinasi massal di salah satu lokasi di New York, kami pun (saya dan adik yang sudah citizen disini) berangkat kesana. Tentu saja kita diwawancara dulu sebelum vaksin dilakukan. Semua harus memiliki alasan kuat kenapa saya sebaiknya mendapat vaksin. Salah satu alasan yang mereka terima adalah, karena saya dalam masa liburan disini 1,5 bulan dan serumah dengan  orang yang seluruhnya sudah vaksin. Jadi, untuk alasan keamanan bersama, petugas pun mengijinkan. Tidak sampai hitungan menit, saya selesai divaksin.

Vaksinasi di Amerika dikelola oleh CDC  (Centers for Disease Control and Prevention). Jadi semua aturan tentang vaksin diatur oleh CDC. Di Amerika sendiri, ada 3 merek vaksin yang digunakan yaitu Pfeizer, Moderna yang dua kali dosis serta Johnson & Johnson (J&J) yang hanya 1 kali suntik. Kebetulan banget, saya dapat J&J. Keliatannya enak ya, hanya 1 kali suntik. Tapi jangan salah efek sampingnya lebih kenceng daripada dua kali suntik. Ketika divaksin saya bertanya kepada paramedis yang melakukan tindakan, tentang bagaimana dampak setelah divaksin. Dia tersenyum sambil menjentikkan ujung kukunya; yang artinya: sedikitt, nggak papa kok!

Dan ternyata, 12 jam setelah vaksinasi baru terasa, badan demam, pegal, pusing dan serba nggak enak. Saya buka web CDC, semua gejala yang saya rasakan tertera disana tapi memang hanya dua hari. Yes, bener-bener dua hari. Hari ketiga sudah benar-benar sembuh bahkan rasanya (rasanya…) lebih sehat dari yang sebelumnya. Setelah vaksin memang disarankan harus istirahat, walaupun tidak ada dampak samping. Kenapa? Karena saat vaksin masuk ke tubuh, saat itulah imun tubuh berada dalam posisi terendah. Kenapa? Karena vaksin sedang beradaptasi dengan tubuh. Namanya juga ada barang baru masuk, pasti ada yang berubah. Itulah makanya, kenapa banyak yang kena covid justru setelah divaksin.

Nah, beberapa hari terakhir ramai berita tentang wisata vaksin di Amerika. Beberapa agen perjalanan menawarkan paket perjalanan ke Amerika lengkap dengan bonus vaksin. Waktunya pun bervariasi dari 1 minggu hingga 2 minggu. Tentu saja tidak free. Ada yang menawarkan harga 9 juta vaksin saja dengan meeting point di New York, ada yg menawarkan paket beserta tiket dari Jakarta. Jujur, saya jadi bingung, jalan-jalan dengan waktu yang terbatas ditambah vaksin bukan ide yang bagus. Kecuali kalau memang habis vaksin mau stay/istirahat di hotel minimal dua hari. Lah, kalau jalan-jalannya cuma 1 minggu ?!

(Visited 752 times, 1 visits today)
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *