Ada Gus Dur di Pecinan Semarang!


Jalan Jalan / Tuesday, May 10th, 2016

Pada sebuah siang yang panas di sudut kota Semarang, saya kembali belajar tentang manisnya keberagaman. Saya sebenarnya terbiasa hidup di lingkungan multikultural. Datang dari kedua orang tua yang berbeda suku, sering berpindah-pindah tempat tinggal beda pulau, beda provinsi. Pindah kerja yang juga tidak kalah sering. Semua yang membuat saya akrab dengan perbedaan. Dan siang itu, di jalan kecil bernama Gang Lombok di sudut Pecinan Semarang, mata saya kembali terbuka bahwa perbedaan itu sejatinya menyatukan bukan memisahkan.

Seorang Ibu Guru beretnis Tionghoa mengenalkan murid-muridnya yang telah terlatih memainkan barongsai. Sekitar 10 menit kami disuguhi pertunjukan Barongsai dari murid-murid SD dan SMP Kuncup Melati di bawah Yayasan Khong Kauw Hwee. Guru-guru lain yang berhijab ikut serta memberikan semangat pada murid-muridnya. Sekolah ini memang ada di kawasan Pecinan, namun sama sekali tidak ada ekslusivitas satu golongan disini. Uniknya lagi, Yayasan menerima setiap murid dari latar belakang apapun terutama dari keluarga tidak mampu dan tidak serupiah pun iuran harus dikeluarkan oleh para siswanya.

Bersama Siswa Sekolah Kuncup Mekar Foto by : kopertraveler.id
Bersama Siswa Sekolah Kuncup Melati Foto by : www.kopertraveler.id

Tidak jauh dari sana, ada Kelenteng Tay Kak Sie. Mungkin selama ini Kelenteng di Semarang yang dikenal orang hanya Kelenteng Sam Poo Kong, tapi sebenarnya di Ibukota Jawa Tengah ini ada sekitar sembilan kelenteng, dan Tay Kak Sie ini salah satu yang tertua. Kelenteng yang dibangun 1772 ini, memang lebih kecil, tapi nafas vintage-nya sangat terasa. Ornamen merah dan naga di atapnya mengokohkan posisinya sebagai tempat ibadah. Masih satu komplek berdampingan dengan Tay Kak Sie, ada Rumah Abu, sebuah bangunan serupa kelenteng untuk meletakkan pundi-pundi abu jenazah. Disini juga ada Sin Chi (papan arwah) sebuah lempengan kayu yang bertuliskan nama mereka yang sudah dikremasi. Selain untuk didoakan, Sin Chi juga seakan mengingatkan kita bahwa kematiaan adalah hal yang paling pasti terjadi. Di Tay Kak Sie kami juga disuguhi drama dengan tarian komedi  oleh perkumpulan anak-anak muda kelenteng ini. Menarik!

Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie
Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie

Masih di Kawasan Pecinan Semarang, saya juga berkunjung ke Perkoempoelan Sosial Boen Hiang Tong (Rasadharma). Saya penasaran, katanya ada Sin Chi Gus Dur disimpan di gedung tua ini. Iya,.. Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI Ke-4.  Loh, kok bisa ? Beliau kan muslim?!  Dilala, ini adalah bentuk penghormatan warga Tionghoa di Semarang kepada Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme yang dianggap banyak memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.  Bahkan yang meletakkan Sin Chi itu, Ibu Sinta Nurriyah sendiri, loh! Saya sampai takjub, ternyata berbeda itu indah. Seperti air dan minyak yang tidak bisa bersatu, tetapi bisa hidup berdampingan.

Sin Chi Gus Dur
Sin Chi Gus Dur

Tidak itu saja, keberagaman juga ditunjukkan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Muda mudi Perkumpulan Sosial Rasadharma. Mereka bertekad melestarikan budaya Pecinan Semarang melalui sejumlah program-program positif. Sesuatu yang mungkin sudah agak langka di kota besar. Uniknya, anggota kelompok ini tidak hanya datang dari anak muda keturunan Tionghoa, tetapi siapa pun, etnis mana pun yang memiliki konsen pada budaya Semarang dan Pecinan pada khususnya. Tidak heran ketika kami berkunjung, seorang gadis muslim berhijab yang fasih berbahasa Mandarin  dan piawai memainkan alat musik Pecinan pun- turut serta.

Sebenarnya, sejarah memang berbicara bahwa akulturasi budaya Tionghoa, Islam dan Jawa sudah mendarah daging di Semarang. Kelenteng Sam Poo Kong yang sangat terkenal, menurut historinya adalah peninggalan Laksama Ceng Ho asal Tiongkok yang justru beragama Islam. Perjalanan Cheng Ho disebut-sebut sebagai ekspedisi yang menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Ketika ia akan melanjutkan perjalanan, banyak anggota rombongannya yang tetap tinggal di Semarang. Sebagian dari mereka sudah memeluk Islam dan sisanya masih beragama Konghucu. Mereka inilah yang kemudian hidup berdampingan hingga kini.

Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang
Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang

Masih dalam rangkaian kegiatan yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), malamnya saya dan teman-teman blogger menghadiri Semarang Night Carnival (SNC). Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian dari HUT Kota Semarang ke 469. Tema kali ini tetap sama; keberagaman dalam kesatuan dengan tajuk Festival Warak Ngendog. Warak Ngendog adalah hewan rekaan mistis yang menggambarkan akulturasi budaya dan sejak dulu dipercaya oleh leluhur Semarang. Kepalanya berbentuk kepala naga merupakan simbol China, badannya adalah Bouroq, simbol warga Arab/Muslim dan kakinya adalah kaki Kambing yang menjadi perlambang suku Jawa. Ketiga kelompok itulah yang mendiami Kota Semarang sejak dulu yang hingga kini tetap rukun dan damai. Usai dibuka oleh Walikota Semarang, acara dilanjutkan dengan penampilan drumband dari PIP Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang. Kemudian diikuti arak-arakan Warak Ngendog, Defile History of SNC dan diakhiri dengan defile dari Jepara Fashion Carnaval.

Semarang Night Carnival
Semarang Night Carnival

***

Di Semarang sehari merasakan indahnya perbedaan. Makin salut saya, dengan founding father negeri ini yang jauh-jauh hari sudah menjadikan Pancasila sebagai dasarnya. Sayang, kini keberagaman yang seharusnya menjadi kekayaan dan potensi dijadikan sebagian orang sebagai alat pemecah belah. Kita kurang belajar apalagi dari politik Devide Et Impera-nya Kompeni Belanda. Ayo, kembali belajar dari Semarang, belajar merasakan Indonesia yang sebenarnya!

Baca juga cerita teman-teman saya yah!

Rian, Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang
Rian, Bermain Tubing di Desa Kandri
Richo, Dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Sinyo, Trending Topik Semarang Hebat
Leo, Jelajah Malam di Lawang Sewu
Eka, Semarang Night Carnival 2016
Badai, Semarang Hebat Culinary Heritage
Danan, Dongeng Rasa di Restoran Semarang
Imama, Hantaman Jeram Kali Kreo
Farchan, Ada Tiongkok di Semarang
Wira, Photo Essay Semarang Night Carnival
Parahita, Gebyar Fantasi Warak Ngendog
Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang
Luh De, Kisah Dibalik Kuliner Semarang
Puspa, Antusiasme Masyarakat di SNC
Astin, Lepaskan Zona Nyamanmu di Sungai Kreo
Budi, Keseruan Semarang Night Carnival
Ghana, Photos Stories, Semarak SNC
Olive, Langgam SemarangHebat

 

(Visited 631 times, 1 visits today)

28 Replies to “Ada Gus Dur di Pecinan Semarang!”

  1. […] Tahun lalu saya ke Semarang, menyaksikan dari dekat bagaimana keberagamaan itu membaur menjadi bagian kehidupan masyarakatnya. Di Pohuwato, sebuah kabupaten yang ditempuh sekitar 4 jam dari Ibukota Gorontalo ada satu desa kecil yang dihuni lima agama sekaligus lengkap dengan rumah ibadahnya yang besar-besar. Atau tidak usah jauh-jauh sampai ke Indonesia Timur, coba deh perhatikan kota kalian masing-masing. Hampir semua kota di Indonesia punya daerah Pecinan yang tinggal berdampingan dengan penduduk asli. Bahkan di Aceh, -yang 99% penduduknya muslim yang taat dan peraturan Pemerintahnya dibuat dalam Syariat Islam- ada kawasan Pecinan-nya. Dan hebatnya, semua hidup aman bersama. Eniwei, di berbagai kota-kota besar di dunia daerah Pecinan adalah lokasi pariwisata unggulan, loh! […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *