Sejatinya menjadi berbeda bisa jadi hal paling sulit di negeri ini. Terus terang, menulis hal yang “mungkin berbeda” ini pun membuat saya ngeri. Ngeri dikira tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi, ngeri dikira antek asing, ngeri dikira -gara-gara dulu saya memilih Jokowi-saya menutup mata atas celah kerja kabinetnya. Atau bisa jadi saya dikira pro partai moncong banteng itu. Hahaha… Padahal itu semuanya salah total. (Disclaimer)

Saya hanya mau sedikit menanggapi “keributan” antara KPK dan Polri. Bermula dari ditetapkannya Budi Gunawan (BG) calon tunggal Kapolri sebagai tersangka hanya satu hari sebelum ia menjalani fit and proper test dari DPR. Kemudian beredar ramai blog tentang cerita Abraham Samad yang menjalani “interview” menjadi Wapres Jokowi. Dan pagi ini kita dikejutkan dengan berita penangkapan Bambang Widjojanto (BW) yang Wakil Ketua KPK oleh Bareskrim Polri.

Lalu kemana saya akan mendaratkan dukungan? Tentu saja saya harus mendukung upaya pemberantasan korupsi tanpa kompromi. Namun yang perlu dicatat pernyataan itu bukan berarti saya mengatakan KPK (baca: personilnya) tidak salah (alias SELALU benar) atau saya membenarkan cara Polri. Tidak sama sekali. Saya mencoba berpikir obyektif seperti hal lainnya, bahwa mencap KPK selalu benar dan Polri selalu salah adalah double standard yang justru bisa memecah belah bangsa sendiri.

Saya ini buta hukum, benar-benar tidak tahu apa-apa. Kalimat berikut ini hanya satu contoh saja, Saya kecewa dengan cara KPK menetapkan BG sebagai tersangka hanya satu hari sebelum BG menjalani fit and proper test. Boleh begitu? Boleh banget katanya, tapi kenapa tidak dari dulu, apa mencari moment yang tepat? Perlu saya tegaskan sekali lagi saya tidak mendukung BG. Kalau dia salah, yang tangkep saja, tapi kenapa telat? Kenapa harus heboh dulu dia mau jadi Kapolri baru ditangkap? Ah, anggaplah KPK sedang mencari moment agar lebih terlihat heroik. Kemudian jika muncul berita salah satu personil PDIP membenarkan blog tentang Abraham Samad, apa tidak tambah keruh tuh suasana. Lalu, pagi ini tiba-tiba Polri “seenaknya” menangkap BW di sekolah anaknya. Ini juga aneh kasus 2010 kok baru diurus sekarang, biarpun katanya baru dilaporkan. Penangkapannya soal biasa, tapi cara dan waktunya yang sungguh tidak tepat.  Semua hal yang tidak terjawab dari semua kasus itu kemudian memunculkan spekulasi yang bisa benar bisa salah namun sulit dibuktikan. Selalu ada “hidden story”. Mulailah muncul pendapat masyakarat bahwa ada unsur pribadi dan institusi yang bermain disini. Saya sih percaya tidak percaya. Karena biar bagaimana pun kepada semua orang kita wajib menekankan azas praduga tidak bersalah.Saya percaya mereka semua orang baik, cuma etika keduanya nampaknya masih perlu diperbaiki.

Saya menaruh hormat pada KPK. Saya bangga punya lembaga ini di negara yang tengah bangkit dan optimis untuk maju. Saya salut dengan prestasi KPK yang lima tahun terakhir khususnya kinclong banget. Saya juga hormat dengan Polri. Saya yakin lembaga ini pelan-pelan mulai melakukan reinkarnasi dari rendahnya ketidakpercayaan atasnya yang sudah mengakar di masyarakat. Ibaratnya begini, Polri itu pacar lama, kita sudah terlanjur dikhianati. Mau salah atau benar, dia tetap salah. Nah, KPK itu pacar baru yang sangat setia dan heroik yang membuat kita bisa move on dari Polri. Pada saat terjadi “apa-apa dengan KPK” dijamin kita belum tentu siap. Tidak siap untuk kembali dikhianati. Padahal KPK pun bukan malaikat, salah-salah sedikit wajar, selama kita tetap saling percaya berjalan bersama. Dan di keduanya, jika ada kesalahan pastikan yang salah itu personilnya. Bukan Lembaganya! Menurut saya ini kasus personal bukan kasus lembaga. Kita hormati saja proses hukum di keduanya, tanpa ikut-ikutan rame menyalahkan satu pihak. Kita sudah kebanyakan nonton sinetron, yang kecil didramatisasi yang gak nyambung disambung-sambungin.

Namun demikian, ayoklah keduanya bikin introspeksi, tidak saling menyalahkan dan menyudutkan. Kita semua sama-sama tahu kedua lembaga ini seharusnya bersinergi untuk memberantas korupsi. Jika keduanya bisa salah dan bisa benar berarti sangat bisa juga disusupi pihak lain untuk mengadu domba. Nah, kita-kita sebagai masyarakat hendaknya pun tidak ikut memanas-manasi dengan hanya menjudge satu pihak. Aduh, gampang banget sih kita dipecah belah?! Kita juga tahu, di jaman dimana sosial media mampu menjadi “hukum”, opini publik gampang banget digiring ke satu arah. Sudah sangat sulit mencari media yang both side, tinggal kita sendiri yang pintar-pintar mencerna kata media, memilah mana yang benar mana yang tidak.

Terakhir, mari bersikap obyektif. Kita hormati saja semua proses hukum yang sedang terjadi.Hati-hati dengan keberpihakan karena jika kita salah berpihak sama dengan menjadi bagian mereka. Kata seorang teman, rakyat Indonesia kini ibarat sedang menyusun puzzle sistem hukum kita. Kita mulai mendapatkan potongan-potongan puzzle itu. Mana yang tepat mana yang tidak hingga nanti menjadi puzzle yang utuh.

Pemimpin tangan besi mematikan nyali, pemimpin yang di-nabi-kan mematikan nalar (Sujiwo Tedjo)

Hits: 857

Ketika menulis tulisan ini saya sedang duduk di sebuah coffee shop sebuah stasiun, ditemani secangkir latte hangat dan setangkup roti. Harusnya hari ini saya puasa sunnah Kamis namun sakit kepala tadi malam yang masih berlanjut di pagi hari membuat saya mengurungkan niat itu. *Ah, ngeles kamu..*

Di luar gerimis, baru saja saya menerobosnya tanpa payung. Dalam gerimis itu, saya melihat seorang bapak, memanggul puluhan sapu lidi dan menawarkannya di sepanjang jalan yang ia lalui. Bajunya yang basah koyak di bagian ketiak, tapi senyum masih tersungging di bibirnya.

Saya berkaca ke diri sendiri yang “katanya” dua bulan ini dalam posisi pengangguran. Tadi malam saya masih makan enak sepuasnya di perayaan ulang tahun sahabat saya. Minggu ini sudah berapa undangan sejenis yang saya hadiri. Duduk, makan, ngobrol, ngopi. Minggu depan rencananya saya akan berlibur ke Pulau Ora di Maluku atas sponsor seorang teman. Saya menikmati hidup ala orang urban. Sesuatu yang mungkin biasa di keseharian manusia kota besar, tapi sangat mewah bagi masih banyak golongan lain.

Saat bersamaan, saya sedang bingung memilih beberapa pilihan pekerjaan. Ya, soal kerjaan saya memang masuk golongan galau-ers. Ada pilihan yang oke, tapi masih menunggu proses birokrasi yang njelimet, ada yang juga bagus tapi lagi-lagi masih menunggu penawaran gaji, satu lagi masih proses seleksi biasa yang bisa jadi diterima bisa jadi tidak. Namun ada satu lagi yang sudah tinggal masuk tiba-tiba saya berubah pikiran membatalkan karena beberapa pertimbangan. Dan ini adalah yang kedua, karena dua-tiga bulan lalu saya pun sempat membatalkan satu pekerjaan yang kontraknya sudah ditandatangani cuma karena saya ingin lebih lama liburan di Amerika.

Hati saya terketuk, memandang cangkir kopi saya, merasakan nikmatnya yang seakan menjadi simbol kemapanan. Hanya sehasta dari tatapan mata saya, saya merasakan hidup yang begitu berat.

Mungkin hidup si Bapak pedagang sapu lidi lebih real daripada hidup saya. Dia menjalani kehidupan yang lebih nyata, sementara saya bisa jadi cuma hidup dalam kamuflase yang mungkin semu. Atau mungkin hidup itu seperti kopi. Pahit, getir terasa di awal, manis dan nikmatnya terasa di akhir.

Pagi ini, seperti beberapa pagi-pagi yang lalu, Tuhan mengirimkan orang lain untuk membuka mata akan indahnya bersyukur. Kata para bijak, manusia paling beruntung adalah mereka yang bisa membaca hikmah dari setiap kejadian. Pagi ini, seperti yang lalu-lalu, terima kasih Ya Allah yang tanpa bosan selalu mengirimkan pertanda untuk bersyukur. Hidup saya memang tidak sempurna, Semoga Allah selalu memberikan kelapangan rejeki untuk berbagi. Karena berbagi sama dengan cara saya menghilangkan beban atas dosa “kemewahan” hidup saya. Aamin..

Dalam hujan saya mendoakan agar si Bapak dagangannya laris. Saya percaya hujan adalah perlambang karunia. Hujan adalah waktu terbaik untuk memanjatkan doa.

Stasiun Juanda, 22 Januari 2015

Hits: 1003

Gara-gara baca sebuah meme di sosial media, saya tetiba pengen nulis tentang topik ini. Saya sih tidak pernah mengakui diri saya sebagai traveler, kalau pun sering jalan-jalan mungkin itu rejeki saja. Merencanakan dan punya budget jalan-jalan secara khusus pun sebenarnya tidak pernah. Nah kalau dibilang jalan-jalan adalah obat galau, tentu itu bener banget. Saya juga awalnya begitu, jalan-jalan terutama yang bertema “back to nature”. Jika akhirnya jalan-jalan menjadi sebuah kebutuhan itu adalah hikmah yang membuat saya merasa lebih “kaya”.

Kenapa sih orang harus jalan-jalan? Ketika kita dalam keadaan galau, entah karena patah hati atau karena masalah lain, maunya selimutan terus di kamar. Males ketemu orang, males ngapa-ngapain dan selalu butuh banyak waktu buat sendiri. Sanggup berapa lama bertahan di kamar yang kian lama kian lembab?! Saya sih gak aWith Dirga, Liya and indrisjafrikan tahan lebih dari dua hari. Berlama-lama meratapi nasib, membuat hidup rasanya semakin terkukung, otak mampet dan pikiran makin pusing. Ada kalanya masa berkabung memang dibutuhkan, tapi berkabung terlalu lama juga tentu tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga pastinya.

Keluar rumah, menghirup udara baru bagi saya adalah sumber inspirasi. Kalau lagi bokek, jalan-jalan sendiri di kampung sebelah sudah membuat stok nyawa seperti bertambah satu. Kebetulan rumah saya di Bogor tidak jauh dari bendungan Katulampa, kalau lagi iseng dan mati gaya, saya sering main kesana. Melihat dan mendengar derasnya suara air rasanya sudah menentramkan jiwa. Menonton aktivitas berbagai manusia di sepanjang jalan membuat level bersyukur -yang tadinya sempat drop karena galau- naik lagi. Jalan-jalan juga tidak harus berdua, bagi yang galau akut saya malah menyarankan untuk jalan-jalan sendiri. Yah, gak usah jauh-jauh deh, kalau rumah kamu di Jakarta, boleh juga dicoba jalan sendiri ke Pelabuhan Ratu. Bukan cuma Me Time untuk merenungi nasib pasca ditinggal kekasih (ciyee…), memperhatikan aktivitas banyak orang selama di perjalanan pasti memberu warna tersendiri. Sukur-sukur kalau punya sahabat baik yang mau menemani selama perjalanan.

Ada yang bilang obat galau paling ampuh itu shopping. Itu juga bener, tapi kalau saya sih sekarang lebih memilih jalan-jalan. Kalau punya uang lebih sukur-sukur bisa melakukan perjalanan yang agak jauh. Saya paling suka ke pantai, memandang luasnya laut yang seakan tidak bertepi membuat semua perasaan campur aduk. Mengingat umur yang semakin lama semakin gak muda lagi (baca:tua), saat ini saya seakan dikejar target untuk menyambangi daerah-daerah cantik di Indonesia. Kalau dulu jalan-jalan jadi obat galau, sekarang terbalik; saya jadi galau kalau tidak jalan-jalan. Hehehe..

Hits: 1011

Sebagai pengguna KRL yang sudah bongkotan, sebenarnya saya ini fans Pak Ignasius Jonan. Buat saya beliau hebat, mampu merubah stasiun-stasiun kumuh menjadi stasiun ala-ala Eropa dan Amerika. Belum lagi penghapusan KRL Ekonomi-yang awalnya menuai protes-ternyata justru membuat KRL menjadi angkutan massal yang ramah tanpa sekat kelas sosial. PT KAI yang sempat merugi bertahun-tahun disulap menjadi profit ditangan Bapak satu ini. Walau belum 100% sempurna, jabatan Menteri Perhubungan sangat pantas didapukkan ke beliau.

Namun, buntut dari musibah Air Asia yang baru saja terjadi membuat saya agak bingung membaca pola pikir beliau. Saya memposisikan diri saya sebagai masyarakat awam yang gak ngerti apa-apa, tapi tetap saja saya tidak mengerti kenapa tiket murah pesawat harus dihapuskan. Saya membaca banyak media, takutnya kalau hanya baca satu, pasti dipelintir. Saya coba menilisik mana yang benar, mana yang cuma asumsi wartawan yang kadang kelewat pinter. Jawaban yang “memuaskan” saya adalah wawancara langsung dengan Pak Jonan yang saya tonton di salah satu stasiun TV. Kata beliau: “Dalam peraturan negara ini tidak dikenal istilah LCC atau non LCC, yang kami tahu hanya soal keamanan”. Dan, kami tidak mengatakan menghapus tiket murah, TETAPI memberikan batas bawah harga tiket yang tidak boleh lebih dari 40% batas atas harga tiket. Hal ini ini untuk memberi ruang kepada setiap maskapai untuk lebih meningkatkan keamanannya. Yah, kira-kira begitulah kata Pak Menteri.

Saya selalu percaya dengan siapa pun yang kini duduk di pemerintahan. Saya yakin Pak Jokowi sudah menyaring menteri-nya dari orang-orang cerdas terbaik. Apalagi Pak Jonan, lulusan luar negeri bahkan pernah berkarier di Citibank, bank kaliber dunia. Namun keputusan ini menurut saya adalah keputusan emosional. Kenapa harus berujung kepada penghapusan tiket murah (baca: pemberian batas atas dan bawah)? Ok. Mungkin saya kurang paham dasar Kemenhub mengambil keputusan ini. Mungkin sudah ada pembuktian dengan hipotesis semakin murah harga tiket maka semakin tidak aman suatu penerbangan. Bukankah keamanan adalah paket mutlak bin wajib yang harus dilakukan oleh maskapai berapapun tiket yang dia jual? Bisnis maskapai menurut saya -yang gak terlalu ngerti bisnis- adalah seperti bisnis lain pada umumnya, ada demand dan supply. Pada saat persaingan tinggi, wajar dong kalau ia menurunkan harga? Kemudian jika tiket sudah naik apakah benar dibarengi dengan pengawasan yang seksama terhadap masalah keamanan pesawat? Jangan sampe tiket naik, tapi sebenernya urusan peningkatan keamanan tidak naik signifikan atau linear sejalan dengan harga tiket. Kalau begini yang untung produsen dong! Lagipula pada dasarnya berapa pun harga tiket yang dijual urusan pengawasan mutlak jadi tanggung jawab Kemenhub.

Nah, sebenernya yang menjadi konsen saya yang -cinta banget Indonesia ini- adalah dampak kebijakan ini ke sektor pariwisata lokal yang kian menggeliat akhir-akhir ini. Bayangin aja, sekarang penerbangan lokal tidak hanya numpuk di Ibukota provinsi tetapi juga sudah menjalar ke kota-kota kecil yang pariwisatanya mulai moncer. Banyuwangi, Labuan Bajo, Tarakan, Pangkalan Bun, Belitung adalah contoh-contoh daerah wisata yang kini punya penerbangan sendiri. Kabar buruknya banyak daerah di Indonesia yang belum bisa saya sambangi karena masalah dana yang komponen terbesarnya adalah harga tiket pesawat.

Pak Jonan sekali lagi saya percaya Bapak adalah menteri yang bijaksana. Tapi disisi lain, mungkin Bapak lupa ngobrol dengan Bapak Menteri Pariwisata soal ini. Mungkin sepertinya sepele tapi kebijakan ini kurang sejalan dengan promosi gencar wisata lokal. Boleh dibilang, saya tidak terlalu peduli dengan tiket ke negara tetangga, karena bagi saya target besar pariwisata kita adalah bangsa kita sendiri. Bisa jadi termasuk juga mereka yang demen bolak balik ke Singapura atau Malaysia yang menghabiskan uang belanja untuk memberi devisa ke negara-negara tersebut. Kalau harga tiket ke dalam negeri sendiri lebih mahal, lagi-lagi wisata ke luar negeri akan tetap menjadi pilihan utama.

Saya berharap kebijakan ini bisa dikaji ulang. Biarkan bisnis penerbangan berjalan sebagaimana bisnis lainnya. Tentu saja tanpa mengesampingkan faktor keamanan. Meski selisih harga tiket termurah dan termahal hanya 40%, seharusnya tetap ada ruang untuk maskapai memberi diskon di luar harga tersebut terutama untuk pemesanan yang dilakukan jauh-jauh hari. Pun pasti ada alternatif lain yang tidak meredupkan wisata lokal.

Semoga pendapat saya ini hanya asumsi saya karena bisa jadi ada informasi yang tidak dapat diberitakan oleh media. Namun intinya, jangan batasi harga tiket, pak! Saya belum ke Raja Ampat, baru merencanakan ke Komodo, pun belum pernah ke Ambon. Dan bagi saya belum mengunjungi daerah-daerah itu adalah “hutang” yang harus saya lunasi untuk negara ini.

Hits: 2120

Sebelum kenal dunia blogger, saya selalu berpikir bahwa Pemerintah-lah yang paling bertanggung jawab terhadap pariwisata di Indonesia. Jika pergi kemana-mana dan melihat buruknya pengelolaan pariwisata saya pun ikutan mengumpat. Kita semua tahu Indonesia ini alamnya cantik luar binasa eh..luar biasa. Kok begini-gini aja ngurusnya? Di sisi lain, saya juga merasa (semoga cuma perasaan saya saja sih) promosi pariwisata nasional seolah-olah cuma membidik turis manca negara? Kok begitu yaa? Sementara orang yang punya kemampuan di negara kita lebih seneng rutin melancong ke Malaysia dan Singapura, negara tetangga termaju saat ini.

Sebuah artikel di Tempo beberapa waktu lalu menyebutkan pertumbuhan industri pariwisata Indonesia pada 2014 mencapai 9,39%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Angka itu di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,7%. Total pendapatan negara di sektor ini adalah Rp347 triliun atau 23% dari dengan total pendapatan negara. Sektor pariwisata juga menempati urutan keempat sebagai penyumbang devisa negara di 2013.

Saat pengelolaannya terlihat masih banyak cela dan kurang disana-sini, sektor pariwisata bisa dibilang paling kinclong perkembangannya. Bayangkan saja jika sektor ini ditangani dengan lebih serius. Sayangnya saya tidak punya data dari nilai itu berapa kontribusi turis mancanegara dan turis lokal. Walau demikian saya yakin sepenuhnya, industri ini bisa tumbuh dan punya peluang besar dari wisatawan lokal.

20121228_145158

Menurut saya, hitungan jumlah wisatawan dengan makin baiknya wisata ibarat menebak ayam dulu, atau telur dulu. Apakah menunggu turis banyak dulu baru punya biaya untuk memperbaiki atau diperbaiki dulu baru turis berdatangan. Jika kita tidak memikirkan peran apa yang bisa kita lakukan, pastilah sebagian besar akan memilih opsi kedua yang artinya menyerahkan semuanya ke pemerintah. Jika ini dilakukan seharusnya diiringi promosi agar biaya pekerjaan ini bisa berputar dan prosesnya tidak berhenti.

Nah, porsi promosi inilah yang bisa saya bantu sebagai seorang blogger. Tidak harus menunggu pemilihan putra-putri atau duta-duta pariwisata untuk melakukan upaya ini. Sama sekali tidak mengecilkan keberadaan ajang pencarian bakat seperti itu. Tapi kita harus realistis, jika butuh informasi tujuan wisata, kemana kita kini mencari? Nelpon duta wisata atau googling? Silakan dijawab sendiri. Mohon abaikan kurangnya pengetahuan saya akan hal ini. Kalaupun dibuat semacam survei, saya yakin sekali blogger adalah tools ampuh untuk membuat wisata lokal kita berjaya.

20131103_084755

Dengan alamnya yang cantik sangat disayangkan jika sebagian besar penduduk yang bermukim di daerah wisata kita masih miskin. Seorang teman saya yang bekerja di sebuah NGO lingkungan, saat ini tengah melakukan sebuah program untuk mengurangi kemiskinan di beberapa lokasi wisata di NTT. Miris jika kita selalu melihat dengan nyata banyak yang jalan-jalan ke Singapura cuma untuk belanja. Jelas-jelas hal ini cuma memberi devisa buat negara lain. Jika saja uang itu bisa dialihkan ke mereka yang bergantung hidupnya dari wisata alam, bukan saja devisa, penurunan tingkat kemiskinan pun terbantu.

Memang sih, secara logika wajar juga mereka memilih berakhir pekan di Singapura, wong tiketnya lebih murah. Nah, ini pun seperti telur atau ayam. Harga tiket pesawat akan mengikuti jumlah permintaan. Jika permintaan banyak, harganya cenderung akan murah, karena akan membuat persaingan maskapai menjadi sengit. Siapa yang mau mulai beli tiketnya? Ya, kita juga dong.. Masak berharap duluan sama turis asing.

Karena cinta itu lahir dari melihat dan merasakan.

So, sejatinya duta wisata bangsa ini ya ..kita sendiri. Siapa sasaran utamanya? Ya kita-kita juga. Menjadi pekerjaan kita juga sama-sama bagaimana membuat penduduk Indonesia menjadi lebih mencintai negaranya. Bagaimana caranya? Dengan lebih banyak berkunjung ke berbagai wilayah negeri. Karena cinta itu lahir dari melihat dan merasakan. PR pemerintah membuat bagaimana infrastruktur pariwisata menjadi lebih baik, akomodasi memadai, harga tiket menjadi lebih terjangkau dan lain sebagainya. Sebagai blogger saya bersedia membantu habis-habisan untuk mempromosikan Indonesia. Semoga Pemerintah mendukung upaya ini dengan optimal.

Dibuat bersama-sama dengan Tim TravelBloggerIndonesia

Baca Juga!

silakan kunjungi surat yang lain di :
Lenny Lim – Surat Untuk Menteri Pariwisata
Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat untuk Menteri Pariwisata
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal untuk Pariwisata Indonesia
Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka untuk Menteri Pariwisata
Rijal Fahmi – Pariwisata Indonesia dan Segala Problematikanya
Titi Akmar – Secercah asa untuk Pariwisata Indonesia
Parahita Satiti – Surat untuk Pak Arief Yahya
Yofangga Rayson – Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal untuk Pariwisata Indonesia
Matius Nugie – Merenda Asa untuk Pariwisata Kota Indonesia
Olive Bendon – Indonesia, Belajarlah pada Malaysia
Bobby Ertanto – Dear Menteri Pariwisata Indonesia
Danan Wahyu – Repackage Visit Indonesia Year
Firsta Yunida – Thought and Testimonial : Tourism in Indonesia
Felicia Lasmana – Target 1 Juta Wisman Per Bulan menurut seorang Biolog, Pejalan, dan Blogger

 

 

Hits: 4803

Kalau ditanya benda apa yang harus “dimusnahkan?” Saya pengen jawab: motor! Upss, jangan protes dulu. Ini cuma uneg-uneg saya dengan para pengendara motor yang menurut saya 80% tidak punya aturan. Tulisan ini pake disclaimer: bahwa infrastruktur jalan khusus untuk motor memang belum tersedia dengan cukup di negara ini.

Beberapa bulan yang lalu, ada dua orang anak SMP yang masih berseragam tewas mengenaskan di jalan menuju ke rumah saya. Mereka dengan konyol menabrak truk pasir yang lagi parkir di pinggir jalan. Mungkin karena jalanan relatif sepi, si anak SMP tadi bermanuver layaknya pembalap di Sirkuit Sentul, kemudian salah perhitungan hingga akhirnya nyawa melayang. Jangan tanya SIM. Sudah pasti belum punya, wong masih dibawa umur. Yang perlu ditanya adalah: Kemana orang tuanya, sampe membiarkan anak kecil membawa motor sendiri? Ada temen yang bercerita justru banyak orang tua yang bangga anaknya bisa mengendarai motor dalam usia dini. Kebanggaan yang aneh.

sumber: wartaotomotif.com
sumber: wartaotomotif.com

Akhir-akhir ini karena keadaan, saya sering nyupir sendiri terutama di dalam kota Bogor. Jalan menuju rumah saya -sebuah komplek perumahan menengah bawah dengan lokasi yang cukup strategis- memang penuh tantangan. Jalannya sempit, pemukiman di kanan-kiri jalan sangat padat, berliku, naik turun dan penuh angkot serta motor. Motor yang sebagian besar saya yakin dikendarai mereka yang tidak punya SIM. Dengan kondisi jalan seperti yang tadi saya ceritakan, paling menyebalkan adalah pengendara motor yang ngebut, mengambil jalur orang dan suka tiba-tiba nongol dari titik buta seorang supir. Sebagai contoh, pada jalan dengan dua arah, si motor dari arah berlawanan bisa saja mengambil jalur mobil yang datang dari arah berbeda. Lu pikir enak kagok jadi supir? Mobil saya juga pernah ditabrak motor saat macet di satu simpang yang besar. Kaca spion pun pernah jadi korban motor yang nekad nyalip. Untungnya kerusakannya tidak parah. Namun yang menyebalkan adalah semua itu terjadi pada saat macet dan mobil dalam posisi BERHENTI alias SETOP. Lama-lama saya pikir nyetir cuma menaikkan tensi darah. Harap maklum, saya juga supir amatir yang sangat taat aturan lalu lintas. Hehehe..

Saya juga SANGAT sering ketemu mereka yang membawa anak kecil tapi gaya berkendaranya sungguh tidak tahu aturan. Sering ada satu keluarga dengan dua anak, si ibu mengendong bayi, anak satu lagi duduk atau dibiarkan berdiri diantara Bapak Ibunya. Ada juga mereka yang naik motor tapi sambil sms-an. Herannya rata-rata memang tidak menggunakan helm.

Omygot..,berapa nyawa harga orang Indonesia?

Terlalu murah atau memang punya stok nyawa yang banyak?

Baru-baru ini saya naik ojek dari rumah menuju satu tempat di Bogor. Di tengah jalan si abang ojek menerima telpon dengan tetap mengendarai motornya. Kali pertama saya masih diam, tapi kali kedua saya towel punggungnya dan menyuruh berhenti. Saya bilang, silakan menelepon dulu dan saya akan tunggu. Rupanya ia tidak menggubris, hingga akhirnya ia tidak menelepon lagi. Tiba di satu simpang yang cukup padat, saya nyaris mati konyol gara-gara ia menerebos kendaraan dari arah berlawanan dengan kecepatan cukup tinggi. Hilang kesabaran, saya pukul saja helm-nya. Sambil mengumpat saya minta turun, meskipun akhirnya ia memperlambat laju motornya. Gilanya lagi, saat itu saya tidak pakai helm. Alhamdulillah ternyata saya masih berumur panjang.

Katanya harga motor emang gak jauh beda dari martabak. Dengan DP hanya Rp500 ribu saja bisa bawa pulang motor baru, Masalah bulan-bulan depannya kebayar atau gak cicilannya nanti aja dipikirin. Kalo pun gak bisa bayar, lumayan sudah bisa dipake ngojek sebulan. Tetangga saya di rumah yang dulu, sepertinya bekerja di leasing motor. Di halaman rumahnya diparkir banyak motor yang tidak sanggup dibayar oleh pembelinya. Saya pernah baca satu artikel, untuk membatasi populasi motor ini, pemerintah mewajibkan cicilan awal sekitar 30% dari harga motor,  yang artinya tidak Rp500 ribu. Namun kenyataan masih sering saya temui iklan dan brosur dengan tagline: Cukup 500 ribu, bawa pulang motor baru! Yah..no wonder kalau anak SMP pun akhirnya pake motor.

Saya tidak membenci motor, saya juga pengguna ojek yang setia. Apalagi memiliki motor jadi alternatif yang masih relatif lebih murah dibanding naik angkot yang ongkosnya naik karena BBM naik. Tapi saya sungguh-sungguh benci dengan pengendara motor yang tidak tahu aturan. Ngebut, nyalip, buat apa? Buat gaya, buru-buru atau memang sudah adatnya begitu? Atau bisa jadi mereka punya slogan: ngebut berarti ibadah, makin ngebut makin dekat dengan Tuhan.

Katanya peradaban satu bangsa salah satunya dilihat dari bagaimana penduduknya berlalu lintas. Nah, jadi tahu kan bagaimana peradaban bangsa ini sebenarnya?

Hits: 1321

Kali ini saya mau cerita  pengalaman selama hampir 10 jam di Bandara Incheon, Korea Selatan yang merupakan rangkaian jalan-jalan saya di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Salah satu bandara tercanggih di dunia ini punya fasilitas yang membuat betah meskipun harus menunggu pesawat cukup lama.

Saya tiba di Incheon sekitar pukul 5 pagi waktu Korea dan take off kembali menuju Jakarta pada pukul 3 di sore hari. Sebelumnya saya sudah googling apa saja yang bisa saya lakukan selama transit 10 jam disini. Turun dari pesawat, saya segera menuju bagian informasi untuk menanyakan cara mengikuti City Tour ini. Saya awalnya berpikir cuma dengan mendaftar kita bisa langsung ikut rombongan jalan-jalan. Ternyata, tidak semudah itu. Peserta City Tour harus melewati antrian petugas imigrasi dan mengisi beberapa form. Paspor kita juga dicap seperti halnya wisatawan lain. Dari penjelasan petugas informasi, tidak semua negara bisa ikut program ini. Saat melihat paspor saya, ia mengatakan ada proses lain untuk paspor Indonesia, namun hal itu tidak perlu dilakukan setelah ia mengetahui saya adalah pemegang visa Amerika Serikat.

The Bus
The Bus

Setelah dari imigrasi, saya menuju konter pendaftaran City Tour. Disini petugas konter akan mencatat nama kita, mem-fotocopy paspor, boarding pass dan menyerahkan satu buah PIN tanda peserta yang harus digunakan. Sebenarnya tour ini gratis namun ada biaya USD10 yang di bayar di konternya. Biaya ini untuk makan siang dan tiket masuk tempat wisata. Oya, jarak dari imigrasi ke konter ini lumayan jauh juga, loh!!  Total waktu jalan kaki dari turun pesawat, imigrasi dan pendaftaran ini saja memakan waktu sekitar 40 menit.

Saya memilih Seoul City Tour yang total perjalanannya 5 jam dan dimulai pukul 8 pagi. Saat mendaftar, waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi, namun ternyata daftar pesertanya sudah panjang juga. Artinya buat kamu-kamu yang ingin ikut, harus buru-buru daftar agar kebagian seat. Dalam satu gelombang  hanya ada 1 bis dengan kapasitas sekitar 30 orang. Ada beberapa pilihan tour, dari 1 jam hingga 5 jam. Silakan dipilih berdasarkan waktu yang kita miliki. Informasi lengkapnya bisa dilihat disini.

 

http://www.vikaoctavia.com/wp-content/uploads/2014/11/b-IMG_1685.jpg

Tujuan tour kami yang pertama adalah Gyeongbokgung Palace, istana kekaisaran Korea sebelum abad 19. Sepanjang jalan, -guide kami- seorang cewek Korea memberikan banyak informasi dalam Bahasa Inggris tentang lokasi yang kita lewati. Pun setibanya di tempat wisata, ia dengan lancar bercerita tentang sejarah tempat-tempat yang kita kunjungi. Tujuan kedua adalah Jogyesa Temple, sebuah candi Budha yang ada di pusat Kota Seoul. Tidak ada tempat terlewatkan tanpa foto-foto.

bengong menatap makanan Korea
bengong menatap makanan Korea

Perjalanan diakhiri Insadong Street, shopping center yang sebagian besar dijejali toko-toko yang menjual kosmetik Korea. Disini kami juga dijamu makan siang ala Korea. Rasanya? Enak! Buat kita yang orang Asia sebenernya makanan Korea relatif lebih mudah diterima. Saat makan pun si Mbak Guide menceritakan asal muasal makanan dan kebiasaan orang Korea dalam bersantap. Saya senang, disini semeja dengan beberapa orang dari Amerika Serikat, Argentina dan India. Lumayan kan punya kenalan baru..minimal buat bantu motoin kita. Hehehe. Saat itu suhu di Seoul sekitar 18 derajat celcius, cukup dingin memang. Namun dinginnya terbayar melihat pohon-pohon yang mulai berganti warna menjelang musim gugur dan tempat wisata yang memang keren-keren.

Insadong Street
Insadong Street

Mbak Guide-nya lumayan galak loh! Setiap saat ia  mewanti-wanti agar kita tidak telat untuk kembali ke bis menuju tujuan berikutnya. Mungkin karena sering kejadian banyak turis yang keasyikan foto-foto, ia berkali-kali menegaskan tidak ada toleransi bagi yang telat walaupun hanya 5 menit. Jika telat, silakan kembali ke airport dengan transportasi umum. Yah, ada benernya sih, karena semua penumpang transit pasti terikat waktu agar tidak ketinggalan pesawat. Biar pun begitu, saya sangat berkesan dengan jalan-jalan singkat ini. Cukup untuk mengenal Korea secara umum, kelihatan banget pemerintah Korea benar-benar serius menggarap pariwisatanya. Seorang peserta lain yang sempat ngobrol dengan saya bilang; Ia berkunjung ke Korea sekitar 10 tahun lalu. Kini, tidak terbayangkan perkembangannnya yang sangat pesat. Hmm..kapan yaa Indonesia bisa meniru?

B-IMG_1723
Taman di Jogyesa Temple
IMG_20141027_134505
shower room Incheon Airport

Kalau pun malas atau tidak punya cukup waktu untuk keluar, bandara Incheon menawarkan banyak fasilitas yang membuat waktu menunggu tidak terasa membosankan. Selain restoran dan shoppig area yang lengkap, bandara ini sangat friendly buat para backpacker. Di lantai 4 saja tersedia area dengan sofa besar serupa tempat tidur untuk mereka yang tidak sempat menginap di hotel. Kamar mandi pun tersedia dengan gratis lengkap dengan handuk dan perlengkapan mandinya. Di setiap sudut tersedia keran air siap minum, lumayan kan gak usah repot-repot beli Aqua. Praying Room-nya pun cukup memadai untuk para muslim. Sebagai perbandingan, di bandara KLCC, Malaysia, musholla hanya dibuka pada waktu sholat saja, sedangkan praying room (yang umum dijadikan musholla) di Incheon, dibuka 24 jam! Agak lucu sih mengingat pada dasarnya muslim adalah salah satu mayoritas di Malaysia. Hehehe..

 

Hits: 1540

Dua tahun kerja di lingkungan istana kepresidenan, bukan berarti saya bisa keluar masuk seenak jidat, bolak balik tanpa tujuan, boro-boro untuk selfie dengan Pak SBY. Paling cuma foto-foto di halaman, itu pun tidak semua tempat boleh difoto. Selebihnya ya, biasa saja, paling banter cuma makan di kantin karyawan Istana. Namun menjelang purna tugas saya disini, senang sekali rasanya diberi kesempatan mengikuti Upacara Kenegaraan IMG_20140908_12365717 Agustus. Memang, saya kebagian acara sore (penurunan bendera), tapi maknanya sama sekali tidak berkurang bagi saya. Itu pun dapet undangannya pake acara “ngerampok” dulu dengan seorang pimpinan di kantor. Hehehe..

Di undangan tertera dresscode yang harus digunakan adalah pakaian nasional. Waduh…rempong juga, dengan persiapan yang hanya sehari. Apalagi saya nyaris tidak punya busana yang pantas disebut busana nasional. Daripada repot, akhirnya saya memilih rok batik panjang berwaran hijau favorit saya dipadu dengan kebaya encim putih polos. Untuk menambah kesan kemerdekaan, saya menambahkan kerudung berwarna merah darah. Merdeka! Di lokasi acara, saya melihat banyak tamu yang tidak menggunakan busana muslim atau pakaian resmi (seperti orang kantoran), wah sayang C360_2014-08-17-18-56-46-931banget tuh.. karena yang mengenakan pakaian nasional diprioritaskan untuk duduk di kursi paling depan. Undangan hanya dibagi per blok berdasarkan jenis undangan, selebihnya pilihan bangku silakan dipilih sendiri cepet-cepetan. Tentu saja peraturan ini tidak berlaku untuk undangan VVIP seperti para menteri, duta besar dan pejabat negara lainnya.

Acaranya meriah sekali. Pagelaran tari kolosal yang penuh ornamen diiringi musik  bersemangat membuat semuanya menjadi pertunjukkan yang menarik. Usia pengisi acara pun beragam dari mulai anak TK sampai orang dewasa. Saya senang, karena pertunjukkannya “Indonesia banget”. Tidak hanya menarik tapi menumbuhkan kembali kecintaan terhadap bangsa ini. Saya juga beruntung karena duduk di barisan paling depan. Hehehe.. Dari jauh Pak SBY dan Pak Boediono terlihat ikut menyaksikan, sementara itu Bu Ani terlihat sibuk dengan kamera kerennya.. Bu Ani bikin sirik, karena bisa punya foto yang bagus meski duduk jauh.. Beda banget dengan saya yang cuma mengandalkan kamera HP. Hikss

barisan hanoman
barisan hanoman

Pak SBY dasarnya membuka luas Istana bagi masyarakat. Banyak sekali anak-anak muda berprestasi yang ikut diundang. Mulai dari penulis, artis, pelajar berprestasi hingga masyarakat umum. Memang sepantasnya generasi seperti itulah yang harus lebih banyak hadir. Acara seperti ini sungguh meningkatkan adrenalin kita akan cinta terhadap Indonesia. Terima kasih Pak SBY, untuk 10 tahun yang bermakna, semoga tahun-tahun depan masih diberi kesempatan untuk kembali lagi ke Istana. Semoga di masa Pak Jokowi, kesempatan itu makin lebih terbuka lagi. Aamin..

Oya, bocorannya setiap tahun, Sekretariat Negara memberi jatah undangan upacara 17an kepada masyarakat umum. Sayangnya selama ini, informasinya tidak menyebar luas, sehingga yang mendapat undangan, umumnya kerabat para karyawan setneg. Jika ada yang berminat..silakan sering-sering lihat website setneg terutama menjelang 17an!

berkibarlah benderaku..
berkibarlah benderaku..

Hits: 970

Beberapa waktu lalu saya sedikit geli membaca status teman di Facebook yang menuliskan bahwa dirinya ogah menjadi PNS, karena enggan bekerja santai yang tidak ada tantangan. Opini-opini begini mungkin ramai muncul sejak pendaftaran PNS mulai dibuka secara online tahun ini. Yang menulis status itu sih usianya masih cukup muda. Tapi teman lain yang lebih berumur, juga “masih” berpaham sama, bahkan sejak dulu ia memang malas menjadi PNS dengan alasan yang kurang lebih sama. Saya sendiri, sama saja. Tapi itu dulu, duluuu banget waktu masih muda (Hahahha…ketauan sekarang udah bongkotan). Sejak lulus S1, saya belum pernah sekalipun mengikuti test PNS. Padahal, dulu saya sempat ditawari masuk “jalur khusus” menjadi abdi negara ini lewat salah satu kerabat Ibu Saya. Meski akhirnya  dengan pede saya tolak karena merasa ini cuma kerjaan absen rutin lalu pulang, hidup santai, tanpa tantangan dan dapat pensiun. Beda banget sama karakter Saya yang pengennya high achiever. Hahahha..

Namun, lagi-lagi garis hidup berkata lain. Terdamparnya Saya di sebuah lembaga   pemerintahan setelah beberapa kali menclok di perusahaan swasta, membuat Saya HARUS merubah   paham itu di otak Saya, orang-orang sekitar Saya, bahkan kalau perlu generasi muda Indonesia tercinta ini. Ciyeeee….. #Uhuk.

source: http://romokoko.com
source: http://romokoko.com

Konsep PNS adalah santai ini, menurut saya adalah peninggalan rezim lama yang dampaknya sudah mengakar di sebagian besar penduduk Indonesia. Dulu, memang seleksi PNS tidak seketat sekarang, tapi bukan rahasia lagi banyak jatah kursi kerabat pejabat dan jalur-jalur khusus lainnya. Lalu, bagaimana bisa menyaring kualitas SDM terbaik jika proses perekrutannya lebih banyak diwarnai titipan? Belum lagi, kita sudah terlalu lama terlena dengan budaya doktrinisasi. Keputusan hanya bisa diambil oleh segelintir pihak, kebebasan berpendapat dan berkreasi juga tidak seluas sekarang. Tidak heran, akhirnya sebagian besar PNS menjadi wahana yang penting kerja, berseragam keren, gajian rutin dan anti dipecat.

Anak-anak muda terbaik bangsa ini tidak dipungkiri masih senang bekerja di perusahaan multinasional bergaji spektakuler daripada bersaing memperebutkan satu kursi menjadi abdi negara. Pilihan menjadi PNS cenderung masih dipandang sebelah mata. Ya, memang ada sih lembaga-lembaga negara yang menjadi favorit para pencari kerja. Selebihnya, lagi-lagi menjadi PNS adalah pilihan bagi mereka yang ingin bekerja dengan “santai”.

Kini jaman sudah berubah, sayang banget jika sebagian besar orang masih menganggap menjadi PNS itu bersinergi dengan santai dan hidup aman dan terjamin hingga ke anak cucu serta nyaris tanpa gejolak. Seharusnya kosa kata santai segera hilang dari benak mereka yang berniat ataupun tidak berminat sama sekali menjadi PNS. Masalah dan tantangan bangsa ini masih banyak banget! Mulai dari birokrasi yang ribet, sumberdaya alam yang belum termanfaatkan dengan optimal, infrastruktur yang minim, pendidikan untuk anak-anak bahkan masalah toleransi beragama. Bisakah semua itu diselesaikan dengan “santai”? Bersyukur sekarang masyarakat semakin melek politik, gerak gerik dan sepak terjang pemerintah tidak luput dari kritikan dan sorotan. Semoga saja bentuk perhatian seperti itu membuat generasi muda tergerak untuk terjun langsung di dalamnya, bukan cuma repot jadi pengamat dan komentator. Buang jauh-jauh paradigma santai yang sudah mendarah daging itu. Sepatutnya orang-orang yang mengurus negeri ini dari level terkecil adalah orang-orang yang terbaik.

TAPI, pemerintah memang masih punya PR banyak, salah satunya bagaimana membuat kompensasi bekerja di pemerintahan menjadi semenarik bekerja di perusahaan besar. Apalagi sekarang (katanya) “semakin sulit mencari “sampingan”. Berita bagusnya proses itu sekarang sedang berjalan. Salah satu terobosan, kini sudah ada Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan membuat iklim bekerja di lembaga pemerintahan menjadi semakin kompetitif. Silakan googling sendiri ya….

Jangan lupa seperti halnya di perusahaan swasta, kita digaji dari keuntungan perusahaan, oleh karena itu juga WAJIB bekerja sebaik-baiknya untuk perusahaan. Di pemerintahan, personilnya digaji dari pajak yang diperoleh dari rakyat. So, juga WAJIB bekerja sebaik-baiknya untuk rakyat. Iya kan! Santai? Malu dong!!

Oya, satu lagi..perlu saya tegaskan  banyak juga loh anak-anak negeri terbaik yang sudah berada di dalam pemerintahan. Saya hanya ingin membantu meluruskan bahwa menjadi PNS atau bekerja di pemerintahan itu pekerjaan mulia, banyak tantangan dan semakin kompetitif. Mari kita merubah mindset kita sendiri yang bisa kita tularkan ke lingkungan sekitar kita. Ingat, kalau bukan bangsa sendiri, siapa yang mau membangun negeri ini? Dan itu butuh kerja keras, sama sekali tidak santai!!!

 Tulisan dari orang yang bukan PNS..

Hits: 1012

Ketika masih duduk di kelas 2 SD, saya pernah minta dibelikan sepatu baru ke kakek (Ayah dari Ibu saya). Tidak begitu saja langsung menuruti permintaan Saya, kakek (yang kami panggil Nenek Ayah) malah bercerita masa perang merebut kemerdekaan, dimana beliau keluar masuk hutan membawa senjata seadanya dan tidak memakai sepatu! Saat punya sepatu pun, kakek bilang ia baru akan membeli yang baru jika sepatu lama benar-benar sudah tidak layak pakai. Kalau beliau masih hidup sekarang, mungkin saya bisa dikomplain terus karena sekarang hobi saya justru beli sepatu, hehehe.. Namun cerita pendek itu sampai sekarang masih ada di kepala saya, Kakek menanamkan pesan moral untuk tidak hidup berlebih-lebihan.

Ya, Kakek adalah seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan. Jika dihitung-hitung, Saya justru belajar banyak tentang perjuangan merebut kemerdekaan dari Kakek daripada dari buku sejarah sekolah.  Setiap Agustus, mungkin Kakek adalah orang yang paling “heboh” bersiap-siap menyambut Hari Kemerdekaan. Ia tidak hanya memasang bendera merah putih di halaman rumah, tapi juga menghiasi pagar dengan umbul-umbul meriah layaknya pawai 17an. Tidak jarang ia juga mengecat rumahnya lebih dari merapihkannya menjelang Lebaran. Jika orang lain hanya menaikkan bendera selama satu-dua hari, kakek mendandani rumahnya sebulan penuh di Agustus. Hebatnya lagi, semua itu dilakukannya sendirian dan penuh suka cita. Terasa sekali betapa beliau sangat menghargai kemerdekaan dan meresapi bahwa kemerdekaan tidak dicapai dengan mudah. Kakek sempat diwawancarai oleh sebuah majalah tentang perjuangannya. Matanya berbinar-binar penuh semangat ketika menceritakan masa-masa membawa bambu runcing dan makan daging ular di hutan.

Dalam kesehariannya, Kakek sangat disiplin sebagaimana layaknya seorang tentara. Bangun tidur, kapan waktu mandi, kapan waktu belajar semua dibawah kendalinya. Ia juga pekerja keras. Sadar gajinya sebagai pensiunan ABRI tidak banyak, ia membuka usaha sampingan mulai dari  angkot, beternak ayam potong, membuka sawah hingga kontraktor bangunan pernah dilakukannya.

Kakek sangat peduli pendidikan. Ia sadar sekali hanya sekolah yang bisa merubah nasib manusia.  Kakek pernah mengambilkan rapor saya ketika SMA. Ia duduk di deretan guru-guru, bukan di barisan orang tua. Mungkin ia tidak mengerti dimana seharusnya Ia duduk, namun Kepala Sekolah saya pun respek dengan beliau hingga tidak “tega” menyuruh beliau untuk pindah kursi. Kakek pula yang mengantarkan saya pertama kali merantau ke Bogor. Menumpang bis 20 jam menuju Jakarta hingga mencarikan kamar kost yang pantas. Kakek sangat bangga, karena saya –cucu pertamanya- bisa sekolah jauh dari kampungnya, meskipun itu harus berpisah dari keluarga.

Seperti sebelumnya, mudik lebaran sudah menjadi agenda rutin keluarga Saya. Berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga adalah kebahagian yang tidak ditemukan di kota besar. Bagi saya ini juga momen mengenang Kakek. Berdoa di pusaranya, yang terletak di Taman Makam Pahlawan menjadi hal mutlak yang harus dilakukan. Ada rasa haru, karena Ia pergi sebelum saya sempat memberikan sesuatu yang berharga untuknya. Kakek berpulang saat Saya masih duduk di semester empat. Alhamdulillah, Ia wafat tanpa mengalami sakit yang berkepanjangan. Satu hari menjelang beliau wafat, saya merasakan pusing, gelisah, bingung tanpa alasannya yang jelas. Mungkin keterikatan emosi kami yang menyebabkan semua terasa berkaitan. Sampai ajalnya tiba, kakek adalah Ketua Legiun Veteran Kabupaten Lahat, sebuah kota kecil berjarak 250 km dari Palembang.

***

Dulu, rasa kecintaan Saya dengan bangsa ini mungkin belum sebesar sekarang. Saya mencintai Indonesia hanya “disuruh”oleh guru di sekolah. Semakin lama, rasanya Saya makin sadar bahwa Indonesia tidak akan seperti sekarang jika kita masih terkukung oleh penjajahan asing. Kakek dan masa kecil saya bersamanya, menjadi bagian cerita bahwa meraih kemerdekaan bukan perkara mudah. Saya bangga punya kakek pejuang seperti juga saya sangat menghargai pejuang-pejuang lain. Tersisa kita untuk mengisi kemerdekaan ini dengan perjuangan dari berbagai bentuk baru penjajahan. Merdeka!

 Teruntuk Kakek (Alm) Mayor (Purn) H. Ali Kasim.

Al Fatihah.

Sila simak juga tulisan teman-teman travelBloggers disini: #rindupulang #tentangpulang #mudik

Mudik, Rindu Rumah , Danan Wahyu

Kepulangan yang agung , Farchan Noor Rachman

Tradisi Mudik Keluarga Batak , Bobby

Merangkai serpihan kenangan di Peunayong ,Olive

Ibu Aku Pulang ,Yofangga

Mudik atau Tidak adalah Pilihan , Parahita Satiti

Yogyakarta, Pulangnya saya,  ,Rembulan

Sebuah Cerita tentang Pulang, Bolang

Selalu Ada Jalan Untuk Pulang, Nugi

Lebaran Terakhir Bersama Nenek,  Badai

Cirebon: perut yang dimanja , Indri

Pulang adalah Kamu , Eka

Hits: 3276

Dua hari ini berita-berita interprestasi hasil Quick Count jadi perbincangan yang tidak habis-habisnya.. Saya memang pendukung No 2, tapi untuk urusan survei-survei ini saya mencoba menyimak dengan sedikit pengetahuan yang saya punya secara obyektif. Kurang lebih ada 10 lembaga survei yang turut serta dalam quick count ini. Sebenarnya yang tercatat di KPU malah ada lebih dari 50 lembaga untuk keseluruhan survei menyangkut Pemilu. Hampir seluruh lembaga tersebut memaparkan metodologi yang mereka lakukan untuki quick count ini. Bahkan beberapa diantaranya merilis hasil per provinsi. Menurut saya beberapa lembaga seperti CSIS, RRI dan Litbang Kompas yang lembaga kredibel dan punya nama. Rasanya sulit bagi mereka untuk mempertaruhkan integritas mereka demi memihak salah satu capres. Bahkan SMRC salah satu lembaga yang juga nimbrung disini, memiliki sampling hingga 4000 TPS, terbesar di antara yang lain yang rata-rata melakukan survei 1000-2000 TPS. Dalam pandangan saya, quick count berbeda dengan survei biasa. Disini respondennya sudah sangat jelas baik dari sisi demografi maupun kepentingan. Beda dengan survei biasa yang dapat memilih responden secara acak. Penentuan TPS yang menjadi sampel, seharusnya sudah memperhitungkan kondisi geografis, sebaran jumlah TPS itu sendiri bahkan wilayah-wilayah dengan perhatian khusus. Misal kalau sampel lebih banyak dilakukan di Jawa Barat (atau tidak menyeimbangkan dengan provinsi lain), otomatis Prabowo akan menang. Karena Jawa Barat adalah sarang Capres No 1 tersebut. Hasil sebaliknya juga terjadi bila dilakukan dengan komposisi lebih banyak di Jawa Timur, pasti Jokowi menjadi mayoritas.

Hasilnya, secara umum pasangan Jokowi-JK, rata-rata unggul dengan selisih 5-6%. Tapiii… (ada tapinya) seperti kita tahu semua, TVOne yang anti mainstream merilis hasil survei yang sangat berbeda dengan TV-TV lainnya. Disini presiden pilihan mereka adalah Prabowo. Loh kenapa cuma TV One dan MNC Grup yang beda yaa? Tanyaa Kenapaa??! Ini bagi saya kekonyolan yang terlalu kentara. Sudah pada tahulah siapa pemilik TV-TV itu dan dimana posisi politik mereka. Belum lagi lembaga-lembaga survei yang mereka gunakan adalah yang masih dipertanyakan kredibilitasnya. Salah satu diantaranya, pernah terlibat urusan dengan pihak kepolisian karena memanipulasi hasil survei Pilkada Gubernur Sumsel beberapa waktu lalu. Bahkan di media sosial sempat beredar capture foto proposal “rencana kemenangan” bagi Prabowo-Hatta dengan nilai Rp8 Miliar yang diusulkan oleh salah satu lembaga riset mereka itu. Kalo yang ini wallahualam ya… namanya juga berita. Hehehe.. Konon proposal tersebut diajukan ke pihak Jokowi dan ditolak mentah-mentah.

BsKBRiLCMAAvwx6
kondisi quick count..

Lembaga riset yang benar pastilah menggunakan metode sampling yang dianggap paling mewakili. Untuk populasi yang sama (pemilih), distribusi pemilih, wilayah mereka, sampai ke demografis sampel harusnya sudah dirancang dari awal dengan tujuan mengurangi error dan membuat hasil yang dapat merepresentasikan populasi keseluruhan. Penyimpangan pasti ada, namun seharusnya, jika mereka menggunakan kaidah statistik yang sama, perbedaan yang terjadi tidaklah akan signifikan. Hal lain yang perlu ditekankan adalah obyektifitas. Sah sah  saja satu stasiun TV membayar satu lembaga tertentu untuk melakukan survei. Tetapi, selama hasilnya dipolitisir untuk kepentingan sendiri, itu tidak beda dengan menipu dan membohongi diri sendiri

Oleh karena itu, hanya satu yang susah dipegang disini:

etika manusia yang melakukan pekerjaan ini.

Kekonyolan selanjutnya adalah bantahan seorang politikus Partai Golkar pendukung Prabowo yang mengatakan alasan mereka mengeluarkan hasil survei yang berbeda tersebut adalah untuk MENGIMBANGI pemikiran masyarakat yang sudah menganggap Jokowi Presiden, padahal belum ada pengumuman resmi. Haaaa!!?? Maksud lo, buat mengimbangi, boleh keluarin yang validitasnya diragukan? Saya gagal paham disini. Maaf lahir batin..

Keganjilan paling parah adalah, deklarasi Prabowo yang menyatakan sudah menerima mandat dari rakyat RI. Bahkan Lagi-lagi katanya ini untuk mengimbangi kubu sebelah. Yah, kubu sebelah juga ada salahnya sih, mungkin sudah terlalu eforia jadi ada yang tidak terkontrol. Lucunya di satu wawancara, Prabowo bahkan bilang tengah menyiapkan susunan kabinet. Hadeeuuh, maju 5 langkah, sob!

Sejujurnya saya sedih dengan kondisi ini. Hasil quick count itu, bukan fokus saya lagi. Jika memang hasil quick count yang diusung TVOne itu masih diragukan validitasnya, sementara partainya sudah klaim menang, ini adalah bentuk pembodohan baru bagi masyarakat. Kita digiring untuk percaya dengan hal-hal yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Opini publik digiring untuk ragu-ragu terhadap hal-hal yang sebenarnya bukan hal sulit untuk dicerna dengan logika. Kecewa, jika memang survei-survei TVOne “sengaja” di-create untuk “mengimbangi” artinya sama saja masyarakat pendukungnya dipaksa membohongi diri sendiri alias lari dari kenyataan. Maaf banget, buat saya ini adalah satu cermin sikap otoriter. Ini belum berkuasa loh, apalagi kalau udah?! Dan ini memalukan. Begini cara membuat bangsa sendiri menjadi macan? Begini cara membuat asing takut dengan Indonesia?

Meski begitu, Saya bersyukur masih banyak orang yang bisa menilai semuanya dengan obyektif. Biarpun dampaknya TVOne menjadi sasaran bully nasional di sosial media. Tidak itu saja, satu hari setelah berita bodong itu terus menerus ditayangkan saham MNC Group dan Viva anjlok. Pada akhirnya kejujuran adalah kunci utama bisnis apapun itu. Kini berbagai lembaga survei terang-terangkan menantang quick count yang dilakukan oleh kubu Prabowo. Hingga saya menulis paragraf ini, belum ada satupun tanggapan dari pihak TVOne tentang survei mereka. Satu berita malah mengatakan, Puskaptis sebagai salah satu biro riset TVONe secara tersirat menyatakan tidak bersedia diaudit.  Tahu-tahu mereka muncul lagi dengan real count yang katanya dilakukan oleh relawan PKS. Tentu saja hasilnya memenangkan kubu Prabowo. Mungkin ini maksudnya buat menghibur diri sendiri. Hehehe… Namun, lagi-lagi berita yang beredar di media, real count tersebut adalah copy paste dari survei sebelum Pilpres yang juga dilakukan oleh relawan PKS. Kebangetan  ini sih kalo boong… Semoga cuma hoax yaa…biar dosa kita sama-sama gak nambah..

1405027432296
*Real Count* Capres No 1

Terakhir, berkaca dari hasil quick count untuk Pemilu maupun Pilkada sebelumnya, selisih nilai quick count antara real count tidak pernah terpaut lebih dari 1-2%. Jadi, sekali lagi jika quick count dilakukan oleh lembaga yang kredibel, dengan metode yang benar serta tidak disusupi kepentingan satu golongan, Insya Allah hasilnya tidak jauh berbeda. Dua kejadian sebelumnya; Foke mengucapkan selamat kepada lawannya: Jokowi di Pilgub Jakarta 2012 setelah pengumuman Quick Count di hari yang sama. Bahkan SBY sudah mengucapkan Selamat kepada PDIP sebagai partai pemenang pemilu 2009 pun di hari yang sama, 9 April 2014. Sementara itu, Presiden RI 2014? Kita tunggu tanggal 22 Juli yaa… Biar gak berantem dan biar yang memang kalah sudah siap mental. Bukan siap menyusun “strategi baru”.

 Salam damai Indonesia!

 

Hits: 717

Dalam satu perjalanan pulang di KRL Jabodetabek. Saya duduk di sudut bangku panjang berwarna biru. Sesekali mengutak-ngatik ponsel saya, hanya untuk melihat-lihat postingan teman di media sosial. Suasana di KRL malam ini cukup santai. Stres sendiri kalau ingat tadi pagi nyaris jadi ikan pepes di KRL yang sama. Tiba-tiba mata sata tertumbuk ke seorang Bapak tua dengan dua anaknya. Satu laki-laki, yang digendongnya dengan kain lusuh, berusia sekitar 4 tahun. Satu lagi, perempuan yang masih menggunakan seragam SD berusia sekitar 7-8 tahun. Buat Saya yang tiap hari “bergaul” dengan masyarakat lapisan kelas bawah, pemandangan seperti itu sebenarnya biasa. Namun, kita sendiri yang bisa merasakan mereka yang benar-benar pada kondisi yang sebenarnya atau dibuat-buat untuk memancing rasa iba dan kemudian menjadi peminta-peminta.  Dan saya merasakan, keluarga kecil ini sedang tidak bersandiwara.

Si gerbong panjang baru saja meninggalkan Stasiun Depok. Masih tiga stasiun lagi menuju Bogor. Si Bapak sesekali membalurkan minyak kayu putih dari satu merek dengan kemasan yang paling kecil ke punggung anak perempuannya. Saya melihat punggung itu penuh dengan bekas kerokan yang nyaris berwarna kehitaman. Si anak laki-laki masih tertidur dalam gendongan Bapaknya. Sementara si anak perempuan duduk lemas dengan kepala bersandar pada paha si Bapak.

Saya mengintip isi dompet. Hemm, masih ada sisa Rp50 ribu. Kalau jumlah itu saya berikan kepada si Bapak, saya masih bisa mampir ATM di stasiun Bogor untuk ongkos naik angkot ke rumah. Hanya saja Saya segan untuk memberikan langsung ke dia saat penumpang masih ramai begini. Kayaknya malu aja… Yah, jumlahnya memang tidak seberapa, tapi ada dorongan dalam hati yang menguatkan untuk bersedekah. Saya berpikir cepat, kalau begitu nanti saja ketika turun di Bogor baru uangnya saya berikan. Saat itu, kereta baru lepas dari stasiun Citayam., Tiba-tiba saya berpikir bagaimana kalau si Bapak turun sebelum Bogor. Haduh…mau ngasih uang dikit aja kok bawaannya rempong yah, bo.. Kemudian saya berdiri tidak jauh dari pintu terdekat keluar. Saya pikir, saya bisa memberikan uang tersebut saat si Bapak turun tanpa jadi perhatian banyak orang. Tepat seperti perkiraaan Saya, menjelang stasiun Bojong Gede, si Bapak tua berdiri bersiap untuk turun. Saya cepat-cepat menyisipkan lima puluh ribuan tadi ke kain gendongannya yang lusuh. Dia hanya berucap pelan: Terima Kasih.

Tanpa Saya duga seorang laki laki setengah baya dan seorang Ibu muda mengikuti “ulah” saya. Si Ibu muda berucap. Pak, saya ingin memberi Bapak sedikit uang, namun saya perlu ke ATM, apa Bapak bisa ikut sampai stasiun Bogor?! Saya cepat-cepat kembali ke tempat duduk Saya. Saya tidak mengikuti kelanjutan pembicaraan mereka. Namun yang saya tahu, Si Bapak kemudian mengikuti Si Ibu muda hingga Bogor.

Saya bertemu mereka lagi di deretan ATM di stasiun Bogor. Nampaknya si Ibu ingin memberikan sedekah lebih banyak. Seorang laki laki yang saya tahu penumpang gerbong yang sama, memberikan satu kantong plastik yang nampaknya berisi beras. Saya rasanya lega sekali, meski tadi sedekah tidak seberapa yang penting bisa membuat mereka yang lain juga ikut berbuat baik. Alhamdulillah..

Hits: 1095

Dua tiga bulan lalu, ketika nama-nama capres belum resmi diumumkan, saya bertanya kepada Ibu asisten di rumah. “Bu, nanti pilpres pilih siapa?” Ia dengan santai menjawab: Tentu saja tidak pilih Jokowi, karena posturnya sama sekali tidak mendukung untuk jadi Presiden. Saya pun tertawa. Bisa jadi121, saat itu saya berpikiran yang sama dengan si Ibu, apalagi saya berharap ada jagoan lain selain Jokowi dan Prabowo yang akan bertarung di 9 Juli 2014 nanti. Sama seperti kebanyakan orang, Saya keukeuh bahwa Jokowi harus menyelesaikan tugas besarnya membenahi Jakarta.  Saya juga tidak terlalu suka dengan PDIP dan menganggap Jokowi hanya “suruhan” Megawati yang sudah dua kali bisa dibilang gagal total dalam Pilpres langsung.

Namun waktu berkata lain, kita semua dihadapkan pada hanya dua pilihan. Prabowo atau Jokowi. Bagi saya, ini adalah pilihan yang gampang. Ibarat ujian sekolah, tanpa belajar mati-matian pun, saya yakin lulus. Secara mantap saya akan pilih Jokowi. Alasannya; saya tidak pernah tahu Prabowo selain kemunculannya dengan iklan yang bertubi-tubi menjelang Pilpres.  Rasanya Saya pengen nanya: Bro, kemana aja lo? Tiap lima tahun sekali nongol, kemaren-kemaren lo ngapain? Ah…okelah, kalian mungkin bisa menganggap saya kurang gaul. Tapi memang begitu toh kondisinya?! Kedua, saya ingin sekali Indonesia ini dipimpin oleh orang-orang yang fresh. Bukan mereka yang masa lalu-nya masih abu-abu antara dosa dan pahala. Meski Prabowo belum terbukti secara hukum melanggar HAM, tapi adalah nyata dan jelas bahwa ia diberhentikan dengan homat (mungkin kalo bahasanya “dipecat” jadi kurang etis) dari TNI. Saya rasa kegagalan Mega-Pro di Pilpres 2009 salah satunya “disumbang” dari kesalahannya memilih Wapres. Hahahaha. Lalu, tanpa mengurangi respek terhadap keberhasilan pembangunan di jaman Orba, saya ngeri membayangkan jika Prabowo rujuk kembali dengan mantan istrinya yang putri Soeharto. Apa tidak mungkin kroni-kroni iparnya kembali menguasai ekonomi bangsa. Apa artinya nyawa-nyawa yang habis demi menurunkan Soeharto di 1998?.

