Suryakencana, pecinan di sudut Bogor
Jalan Jalan

Suryakencana, pecinan di sudut Bogor

Hujan semalam membuat pagi ini masih terasa basah. Saya melangkah ringan menuju Suryakencana sebuah daerah pecinan di Bogor. Pagi ini saya ingin merasakan aura tahun baru Cina di salah satu pusat kota Bogor.  Bersama seorang teman pagi-pagi kami sudah nongkrong di depan Vihara Dhanagun. Terlihat sudah banyak umat yang bersiap-siap untuk beribadah. Ternyata banyak juga mereka yang memang cuma pengen lihat-lihat seperti kami. Dan ternyata, Pak Polisi dan penjaga vihara mengijinkan kami masuk hingga ke tempat ibadah daIMG-20160208-WA0015n boleh mengambil foto selama tidak menganggu mereka yang beribadah. Wow!

Vihara Dhanagun, bagus banget, dan konon sudah berusia 300 tahun. Meski letaknya berhimpitan dengan pasar, tidak menghilangkan suasana magis dan sakral yang melingkupinya. Ornamen merah dan emas memenuhi ruangan kelenteng yang membuatnya terasa mewah. Di halaman kelenteng dihidupkan banyak lilin-lilin raksasan berwarna merah. Kata penjaganya, lilin-lilin itu masing-masing mempunyai pemilik yang namanya tertulis di batang lilin dalam huruf China. Konon, lilin adalah media untuk menyampaikan doa.

Lepas dari Vihara Dhanagun, kami menyusuri jalan Suryakencana untuk mencari Sarapan pagi. Jalanan sepanjang tidak lebih dari 3 km ini terkesan semerawut. Deretan toko-toko di kawasan yang padat ini, masih memiliki bangunan-bangunan tua  yang sebagian besar masih difungsikan untuk berdagang. Disini ada toko-toko legendaris Bogor yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Beberapa diantaranya mulai terlihat sepi, tergerus era digital marketing dan modern channel lainnya. Ada satu dua gedung yang masih memperlihatkan sisa-sisa kolonial, sayangnya kesan tidak terawat tampak sangat menonjol. Salah satu bangunan tua itu digunakan sebagai cabang Bank Mandiri.

20160208_103019
gedung tua di Suryakencana

Suryakencana adalah salah satu pusat kuliner di Kota Bogor.  Bukan cafe mewah yang menjadi andalan, tetapi justru pedagang kali lima dan ruko-ruko tua yang mungkin sudah berdagang puluhan tahun yang jadi destinasi.  Makanan itu pun masih diolah secara tradisional. Saya menemukan satu orang Bapak yang sudah berjualan martabak lebih dari 30 tahun dan, ia tetap mempertahankan cara memasaknya yang menggunakan arang. Di Gang Aut salah satu jalan disini, tersedia bermacam-macam makanan perpaduan Tionghoa dan Sunda. Walaupun letaknya agak blusukan, kalau hujan pun becek, ternyata tiap akhir pekan daerah ini pasti penuh dengan pengunjung. Oh ya, tahun lalu, saya sempat kesini juga, menyaksikan Pesta Rakyat yang memang digagask bersamaan dengan perayaan Imlek.

20160208_085249

Hampir seluruh daerah di dunia ini memiliki daerah Pecinan bahkan Banda Aceh yang terkenal dengan kota syariah pun memiliki daerah pecinan. Dan kenyataannya mereka berbaur sebagaimana mestinya.  Sementara itu, dua daerah pecinan di luar negeri sangat berkesan bagi saya adalah Pecinan di Malaka, Malaysia dan China Town San Francisco.Suasana Pecinan di Malaka, sangat kental dengan arsitektur perpaduan Melayu, Muslim dan Portugis, sementara di San Francisco, China Town tidak saja jadi pusat souvenir tetapi seperti menjadi pusat peradaban orang Asia di Amerika. Tidak saja didiami orang China, namun tempat ini menjadi pusat perdagangan barang-barang Asia. Meskipun arsitekturnya terkesan modern, tetapi ornamen China Town di San Francisco, meriahnya sama dengan perayaan imlek di Indonesia yang hanya satu tahun sekali.

(Visited 186 times, 1 visits today)

Indonesia Lover & Penikmat kopi

1 thought on “Suryakencana, pecinan di sudut Bogor”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *