Penyesalan di Desa Wisata Kandri

Diajak river tubing pada saat Famtrip Blogger yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), saya langsung mikir panjang. Kebayang ini bakal mirip naik Kora-Kora di Dufan yang ujungnya jadi penyesalan seumur hidup. Bedanya river tubing ada airnya dan langsung di alam. Biarin aja deh dibilang katro dan gak kekinian, daripada mual dan pusing karena badan berputar putar. Boro-boro bisa ikutan, ngerti river tubing itu apa aja, nggak.

Eh, tapi pikiran itu sekejap berubah saat rombongan blogger memasuki Kawasan Wisata Desa Kandri di selatan Kota Semarang. Disana, kami disambut baik oleh Pak Zubaidi yang menyebut dirinya Pemandu Wisata Kandri. Ia mempresentasikan serunya river tubing, rute dan cara melakukan river tubing. Katanya, jalur yang akan kita lewati adalah jalur Sunan Kalijaga ketika mengumpulkan kayu jati untuk membangun Mesjid Demak, mesjid tertua di Indonesia. Hemmm, kelihatannya mulai menarik niih….

Tanpa ditanya sanggup atau tidak, tiba-tiba belasan blogger sudah berebutan pelampung, pelindung lengan dan lutut hingga helm yang dibawa oleh mobil pick up odong-odong. Yaa, kayaknya seru yaa.. Akhirnya berbekal Bismillahirrahmanirrahim, saya ikutan sibuk juga memilih perlengkapan. Toh, namanya ajal sih udah ada yang ngatur kann? Loh..loh.. Ini sumpah, soalnya saya takuttt. Masih banyak cita-cita belum tercapai, masih banyak dosa dan masih banyak utang… Hiks…

blog4
Are u ready ???!!

Dari meeting point pengarahan tadi menuju lokasi masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Persis sapi yang siap dikurbankan, kami diangkut dengan mobil odong-odong tadi menuju Sungai Kranji, tempat tubing dilakukan. Canda tawa sepanjang perjalanan dengan teman-teman blogger, dan pemandangan alam yang meneduhkan mata serta hati yang galau, mengalahkan rasa takut saya.  Eh, sialnya pas milih-milih ban, saya kebagian ban yang agak kempes. Duh, kepikir bakal hanyut dan  bakal tubing sendirian karena teman-teman saya sudah jalan duluan. Sementara mereka saya sudah mulai ber-tubing ria, saya masih menunggu mas-mas guide mencarikan ban baru buat saya. Rasa khawatir yang tadi membuncah, berkurang karena mas-mas ini sabar banget ngajarin dan memandu kita. Ternyata, teman-teman saya pun sebagian masih amatiran, toh setelah “berlayar” sendirian saya tetap ketemu mereka. Hehehe..

Siapa mau duluan??
Siapa mau duluan??

Jeram pertama yang kami temui adalah serupa niagara mini.  Aduh, ini sumpah atuttt banget, padahal tinggi air terjun mini ini tidak lebih dari 100 meter. Posisi yang dianjurkan oleh pendamping adalah membelakangi sungai, menerjunkan ban lebih dulu dan Hap!.. Kalau loncatanmu mantap, kamu bisa langsung duduk manis di atas ban. Tentu saja, saya tidak berhasil dan ban saya berlayar duluan dari Saya. Untungnya (masih untung…) saya bisa berenang, kemudian jadilah sinetron berjudul Jus Semangka Mengejar Ban. Hahaha..

seruuu...
seruuu…

Jeram kedua dan ketiga adalah jeram yang terjal dan cukup curam. Sama, seperti yang pertama; lagi-lagi saya terlepas dari ban. Masih untung (untung lagi….) anggota badan tidak ada yang terbentur, meski rasanya adrenalin sudah berpacu lebih cepat. Nah, pada jeram-jeram berikutnya, saya baru sadar teknik sangat diperlukan (ciyee…udah berasa expert). Posisi kaki dan posisi panggul harus diatur jika melewati jeram. Alhamdulillah setelah bisa mempraktekkannya, saya gak terpisah lagi dengan ban kesayangan saya itu. Malah jadi asyik banget bisa santai melayang-layang di atas air. Saking santainya mungkin bisa sambil ngopi-ngopi dan makan indomie. Bisa juga sambil baca koran dan nonton TV.  *Eh, yang terakhir mah lebay… Dan kami pun sukses hingga etape terakhir dengan total  waktu perjalanan sekitar 3 jam dengan jarak tempuh sekitar 3 km!. Sounds good kan buat pemula… Tau asyik begini saya menyesal kenapa sebelumnya pake acara cemas. Menyesal juga kenapa gak dari dulu ikutan olahraga air begini.

udah bisa santai kayak di pantai,..
udah bisa santai kayak di pantai,..

***

Cukup surprise juga ada  kegiatan ini, Saya pikir Semarang hanya menawarkan liburan ala kota sebagaimana ibukota-ibukota provinsi lain. Namun, hanya sekitar 30 menit dari pusat kota, sudah ada Desa Wisata Kandri yang merupakan potensi pengembangan wisata mandiri binaan Pemerintah Kota Semarang. Konsep desa seperti ini pernah saya temui di Kabupaten Bogor yang memang terletak di bawah kaki Gunung Salak. Ternyata, Kota Semarang pun punya potensi alam yang layak untuk mengundang wisatawan. Asal tahu aja, konsep ini merupakan konsep unggulan yang kini sedang digarap oleh Pemkot Semarang.

Selamat Datang di Desa Wisata Kandri
Selamat Datang di Desa Wisata Kandri

Tidak hanya river tubing, konsep agrowisata juga ditawarkan di Desa Kandri antara lain belajar bercocok tanam, beternak, mengikuti upacara-upacara ritual masyarakat dan sejenisnya. Untuk merasakan benar-benar kembali ke desa, wisatawan bisa  bermalam di rumah-rumah penduduk yang sudah disulap menjadi home stay. Biayanya cuma 50 ribu rupiah saja per kamar per malam! Soal makanan, jangan khawatir! Penduduk desa Kandri adalah masyarakat sadar wisata yang sudah membentuk kelompok-kelompok kerja termasuk kelompok penyedia ransum kita selama disana. Makanan yang disajikan pun adalah makanan tradisional khas desa. Sebagai contoh, selesai tubing yang super capek, kami disuguhi Nasi Kethek. Nasi berbungkus daun jati berisi orek tempe, sayuran dan beberapa lauk. Aroma daun jati dan daun pisang menjadi cita rasa tersendiri di santap siang kami.

Berminat? Bosen kan kalo ke Semarang cuma ke tempat yang itu-itu saja!.

Jelajah Wisata Desa Kandri

Kontak: Zubaidi (0858-7659-5211)

Baca Teman-Teman Saya!

Kak Rian Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang & Bermain tubing di Desa Wisata Kandri
Kak Richo  dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Kak Sinyo FamTrip Bikin #SemarangHebat jadi Trending Topik (Part1) & Famtrip #SemarangHebat jadi Trending Topik (part2)
Kak Leo Jelajah Malam di Lawang Sewu & Kulik Kuliner di Restaurant Semarang
Kak Eka  Semarang Night Carnival 2016 & Lawang Sewu Malam Hari
Kak Taufan Gio Semarang Hebat Culinary Heritage & Semarang Hebat Adventure Carnival
Kak Danan Dongeng Rasa di Restoran Semarang & MG Setos Hotel Terjebak diantara Kubikel Raksasa
Kak Imama Hantaman Jeram Kali Kreo
Kak Chan Ada Tiongkok di Semarang
Kak Titi Gebyar Fantasi Warak Ngendok di Semarang Night Carnival 2016  & Lawang Sewu Kini dan 13 Tahun yang Lalu.
kak Wira Photo Essay : Semarang Night Carnival & Photo Essay Semarang Night Carnival
Kak Luhde Kisah dibalik Kuliner Semarang
Kak Puspa Antusiasme Masyarakat di Semarang Night Carnival 2016
Kak Astin Soekanto Lepaskan Zona Nyamanmu dengan Tubing di Sungai Kreo & Ekspresikan Dirimu di Old City 3D Museum
Kak Ghana Photo Stories Semarak Semarang Night Carnival
Kak Olive Langgam #SemarangHebat Menjaga Harmoni Akulturasi Budaya dari Masa ke Masa
Kak Fahmi Pesta Rakyat Semarang Night Carnival 2016
Kak Bobby Seru-seruan River Tubing di Kali Kreo Semarang
Mas Budi Keseruan Semarang Night Carnival 2016
Kak Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang dan Budaya Semarang dalam Fantasi Warak Ngendog

 

(Visited 294 times, 1 visits today)

4 Comment

  1. […] Famtrip #SemarangHebat jadi Trending Topik (part2) Kak Vika Ada Gusdur di Pecinan Semarang & Penyesalan di Desa Wisata Kandri Kak Leo Jelajah Malam di Lawang Sewu & Kulik Kuliner di Restaurant Semarang Kak Eka  Semarang […]

  2. Thanks Oktavia namamu indah sekali, kami tunggu kunjunganya di desa kandri kembali

    1. Vika says: Reply

      Thanks Mas… 🙂

  3. Seru banget main arum jeram, apalagi bareng teman temn…

Leave a Reply