Bagi yang sudah pernah ke Aceh atau setidaknya pernah membaca tentang Aceh, pasti tau budaya masyarakat Aceh yang satu ini.Apalagi kalo bukan ngupi ngupi. Mau gak mau waktu tinggal di Aceh, aku pun terikut budaya ini. Yah, selain karena emang disana minim hiburan dan keramaian, ternyata emang menyenangkan kok. Mungkin banyak yg berpikir, warung kopi hanya disambangi oleh penggemar kopi. Waduh, jangan salah!!! Warung kopi di Aceh dikunjungi oleh segala lapisan masyarakat dari yang gak doyan kopi, penggemar berat kopi, pejabat bahkan petani kecil. Apalagi pada masa jayanya pekerja kemanusiaan di Aceh,..tempat apa lagi yang lebih nikmat selain warung kopi ??

Source: http://www.gopixpic.com
Source: http://www.gopixpic.com

Jangan membayangkan deretan kursi empuk dengan ruangan full AC dan pelayanan kelas dunia bak Starbucks, Coffee Bean atau Gloria Jeans Coffee. Sama sekali beda. Dalam sebuah halaman internet, kebiasaan ngupi ngupi masyarakat Aceh ini, kalau bisa dimasukkan ke dalam Guiness Book of Record secara rata-rata laki-laki di Aceh memiliki jam duduk paling lama di warung kopi. Sekedar ilustrasi kalau laki-laki (terutama di desa) bisa menghabiskan minimal 12 jam sehari di warung kopi kalau sedang tidak meladang atau melaut, Selepas subuh sampai menjelang zuhur (5 jam), sambung lagi selepas ashar sampai menjelang magrib (3 jam) sambung lagi selepas ‘isya sampai tengah malam (4 jam). Wow..Luar Biasa bukan ??

Dari sekian banyak warung kopi di Banda Aceh khususnya, warung yang paling sering kukunjungi bersama teman-teman adalah Chek Yuke, letaknya persis di tengah kota menghadap sungai Krueng Raya dengan deretan meja kayu dan kursi plastik keras yang sebenernya gak enak didudukin lama-lama. Tapi anehnya tempat itu nyaris tidak pernah sepi… Waktu rutin kami nangkring disana biasanya setelah lewat jam 8 malam, namun sering juga menghabiskan sarapan pagi disana pada akhir pekan. Di masa ramainya para pekerja kemanusiaan di Banda Aceh, jangan heran jika satu meja harus “dibooking” dulu. Tentu bukan lewat telpon atau reservasi online ya,..melainkan mengirimkan satu orang teman lebih dengan tugas mencari meja strategis untuk dikerubungi berlama-lama,

Apa sih yang diomongin, sebenernya gak ada yang penting…paling membahas hal hal gila dari pekerjaan kita sehari-hari, rencana liburan dan yang paling seru adalah menggosipkan tingkah bos-bos di kantor. Ada aja celahnya yang bisa bikin kita ketawa hingga sakit perut sambil menunggu tengah malam tiba. Tapi buat kelompok lain, warung kopi tidak hanya tempat kongkow-kongkow, tapi juga sumber informasi, lobi lobi bisnis hingga lobi politik.

Minuman favoritku apalagi kalo bukan Sanger. Ini sebenernya sejenis kopi susu ala Aceh, tapi adonannya agak beda. Jadi kalo ke warung kopi Aceh, mau pesen Sanger yaa harus bilang sanger, jangan sampai bilang kopi susu, karena bakal beda dihidangkannya. Rasanya mantap banget, pas..baik disajikan dingin atau panas.. Jika ngopi-nya dipagi hari tentu saja sanget hangat plus nasi gurih (nasi uduk ala Aceh), nah kalo malem sanger dingin ditemani nasi kuning cumi cumi atau mi aceh dengan udang. Uhhhh..yummii banget…

Hits: 1122

Alhamdulillah..akhirnya pesawat itu landing dengan sempurna meski agak mepet ke pinggir dan nyaris ke lapangan rumput, tapi tetap smooth.. Huh… sempet terdera rasa cemas selama 20 menit terakhir. Keinget kalo aku nyaris gak pernah memperhatikan video atau pramugari yang memperagakan proses evakuasi jika terjadi apa-apa. Dimana pelampung ? dibawah kursikah? Atau di bagasi di atas kepala? Dimana pintu darurat yang kata pesawat Malaysia itu pintu “kecemasan” ? Sungguh aku nyaris cemas saat itu. Belum lagi inget dosa, inget utang piutang, inget belum karaoke minggu ini.. Huh… ah..sudah lebay..

 

Begitulah, minggu lalu ..seperti biasa karena sudah menjadi bagian dari tugas, aku kembali bertolak ke Banda Aceh. Yes ! I wanna say.. Banda Aceh is already becoming my new hometown.. Seperti biasa, aku menumpang Garuda Airlines (gak masalah nyebut merek toh??) dengan nomor penerbangan GA 142. Pesawat terlihat lengang, padahal aku seperti biasa selalu memesan kursi di koridor dengan harapan cepat ngacir ke toilet. Karena kosong, aku pun berniat jika sudah terbang, mending cari tempat duduk yang lebih lapang alias kosong melompong.

Dari rencana take off pukul 08.00 pagi sempat molor hingga 20 menit dan itu pun kelamaan di dalam pesawat. Setelah terbang nyaris 20 menit lampu seat belt tidak pernah mati!! Waduh…gue kebelet pipis!! Sementara para pramugari nampaknya masih duduk manis tak bergeming. Mendadak Om Pilot mengumumkan jika ada satu indikator pesawat yg tidak berfungsi dengan baik dan diputuskan untuk kembali ke Jakarta. Huuh… habis sudah rencana pindah kursi dan tidur sampe aceh (karena dari malamnya gak bisa tidur). Dan dibutuhkan waktu 20 menit untuk kembali mendarat. Belum terbayang kalau bakal ada sesuatu yang membahayakan mengingat nyaris tidak ada turbulensi. Namun sudah lewat 1 jam dari waktu 20 menit yang dijanjikan belum juga ada tanda-tanda akan landing. Seingatku, 2x pilot memberi instruksi “prepare for landing” dan atap bandara Soekarno Hatta (SH) sudah nampak di ujung mata, tiba tiba pesawat kembali naik..begitu terus hingga beberapa kali dan terasa sekali pesawat hanya berputar putar di atas Selat Jakarta dengan gugusan Pulau Seribu di bawahnya. Kuperhatikan wajah wajah penumpang lain, awalnya yang tampak lebih banyak raut bingung daripada cemas, seperti juga aku.

Hingga kali ketiga, akhirnya pesawat berhasil mendarat, namun menjelang detik detik pendaratan dari atas sudah terlihat deretan ambulans yang pemadan kebakaran yang mengikuti laju pesawat belum ditambah puluhan mobil siaga bandara dan puluhan crew. Tentu saja ini mengagetkan semua penumpang. Wajah cemas kembali berganti bingung dan beberapa penumpang kulihat berjabat tangan. Barisan karyawan Garuda menyambut penumpang dengan ramah dan takzim nyaris seperti tidak terjadi apa-apa bahkan terlihat dengan pelayanan yang berlebihan.

Hingga di ruang tunggu, beberapa orang karyawan Garuda (mungkin dari jajaran Public Relation-nya) mendekati penumpang satu persatu menjelaskan duduk persoalan yang terjadi.Usut punya usut, oh…ternyata salah satu ban belakang pesawat itu “ketinggalan” alias jatuh di Bandara SH sesaat sebelum take off. Keliatannya sepele memang, tapi ternyata itu sangat berpengaruh terhadap proses landing yang aman. Pesawat memang bisa saja terus terbang hingga Banda Aceh, namun dikhawatirkan terjadi sesuatu mengingat landasan Bandara disana tidak panjang. Apalagi katanya dalam keadaan seperti itu, konon pesawat tidak bisa direm karena bisa menimbulkan percikan api. Ihhh…syereemm.. Pantas saja sekitar 10 ambulans dan pemadam kebakaran sudah berjaga-jaga.

Huhh.. jadi inget awal 2007 lalu, dalam perjalanan ke Makassar, cuaca saat itu..sangat sangat buruk. Seingetku turbulensinya luar biasa kenceng, sampe sampe kuping mau berdarah kalo gak ditutup. Belum lagi kepelanting pelanting di toilet pesawat. Pilot mengambil keputusan cepat untuk mendarat di Balikpapan atau di Denpasar dan akhirnya dipilih Denpasar sebagai bandara yang paling memungkinkan. Setelah sampai Makassar, besoknya kami tahu bahwa Adam Air hilang dalama cuaca buruk itu. Alhamdulillah….aku masih diselamatkan meski harus pake mampir di Bali (tanpa jalan jalan).

 

 

Hits: 1760

Ini adalah puasa pertama di haribaan Bogor tercinta, setelah dua tahun sebelumnya hampir full menjalani puasa di Tanah Rencong. Ada yang beda? Pasti.. Di Bogor, menjalani puasa di tengah keluarga sementara di Aceh berjibaku dengan teman-teman disana. Puasa pertama di 2007, Saya dinobatkan sebagai Dirdur alias Direktur dapur oleh temen-temen mess. Kerjanya krontang kronteng di dapur, masak ini masak itu, enak gak enak tetep aja habis. Tahun 2008 di rumah yang berbeda kegiatannya tidak jauh berbeda. Rutinitas dimulai jam 4 pagi hingga azan subuh berkumandang. Oya..di Aceh imsaknya bisa jam 5 lewat.

Teman setia di dapur biasanya Vivi, yang emang lumayan jago masaknya. Masakan unggulan Saya (soalnya paling gampang.hehehehe) adalah teri medan oseng oseng dengan cabe ijo plus daun aceh yang biasa dipake buat ayam tangkap. Namanya daun temurui. Rresepnya gak jelas darimana, bener-bener ngarang sendiri.  Sementara Vivi jago banget ngeracik mie..gak ada namanya mi instan buat Vivi. Meski asalnya Indomie tetep aja rasanya nendang. Entah dikasih bumbu apa olehnya.  Setelah semua kelar siap-siap baru bangunin temen-temen. Untung gak mesti jerit jerit atau kentongan!

Persiapan berbuka lebih repot.. terutama kalo weekend. Paling sebel sama Mpok Depoy, bantuin cuman motong kangkung tapi lamanya bisa sejam karena pake bonus ngegosip. Alhamdulillah dia jago nyuci piring. 🙂 Mpok Fitri beda lagi..doyan belanja menuhin kulkas,..tapi gak bisa masak dan gak tau mo masak apa! Nasib..nasib, sayalah jadi juruk masaknya!

bukber di warkop
bukber di warkop

Yang selalu Saya ingat khususnya dengan anak-anak Pusdatin adalah Safari Ramadhan. Selama sebulan ada saja rumah atau orang yang jadi korban buat mengenyangkan perut setelah seharian berpuasa. Mulai dari rumah Pak Zamri, Roli, ditraktir Wasi di PP Cafe, bareng Pak Ed di rumah makan sunda di Lingke, makan rame-rame di RM Bunda hingga mampir ke rumah bu Ruhama di Bireun sepulang dari Lhoksumawe. Seru deh!

Kebiasaan buruk di bulan Ramadhan tahun lalu, yang nyaris gak pernah absen adalah ngopi abis jam taraweh! Taraweh gak taraweh ngopi hukumnya wajib.  Chek Yukee dan Solong jadi langganan. Alex is my best friend yang setia jemput gue tiap malam. Di bulan ini juga gank ngopi nambah satu siapa lahi kalo Baserr Qadri gak penting, manusia selundupan dari Mercy Corps.

Jangan tanya soal budaya ngopi di Aceh. Asal tahu saja, makin menjelang ramadhan berakhir, jamaah ngopi lebih banyak daripada jamaah taraweh di mesjid raya!! Hehehe..

Tapi tunggu dulu, ada juga sih kebiasaan bagusnya. Di siang hari biasanya di hari libur, sama temen-temen rumah masih nyempetin sholat di Mesjid Raya Baiturrahman sekalian ngabuburit.  Beda banget dengan disini, ngabuburit-nya ngemall dan sibuk ngeliatin jadwal film bagus di 21. Di hari biasa, kesibukan membuat lapar dan dahaga sama sekali tidak terasa.

Nuansa puasa sangat terasa di Aceh. Selama Ramadhan, merupakan pelanggaran besar jika ada rumah makan yang buka sebelum waktu ashar. Di siang hari, jalanan berasa bak kota mati saking sepinya apalagi kalo kaum adam jumatan. lagi gak puasa, kondisi begini menyiksa banget. Tapi tetep ada colongan satu kantin yang buka di sebuah organisasi besar di daerah Sudirman, Banda Aceh.  Kebetulan isinya bule-bule semua,  jadi mereka tetep jualan meski dengan sembunyi sembunyi. Kalo lagi gak males sih bisa bawa dari rumah sisa sahur temen-temen (itu juga kalo bersisa).

Semoga suatu saat masih diberi kesempatan merasakan roh puasa yang sama dengan teman teman yang sama..

 

Hits: 1814

Selamat Tinggal!

Terlalui sudah 2 Juli 2007-15 April 2009.

Daripada melamun di pesawat, sementara tidur pun tak bisa, aku iseng buka notebook dan menengok kembali semua foto-foto selama hampir 2 tahun di tanah rencong yang mengingatkan semua peristiwa tak terlupakan selama disini. Ceritanya gak mau mellow, tapi tetap kejadian. Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan.  Mencoba aku anggap biasa, toh aku yakin suatu saat, masih akan bertemu keluarga dan sahabat sahabat terbaikku disana, meskipun bukan berkumpul bersama di ruang paling ujung BRR Lueng Bata itu.  Ruang sumpek , berisik, berantakan, listriknya suka turun naik, dengan aksesoris utama meja –nya Oi yang paling berantakan sedunia,  namun penuh dengan jutaan kenangan yang gak bakal cukup ditampung dalam Hardisk Maxtour 1 Tera. Huh..

Tertular ide Apop di Facebook, aku coba menulisan  kenangan-kenangan lucu dan unik yang semoga akan ter-memory hingga ujung dunia nanti..

  • Sempat jadi “baby sitter” seorang teman yang akhirnya  tenar dengan semboyan “I’ll be back” yang menakutkan itu  di bulan-bulan pertama di Pusdatin. Masih inget tingkahnya yang tiba-tiba nge-rock tapi lypsinc. Mau  ngetawain gak enak, akhirnya aku, Rynal dan Waladi ngeluarin emoticon orang ketawa guling-guling via YM dengan perut sakit menahan ketawa.
  • Hobi jalan-jalan ke pantai naik motor. Suatu ketika masih dalam pencarian sebuah pantai, entah kena kutuk nenek moyang dari kerajaan Samudera Pasai, entah kenapa nyasar hingga dua kali balik ke Makan Syiah Kuala. Udah salah, pede pula.
  • Masa eforia Andrea Hirata. Rame-rame nonton ke Unsyiah. Kayak anak panti asuhan, ngantri minta tanda tangan,  repot nyari dress code. Untung pulangnya makan di Cibiuk. Herannya tuh anak-anak mau aja gue pengaruhin.
  • Kangen Mie Lala. Mi aceh yang TOP MARKOTOP. Meski kalo kesana nunggu mi-nya masak sampai 1 jam itu dengan bonus digigitan nyamuk dimana-mana. Tapi semua terbayar kita menyantap mi kepiting dan mi jamurnya yang gak ada duanya.
  • Juni 2008, ada awak baru di Pusdatin, lungsuran dari ekonomi, masuk ruangan gak pake kenalan, hanya senyam senyum gak jelas sok kegantengan. Katanya dia mau jadi admin alias sekretarisnya bos., padahal asli tampangnya gak mendukung. Karena mungkin tampang gue galak, dia gak berani nanya nama gue, lewat Lala dia nanya via YM : “kakak yang baju kuning siapa namanya”.  Seminggu, dua minggu jadi admin kena protes anak-anak, karena surat-surat gak ada yang beres, males nganterin dokumen (karena merasa bukan kurir) dan barang bukti utamanya, ada satu dokumen penting ketumpahan kopi-nya. Amburadul. Bulan kedua, Pak Zamri bilang dia dipindahkan saja ke tim aku. Sebenernya agak setengah gak rela, karena waktu dia apply, CV sempat aku hina dina.  Sorry ban!
  • Waktu musim tes PNS rata-rata pada ikut. Emi gak masuk 2 hari demi tes PNS Sabang (jadi tukang markir kapal katanya). Oi dan Ulfa berjuang demi status abdi negara untuk aceh besar. Yang lulus hanya Itha untuk jadi guru BP di Langsa. Emi dipastikan gak lulus..karena dia lebih cocok di Departemen Komunikasi sebagai Jubir, sedang Oi dan Ulfa..Dodol!!! Kenapa gak bawa kalkulator ???
  • Terima kasih untuk Nila Silvana dan Munardy yang selalu menyediakan penyemprot ruangan dikala “gaya andalan” itu tereksekusi.
  • Bakal kangen gue sama “BUSUKE”-nya Itha, kangen dengerin Itha marah-marah dengan si bule Ray yang pensiunan veteran perang Vietnam. Bayangkan yang satu pake bahasa Indonesia dengan dialek dan istilah-istilah yang aceh banget, yang satu pake bahasa inggris pakem. Tapi nyambung!
  • Wasiiiiiiiii.. makasih untuk Bu Neneng, sehingga terjadilah 91% untuk makan-makan di Hermes. Sssssttt.
  • Pak Zamri baru menyadari kalo di MS Excel itu ada Pivot.. dan kita pun makan-makan!!
  • Labaran Haji di Samosir. Satu malam sebelumnya nyari mesjid-nya dulu di kampung-kampung. Baru pertama ngerasain sholat ied di daerah minoritas muslim
  • “kamu dimana, sama siapa, semalam berbuat apa?”..  “Bisa bicara dengan Yolanda ?’
  • Waktu gue masuk RS, Alex sama Rynal bela-belain ikutan jaga nemenin di RS, tapi gak tahan Rynal tidurnya ngorok poll!!! Malah tambah bikin gue sakit.
  • Rebutan makanan di ruangan. Makan sepiring ber-5 sampai ber-7. Sementara Makcik repot menjaga kopi dkk dari gangguan tikus teman-temannya Waladi.
  • Doyan makan di Hasan,meskipun pulangnya teler, ngantuk dan MAHAL. Tapi tetap dijabanin.
  • Udah hapal sama teknik kriminalnya Lala dan Rynal, kalo bayar-bayar mereka belakangan. Misal total 110 ribu, 100 ribu dipalakin dari anak-anak, mereka berdua 10 ribu-nya.
  • Punya anggota baru si Emiriza yang mantan anak Unicef dan demen banget nyeritain “masa lalu”-nya itu. Kasian Waladi yang gak bisa tidur di pesawat demi mendengar petuah Emi.
  • Owwwwww..lipan!! dan Yudi pun meloncat mundur ke belakang hingga beberapa meter. Seruangan heboh. Terlebih Rynal sebagai penganiaya Yudi, mendadak punya senjata baru untuk menghakimi alumni Universitas Brawijaya yang malang itu.
  • Setelah bergaul selama setahun lebih, Rynal baru menyadari kalau bu Ruhama itu adalah makcik-nya.
  • Rynal yang sukses mengantarkan Pak Zamri untuk naik bis, dua hari dua malam ke Pekanbaru.
  • “Whats going on?, “Oh… I seeee…”,.. Hmmmmmmmmmmmmm…. (berdebar debar menunggu nama siapa yang disebutkankan selanjutnya)… “Tolong diprint dulu”, “Mari kita discuss”..   Hahahha.. bayar royalty neh kayaknya gue..
  • Bosan dengan Oi yang hampir tiap pagi sms bilang dia telat..Alasannya udah aneh-aneh aja.. mulai dari bangun kesiangan, nganterin mami belanja, ke kampus dulu, ke bank dulu, ke toko komputer dulu sampai alasan mobilnya mengalami kelainan.. (alasan yang aneh..)
  • Demi ke Jakarta beramai-ramai untuk CFAN, Oi dan Alex didaftarkan sebagai Asrot (asisten sorot), padahal sampe Jakarta kerjaannya cari cewek!!   Oya, disini kita juga sempat lliburan bareng ke Bandung dan memetik strawberry di halaman rumah orang demi Itha (Tha.. aku nulisnya pake ‘h” loh…)
  • Pada periode Agustus-Desember 2008 adalah puncak dimana Pusdatin penuh manusia. Sampai-sampai beberapa orang harus duduk bersebelahan dalam satu meja. Persis anak SD. Pasangan serasi Emi dan Waladi, Nardy dan Ulfa.
  • Bahaya laten KPI untuk report akhir BRR. Ngorek-ngorek puluhan ribu row data, dipelototin satu-satu sampe bikin sakit mata. Meski sudah dibagi-bagi ke banyak orang, tetap gak selesai-selesai juga. Udah selesai pun tetap ada masalah. Mr. Waladi nampaknya udah capek bikin judul file. Semua pake nama FINAL padahal gak final-final. Akhirnya ditambahin aja jadi  Insya Allah Final, Semoga Final, Final Amin,…, Final Kok.. Udah Final Belum  sampai “kapan yang FINAL-nya”?
  • Di penghujung masa bakti, ada ribuan dokumen yang harus di-scan dengan Lala sebagai punggawa. Senewen gara-gara si Ami yang sekretaris membuat semua  judul file yang discan dengan nama-nya sendiri. Ami1 hingga Ami 200! Untung belum sampe 1000!
  • Kangen maen sinetron di ruangan itu..Abannnnnnnnnnnnnnnnnnn…, kangen panggilan ngopi di tiap malam minggu dan malam-malam membosankan.
  • Meskipun ruang 5 di ujung itu mungkin sudah akan tiada, semua kenangan yang pernah tercipta di dalamnya akan terpatri selalu di hati. I love you,all..
Hits: 686

Minggu terakhir di Banda Aceh.  Empat hari tanggal merah dan tidak kemana-mana. Selain masih ada sedikit pekerjaan yang harus dituntaskan, tanggung juga kalo harus pergi-pergi. Kapan lagi menikmati saat saat terakhir di Banda Aceh apalagi di hari Pemilu yang hanya terjadi 5 tahun sekali. Sayangnya tahun ini aku terpaksa jadi Golput, karena tidak berhasil mendapatkan form A5 dari PPS asal di Bogor. Ah..sudahlah, toh sebenarnya tujuan ke TPS juga buat liat keramaiannya saja.  Tanpa tahu mau milih siapa. Heheheh..  Seingatku, tahun lalu juga ada libur panjang seperti ini dan aku pun tidak kemana-mana. Namun saat itu masih ada Apop yang setia menemani mulai dari berenang di Hermes lalu menyempatkan mencoba Wifi gratis di Oasis Hotel.  Tapi tahun ini aku sengaja tidak merencanakan apa-apa, apalagi sebagian besar teman-teman dekat sudah punya acara sendiri.. Hanya saja tadi siang sempat berputar di beberapa lokasi melihat dari dekat kesenyapan kota Banda Aceh. Sepi benar-benar sepi. Entah karena penduduknya menikmati libur panjang setelah mencontreng atau justru takut kemana-mana di hari pesta politik yang atanya….katanya loh..dikhawatirkan masih ada konflik.

jambo-tape
Jambo Tape yang lengang

Saat-saat begini, notebook adalah teman yang paling setia buatku.  Bukan hanya untuk urusan kerjaan namun “kerjaan” lain, seperti  buka facebook, main plurk, nge-blog atau hanya membuka folder foto-foto lama.   Huhuhuhu….gara-gara itu, aku  jadi sedih, jadi pengen nangis.. Mulai dari foto di ruangan kerja berantakan itu, foto di hotel berbintang, di lapangan, di warung kopi, seribu pantai, brastagi, danau toba hingga foto-foto meeting gak penting.  Disadari atau tidak mereka semua sudah menjadi bagian hidupku selama nyaris dua tahun ini.   Dan di penghujung minggu depan, semuanya menjadi hanya tinggal kenangan. Hikss… hikss..

Biasanya kalau libur paling tidak tiga hari aku sudah blingsatan pengen ke Jakarta. Tapi tidak di minggu ini. Bukan karena bulan kemarin keseringan ke Jakarta , tapi itu tadi. Ini moment-moment terakhir.  Nantinya walaupun mungkin aku tetap akan sering ke kota tercinta ini, bisa jadi aura-nya sudah beda. Namun, Lueng Bata, Cek Yuke, sanger dingin, mie kepiting, nasi kuning cumi-cumi (loh..makanan semua), internet putus nyambung, lamgugop-neusu, Lmpuuk, taman seribu janji, ruangan sumpek itu, my best friend dan my lovely bunch akan selalu ada dalam satu kotak khusus di hatiku.

sepinya simpang surabaya
sepinya simpang surabaya
Hits: 616

Selain ngopi ngopi di pinggir kali, satu hal lagi yang paling aku sukai di kota ini. Apalagi kalau bukan Naik Becak. Jangan salah, becak yang dimaksud disini adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor ya, bukan yang tenaganya tergantung dari genjotan si mamang. Kalo dihitung rata-rata, dalam satu minggu mungkin ada lima kali aku numpang di kendaraan ini. Kadang-kadang kalo kangen naik becak, aku sengaja tidak ikut jemputan kantor. Rasanya seneng aja berada disamping si abang becak dengan dengan semilir angin yang suwir suwir menyapu wajah di pagi hari. Jangan lupa pasar earphone dari HP untuk mendengarkan lagu lagu cengeng. Rasanya indah banget. Waktu 15 menit, jarak kantor dan rumah seolah-olah jadi moment penuh kenikmatan yang tiada tanding.

Dulu aku waktu masih tinggal di mess yang lama, yang cukup jauh dari pusat kota, aku punya becak langganan. Namanya Bang Imron. becak1Becaknya keren, dengan motor Honda Tiger keluaran terbaru yang semua body-nya dicat biru tua sehingga menimbulkan kesan macho. Si abang-nya pun sangat ramah. Meski hampir semua keluarganya sudah hilang sebagai korban tsunami, garis-garis kesedihan di wajahnya seperti sudah tergantikan dengan semangat juang melayani penumpang (baca: customer) sebaik-baiknya. Bang Imron yang lumayan ganteng ini pun siap dipanggil ke rumah kapan pun. Tinggal sms, tunggu tidak lebih dari 15 menit, ia sudah siap mengantar kemanapun kita mau. Ke pasar, ke kantor bahkan pernah sampai ke Pelabuhan Laut yang lumayan jauh untuk menumpang becak, si abang siap sedia. Itu pun sebelumnya masih pake acara jemput jemput teman dulu. Jatah penumpang yang sebenernya hanya berdua bisa jadi bertiga bahkan berempat yang jadi berlima sama abangnya. Ketika Mama kesini setahun yang lalu, Bang Imron pulalah yang mengantar kemana-mana. Mengingat aku sendiri tidak punya banyak waktu untuk menemani Mama kemana-mana. Hebatnya lagi, ia sama sekali tidak pernah mematok tarif. Padahal naik becak di Aceh terkenal mahal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang juga menggunakan kendaraan umum jenis ini. Di Medan misalnya, dengan jarak tempuh yang sama bisa lebih murah hingga 60% dibandingkan di Aceh. Karena pelayanan Bang Imron yang memuaskan ini, aku tidak segan-segan merekomendasikan jasanya ke teman-teman. Hasilnya, semua bermerasa senang atas service yang diberikan si abang.

Dua hari lalu, masih urusan becak aku bela-belain naik becak di tengah gerimis. Berharap ada kisah romantis yang pernah terulang seperti tahun lalu.

Sst…tapi bukan dengan abang becaknya loh. Siapa nyana, di tengah jalan hujan turun dengan sangat deras. Mau tidak mau harus mampir berteduh, kasian si abng basah kuyup dan aku pun mulai kecipratan air. Walau basah, moment berlindung sesaat di tukang sayur di pinggir jalan menjadikan aku semakin menghayati makna bersyukur. Indah saja.

Sekarang aku jadi sering membayangkan kalau kendaraan ini ad adi Jakarta atau Bogor. Tentu tidak dengan kondisi macet yang bikin orang makin tua di jalan. Naik becak di Sudirman ?. Tapi bisa jadi, Sudirman toh cukup teduh, asyik kalo bisa naik becak di sini. Hemm.. waktu yang paling oke mungkin sekitar jam empat sore, menjelang orang pulang kantor sambil ber-say hai jika berpapasan dengan seorang teman. Wow !!! Mimpi kali yeee. Ah… irama kota besar memang selalu mengurangi makna kekerabatan…

 

Hits: 1741

Tidak terasa akhirnya aku harus meninggalkan Aceh yang sudah menjadi bagian dari hidupku selama hampir dua tahun ini. Tapi aku yakin tidak hanya untuk dua tahun itu, namun sepanjang tahun dalam hidupku, Aceh akan selalu jadi bagian yang tidak pernah mati.

Dalam sebuah perjalanan yang membosankan,  aku membuka kembali sebuah video tsunami kutipan dari berbagai media. Sedih, miris bercampur jadi satu.  Gempa dan ombak besar yang meluluhlantakkan Aceh itu laksana kiamat yang membunuh 169 ribu jiwa dan nyaris menghancurkan semua yang ad adi sekitarnya. Pada 26 Desember 2004 lalu, ketika pertama kulihat berita bencana ini di TV, sama sekali, tidak terbayangkan jika 2,5 tahun berikutnya aku akan menjadi bagian dari sebuah sejarah bencana terbesar dunia abad ini.

Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika picisan di dalamnya kuyakinkan tidak akan pernah lepas dari ingatanku sampai dunia ini tutup usia.  Ada ribuan kenangan terpatri, bahagia, sedih, duka, suka dan setumpuk makna hidup aku dapatkan disini.  Terima kasih untuk semua yang sudah menjadikanku satu bagian penting dari sebuah prasasti sejarah.

Sejuta cinta dan semua yang terbaik untuk Aceh ..

On a  flight to Jakarta, 3 Maret 2009 08.55 PM

Hits: 629

Seumur-umur gak pernah telat naek pesawat. Aku selalu inget kalo pesawat itu bukan angkot yang apapun kejadiannya tetep nunggu penuh baru jalan. Biasanya kalo ada teman yang ketinggalan pesawat, aku pasti dengan sukses tertawa tawa penuh kemenangan. Tapi pagi tadi kejadiannya jadi ke aku.Untuk rute rutin Jakarta-Banda Aceh via Medan.