Oke, masa lalu adalah masa lalu. Mari kita tutup, karena toh semua tidak ada sempurna. Mari melihat Jokowi dan Prabowo dari masa kini dan masa depan. Saya awalnya mulai mencari tahu, dimana sih hebatnya Prabowo dan dimana sih lemahnya Jokowi. Namun, belum apa-apa kita sudah disodori berita, janji Prabowo yang ingin memberikan jabatan menteri kepada ARB, Ketua Partai Golkar sekaligus pengusaha yang berkasus Lapindo yang belum benar-benar rampung.  Saya respek dengan keberhasilan pemerintahan SBY, tapi banyaknya menteri yang tidak kredibel salah satunya adalah karena sistem jatah kursi per partai yang dilakukan oleh SBY. Apa nanti kondisi yang sama akan terulang? Saya percaya keduanya, Prabowo dan Jokowi punya ketulusan yang sama untuk Indonesia tercinta ini. Tapi jangan menutup mata melihat siapa yang ada di belakang mereka. Lihat kredibilitasnya. Lihat track record-nya. Bikin komparasi untuk analisis sederhana.

Kita mungkin lama terlena dengan gaya pemimpin yang “gak enakan” jadi berkesan tidak tegas. Prabowo tahu betul itu, makanya ia muncul dengan sosok penuh ketegasan dan didukung latarnya yang datang dari kalangan militer. Tapi apa iya, tegas harus dari orang militer. Bentuk ketegasan apa sih, yang absolut diinginkan oleh orang Indonesia. Sejujurnya saya tidak menangkap makna “tegas” dari sosok Prabowo. Mungkin yang tahu ketegasan Prabowo hanya mereka yang hidup lama di jaman Orba. Sayangnya, bukan saya dan generasi Saya. Ketegasan yang sudah beda generasi.

Saya tidak bilang Jokowi sempurna. Sekali lagi, saya bukan fans Jokowi. Bukan! Catat itu! Namun saya melihat Jokowi sudah bekerja. Bekerja di generasi masa kini, meski cacat dan celanya masih banyak. Saya sudah lama mengabaikan berita tentang keIslaman Jokowi, Jokowi yang antek asing, Jokowi yang eks keluarga PKI, Jokowi yang keturunan Tionghoa. Di sisi lain, untuk bersikap netral, saya juga mengabaikan black campaign sejenis terhadap Prabowo. Sayangnya yang sejenis, seperti yang saya sebutkan tadi nyaris tidak ada yang ditujukan untuk Prabowo.  Kalau mau ngarang toh, bisa ditujukan ke kedua kubu capres. Kenapa hanya Jokowi?  Wahai para pencinta rasis, kreatiflah mengusung black campaign, karena tema rasis sudah sangat basi.

Lucunya lagi, makin kesini para pendukung Capres kubu sebelah itu lebih senang fokus pada “kekurangan” Jokowi BUKAN fokus pada kelebihan Capres mereka sebagai bahan obrolan di media sosial.  Obrolan yang kadang minim data dan lebih senang percaya dengan berita di media yang jelas-jelas tidak netral.

Kemudian, lupakan masa lalu, lupakan orang-orang di belakangnya, lupakan black campaign. Semua seneng nonton Debat Capres kan ? Saya berusaha terbuka akan semua ide serta visi misi mereka. Yang saya tangkap, Prabowo-Hatta adalah orator ulung, pengkomunikasi pesan yang baik. Tapi apa isi sesungguhnya dari semua yang mereka bawa? Adakah sesuatu yang benar-benar merupakan terobosan? Saya sedih, sebagian besar masyarakat kita nampaknya masih senang dengan orasi dan retorika yang disampaikan dengan berapi-api dan penuh semangat. Tapi lupa, bahwa program detail adalah tingkat lanjutan dari cuman orasi dan pidato yang sudah dipakai dari jaman majapahit. Jangan mengingkari kenyataan bahwa kepemimpinan SBY selama 10 tahun ini telah banyak memajukan bangsa. Indonesia tidak terpuruk sehingga perlu bangkit. Indonesia sudah hampir menuju gerbang kemajuan, hanya menunggu pemimpin yang tepat untuk mengantarkan itu. Sejujurnya saya kurang sreg dengan gaya kampanye yang menjelek-jelekknya kondisi sekarang. Misal kebocoran anggaran hingga ribuan triliun yang disebut berulang-ulang, lemahnya posisi tawar Indonesia di luar negeri yang dijadiikan senjata untuk menarik orang. Gaya seperti itu hanya membawa aura negatif dan memperburuk tingkat kepercayaan masyarakat bagi pemerintah kini dan bisa juga yang mendatang. Kenapa tidak muncul dengan mau ngapain aja lima tahun mendatang? Dengan hal yang real tentu saja. Gaya debat seperti itu sangat keliatan di awal-awal. Namun sepertinya Prabowo Hatta mulai sedikit menyadari, sehingga pada debat selanjutnya mereka sudah datang dengan program yang lebih rinci. Bravo!

Gimana dengan Jokowi-JK? Jokowi dengan gaya santainya harus diakui bukan orator yang ulung. Namun dia nyaris menggunakan semua bahasa sederhana yang bahkan mudah dimengerti oleh penduduk di Kabupaten Fakfak! Dia sudah muncul dengan program yang lebih matang dan jelas. Jokowi JK masih salah ucap dan ngomong disana sini, masih kurang sempurna, tapi mereka apa adanya. Tidak ada teriakan ala orasi, tidak ada retorika dan tidak ada eforia.

Saya rasa kita tidak perlu dengan slogan yang terlalu pengen “go internasional”. Lama-lama saya bingung dengan slogan “go internasional” capres satu itu. Sebegitu burukkah Indonesia di mata dunia sehingga harus luar biasa bangkit? Wallahualam…

Walau demikian, banyak kesamaan “ujung” dari semua visi misi mereka. Saya menghargai itu.

Indonesia butuh figur yang meng-Indonesia. Kita tidak harus sama seperti negara asing jika ingin sejajar dengan mereka. Indonesia butuh figur yang Indonesia banget. Gak usah sok kebarat-baratan buat sama dengan dunia barat. Indonesia membutuhkan orang yang mengantarkan Indonesia ke gerbang kemakmuran. Mari membuka mata membuka hati, menyingkirkan ego, fokus pada kelebihan Capres. Ibarat beli HP, liat spesifikasinya. Lupakan casing, karena setiap saat casing bisa diganti. Jangan sampai salah pilih, kemudian ngedumel di ujung hari nanti. Saya mantap memilih no 2, dan saya berjanji tidak akan ngedumel di kemudian hari. Karena, saya yakin mereka sedang bekerja.

Terakhir, saya masyarakat biasa yang melihat semuanya dari kacamata biasa. Saya orang awam, gak ngerti politik yang canggih-canggih. saya hanya ingin yang memimpin kita datang dari kita. Pemimpin yang tidak berjarak.

 

Hits: 769

Apa sih musibah atau cobaan paling berat yang kalian pernah alami? Kalau saya saya udah jungkir balik kali..dari masalah keluarga, pekerjaan, pertemanan, keuangan sampai masalah percintaan. #eaaa.. Tapi beberapa hari lalu, saya baru menyadari bahwa selain deretan hal-hal tersebut, ternyata ada satu lagi cobaan yang masuk kategori berat. Yes! Ceritanya MacBook saya kerendem air di rumah sendiri gara-gara kecerobohan Si Ibu yang beberes rumah. Aduhhh…rasanya nyesek banget. Secara MacBook Air 11 inchi kesayangan itu saya beli 2 tahun lalu dengan susah payah, itu pun pake nyicil!. Lebay mungkin ya, tapi begitulah keadaannya. MacBook ini sudah menemani saya saat sibuk, saat banyak kerjaan bahkan saat sendirian gak punya siapa-siapa (curhat mode on).

bye my mac.. hikss
bye my mac.. hikss

Nah, gimana ceritanya sampe bisa kelelep air? Ini bener-bener kena apes atau gue mungkin yang lagi kurang sedekah. Ceritanya tanggal 31 Mei 2014 lalu saya melakukan perjalanan sehari ke Yogyakarta untuk kondangan kawinan seorang sahabat. Saya, yang biasanya saban Sabtu beberes rumah, mempercayakan beres-beres hari itu ke Ibu asisten. Sialnya, saat si Ibu datang, air PAM lagi mati. Namun ia tetep menunggu sampai air mengalir dengan bersih-bersih rumah tetapi membiarkan kran air dalam posisi terbuka. Karena tidak mengalir juga, si Ibu pun pulang ke rumahnya tanpa menutup kembali kran air goblok itu. Bisa diduga tidak lama berselang, air mengalir deras dan membanjiri seluruh rumah, masuk ke kamar, merembes ke rak tas yang kebetulan salah satunya adalah tas laptop. Duh, sial banget!

Jreng….hari berikutnya Mac tercinta dinyatakan tewas oleh service center-nya. Bisa dihidupkan kembali dengan biaya yang nyaris 80% dari harga baru. Nyesek banget sih!!! Banget kan? Mana lagi bokek, gaji sedang numpang lewat doang, mau lebaran dan lagi niat pengen ke Pulau Komodo. Oh, My God!! Masih ada untungnya sih… (orang Indonesia mah untung mulu…), data-datanya masih bisa diselamatkan, meski untuk itu pun harus mengeluarkan kocek yang gak sedikit!  Ada benernya  kalo masih belum kaya, miskin nanggung kayak saya..sebaiknya tidak menggunakan Mac. Memang kalau soal kualitas, Mac nyaris tetap oke dan tidak menurun performa-nya meski sudah digunakan bertahun-tahun. Tapi kalau begini… ? *pengen nangis aja rasanya..

Gusti, kasih sabar deh, semoga bisa kebeli type terbaru dan yang lebih keren lagi.. Aaamin

Hits: 571