Buat saya yang sering traveling, menemukan kamar hotel atau penginapan yang nyaman adalah tantangan tersendiri. Dengan sebagian besar gaya liburan yang simple, praktis dan backpacking, harga selalu menjadi konsen utama saya dalam memilih hotel. Walapun demikian, kamar yang bersih, nyaman, lokasi strategis juga tidak kalah pentingnya. Gak mau dong tinggal di kamar yang bikin liburan jadi ribet dan bukannya refreshing, malah kita tidak nyaman untuk beristirahat. Urusan pesen kamar ini memang keliatan simpel, tapi survei membuktikan biaya penginapan umumnya adalah salah satu budget terbesar dalam liburan. Untuk mengakalinya, sebagai traveler kita harus pandai mengatur strategi. Kalau saya, strategi pertama liburan adalah, menentukan hari libur justru bukan saat liburan panjang. Poin awal ini penting banget. Selain harga-harga bisa melonjak 2-3 kali lipat saat musim liburan, rasanya menikmati tempat wisata yang penuh sesak juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Buat yang kerja kantoran, simpen jatah cuti baik-baik ya..

Baru baru ini saya menemukan website www.airyrooms.com yang menawarkan konsep berbeda dibandingkan berbagai online travel agent yang sudah lebih dulu eksis. Ternyata airyrooms juga sudah banyak direkomendasikan oleh teman-teman traveler. Airyrooms adalah sebuah perusahaan teknologi di bidang hospitality yang istilah kerennya adalah Virtual Hotel Operator (VHO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Kini airyrooms telah memiliki jaringan di lebih dari 18 kota dan akan terus bertambah.

sumber: airyrooms.com
sumber: airyrooms.com

Hotel Budget dengan Fasilitas Oke
Nah, buat kamu-kamu yang ingin pelesiran yang tetap nyaman namun budget terbatas, Airyrooms wajib banget jadi pertimbangan. Uniknya, meskipun kamarnya tersebar dimana-mana dan dikelola sendiri oleh hotel/penginapan partner, Airyrooms memberi standar yang sama untuk setiap kamarnya. Jadi jangan khawatir, kita tetap bisa menikmati fasilitas yang sama di seluruh jaringan Airyrooms diantaranya AC, TV layar datar, air hangat, wifi gratis, air minum gratis dan lain-lain. Tentu saja kita masih bisa mendapatkan fasilitas lain yang memang disediakan oleh hotel partner. Enaknya lagi hotel-hotel yang bermitra dengan Airyrooms dijamin ada di lokasi strategis yang sebagian besar tidak jauh dari tempat-tempat wisata terkenal di kota-kota yang menjadi jaringan Airyrooms.

Soal harga, Airyrooms menjamin harga kamar mereka sangat bersaing dengan hotel-hotel terkemuka seperti hotel aston, whiz, swiss belinn, holiday inn, ibis, mercure, harris hotel, 1o1 hotel, padahal fasilitasnya bisa sama dengan hotel-hotel tersebut. Gak percaya, silakan cek beberapa testimonial dan review-nya di online travel agent lain seperti Traveloka dan Tripadvisor.

Review Hotel Airy Pakuan Bogor

Review Hotel Airy Airy Citraland International Surabaya

 

 

Pesan dan Bayar Mudah
Satu lagi keunggulan Airyrooms, jika kalian berada di daerah dengan akses internet yang terbatas, pemesanan bisa dilakukan melalui telepon dan aplikasi whats app. Proses pembayaran sepenuhnya akan dibantu oleh Customer Services yang siap melayanin 24 jam! Ini tentu inovasi baru, karena Airyrooms bisa jadi adalah travel agent online  pertama yang menyediakan pemesanan via whats app. Satu lagi, harga yang tertera di website Airyrooms sudah net alias tidak ada pungutan biaya macam-macam transaksi. Metode pembayaran pun sangat simple, bisa transfer atau menggunakan kartu kredit. Masalah keamanan, jangan khawatir. Airyrooms menjamin semua transaksi aman dan terkendali!

Buat yang mau rame-rame, banyak juga kamar yang ditawarkan cocok buat kita kita yang mau liburan bareng keluarga dan sahabat. Asik kan, selain harga terjangkau ,kalau rame-rame malah jadi lebih murah lagi, karena kita bisa sharing.  Pilihannya pun beragam, dari sekedar hotel yang hanya tempat transit, hingga hotel yang menyediakan fasilitas-fasilitas lain seperti kolam renang, fitness center atau tempat bermain anak.

source: airyrooms.com
source: airyrooms.com

Mau tau dimana saja lokasinya dan mau booking hotel yang murah dan fasilitasnya memadaiYuk ke Airyrooms! Happy Holiday

Hits: 838

Kembali ke Sabang bagi saya adalah kembali menyusuri harapan. Harapan yang sembilan tahun lalu pernah menemani hari-hari saya. Dulu, Sabang mungkin hanya sebuah kata yang saya dengar dari salah satu lagu wajib anak sekolah. Sabang cuma sebuah kata yang menunjukkan pangkal dari luasnya wilayah negara ini. Pesona Bahari Sabang laksana magnet yang terlalu kuat sehingga saya tidak kuasa untuk menolak panggilannya kembali,

Melewati kontur Sabang yang berkelok mengingatkan saya pada jalan menuju Pantai Senggigi di Pulau Lombok, tempat pertama kita bertemu. Saya mencoba meresapi sisa-sisa cinta yang mungkin masih membekas di tepi Pantai Iboh dan Pantai Gapang. Dulu disini kita pernah memandang temaramnya bulan dari bibir pantai berpasir putih yang landai hanya beralaskan tikar lusuh. Saat itu saya berharap ada bintang jatuh, kemudian saya ingin meminta kepada Penciptanya, agar kita bisa disini lebih lama. Membangun villa kecil di tepi Iboh dan mewujudkan mimpi saya untuk lebih banyak menulis sambil memandang laut lepas berhiaskan pohon nyiur dari jendela kamar kita. Ya, saya bosan dengan kehidupan dan hiruk pikuk Jakarta. Memandang laut lepas dengan siluet perahu nelayan dan membiarkan waktu seolah berhenti berputar adalah tujuan saya kembali kesini.

Malamnya, kita menikmati seafood yang bumbunya kamu racik sendiri sembari mendengar debur ombak yang seolah bercerita tentang kita. Obrolan malam kita selalu dilengkapi dengan meneguk nikmatnya kopi Aceh. Meskipun banyak perbedaan diantara kita, kamu sama seperti saya; penikmat kopi. Kopi itu sama seperti cinta, dia menyatukan meskipun selalu terasa getir diawal, manis akan kita rasakan di ujung hirupannya. Seperti cinta, kopi pun membuat candu, meskipun rasa pahit tak sepenuhnya hilang dari aromanya. Dan ini Aceh, si penghasil kopi kelas dunia. Namun sejatinya Ini bukan hanya tentang kopi. Ini bukan hanya tentang dimana kita menikmati kopi itu. Ini adalah cara kita berbagi cerita, cari kita berbagi rasa. Kopi adalah suara hati dan potongan rindu. Rindu kamu, rindu Aceh, rindu Sabang.

Di sebuah pagi kamu menantang untuk berenang dari Iboh menuju Rubiah yang hanya berjarak sekitar 350 meter. Gila memang… tapi itu biasa bagi turis, divers dan penikmat wisata bahari seperti kita. Bagi saya, pesona taman laut Rubiah tetap bisa dinikmati tanpa harus berenang menuju pulaunya. Teman-teman divers yang saya kenal, bahkan pernah mengatakan Rubiah adalah salah satu spot terbaik untuk diving dan snorkeling terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Begitu banyak kegiatan wisata bahari di Sabang yang kamu ceritakan kepada Saya. Saya bahkan baru tahu, Sabang juga menawarkan kegiatan memancing di laut dalam (deep sea fishing) di dekat Pulau Rondo.

 

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan (1)

 

Kamu juga sempat mengajak Saya, berjalan kaki menuju Tugu KM 0. Menyusuri tepian tebing dengan pepohanan rindang. Luar biasa bahagianya saya bisa sampai di ujung terbarat Indonesia itu. Sesuatu  yang dulu mungkin cuma mimpi. Tugu itu, kini telah direnovasi menjadi lebih menarik, meskipun bentuk aslinya masih sama. Konon di Merauke, batas terujung timur Indonesia pun memiliki bentuk tugu yang seragam. Yang selalu saya ingat, kamu bahkan hapal hewan-hewan yang sudah lama berdiam di seputaran tugu itu. Sampai-sampai kamu punya nama untuk menyebut seekor monyet dan seekor babi hutan yang sepertinya sudah sangat welcome terhadap turis-turis disana. Uniknya lagi, mungkin Tugu KM 0 adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang memberikan sertifikat kepada para pengunjungnya. Dan, nomer sertifikat saya adalah 59525. Artinya saya adalah pengunjung ke 59525 yang mendapat sertifikat dari Walikota Sabang. Cinderamata paling unik yang pernah saya dapatkan dari sebuah daerah bahari. Tidak hanya tugu, dibanding dulu hampir semua fasilitas wisata mulai dibenahi. Saya merasakan nafas wisata bahari sudah menjadi bagian seluruh penjuru Sabang. Kota kecil yang tenang, rindang, penduduk yang ramah membuat saya betah berlama-lama disini. 

Hari ini, disini, Saya duduk di batuan terujung Indonesia. Tadi malam sepertinya hujan, pepohonan disini pun masih basah. Namun Saya suka bau hujan,  seperti rasa suka saya pada kopi Aceh, pun seperti  rasa damai yang menyergap kala memandang birunya air Samudera Hindia. Merasakan indahnya negeri ini membuat saya makin bangga jadi warga nusantara. Bedanya, saat ini Saya sendiri. Sembilan tahun lalu, saya kehilangan berita tentang kamu, namun cerita sesaat kebersamaan kita akan selalu jadi cerita abadi bagi Saya. Kamu memang pergi, tapi jejak-jejak cerita kita di Sabang akan selalu jadi prasasti di hati Saya. Kapan pun dan kemana pun saya melangkah, Sabang adalah tempat kembali.

 

Hits: 1484

Kadang-kadang reuni-an itu beda-beda tipis kayak kondangan. Pertanyaan gak jauh-jauh dari: Sudah punya anak berapa? Kerja dimana? Jadi apa? Suami/Istri kerja apa? dimana? Memang sih, reuni itu tujuannya silaturahim. Saya juga kalau dateng ke reuni, niatnya begitu plus sedikit nyari jaringan buat kepentingan nyari rejeki. Tapi ujungnya, reuni cuma jadi ajang bertemunya orang-orang yang saling kepo. Kok, gw kok kayaknya baper banget ya.. Hahaha.. Mungkin inilah derita jomblo ngenes,suka sensitif duluan kalau ditanya status. Hahahaha…

Soal pekerjaan apalagi. Paling males kalau ada yang menyodori pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam 1-2 kalimat pendek. Misal: Kerja dimana? Dan saya jawab: Oh, saya konsultan freelance untuk pengelolaan fasilitas publik (beuh…contoh kok ribet amat..). Si penanya pun mengernyitkan dahi tanda bingung. Jaman saya (apalagi sebelum saya) dan mungkin sebagian orang jaman sekarang, menjawab pertanyaan seperti itu dengan merek-merek keren seperti:  Saya kerja di Pertamini, Saya kerja di Bank Midun atau Saya kerja di Oil Company pasti akan keliatan lebih keren, mantep dan membuat derajat kita seolah naik tiga level. Masih sulit rasanya membuat wajah si penanya terkagum-kagum jika kita menjawab: “Saya sekarang punya bisnis online, jualan lewat instagram. Kesannya pasti lebih mewah jika dijawab: Saya sekarang dinas di Kementerian Keuangan. Uhuk.

Ujung-ujungnya reuni sering bahkan selalu berujung gengsi. Percaya deh, pasti banyak yang males, kalo setelah lebih dari sepuluh tahun terpisah, dan kita masih naik bajaj datang ke lokasi reuni. Reuni seolah menjadi ajang pembuktian kesuksesan yang diukur dari “penampilan” kita saat datang. Jadi bahan obrolan seru, jika si Udin yang dulu dekil, kumel, item dan jelek sekarang hanya 11-12 dengan bintang iklan televisi dan bergaya bak eksekutif muda. Lebih enak digosipin jika si Wati yang dulu tidak pernah dilirik cowok di kampus tetiba menjadi bintang reuni. Atau bahkan sebaliknya si Robert yang dulu keren, kini beda tipis dengan pencandu narkoba sama hebohnya jika si Bianca yang dulu bunga sekolah sekarang sudah menjanda tiga kali.

Memang, reuni itu niat utamanya silaturahim, apalagi menurut agama saya, silaturahmi adalah media untuk memperpanjang umur. Tapi saya pribadi lebih senang datang ke reuni-reuni kecil dengan teman-teman dekat yang memang sudah mengenal saya, plus masih sering kontak meskipun tidak intens. Saya paling males untuk “mempresentasikan” diri dalam  sebuah reuni. Kini kecanggihan teknologi membuat “reuni dunia maya” bisa dilakukan kapan saja. Di beberapa kejadian, saya malah sering kagok datang ke sebuah reuni besar sendirian. Bertemu orang-orang lama membuat kita butuh sedikit waktu untuk “menyesuaikan diri”. Namun adanya grup-grup chat di smartphone membuat rasa kagok itu sedikit berkurang.

Lucunya, selain alasan-alasan diatas ada hal lain yang membuat orang enggan datang ke reuni. CLBK! Yes, dari beberapa rubrik relationship, saya sering sekali membaca banyak perselingkuhan yang terjadi adalah buah dari reuni. Ini benar-benar patut diwaspadai oleh suami/istri yang pasangannya punya niat reuni. Serius! Mungkin dulu banyak cinta yang belum kesampean. Dan kini kita bertemu lagi sang mantan dalam rupa yang lebih kinclong dan lebih mengejutkan lagi, seperti Bianca diatas, dia sudah kembali single. Tiba-tiba anak istri di rumah pun terlupakan! Beware!

Hits: 1449

Kalau sesekali berkunjung ke Sumatera Selatan, bolehlah mampir-mampir ke Pagaralam, kota kecil di kaki Gunung Dempo berjarak kurang lebih 6 jam dari Kota Palembang. Enam Jam? Jauh juga yaa, bro.. Tapi tenang, pemandangan indah sepanjang perjalanan tidak akan membuat enam jam itu menjadi perjalanan yang membosankan. Kalau punya dana lebih, bisa juga naik pesawat kecil (yang sayangnya jadwalnya masih terbatas). Atau, jika sedang ke Bengkulu, tidak ada salahnya juga meluangkan waktu sekitar 4 jam menuju Pagaralam.

CIMG1331
Bye.. Jakarta.. 🙂

Mungkin banyak yang berpikir Puncak adalah maskot pegunungan dan kebun teh padahal Pagaralam juga kebun teh yang dikelola oleh PTPN VII. Kontur daerahnya pun nyaris sama dengan Puncak Bogor. Kantor Pemerintahan di Pagaralam menurut saya adalah salah satu lokasi yang paling unik karena berada di perbukitan menuju kebun teh. Dua lokasi kantor pemerintahan yang juga “lucu” menurut saya adalah Provinsi Gorontalo yang juga di perbukitan dan Kantor Bupati Badung, Bali yang mewah, luas ibarat Pura di perbukitan. Uniknya di Pagaralam ada undakan anak tangga yang sering disebut Tangga 1000 di tengah-tengah kebun teh. Lumayan kan, gak usah tracking kalau mau jalan-jalan kesini. Kalau mau menikmati sawah seperti di Ubud, pun ada di Pagaralam. Bedanya, disini daerahnya masih sangat alami. Belum banyak villa-villa mentereng, taman-taman wisata apalagi seperti hotel – hotel di Bali.

IMG_1754
Ini bukan Puncak!

Kembali ke Pagaralam adalah kembali ke alam. Disini ada beberapa air terjun yang masih sangat alami yang bahkan sepertinya kurang “diurus” oleh Pemerintah. Kurang lebih tercatat ada 6 air terjun disini: Curug Ayek Kaghang, Curug Batu Betulis, Curug Basemah, Curug Embun, Curug Lematang Indah, Curung Mangkok. Oya, orang sini menyebut Curug dengan Cughung (dengan penyebutan huruf r yang agak cadel. Nah, di perjalanan menuju Pagaralam pun, akan ditemui jurang berkelok seperti kelok 8 di Sumatera Barat. Bagi yang senang sejarah, Pagaralam juga banyak menyimpan sisa-sisa jaman megalitikum yang lagi-lagi memang belum dianggap aset yang penting. Beberapa tahun terakhir, pemerintah nampaknya mulai melek akan potensi Pagaralam. Karena tanahnya yang subur beberapa hasil perkebunan salah satunya teh dan kopi, sudah dikemas secara ekslusif yang cocok banget buat oleh-oleh. Asal tahu aja, Pagaralam adalah salah satu pemasok sayuran segar untuk wilayah Sumbagsel.

IMG_20140729_133127
paling enak makan di pinggir sawah…

Kalau ingin merasakan liburan ke rumah nenek, seperti lagu anak-anak jaman dulu, Pagaralam-lah tempatnya! Merasakan kembali makan di sawah, memetik sayur dan menangkap ikan sendiri adalah liburan yang terkadang nilainya lebih “mahal” daripada jalan-jalan di mall. Di daerah-daerah lain seperti Bogor, Bandung atau bahkan seperti agrowisata yang sudah penuh Hotel di Bali adalah hal yang sudah banyak dijumpai, namun belumlah demikian di Pagaralam. Biarlah Pagaralam tetap dengan keasrian dan alami-nya. Biarlah (untuk sementara) Pagaralam menjadi Pagar Alam yang sesungguhnya. Jauh dari polusi, jauh dari tangan-tangan jahil dan jauh dari hiruk pikuk dunia kota.

Hits: 944

Namanya Supardi. Saya mengenalnya hanya beberapa hari dalam perjalanan umroh beberapa waktu lalu.  Kami tergabung dalam rombongan yang sama. Kami sebenarnya  tidak intens berkomunikasi, hanya sesekali di sela ibadah atau dalam perjalanan tour di di dalam bis. Terakhir saya berbincang cukup lama ketika menunggu keberangkatan pesawat kami kembali ke Jakarta.

Kalau ada sinetron tukang bubur naik haji, nah ini cerita tentang tukang sayur pergi umroh. Supardi, don’t judge a book by its cover… Datang bukan dari keluarga berpunya dan berprofesi sebagai pedagang sayur keliling di sebuah daerah di pinggiran kota Bandung –tidak menjadi alasan untuk tidak memenuhi panggilan Allah.

supardiUsianya belum genap 25 tahun. Awalnya saya pikir ia salah satu anggota dari rombongan yang mendapatkan hadiah umroh dari sebuah institusi di Bandung. Dari gerak gerik, pembawaaan dan cara bicaranya kita pasti bisa menebak bahwa ia bukan dari kalangan “luar biasa”. Pertama kenal dia cuma bilang; “Saya kerjanya di pasar”. Kelihatan, Ia juga bukan orang dengan pendidikan tinggi. Saya lupa menanyakan pastinya. tapi sepertinya ia hanya sempat bersekolah hingga SMP. Namun dalam caranya bertutur sama sekali tidak ada rasa rendah diri malah terkesan sangat bersahabat.

Selama umroh saya jarang bertemu dengannya, sepertinya dia lebih banyak beri’tikaf di masjid. Belakangan dia baru memberi tahu, selama program yang hanya 10 hari (plus perjalanan) itu, ia berusaha menamatkan Al Qur’an. Luar biasa menurut saya (baca: dibandingkan dengan saya yang suka males-malesan) Tak jarang setiap mengaji Supardi menangis, karena sama sekali tidak terbayangkan bisa sampai jazirah Arab. Frekuensinya melakukan rukun umroh juga lebih banyak dibanding jamaah lain. Hebatnya lagi karena perawakannya yang kecil, ia berhasil menerobos ke depan hajar aswad melalui kaki-kaki jamaah yang berebutan mencium batu hitam itu. Sementara untuk mencapai batu itu, perjuangan “mengalahkan” jamaah dengan badan-badan super besar berkulit hitam tentu bukan hal mudah. Benar-benar berkah Allah buat Supardi.

Di obrolan terakhir, ia banyak bercerita tentang perjuangannya menuju Baitullah. Setahun terakhir, setiap pulang kerja ia selalu menangis jika melewati sebuah masjid di kampungnya. Tiba tiba saja terbersit keinginan yang sangat kuat untuk pergi ke tanah suci. Berbagai cara yang halal pun diupayakannya.  Selama setahun ia berusaha melunasi dulu hutang modal jualan sayur ke koperasi di desanya. Setelah lunas, barulah ia menabung untuk memenuhi mimpinya itu.  Ia mengaku juga dibantu oleh seorang pemuka agama di desa yang menguatkan untuk menyisihkan laba dagangannya. Hingga awal Maret 2013, ia sama sekali tidak menyangka jika Pak Ustadz itu sudah mendaftarkannya untuk berangkat di bulan April ini. Tentu saja bekal tabungannya belum cukup. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia pun “jungkir balik” mencukupi biaya yang totalnya mencapai Rp18 juta. Jumlah yang bukan sedikit, apalagi harus dicukupi dalam waktu kurang dari sebulan.  Anehnya, ada saja jalan halal untuk mendapatkan uang lebih.  Ia sendiri bingung, baru kali ini jualannya bisa mendapatkan untung hingga Rp2 juta dalam seminggu. Masyaallah..

Dari semua cerita panjangnya, saya terkesima ketika ia mengatakan; “betapa adilnya Allah yang menurunkan Islam di bumi Arab Saudi yang gersang, tandus dan nyaris tidak ada apa-apa”. Saya diam, mencoba mencerna apa yang ia katakan dengan analisis yang tidak terlalu tinggi-tinggi.  Ternyata jawaban dia sungguh di luar imajinasi dan kemampuan analisis saya (yang sok tinggi). Katanya (dengan dialek Sunda-nya yang kental): “Coba bayangkeun, kalau Islam turun di Pulau Jawa yang subur, siapa yang mau bercocok tanam?  Siapa yang mau memanfaatkan hasil bumi?” Semua akan sibuk beribadah seperti hiruk pikuk di Tanah Haram. Jlebb!!! Pernahkah saya berpikir begitu? Kayaknya belum pernah deh…..dan saya yakin lingkungan saya yang penuh dengan orang-orang sekolahan dengan pekerjaan mentereng dan mengaku beriman, belum tentu juga berpikir yang sama. Ya Allah, Supardi pedagang sayur keliling yang tidak makan bangku sekolahan ini membuka mata saya, bahwa Allah juga begitu adil memberikan ia pemikiran sederhana tapi mendalam. Bahwa pada akhirnya dunia dan akhirat memang harus seimbang, hingga sedetail itu alasan Allah menurunkan Islam di Tanah Arab.

Kemudian kami berpisah, mungkin ia sudah lupa dengan saya, namun terima kasih Supardi, kamu sudah memberi keyakinan lagi, bahwa buat pergi ke Tanah Suci bukan masalah waktu dan masalah biaya tapi masalah niat yang kuat. Terima kasih juga sudah membuka mata saya untuk tidak boleh memandang rendah orang lain dari kalangan mana pun ia berasal. Semoga kapan-kapan kita bisa ketemu lagi, yah..  Oh, ya kalo sempet baca ini (mungkin gak, Supardi googling-an??.. Thanks juga waktu di bandara sempet gotong-gotong jatah air zam-zam saya yang 10 liter itu… 🙂

Tulisan bersama-sama dengan Komunitas TravelBloggerIndonesia untuk 14 Februari. #travelmate. Yuk dibaca posting teman-teman saya berikut ini..

1. Shabrina – 14 Signs You Found The Perfect Travel Mate
2. Astin Soekanto – Travelmate, Tak Selalu Harus Bareng Terus Traveling Kemana-mana
3. Parahita Satiti – #UltimateTravelmate: Rembulan Indira Soetrisno
4. Dea Sihotang – Hindari 7+1 Hal Ini Saat Sedang Ingin Cari Teman Jalan
5. Titiw Akmar – 10 Alasan Mengapa Suami Adalah Travelmate Terbaik
6. Mas Edy Masrur – Istriku Travelmate-ku
7. Olive Bendon – My Guardian Angel
8. Leo Anthony – Travelmate(s), It’s Our Journey
9. Indri Juwono – Si Pelari Selfie, sebut saja namanya Adie
10. Rembulan Indira – Ultimate Travelmate : Kakatete
11. Karnadi Lim – Teman Perjalananku dan Kisahnya
12. Rey Maulana – Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?
13. Atrasina Adlina – Menjelajah Sebagian Ambon Bareng Bule Gila
14. Richo Sinaga – My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K
15. Puspa Siagian – Travelmate : GIGA
16. Sutiknyo Tekno Bolang – Mbok Jas Teman Perjalanan Terbaik
17. Taufan Gio – Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?
18. Lenny Lim – 3 Hal Tentang Travel-Mate
19. Matius Nugroho – 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita
20. Wisnu Yuwandono – Teman Menapaki Perjalanan Hidup
21. Fahmi Anhar – Teman Perjalanan Paling Berkesan
22. Liza Fathia – Naqiya is My Travelmate
23. Imama Insani – Teman Perjalanan
24. Indri Juwono- Si Pelari Selfie
25. Putri Normalita- My Unbelievable Travelmate

Hits: 3076

Hujan semalam membuat pagi ini masih terasa basah. Saya melangkah ringan menuju Suryakencana sebuah daerah pecinan di Bogor. Pagi ini saya ingin merasakan aura tahun baru Cina di salah satu pusat kota Bogor.  Bersama seorang teman pagi-pagi kami sudah nongkrong di depan Vihara Dhanagun. Terlihat sudah banyak umat yang bersiap-siap untuk beribadah. Ternyata banyak juga mereka yang memang cuma pengen lihat-lihat seperti kami. Dan ternyata, Pak Polisi dan penjaga vihara mengijinkan kami masuk hingga ke tempat ibadah daIMG-20160208-WA0015n boleh mengambil foto selama tidak menganggu mereka yang beribadah. Wow!

Vihara Dhanagun, bagus banget, dan konon sudah berusia 300 tahun. Meski letaknya berhimpitan dengan pasar, tidak menghilangkan suasana magis dan sakral yang melingkupinya. Ornamen merah dan emas memenuhi ruangan kelenteng yang membuatnya terasa mewah. Di halaman kelenteng dihidupkan banyak lilin-lilin raksasan berwarna merah. Kata penjaganya, lilin-lilin itu masing-masing mempunyai pemilik yang namanya tertulis di batang lilin dalam huruf China. Konon, lilin adalah media untuk menyampaikan doa.

Lepas dari Vihara Dhanagun, kami menyusuri jalan Suryakencana untuk mencari Sarapan pagi. Jalanan sepanjang tidak lebih dari 3 km ini terkesan semerawut. Deretan toko-toko di kawasan yang padat ini, masih memiliki bangunan-bangunan tua  yang sebagian besar masih difungsikan untuk berdagang. Disini ada toko-toko legendaris Bogor yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Beberapa diantaranya mulai terlihat sepi, tergerus era digital marketing dan modern channel lainnya. Ada satu dua gedung yang masih memperlihatkan sisa-sisa kolonial, sayangnya kesan tidak terawat tampak sangat menonjol. Salah satu bangunan tua itu digunakan sebagai cabang Bank Mandiri.

20160208_103019
gedung tua di Suryakencana

Suryakencana adalah salah satu pusat kuliner di Kota Bogor.  Bukan cafe mewah yang menjadi andalan, tetapi justru pedagang kali lima dan ruko-ruko tua yang mungkin sudah berdagang puluhan tahun yang jadi destinasi.  Makanan itu pun masih diolah secara tradisional. Saya menemukan satu orang Bapak yang sudah berjualan martabak lebih dari 30 tahun dan, ia tetap mempertahankan cara memasaknya yang menggunakan arang. Di Gang Aut salah satu jalan disini, tersedia bermacam-macam makanan perpaduan Tionghoa dan Sunda. Walaupun letaknya agak blusukan, kalau hujan pun becek, ternyata tiap akhir pekan daerah ini pasti penuh dengan pengunjung. Oh ya, tahun lalu, saya sempat kesini juga, menyaksikan Pesta Rakyat yang memang digagask bersamaan dengan perayaan Imlek.

20160208_085249

Hampir seluruh daerah di dunia ini memiliki daerah Pecinan bahkan Banda Aceh yang terkenal dengan kota syariah pun memiliki daerah pecinan. Dan kenyataannya mereka berbaur sebagaimana mestinya.  Sementara itu, dua daerah pecinan di luar negeri sangat berkesan bagi saya adalah Pecinan di Malaka, Malaysia dan China Town San Francisco.Suasana Pecinan di Malaka, sangat kental dengan arsitektur perpaduan Melayu, Muslim dan Portugis, sementara di San Francisco, China Town tidak saja jadi pusat souvenir tetapi seperti menjadi pusat peradaban orang Asia di Amerika. Tidak saja didiami orang China, namun tempat ini menjadi pusat perdagangan barang-barang Asia. Meskipun arsitekturnya terkesan modern, tetapi ornamen China Town di San Francisco, meriahnya sama dengan perayaan imlek di Indonesia yang hanya satu tahun sekali.

Hits: 1288

Membaca status Facebook seorang teman, saya sering terkagum-kagum sendiri. Hari ini dia bisa berkomentar lancar tentang Partai Golkar yang tiba-tiba menyatakan dukungannya ke Pemerintah. Kemarin, dengan canggihnya ia mengeluarkan analisis teror Bom Thamrin (Sarinah). Saat bersamaan, ia membagi berita tentang Gafatar, kelompok aliran terlarang disertai komentar yang (kelihatannya) cukup cerdas. Kemudian ia tiba-tiba jadi detektif ulung mengomentari kasus kriminal pembunuhan Mirna yang sedang ramai dibicarakan.  Dan populasi orang seperti itu tidak sedikit. Coba buka  sosial media, masyarakat kita selalu mampu menjadi pakar ahli atau komentator ulung terhadap kasus-kasus yang lagi marak. Eh, dilala.. saya pun kadang merasa diri saya bagian dari mereka. Hahahha..

Wow, luar biasa, darimana kita bisa begitu multitasking?!

Dengan hanya membaca satu berita, kita sudah cukup percaya diri untuk berkomentar. Kadang baca beritanya pun hanya dari satu media -dimana kini sebagian besar media memang tidak netral-. Cckckck.. Belum lagi, kita sering sekali menelan mentah-mentah apa kata media tanpa mencari informasi pembanding. Lebih lucu lagi, kalau baca berita, coba lihat bagian komentarnya. Saya salut, meski banyak yang belum tentu punya  pengetahuan yang cukup tentang topiknya, ternyata tidak menghalangi mereka untuk berkomentar. Wah, seru-seru.Bahkan kadang ada yang saling berantem, mengeluarkan kata-kata tidak pantas padahal sejatinya mereka tidak saling mengenal. Kalau dibikin Komentator Championship, saya yakin pesertanya pasti banyak!  Kebalikannya, di media sosial kolom komentar justru sudah sangat lazim digunakan sebagai tempat promosi jualan. Makin banyak follower, siap-siap akan akan dapet makin banyak komentator buka lapak. Nah, loh?!

8906476-Illustration-of-a-Group-of-Kids-Talking-Stock-Illustration-talking-children-people

Jangan heran kalau sekarang komentator menjadi sebuah profesi. Kalau dulu cuma ada profesi komentator bola, sekarang semua  bisa punya komentator yang kalo di televisi sering disebut dengan julukan keren seperti: pengamat atau pakar. Saya tidak bilang, komentator itu jelek loh, banyak dari mereka memang pakar di bidangnya. Contohnya beberapa ajang pencarian bakat di Televisi sangat mengandalkan komentator. Mereka umumnya memang tidak memberi penilaian kepada peserta, tetapi komentar mereka nyaris bisa mempengaruhi vote penonton di rumah. Tapi lebih banyak lagi komentator karbitan yang mendadak ditodong stasiun televisi untuk memberi pendapat tentang satu kasus yang lagi marak, tapi knowledge-nya terhadap kasus yang dia komentari masih sepotong-sepotong. Para komentator ini, entah yang profesional maupun yang amatir, tanpa disadari mampu menggiring opini publik. Setiap komentator hampir selalu mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan komentator satunya. Celakanya, sebagian masyarakat kita belum cukup dewasa dan cerdas untuk melihat semuanya secara imbang. Akhirnya, mana yang paling banyak disorot, mana yang paling sering tampil, perlahan tapi pasti akan mempunyai lebih banyak “pengikut”.

Gejala apa ini?! Coba tanyakan kepada ahli psikologi atau ahli sosial kemasyarakatan. Boleh juga tanya sama pakar IT, telekomunikasi atau telematika. Satu dekade yang lalu, fenomena ini mungkin nyaris tidak ada, setelah dunia digital makin marak, rasanya hidup itu garing kalau tidak berkomentar setiap hari. Hahahaha..Nah, berkomentar sebenernya sah-sah saja.

Cuma baiknya kalau mau berkomentar, coba cari tahu dulu lebih banyak bukan asbun mengikuti trend. Baiknya sih, berkometarlah hanya untuk sesuatu yang benar-benar kita pahami, gak cuma bikin rame doang. Lebih penting lagi, jangan cuma berkomentar, tapi do something real!

Hits: 739

Surabaya is a beautiful and bustling port city on the island of Java. Because of this, it attracts people from all over the world who want to live and work here. If you are looking to sell your home in Surabaya, chances are you may encounter a non-Indonesian to buy it. If that is the case, there are some special considerations that need to be known to you as the seller and to the potential buyer of you home. Here is what you need to know about foreign ownership and how it could impact the sale of your home in Surabaya.

The Fundamentals

If a foreigner wants buy land in Indonesia they must first navigate some intricate land laws. Indonesian land law is, in fact, distinctly unlike laws in most other developed countries. Any foreigner interested in buying land in Indonesia must first understand the law and understand that the laws from whatever country they may be coming from do not apply. For starters, there are several different types of titles recognized in Indonesia. Those are outlined here for your understanding as a seller as well as the understanding of any foreigner that may be interesting in buying your home.

Freehold Title or Hak Milik

This is a type of title can only be held by an Indonesian citizen. A foreigner will not be able to have ownership of a direct freehold or land in Indonesia.

Building Rights Title or Hak Guna Bangunan

These types of titles gives the holder the right to build and own buildings on land that somebody else owns. This title can only be granted for 30 years but can be extended for another 20 years. These titles are granted to citizens or authorized entities and can be used as collateral or reassigned to a third party.

Right to Use Title or Hak Pakai

This is basically a freehold title for foreigners. This enables a foreigner to buy use of a Hak Milik land, but it is registered in a separate certificate in the name of the foreigner. This type of title is not the same as a leasehold title, or Hak Sewa. These titles are denote a registered interest in the land. A foreigner may only hold one of these titles in Indonesia at a time.

These titles are granted for a term of 25 years initially but can be extended for up to a total of 100 years. These are also transferrable titles.

Leasehold or Hak Sewa

Leasehold titles are granted to both tenants of residential properties as well as commercial ones. The lease is in the name of the foreigner and are generally for periods of time between 30 and 50 years, agreed to in advance of the lease signing.

How Can a Foreigner Legally Buy Property?

Now that all the different titles are out of the way you can begin to understand how a foreigner can legally purchase a home in Surabaya, because it is possible for foreigners to do this and enjoy the full rights of owning property. There are two basic ways for this to happen:

  • Nominee Arrangement where the an Indonesian citizen is nominated to buy land on the foreigners behalf
  • Form a foreign investment company to purchase the title

Nominee Arrangement

This is probably one of the most common ways in which a foreigner will buy a home or land in Indonesia. The ownership of the land is transferred from the previous owner to the nominee. For the security of the buyer there must be several agreements made with the nominee.

The first is a loan agreement where that indicates that the buyer lent the money to the nominee to buy the property. The second is the Irrevocable power of attorney which gives the buyer full authority to sell, lease or mortgage the land. The final agreement is called permanent right of use agreement that states that the buyer has full rights to own and live on the land.

What this Means for the Seller

When you are in the market to sell your home it is best to have professional help in order to navigate the details of someone purchasing your property. This protects your rights as the seller as well as the rights of the person purchasing the home.

What you should try to concentrate on as the seller is to familiarize yourself with the process in order to make sure you are aware of what is going on at any given point in the sale. Knowledge is definitely power and this is one transaction where you want as much power as you able to get.

It’s possible that you may never encounter a foreigner wishing to buy your property, but it’s better to be prepared and know the land laws in your country before you start!

Hits: 1285

Ada yang berbeda dari teror bom di Jakarta, 14 Januari 2016 lalu dengan aksi-aksi serupa sebelumnya. Saya awalnya cemas, bukan hanya cemas tentang keselamatan diri sendiri dan keluarga, namun juga cemas akan pengaruhnya kepada ekonomi kita yang baru merangkak naik lagi. *Duh, bahasa gw berat banget ya…udah kayak pejabat keuangan negara. Hehehe.. Tapi serius, teror-teror bom sebelumnya benar-benar berdampak bagi berbagai aspek di negara ini. Dari nilai rupiah yang jeblok, kunjungan wisatawan yang turun dan yang rusaknya kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia. Belum lagi “tatapan” orang asing terhadap bangsa kita yang “seolah-olah” semuanya adalah antek-antek teroris. Tidak heran, beberapa negara besar “mempersulit” memberikan Visa kunjungan kepada WNI apalagi bagi mereka yang memiliki nama berbau-bau Arab dan Islam.

Namun semangat yang lain saya rasakan setelah tragedi 14 Januari 2016 lalu. Rasa cemas yang dulu-dulu selalu hadir di peristiwa serupa, justru melahirkan rasa optimis, bahwa kita mampu mengenyahkan teroris dari muka bumi Indonesia. Kehadiran Presiden Jokowi hanya beberapa saat setelah kejadian, ketika lokasi belum sepenuhnya steril, tanpa baju pelindung,  berjalan gontai namun tetap tegas seolah menjadi simbol bagi dunia luar. Jokowi ingin menunjukkan jika Ia saja berani, lalu tidak ada alasan bagi rakyatnya untuk tidak berani. Seingat saya, di peristiwa-peristiwa sebelumnya Presiden-presiden terdahulu tidak hadir langsung setelah kejadian.  Kemudian, di sore harinya mulai muncul berbagai macam tagar di sosial media untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut dengan segala ancaam teror ini. Sungguh, ini adalah sesuatu yang akhirnya membuat rupiah tidak jadi terpuruk. Berbagai rumor yang menyebutkan ini adalah sekedar pengalihan dari beberapa isu pun akhirnya tidak terbukti.

Lepas dari berbagai ironi, antara musibah dan realita satir -seperti pedagang asongan yang cuek beralu lalang, masyarakat yang asyik menonton aksi baku tembak, tukang sateng yang tetap eksis jualan atau obrolan tentang polisi ganteng-, bagi saya teror yang dilakukan entah siapapun itu kemarin bisa dibilang gagal. Jika dilihat dari jumlah korban, justru korban dari terduga pelaku yang lebih banyak daripada masyarakat sipil. Ini satu-satunya yang pernah terjadi di dunia! Memang, sedikit atau banyak jumlahnya, ini tetap masalah nyawa, bukan bahan becandaan. Namun kalau dihitung-hitung toh metromini  “membunuh” masyarakat lebih banyak setiap tahunnya. Hehehe.. Ya secara sederhana apa yang perlu dikhawatirkan, jika “kekejaman” lain seperti metromini tadi sudah biasa ada dalam keseharian orang Indonesia. Yang lebih berbahaya justru adalah kekhawatiran rusaknya ideologi bangsa karena aliran-aliran sesat yang dibawa oleh para teroris.

Ada lagi yang bilang, bahwa aksi dan kampanye di sosial media dengan tagar #KamiTidakTakut, sebenarnya hanya sebuah kamulflase dari rasa takut yang terselimuti. Saya kok tidak setuju ya, saya yakin dasarnya orang kita adalah orang-orang yang berani dan kuat. Kita bukan bangsa yang manja, karena hidup di negeri ini nyaris minim fasilitas tidak seperti negara-negara maju. Adalah salah pula, jika dikatakan aksi di sosial media ini justru akan membuat kita lupa akan kewaspadaan jika hal serupa terjadi. Hey,..masalah kewaspadaan, keamanan serahkan urusannya kepada yang berwenang, yang bisa kita lakukan satu-satunya adalah mempererat persatuan diantara kita dan sosmed adalah salah satu media untuk itu. Ada yang salah? Gak kan? Tidak Takut dengan Tidak Waspada adalah dua hal yang sangat berbeda.  Justru masyarakat sebenarnya marah namun cara pengungkapannya  yang berbeda.

Ketika Paris dibom beberapa waktu lalu, media-media disana memunculkan berita-berita yang membuat situasi makin mencekam. Paris Under Attack yang kemudian diikuti oleh pernyataan Presiden Perancis yang mengatakan: We are at War. Memang, secara jumlah korban bom Sarinah kemarin jauh lebih sedikit dibanding Bom Paris. Namun lagi-lagi ini masalah nyawa bukan hanya jumlah. Lalu, apakah Presiden kita mengeluarkan pernyataan serupa? Tidak! Presiden Jokowi justru seolah menantang dan mengajak masyarakat bersatu bersama-sama memerangi teroris. Bagaimana dengan media? Ini dia hebatnya, meski beberapa media memang suka lebay, namun sehari setelah kejadian, hampir semua media justru memunculkan rasa optimisme masyarakat yang besar untuk melewati semua ini. Kita pun saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bahkan di Facebook ada gerakan untuk tidak menambah banyak posting foto-foto kejadian dan korban  yang dikhawatirkan juga akan membuat heboh. Meskipun akhirnya yang muncul justru meme-meme lucu yang kadang memang agak garing yang sedikit lepas dari fokus kejadian yang sebenernya. But, it is Indonesia!

Berkaca dari banyak kejadian, bangsa kita ini justru makin erat bergandengan tangan jika terjadi bencana. Sebagai contoh,  saat tsunami 11 Tahun lalu semua datang ke Aceh untuk saling membantu, tanpa melihat suku, bangsa, agama, ideologi apalagi partai. Sebelas tahun berlalu, Aceh lebih maju.. Tapi kita justru nyaris terpecah belah, karena perbedaan “pandangan” yang tidak seberapa penting. Sibuk mencaci maki, sibuk mencela, sibuk menjadi haters, sibuk berburuk sangka. Kini, ketika musibah terjadi lagi dalam wujud yang berbeda, terasa bahwa kita sejatinya masih punya rasa solidaritas yang tinggi.  Ya, kita harusnya banyak belajar tentang persatuan dari bencana dan musibah.

Hits: 706

Destinasi-destinasi berikut saya temukan paling banyak di sosial media dan internet. Ada yang jauh, ada yang dekat. Good news buat pariwisata lokal. Selfie memang seru, tapi tetap perlu hati-hati. Sudah banyak kejadian selfie yang menantang bahaya benar-benar merenggut nyawa.

and..here they are…

1. Gunung Padang, Cianjur: Terletak  sekitar 1,5 jam dari Pusat Kota Cianjur Situs peninggalan kuno yang asal-muasalnya masih menjadi misteri Sebenernya bukan tempat baru, tapi ngetrend belakangan ini, karena banyak ditulis di blog-blog dan sosial media.

Mejeng di Puncak Gunung Padang
Mejeng di Puncak Gunung Padang

2. Kalibiru, Yogyakarta. Pernah liat orang yang foto seperti diatas pohon diatas ketinggian? Nah itulah Kalibiru, Yogyakarta. Baru tenar 1-2 tahun belakangan. Saya sih belum pernah kesana, tapi yang foto disanaa…ampunnn buanyaakk bangett..

Kalibiru sumber: paketwisatayogyakarta.com
Kalibiru
sumber: paketwisatayogyakarta.com

3. Tebing Keraton, Bandung. Bandung Memang gak pernah kehabisan lokasi wisata.  Konon katanya tebing ini baru ditemukan (mungkin maksudnya sih baru keliatan). Selain dekat dari Jakarta, tentu saja mampir kesini gak perlu effort besar, karena Bandung sudah hampir jadi tujuan wisata utama orang Jakarta dan sekitarnya

sumber: portalindonesianews.com
Tebing Keraton sumber: portalindonesianews.com

4. Benteng Martelo, Kepulauan Seribu. Ini dia wisata bahari yang dekat dari Jakarta, murah dan keren! Kita bisa berfoto ala miss universe disini…

sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com
Benteng Martelo sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com

5. Gunung Munara, Bogor. Hasil survei saya di Instagram banyak juga yang berfoto disini. Disini memang ada situs peninggalan kerajaan Pajajaran, tapi menjadi tenar karena di puncaknya yang menghadap langsung ke Bogor.

munara
Gunung Munara sumber: jalanpendaki.com

6. Pulau Padar, NTT. Upsss.. inilah tempat selfie yang saya tunggu-tunggu!. Jangan lupa mampir kesini buat ber-selfie aneka gaya… dan. jagalah kebersihan!

Pulau Padar sumber: wisatapriangan.com
Pulau Padar
sumber: wisatapriangan.com

7. Pulau Pianemo (Raja Ampat). Foto disini udah berasa kayak naik haji bagi sebagian traveler.Ada kebanggaan luar biasa kalau bisa sampai disini. Sampe-sampe tahun baruan kemarin, Presiden Jokowi pun nyari kecebong disini.. #Eh….:p

raja ampat
Pulau Pianemo

Hits: 1578

Judul tulisan diatas, semoga bukan cuma mimpi saya. Setiap awal tahun, ada yang jelas-jelas bikin target : tahun depan gak jomblo lagi, tahun depan beli rumah, tahun depan beli jet pribadi…bla..bla.. Tapi Saya rasa, sebagian besar orang membuat resolusi setiap tahunnya dengan tema-tema yang abstrak, seperti karir makin meningkat, rejeki makin lancar, ibadah makin baik, hidup lebih damai, dll. Padahal banyak yang lupa, meletakkan ukuran apa yang bisa menunjukkan peningkatan pada indikator-indikator tersebut. Apakah misalnya jadi manager atau direktur menunjukkan karir makin baik, apakah naik gaji, banyak proyek menunjukkan rejeki makin lancar?, atau seminggu minimal lima kali ke mesjid menunjukkan ibadah makin baik? Dan ukuran orang memang akan selalu berbeda-beda.

Setelah jungkir balik jadi orang kantoran (yang membosankan), saya mungkin terlambat membuat resolusi ini. Memang sih, kalau soal jalan-jalan mungkin frekuensi saya lebih banyak dari orang kantoran pada umumnya. Meski sejujurnya, harus diakui beberapa jalan-jalan memang “hadiah” alias dinas dari kantor. Nah, awal 2016 ini saya sudah bikin prasasti:  do more, travel more, learn more. Yes, meski saya sadar dengan pasti… kemungkinan besar akan mengorbankan kehidupan normal saya sebagai mbak-mbak kantoran (ciyeee…) yang seperti robot: bangun jam 4 pagi, mengejar kereta sebelum pukul 6 pagi. Duduk cantik di meja sebelum jam 8 pagi dan selalu kembali ke rumah setelah malam menjelang. Sounds boring, itu pun belum bonus macet, kereta ngadat dan keluh kesah (yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakkal setiap harinya).

Wonderful-Indonesia

Resolusi tadi sudah saya catat dengan indikator-indikator konkrit yang juga sudah saya tentukan, misal dalam tahun ini saya akan mengunjungi minimal 4 pantai di Indonesia. So far waktunya memang masih menyesuaikan dengan liburan umum dan kantong pastinya, tapi bisa jadi lima enam bulan ke depan berubah. Heheheh.. Entah kenapa, dua tiga tahun ini  saya semangat banget untuk jalan-jalan terutama keliling Indonesia. Pengen juga lebih banyak ke luar negeri, tapi saya bukan Trinity-lah. Saya cuma cinta Indonesia dan memang gak punya cita-cita lain selain keliling Indonesia. Keluar negeri bagi saya adalah bonus. Mungkin memang sekarang jamannya mengukuhkan diri sebagai seorang “traveler” lagi trend. Tapi tenang, bagi saya jalan-jalan itu bukan cuma foto-foto update status, dan bilang sama orang: Oh, I was there! Lebih dari itu dari jalan-jalan saya belajar banyak, tentang alam, pembagunan, infrastruktur, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan Tuhannya bahkan belajar politik! Nambahin tulisan di blog adalah salah satu bonus lain bahwa saya ingin lebih banyak orang kita mengenal negeri kita sendiri. Ada satu tulisan blog orang yang bilang, gak usah memprovokasi orang untuk pergi ke satu daerah, kalau nanti malah merusak daerah itu. Weks.. Buat saya itu gak salah, tapi benernya juga gak banyak :p. Justru dengan menulis dengan baik dan mengajak orang adalah cara mengedukasi calon wisatawan lokal. Karena cuma sektor pariwisata yang pertumbuhannya stabil dan berpotensi besar bagi negara. 

Di sisi lain, saya bingung banyak sekali orang yang “sangat menikmati” pekerjaan kantorannya. Dateng jam 7 pagi, pulang rata-rata jam 9 malem (bisa lebih), hampir gak pernah cuti dan sering lembur di sabtu minggu. Wow, luar biasaa.. Salut! Saya pikir mereka enjoy, eh…ternyata masih ada juga yang mengeluh “capek”. Wah..ternyata masih manusia biasa yang gak super… Dulu saya pikir quality time -yang sering diagung-agungkan oleh pemuja kesibukan- adalah slogan yang penting. Sayangnya sekarang bagi saya quality without quantity is nothing.  Di awal-awal bekerja secara profesional saya juga hampir tidak pernah cuti, pikiran sepenuhnya buat pekerjaan menjadi nomer satu, kadang gaji pun tekor atas nama loyalitas.  Saya tidak menyesal pernah di posisi seperti itu, justru saya belajar banyak karena saya mencintai pekerjaan Saya. Seiring berjalannya waktu, saya baru sadar sestrategis apapun posisi saya di satu perusahaan, saya tetap karyawan yang dibayar. Jika ada apa-apa dengan saya, perusahaan akan mudah mencari pengganti saya dalam hitungan hari, dan perusahaan akan berjalan baik-baik saja. Sementara waktu-waktu pribadi  saya dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan kegiatan sosial sudah banyak hilang karena pengabdian yang tidak mengenal waktu. So,You’re not as important as you think.. 

Saya percaya orang-orang yang suka piknik adalah orang-orang yang asyik. Percaya deh, kalo kurang piknik akibatnya seperti J**ru, yang setiap hari adaaa aajaa caranya untuk menebar kebencian.  Adalah paradigma lama yang menyuruh kita bekerja keras di masa muda kemudian menikmatinya di masa pensiun. Bagi saya -meskipun mungkin telat-, keseimbangan hidup itu dimulai dari sekarang, bukan setelah pensiun.  Manusia butuh hidup yang seimbang. Seimbang kerja, seimbang keluarga dan seimbang kehidupan pribadi dan bagi saya ada tambahan satu: seimbang jalan-jalan, melihat dunia lain, dan mengganti paradigma.  Kamu?

Hmmm… survei membuktikan, orang yang sering traveling adalah orang yang paling bahagia..

Hits: 867

Orang kerja, gue liburan, orang liburan gue kerja. Yes, hidup memang harus antimainstream. Saya selalu bepergian saat orang-orang lain justru berkutat dengan pekerjaannya, begitu juga sebaliknya. Tapi di liburan natal yang panjang minggu lalu, akhirnya saya memutuskan untuk ikut merasakan eforia liburan yang mirip libur lebaran. Dan, tiba-tiba inget, beberapa bulan lalu saya sempat membeli 1 voucher untuk Oneday Trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu dari TukangJalan DotCom seharga Rp 83 ribu saja. Harga yang relatif murah (banget) untuk bisa menikmati pantai. Dan siapa bilang Pulau Seribu, jelek? Meski belum okeh banget sih…, Pak Ahok masih punya deretan pekerjaan rumah untuk menggarap salah satu potensi wisata bahari Jakarta ini.

Ok, back to the topic, akhirnya saya bersama dua orang teman, pagi-pagi sudah nongkrong di kampung nelayan Muara Kamal untuk menuju 3 pulau Kelor, Onrust dan Cipir. Yah, dalam bayangan saya dan hasil googling kebanyakan, jalan-jalan kesini paling hanya untuk menikmati pantai, main air dan yang paling penting, apalagi kalau bukan ngambil foto sebanyak-banyaknya, dan sesegara mungkin mengunduh ke jaringan sosial media yang kita punya. Sangat Mainstream! Kalau saya sih plus bonus bisa jadi nambah-nambahin tulisan blog. Hehehe

onrust-1

Setiba di Pulau Kelor sebagai pulau pertama yang kami kunjungi, anggapan mainstream tadi mulai berkurang. Di pulau yang pernah menjadi lokasi pernikahan dua artis ternama- ada Martelo, benteng peninggalan jaman Belanda yang bentuknya menyerupai Mini Colloseum di Roma. Tempatnya bagus buat lokasi foto-foto. Lokasinya pun hanya sekitar 30 menit dari Darmaga Muara Kamal. Asiknya, pulau ini kecil banget, ibaratnya cukup dengan pake TOA, kita sudah bisa manggil orang satu pulau. Benteng Martelo adalah bagian dari Pusat Arkeologi Pualu Onrust, yang sebenarnya merupakan kesatuan dari tiga pulau, yaitu Onrust, Kelor dan Cipir. Wujud dan bentuk Benteng Martello adalah  masih terlihat meski tidak sepenuhnya utuh. Di Onrust dan Cipir, kita bisa menemukan lebih banyak lagi reruntuhan bangunan yang nilai sejarahnya sangat tinggi. Onrust sendiri konon berasal dari kata Un-rest, karena pada jaman VOC, pulau ini sangat sibuk sebagai pusat docking kapal-kapal dagang masuk dan keluar Batavia.

20151227_093925

onrust 5
Sisa-sisa bangunan di Onrust

Puas di Pulau Kelor, kami menuju Onrust dan Cipir yang letaknya berkedekatan, akan lebih banyak lagi sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda. Mulai dari perkantoran, penjara, rumah sakit bahkan asrama haji. Pulau Onrust dan Cipir dalam sejarahnya memang pernah beberapa kali dialihfungsikan mulai dari docking kapal, penjara (mirip-mirip Nusa Kambangan jaman sekarang) hingga pusat karantina haji pada tahun 1911. Disini juga ada makam Belanda yang antik namun sayang sudah banyak hancur akibar bencana alam dan memang tidak terurus.  Karena pernah juga dijadikan tempat pembunuhan tahanan politik dan perang serta tempat karantina orang-orang berpenyakit menular, gak heran kalau sekarang Pulau Onrust dikenal cukup angker… Hiiiiii…Syeeyeemm..

20151227_104722

Oh ya, jangan lupa mampir ke museum mini yang ada di tengah Pulau Onrust untuk tau sejarah lengkap pulau ini. Sayang, sebagian besar bangsa kita ‘agak males” belajar sejarah, dan tidak banyak yang berpikir bahwa sejarah itu punya nilai jual yang potensial banget sebagai potensi wisata. Kita jauh-jauh ke Amerikah, Eropah pasti disuguhi museum dan wisata sejarah bangsa mereka, Tapi sejarah bangsa sendiri??!! Hmm..ngaku aja dulu sering bolos pas pelajaran sejarah di sekolah.. :p

onrust 3Kalau dihitung ada empat kegiatan yang bisa kita lakukan disini. Selain foto-foto, makan-makan di bawah pohon nyiur dsini juga asyik banget. Kalau mau agak repot emang lebih enak bawa bekal makanan dari rumah, biar kerasa pikniknya. Buat yang mau mandi-mandi air laut juga bisa kok di Pulau Cipir. Meski garis pantainya tidak panjang, tapi pasir putih dan ombaknya yang tidak tinggi cocok buat mandi air laut. tentu saja bagusan disini daripada Ancol yang airnya sudah penuh polusi. Cuma yang masih minim adalah fasilitas untuk mandi atau shower untuk pengunjung. Nah, satu lagi.. buat yang suka melamun, ketiga pulau ini paling cocok buat mancing. Malah menurut saya tembok-tembok pembatas pulau memang dikhususkan buat para pemancing. Bahkan di hari biasa, tempat ini konon lebih ramai didatangi pemancing daripada wisatawan.

Yuk, kesana!

 

Hits: 856

Mimpi apa saya hingga bisa sampai di Las Vegas? Wah ternyata bukan mimpi.  Saya kesana bulan lalu, bersamaan dengan masa karantina Miss Universe 2015. Dan, Alhamdulillah, cukup jadi Miss RT/RW saja saya sudah bisa main judi di Vegas. Upss! Jangan bilang-bilang Bang Rhoma loh! Hahahah.

Di Amerika, Saya dan keluarga tinggal di Arizona yang waktu tempuh dengan berkendara dari ke Las Vegas -yang ada di Negara Bagian Nevada- tidak lebih dari 5 jam. Cukup dekat, karena perjalanan yang nyaman dan infrastruktur yang bagus.  Sepanjang jalan kita juga disuguhkan pemandangan perpaduan hutan kaktus dan pegunungan khas canyon yang keren banget. Tidak heran, karena kami memang melewati Taman Nasional Grand Canyon yang maha tenar itu. Sayang, hingga kali kedua ke Amerika, saya belum sempat kesana. Insya Allah next visit!  Saat saya kesana, cuaca cerah, tapi jangan salah, di luar mobil suhu hanya berkisar 5-7 derajat celcius saja. Brrrr…

Hooverdam, Nevada
Hooverdam, Nevada

Satu jam menjelang Las Vegas, kami melewati Hooverdam. Ini adalah bendungan besar dan terkenal di Amerika yang dibangun pada 1931. Bendungan inilah yang mensuplai hampir seluruh energi listrik di Nevada, California dan Arizona. Uniknya, karena letaknya di tengah-tengah pegunungan membuat pemandangan di Hooverdam ini keren banget. Wajarlah, kalau tempat ini akhirnya jadi salah satu tujuan wisata di Nevada.

Tiba di Las Vegas, saya lumayan suprise, karena setiap sudut kota pasti ada Casino. Minimal slot machine (mesin judi) casino yang nyaris hadir bahkan di toko-toko kecil seperti Indomaret.  Kami menginap di Hotel Harras pas di tengah Las Vegas Bouleverd pusat tourism. Posisi hotel yang strategis ini memungkinkan kita mampir ke tiap pusat keramaian dan hedonisme Vegas cuma dengan berjalan kaki. Jangan kaget, kalau semua (baca: SEMUA) hotel disini punya kasino. Saya sampai bingung, karena front office hotel pun menyatu dengan casino.  

Beda dengan Casino di Macau, di Vegas semua pengunjung boleh berfoto-foto di dalam casino. Saya ikutan mencoba slot machine, mesin casino  yang dibuat dalam berbagai tema, mulai dari kartun anak-anak, film-film tenar sampai ada mesin yang bernama Britney Spears, Katy Perry dan Jennifer Anniston. Meski gak menang, tapi gak juga kalah :p (mungkin kurang sajen) saya anggap aja ini main monopoli. Mainnya juga gak perlu keterampilan khusus, bener-bener semua tergantung luck. Kalau menang kita tinggal mencairkan sendiri uangnya ke ATM khusus casino yang banyak bertebaran. Sangat computerize!

jilbabers goes to Casino? you mean it!
jilbabers goes to Casino? you mean it!

vegas 7Di beberapa bagian casino, selalu dijumpai tulisan : You Know When To Stop, dengan peringatan panjang lebar persis seperti peringatan bahaya di kemasan rokok. Yes, “berjudi” pun perlu kedewasaan. Dan yang pasti “kedewasaan” itu belum dimiliki sebagian besar masyarakat kita.  Kalau model casino begini dilokalisasi-kan di Pulau Seribu. Bisa jadi banyak orang yang alih profesi menjadi penjudi. Yah, memang sih…hal begitu juga pasti ada di Las Vegas, hanya karena sudah menjadi atraksi turis, kondisi itu jadi tidak kentara. 

Karena Las Vegas, sering juga disebut Sin City, gak heran di sepanjang bouleverd banyak cewek-cewek berpakaian minim yang menjajakan diri. Seriously!. Untungnya kemarin musim dingin, jadi pakaian mereka pun sedikit “tertutup”. Tapi kalau musim panas, wow… parade swimsuit Miss Universe bisa kalah rame deh.. Tidak itu saja, di tiap bagian jalan banyak box untuk meletakkan brosur yang isinya jualan penjaja seks komersial dari yang heteroseks hingga homoseks (bruuppp…@$#%@&%^&..). Belum lagi para mucikari di pinggir jalan dengan santainya memberikan kartu nama dan brosur “barang dagangannya”. And it is legal! Kebayang kalau beginian ada di Jakarta, gak cuma FPI yang demo abis-abisan, saya juga pasti ikutan demo! Hahahaa.

Nah, namanya juga Sin City. Makan pun disini wajib “berfoya-foya”. Las Vegas terkenal dengan makanan buffet all you can eat. Katanya kalau kesini wajib nyobain buffet-nya. Sekali buffet kita dipatok sekitar USD 20-25. Sebenernya gak mahal-mahal amat sih, karena standar makan di USA juga rata-rata USD 10  sekali makan. Saya sempet dibayarin dua kali makan di Flamingo dan Paris Paris. Sebenernya rugi sih, kalo ngajak gw makan di buffet beginian, soalnya gw makannya dikit. Hahahha.. Tapi gakpapalah, kapan lagi ke Vegas kan?!

Oya.. di Vegas hampir tiap hari ada konser artis-artis ternama. Saat saat saya kesana, beberapa tempat hiburan sedang menyiapkan konser Britney Spears dan Jennifer Lopez. Disini juga banyak digelar macam-macam show, mulai dari sulap hingga stand up comedy. Nah, gak cuma sebagai tempat “menambah dosa”, Vegas juga punya banyak museum menarik yang bisa dikunjungi. Cuma jangan heran, kalau lokasi museum-nya (lagi-lagi) menyatu dengan Casino!

Mini New York in Vegas
Mini New York in Vegas

Satu hal yang baru saya tahu, ternyata Las Vegas menghadirkan  beberapa landmark miniatur dunia. Jangan kaget kalau disini ada Menara Eiffel, Patung Liberty bahkan Sphinx dari Mesir, dan jangan kaget lagi kalau isi bangunan-bangunan keren tersebut tetep, tidak lain dan tidak bukan; Casino! Lumayan lah bisa liat Eiffel KW super, sebelum beneran berkunjung ke Paris (Aaamin…) Dan saya bermimpi suatu saat Borobudur juga bisa hadir disini. Who knows?!

vegas 9
Eiffel moves to Vegas!

Terakhir, sama seperti San Francisco dan LA, satu yang paling menganggu alias merusak pemandangan di Las Vegas adalah jumlah homeless people yang banyak. Bahkan lebih banyak dari San Francisco dan LA. Saya gak ngerti, mereka jadi homeless karena kalah judi atau memang punya masalah lain. Lucunya ada satu pengemis yang membawa papan bertuliskan : “Why lie, I need beer”  Hahhaha.. So, dia mengemis untuk beli bir? Wallahualam. Kesimpulannya, gak di kota-kota besar Amerika, gak di Jakarta, pengemis dan gelandangan (gepeng) masih jadi masalah. Saya kurang paham kebijakan pemerintah Amerika. Sungguh, banyaknya homeless menjadi pemandangan yang sangat kontras dengan gemerlapnya Las Vegas, salah satu kota tujuan wisata dunia, yang tidak pernah tidur dan pajak hiburannya sangat besar.

Bye, Vegas…next visit mungkin harus bawa modal yang cukup biar impian mendadak kaya (siapa tau) terwujud… 😀

Hits: 1237

Bulan lalu, kali pertama saya menumpang pesawat Saudia (Saudi Arabia Ailines) PP Jakarta-Los Angeles. Ada beberapa hal yang bisa saya bagi, semoga berguna untuk teman-teman pembaca Jus Semangka

  • The longest trip ever..perginya 37 jam, pulangnya 31 jam (include transit). Rute Jeddah-Los Angeles menghabiskan 16 jam nonstop, sisanya merupakan waktu transit. Mungkin rute ini adalah rute terpanjang dari Asia ke Amerika Serikat, karena melewati Samudera Antlantik. Kalau liat globe, hitung-hitung Jakarta-Los Angeles, melintasi dua pertiga bola dunia. Bandingkan dari China-LA atau Seoul LA yang maksimal 13 jam saja (direct). Sebagai perbandingan, untuk Jakarta-LA (PP) harga tiketnya di November kemarin USD 850. Tahun lalu, rute yang sama dengan Korean Air seharga USD1315.
  • Transit 8 jam Bandara Riyadh yang dingin kayak kulkas. Dinginnya sumpah kelewatan,hampir sama dengan winter di Amerika. Toiletnya bersih tapi fasilitas waiting room untuk transit yang lama, sangat minim. Transit selama itu benar-benar tidak nyaman. Restoran pun minim. The worst thing is,.. wifi is never work!! Belum lagi tidak ada information desk, nggak bisa nanya-nya kalau ada apa-apa.
20151120_185056
Ruang Tunggu Bandara Riyadh
  • Ketika boarding di LAX, Ketinggalan bantal tidur di ruang tunggu LAX,udah boarding dan gak boleh turun pesawat, jadi diambilin sama mereka. Good job! * maaf ngerepotin. Ini sih nilai plus ya buat crew-nya!
  • Bagusnya, Alhamdulillah, makan selalu kenyang… (karena porsi Arab) Hihihi… Transit pun dikasih makan. Wajar sih, wong bandaranya hampir nggak punya restoran.
  • Seat ekonomi lumayan sempit…beda banget sama Korea Air, Garuda apalagi Emirates
  • Pramugari/a agak-agak cuek (kalau kurang sopan bilang; cuek banget) Bukannya bantuin narok koper di rak kabin, malah bilang: berat amat sih bawaannya.. (Helloow…ini gw ngindarin over bagasi kalee…). Beberapa kali ingin minta bantuan. Saya tekan logo attendant assistance di seat, tapi tidak pernah sekali pun ada yang dateng. Lebih afdol manggil mereka pas lewat dekat seat kita… GRRR…rrr..rrr…

 

Kabin Ekonomi
Kabin Ekonomi
  • LAX- Jeddah sebelahan sama bapak2 orang A**b yg jorookkkkk banget. Kursi, lantai semua jadi tempat sampah, numpahin teh.. Bahkan makanan sisa orang juga dimakanin. Makan pake tangan..gak cuci tangan, lap di selimut..ihhh.. Gak bisa diem dan ngoceh2 sendiri. Annoying banget!!
  • Dari poin di atas, semua kekacauan dan kejorokan si Bapak, nggak ada crew/pramugari yang mau bantu beresin..  Katanya: its not my duty, why you complaining. Sementara si a**b tadi ilang gak tau kemana..   Fine…lapor supervisor nya..baru diberesin. Gila ajaa kebungkem 15 jam di kabin..tp keliling lo bekas makanan berceceran yang baunya bikin mual. Huekss.
  • meal
    meal
  • Transit jeddah 1,5 jam..stay on cabin. Tapi gak ada cleaning service utk bersih bersih cabin. Katanya CS cuma bersihin toilet kalo transit bentar. Ok.. Fine..
  • Ada musholla, di beberapa pesawat (tidak semua);
  • LAX- Jeddah..video on demand nggak ada suaranya. Sudah lapor, tapi tetep juga gak bener. Okelah..gpp
  • Kopi, teh dan minuman lain cukup lengkap, tapi memang frekuensi penyajiannya tidak sering (hanya 1 atau 2 kali untuk 16 jam perjalanan)
  • Iseng nonton film India. Yes..berbahasa India, tp subtitle nya arab gundul. yassalam… :p
  • Entah karena masuk angin, capek atau kurang nyaman, landing LA langsung mulesss sakit perut luar biasa. 
  • Total nilai 6,578 dr skala 9. Karena taun depan sepertinya masih harus ke Amerika balikin koper pinjeman, gak gak lagi dengan saudia:p

 

Hits: 1216