Pukul 3 pagi teng..alarm HP dengan ringtone Senam Kesegaran Jasmani itu membangunkan aku. Bukannya segera beringsut mandi atau paling gak cuci cuci muka (ritual biasa kalo berangkat pagi), aku malah narik selimut. Gerimis mengundang yang mengguyur Bogor sejak semalamnya membuatku lupa, kalo aku gak kenal sama pilot pesawat yang bakal kutumpangi di pukul 5.30-nya (jadinya gak bisa minta tungguin). Tepat 3.30 baru beranjak dari rumah dan tepat pukul 4.00 Damri meninggalkan Bogor menuju Bandara. Jalan menuju bandara hujan deras, so bis yang dingin itu pelan banget lajunya. Saat normal di jam jam dimana maling baru pulang beroperasi begitu, gak rata-rata 45 menit sudah sampai bandara. Tapi tadi.. nyaris 1 .30 menit!

Udah deg-deg-an di counter check-in, pake cara nyerobot antrian pula. Yang dikhawatirkan terjadi : CLOSED! Aku memohon-mohon dan si mas penjaga counter yang lumayan manis itu luluh.. Dia kontak ke dalem, aku nunggu sekitar 5 menit. Tapi hasilnya mengecewakan. Tetep gak bisa ikutan! Bete, Kesel dan mo marah rasanya. Akhirnya dicadangkan untuk penerbangan berikutnya di 09.20 pagi. Itu pun posisinya masih waiting list. Dan kalau pun dapet harus nombok Rp 580 ribu. Wadohhhhhhhhh, bayar sendiri? ? Gak mau dong secara ke Jakarta juga disuruh kantor. Aku coba telpon beberapa temen kantor untuk mastiin kalo bisa reimburst. Good news, bisa katanya meski harus diakalin :D.  Untuk flight yang jam 1 siang udah confirm.  Tapi mikir-mikir kelamaan banget yah..ngapain gue nongkrong selama itu di bandara. Jadi Porter ? Halah.. Tanya tiket untuk keesokan harinya statusnya sama aja.

Akhirnya dengan H2C dan berdoa yang diiringi ngomel-ngomel aku berharap tetap dapat di pukul 09.20. Untungnya ketemu Jolie yang lagi jemput si Ibuk Tia di Terminal 1B. Ngerumpilah disana. Sempet tergoda juga untuk back to Jakarta, trus jalan jalan ke PIM ngikutin rencana mereka. Tapi kalo inget kerjaan yang numpuk dan dedikasi gak penting sebagai seorang karyawan teladan (ciee…) aku batalkan. Tepat 08.40 aku balik ke counter, dan Alhamdulillah dapet!!! Hebatnya lagi..gak perlu bayar 580 ribu tadi! Thanks to si Om yang udah bantuin.

Semua kejadian emang ada hikmahnya,..ketika tiba di Medan, aku dapet kabar kalo pesawat yang gagal aku tumpangi itu telat sampe ke Medan karena cuaca buruk dan terpaksa mendarat di Pekanbaru. Ya..kalo itung-itungan waktu ternyata kurang lebih sama aja.. J

Anyway..kenapa sih harus milih flight yang paling pagi ? Ini gara gara “kewajiban”nonton Tia dan Jolie di missing lyrics pas pukul 13.30. Dengan asumsi kalo berangkat yang jam 9.20 sampe di Aceh mepet, padahal tiket aslinya memang yang 9.20 itu. Dodol kan ? udah bela-belain dipindahin ke 5.30 eh…ketinggalan dan balik lagi ke 9.20! Itu plus acara drama gak penting!!

Hits: 2052

Menandai masa purnabakti, tadi malam nyaris semua personil BRR tumplek blek menikmati saat-saat kebersamaan terakhir dalam satu pekerjaan di bumi Naggroe ini. Inilah waktu dimana tidak kurang dari 450 karyawan akhirnya harus kembali ke pangkuan “ibu pertiwi”, kembali berkiprah di institusi sebelumnya atau mencoba mengais rejeki di tempat lain. Alhamdulillah aku masih dipercaya mengerjakan beberapa tugas hingga awal 2009 nanti yang membuatku gak harus buru-buru eksodus dari Banda Aceh.

Ada rasa sedih, pasti.. Biar bagaimanapun diantara mereka ada sahabat sahabat terdekatku yang sudah berbagi dan bersama dalam segala suka dan duka selama kurang lebih 1,5 tahun ini. Akhirnya toh, waktu yang mempertemukan dan waktu pula yang memisahkan. Namun begitu, masa-masa kebersamaan ini bagiku tetap salah satu tonggak penting dalam sejarah hidupku..

Aku “kehilangan” empok..temen sebelah kamar, yang setia tanpa henti mendengarkan segala curhat dengan tetek bengek yang gak penting. Selalu siap saat aku butuh tempat untuk ketawa dan nangis di malam dan siang hari, Kehilangan temen yang rajin nguras bak. Hiksss… Kita tetep bisa ketemu di Jakarta selalu ya, mpok.. Makasih dengan penuh cinta selalu buat dirimu.

 

…dan yang pasti… aku kehilangan “mie kocok”, “mouse hello kitty”, 1031,pulsa IM2, ngomel-ngomel, protes gak jelas, mie kepiting dan susu beruang. Karena yang tersisa hanya tapak tapak jalan sepanjang Lueng Batadengan semua memori gak penting di dalamnya dan catatan , 3 Juli 2007 ketika aku minta tanda tangan untuk approve permohonan email, kau tandatangani tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Ending ini adalah sungguh di luar dugaan. Sedih. Kecewa. Kaget. Lega. Bahagia. Semua bercampur jadi satu. Tapi aku yakin ini adalah pasti pasti yang terbaik untuk semuanya.

Tidak ada yang perlu disesali, pasti ada blessing in disquise dari semua ini. Biar Dian Piesesha aja yang bilang : bukan perpisahan yang kutangisi, namun pertemuanlah yang aku sesali..

teurimòng geunaséh..

Hits: 2116

Lebih dari sepuluh tahun tinggal di Bogor, kadang-kadang membuat gue merasa Sunda Banget. Sttt…tapi tetep aja gue gak bisa berbahasa sunda dengan baik dan benar. Jadi, perasaan itu hanya teridentifikasi dari kedoyanan gue makan daun-daunan dan pepes-pepesan serta sambel-sambelan. Di Aceh 1,5 tahun tentu saja sering membuatku kangen sama makanan-makanan itu. Pernah satu kali aku di pasar deket rumah aku menemukan baby labu siam (alias labu siam kecil-kecil) yang enak banget kalo direbus dan harganya berapa ? sebiji = Rp 1000! Gilingan! Secara di Bogor seribu itu dapet sekilo! Mau beli, tapi kok gue lebih napsu marah-marah dibanding makannya. Sampe kepikir, kalo gue ekspor beginian dari Bogor laku gak ya ?!!

cibiuk24

Akhir taun lalu, finally di Aceh, ketemu juga satu rumah makan Sunda bertitel Cibiuk yang cabang utamanya emang di tanah Jawa Barat sana. Seingatku udah beberapa kali menyambangi tempat ini bersama temen-temen. Menunya lumayan lengkap. Tapi lebih banyak lengkap-nya di daftar menu-nya. Kalo milih menu suka harap-harap cemas, karena keseringan gak ada-nya daripada ada. Sebel kan ? Resto-nya sih keren, tapi biar bagaimanapun tetep lebih enak warung K5 Ibu Atikah di depan terminal Baranangsiang yang hanya buka setelah magrib. Apalagi kalo kalo kesananya jam 2 malem! Nikmat banget deh..

cibiuk11

Semalem, untuk merayakan beberapa perayaan (kalimat yang aneh ?!!) Pusdatin Full Crew makan-makan lagi di Cibiuk. Tapi sayangnya menu ikan jambal plus pete favorit gue lagi gak eksis. Pun pepes oncom dan pepes tahu trade mark makanan Sunda juga berhalangan hadir. Tapi, karena udah menahan lapar dari siangnya, tiba-tiba semua kerasa nikmat. Gak lupa…ujung-ujungnya tetep foto foto.. Cheerss..

Hits: 2162

Ada ada aja kejadian bulan ini. Di Lahat sempet masuk kantor polisi gara-gara si Kiky pake acara nabrak orang. Demi kebenaran aku ikut-ikutan cari pembelaan di kantor polisi. Waktu itu sebenernya bada emang udah letoy, tapi karena kena eforia menyambut liburan jadi gak dirasa-rasain. Sebenernya ketika masih di Banda pun selama puasa yang nyaris ngopi mulu (gak tiap malem sih..hanya nyaris), emang badan udah lemes-lemes, apalagi setiap pagi selama puasa aku pasti terserang mual-mual gak jelas. Selama libur lebaran, aku hanya terkapar tak berdaya di rumah dan seperti biasa gue anti yang namanya tidur di RS. Oh, No!!  Apalagi lebaran ya,..catet lebaran dan liburan setelah menempuh perjalanan Banda Aceh-Jakarta-Bogor-Palembang-Lahat (PP) trus gue harus terkapar di RS? Tidak!!

Puncaknya adalah ketika menuju bandara Palembang untuk berangkat ke Jakarta. Tapi aku gak mungkin cancel keberangkatanku. Lima jam perjalanan Lahat-Palembang ditambah satu jam di langit bener-bener bikin kayak tinggal nunggu hari pembalasan dosa aja. Di pesawat rasanya pengen terjun payung, udah manalah dingin, duduknya gak enak ditambah turbulensi-nya kenceng. Bener-bener mampus. Sampe bandara SH, mau gak mau gue langsung dilarikan ke RS. Lagi-lagi dikasih pertimbangan, dirawat aja ya, gejala typus nih… Oh..NO!!! Masih gejala…nyanta aja karena tiga hari setelah itu, aku harus segera ke Aceh secara udah kangen banget sama Aceh waktu itu.  Akhirnya, tertidurlah di rumah Bogor, yang lembab (karena lama gak disentuh). Ujug-ujug, besoknya si Jolie bersama gank PLYMH dating dan menawarkan tawaran untuk “dirawat” saja di rumahnya di Ciputat. Oke, gue ikutin. Tapi siapa nyana, besoknya bukan istirahat ? Malah jalan-jalan ke PIM cari HP sama dot titipan Waladi? Huhh.. .. malemnya sempet-sempetnya ke Huppuppy Fatmawati dan tertidur di rumah Anabella jam 2 pagi!! Heheheh..

Read More

Hits: 1925

Sebelum kesini dulu, gak sedikit temen-temenku di Jakarta bilang, makanan di Aceh enak-enak. Wah, itu versi mereka, karena versi aku belum tentu banget. Ternyata bener, sampe disini, aku merasa makanan disini “biasa” banget. Pertama, umumnya makanannya berbumbu pedas, berminyak, berlemak daging-dagingan dan ini yang terparah (menurutku) : less of vegetable. Secara gue gak demen daging baik sapi mapun ayam (apalagi kambing), kecuali kalo bener-bener gak ada pilihan lain. Yah, gue termasuk kategori herbivora yang pemakan segala daun-daunan selain daun pintu dan daun jendela (apalagi daun telinga).

Duh, susahnya cari yang namanya lalapan segar dengan segala “hehijauan” tertata di piring persis kayak kebon raya versi mini apalagi ditambah sambel ijo pedes. Slurpp…

Walau begitu,Aceh sebagai salah satu propinsi dengan garis pantai terpanjang tentu menghasilkan hasil laut yang melimpah ruah. Wah, ini sumpah gak bisa dipungkiri. Serupa dengan masa kecilku di Makassar yang sering banget ikut Mama ke pelelangan ikan.  Tapi sayangnya, variasi pengolahan hasil laut itu minim banget. Beda sama Pelabuhan Ratu  yang rajin kusambangi jaman kuliah dulu dimana tukang bakso ikan dimana-mana yang mungkin saja (mungkin banget) ikannya adalah ikan hiu  mengingat  banyaknya species ikan yang ada pasar ikan disana. Tapi di Aceh ada  mie Aceh yang konon ngetop itu se-antero nusantara . Namun… walah.. lagi-lagi masalah ada di gue. Gue gak doyan mie! Kecuali mie ayam di samping Toko Tajur Fashion di Bogor. Gilingan……… enak banget!!!

Tapi…eitss… jangan underestimate dulu.. Setelah menunggu dan melakukan pengamatan secara mendalam, ada dua makanan yang highly recommended, karena gue suka banget.  Pertama, ayam tangkap. Gak ngerti darimana asal muasal nama itu wong yg namanya ayam pasti ditangkep dulu sebelum digoreng.  Aneh. Sajian ini yang paling ngetop dari RM Aceh Rayeuk. Sebenernya ayam goreng kampung biasa  (ayamnya yang masih muda) dipotong kecil-kecil trus digoreng dengan bumbu-bumbu dapur biasa  dan cabe ijo yang segede-gedenya tanpa dipotong.

Tapi yang bikin khas adalah dicampur gorengan garing daun khas Aceh yang namanya daun temurui.

Rasanya enak banget, meskipun aku sih banyakan makan daunnya dibanding ayamnya. Hehehe.. Apalagi di rumah makan itu, disajikan pula sayur daun melinjo yang dipotong halus-halus ditambah tumisan bunga pepaya.  Trus minumnya adalah es serutan timun. Seger dan komplit!  Hehehhe.. endang banget. Kalo makan disini, persis kayak di Thailand bulan lalu, gue bisa makan gila-gilaan dan malu-maluin. Hemmmm..

Kedua, balik ke masalah mie. Setelah setahun di Aceh, akhirnya ketemu juga namanya mie Aceh yang paling enak sedunia dengan merek Mie Lala. Letaknya di deket kostnya Rynal (loh…siapa lu??!!)  itu temen kantor gue yang sok ganteng. Dia yang nampaknya tanpa sengaja menemukan mie yang enak luar biasa ini.  Mie-nya disajikan dengan berbagai pilihan dari ayam, daging, jamur hingga kepiting yang gede-gede. Yummy banget deh. Minumnya air kelapa muda yang seger banget. Tapi gak enaknya,…ini bener-bener menyiksa!! Nunggu pesenan datang bisa sampe satu jam!! Coba bayangin kalo lu niat makan sendiri, cengok-cengok deh satu jam. Belum lagi kalo datengnya agak sore selain pengunjung manusia-nya rame, pengunjung nyamuknya pun gak kalah rame. Tapi beneran..kalo udah icip-icip. Pasti deh addicted!!! Satu lagi, dari jaman dulu.. aku pun gak doyan namanya indomie. Itu bener-bener makan alternative terakhirrrrrrrrrrrrrrrrrrrr banget.  Kalo lagi bener-bener miskin atau bener-bener gak ada pilihan apa-apa di rumah dan gak bisa keluar cari makanan lain yang lebih beradab.

Tapi, kalo kamu ke Aceh, harus-lah nyicipin namanya Indomie rebus ala Aceh! Apa istimewanya ?  Karena bumbunya gak pake bumbu sachet-an dari bungkus indomie-nya. Tapi pake bumbu mie Aceh. Pedes dan penuh rempah pake lalapan timun dan acar bawang. Beda deh!  Kuahnya agak kental tapi gurih yang pasti bikin kita pengen nyereput sampe abis.

Ayo, kapan nraktir gue ?!!

 

Hits: 2623

Dua minggu terakhir ini ikutan sibuk ngurusin tetek bengek kedatangan sekitar 300-an orang anggota PWI ke Banda Aceh untuk kongres mereka yang ke 21. Sebenernya gak ribet-ribet amat sih, tapi ada satu “insiden” kecil yang nyaris bikin rontok. Kesalahan yang mengingatkanku akan masa masa di tanah abang 3 dulu. Masalah kekurangtelitian atau kekurangtepatan yang ujungnya jadi gak enak.


Nah..kejadian lagi nih minggu lalu. Udah kerjaan lagi tumpek blek, tiba-tiba denger berita yang kurang mengenakkan, kalo ada yang harus diralat dari salah satu bahan untuk peserta Kongres tersebut yang kebetulan sebagian materi-nya disuplai dari divisiku. Dimana ketauannya pas udah sore, bahannya udah dicetak 700 exemplar dan akan dibagikan keesokan harinya. Huaaaaah… pusing. Pertama mau pake cara ditempelin stiker untuk menutupi data yang salah, lalu ditimpa sama yang benernya. Bosku gak mau, dengan alasan merusak kredibilitas lembaga. Mau dicabut ?? Susah juga, secara itu jadi satu bagian dengan lembaran lain yang disatukan dalam satu booklet yang bolak balik. Bingung deh. Yang ngurusin percetakan sebenernya urusan panitia lain. Mereka pun udah sibuk buat persiapan acara, mana sempet ngurusin ganti ganti lagi. Oke, gue coba telpon orang percetakannya; pertama dia nolak mentah-mentah dengan alasan, gak mungkin cetak ulang mengingat proses cetak sudah selesai, tinggal acara jilid menjilid. No other way…hanya satu jalan tetap membujuk si Bang Saud (nama yang nyetak) agar mau kerjasama sedikit lembur untuk nyetak baru, tentu dengan tambahan biaya. Malem-malem, hujan dengan angin yang lumayan kenceng aku dan Pak ZZ menyambangi doi. Bujuk sana, bujuk sini. Dan dia pun mungkin melihat tampang gue yang nelongso, akhirnya nelpon jejaring sesama tukang cetak. Deal! Bisa, .. Tapi dengan syarat minta tambahan waktu 3 jam dari waktu awal kesepakatan penyerahan materi. Oh…Thank God!!

Kenapa sih begitu penting ? padahal sebenernya “kesalahan” itu bisa dijelaskan, karena berdasar dengan jelas. Tapi karena audience utamanya wartawan yang sangat kritis, hal tersebut takut keplintir jadi lain. Ujung-ujungnya bisa mencoreng nama lembaga.

Dulu, 2001-2006 awal sering banget kalo majalah mau terbit aku nyaris gak bisa tidur, apalagi kalo udah urusan megang Sajian Utama (cover story). Semua tentang data. Kebanyakan tabel. Yang namanya ngeralat itu lumayan sering. Bahkan temenku pernah meralat ralat (bingung gak??) . Kalo ini bukan cuman mencoreng nama lembaga/company..tapi bisa bisa kena protes orang-orang yang berkaitan dengan data dan pada level gawatnya bisa sampe di bawa ke pengadilan. Ih…serem..
Untuk kasus ini, sorry boss… next time better!!

 

 

 

Hits: 1786

Gak kerasa euy..

Akhirnya tercapai juga 1 tahun di Aceh..

Inget satu tahun yang lalu… Atau inget cerita sebelum kesini..

Thanks buat my new family here, member of Pusdatin. Wah, sekali kali aku pejengin foto close up kalian yang ancur itu ya disini… Makasih udah bikin gue merasa nyaman dan hangat bersama kalian ditengah kerjaan yang menggila..

 Dan temen temen rumah yang manis-manis, yang selalu jadi temen curhat yang asyik (baca:menyebalkan)

 

 Luv you all.. 

 

Hits: 1906