Namanya Kurnia Rahayu, panggilannya Nia. Saya bertemu ia hampir setiap hari saat menyebrang Jembatan Semanggi menuju kantor saya yang berdekatan dengan Kantor Polda Metro Jaya. Awalnya seperti kebanyakan orang kota besar (yang cenderung cuek), saya mengira anak kecil ini hanya dimanfaatkan oleh Ibunya untuk meminta belas kasihan alias mengemis, tanpa harus bekerja keras. Sempat juga terpikir, ia cuma anak kecil yang “dijual” atau diculik kemudian dijadikan alat untuk meminta-minta. Tubuhnya kecil dan sangat kurus, sampai-sampai saya berpikir usianya baru tujuh bulan. Nia selalu tertidur di pangkuan Ibunya yang pun sedang hamil sembilan bulan.

Anehnya, sejak sering melihat Nia, haPhotoGrid_1446649110179mpir tiap malam saya kepikiran gadis cilik itu. Dilanda rasa penasaran sekaligus iba, besoknya saya nekad mampir dan sedikit ngobrol dengan ibunya. Kaget, karena Nia sebenarnya sudah berumur 2 tahun. Badannya yang kurus kering (BB hanya 5,5 kg) adalah akibat flek paru-paru dan gizi buruk yang dideritanya.Penyakit itu menganggu banyak organ yang lain, sehingga hampir tidak ada makanan yang terserap oleh tubuh. Miris, seharusnya anak seumur dia sedang dalam masa pertumbuhan yang lucu-lucunya. Keponakan saya seumur itu, kerjanya hanya bermain dan bernyanyi, bukan seperti Nia yang terpaksa dibawa ibunya duduk di tengah jembatan menunggu kantong uang mereka terisi, di tengah panas, debu dan asap knalpot Jakarta yang penuh polusi.

Saya coba menghubungi beberapa teman yang paham urusan jaminan kesehatan. Seingat saya, di salah satu tayangan TV, Mensos pernah bilang; salah satu PR besar pelayanan publik yang merata adalah perlakuan yang seimbang bagi warga RT 0 (mereka yang tidak punya identitas) Sementara Nia dan Ibunya pasti sulit mendapatkan surat keterangan pejabat setempat untuk mengurus BPJS, Jamkesda dan sejenisnya karena mereka nyaris tidak pernah menetap lama di satu pemukiman. Ibu Nia bernama Sri Maryati, tinggal di Bekasi, punya KTP Jakarta tapi sudah tidak berlaku. Suaminya seorang pengamen bis ber-KTP Kabupaten Bekasi dan sering beroperasi di seputaran Semanggi dan Blok M. Mereka mengaku tinggal berpindah-pindah, bahkan pernah menempati rumah triplek yang dibangun untuk proyek renovasi salah satu gedung masih di seputaran semanggi. 

Saya juga sempat menghubungi Gubernur Ahok, melalui nomer teleponnya yang disebar dimana-mana. Alhamdulillah semua merespon positif, bahkan asisten Pak Ahok, menawarkan jika tidak punya KTP DKI, segera urus perpindahan atau Pemda DKI bersedia mengambil Nia untuk dirawat di Panti Sosial. Sementara itu, BPJS untuk warga kurang mampu bisa diurus di Dinas Sosial sesuai KTP masing-masing.  Semua memang bisa diurus, sayangnya saya punya keterbatasan waktu untuk membantu orang tua Nia menugurus semua itu. Disisi lain, keterbatasan pendidikan dan pengetahuan membuat orang tua Nia “pasrah”, alias tidak tahu bagaimana dan kemana mengurus semua itu sendiri.  

Saat bersamaan di berbagai media kita lihat, Presiden Jokowi langsung memberi kartu sehat  buat suku anak dalam. Itu jelas-jelas gak dimintain KTP dan Kartu Keluarga kan? (**sst.. saya gak mau berdebat soal ini) Kenapa Nia yang sudah miris banget kondisinya, harus ngurus macem-macem surat lagi untuk dapat jaminan kesehatan?  Ok, anggaplah saya yang masih minim pengetahuan soal hal ini. Tapi saya yakin masih ada ribuan Nia-Nia lain di luar sana. Anak-anak kecil tak berdosa yang jadi “korban” kondisi orang tuanya.

Karena belum punya waktu bantu ngurus surat-surat itu, saya bercerita kepada beberapa orang teman tentang gadis kecil ini. Alhamdulillah, ada beberapa teman yang tergerak untuk membantu walaupun jumlahnya tidak seberapa, minimal bisa membeli susu Nia sampai ada bantuan yang cukup untuk berobat. Sayangnya sih, kebanyakan teman (saya gak nuduh), berpikiran sama seperti orang Jakarta pada umumnya. Cuek, mengganggap itu cuma drama, orang tuanya pemalas, cuma mau enaknya aja duduk dapet duit..dsb..dsb.  Saya paham banget, hidup di Jakarta memang harus penuh kewaspadaan dan itu wajar. Tapi bagi saya pribadi, membantu orang lain itu unconditional alias tidak bersyarat. Saya mencoba lebih banyak menggunakan bahasa hati daripada bahasa logika untuk kasus seperti Nia. Nia tidak salah, dia anak kecil tanpa dosa, jangan karena kesalahan dan kekurangan orang tuanya menjadikan Nia tidak berhak untuk sehat.

Singkat cerita, pada akhir pekan lalu saya bersama seorang teman berkunjung ke kontrakan Nia di Bekasi. Di rumah kontrakan sempit yang nyaris tanpa perabot, kecuali sebuah kipas angin dan kasur busa tanpa seprei, saya mendengar cerita bahwa kedua orang tua Nia sudah berusaha untuk memberi pengobatan yang layak bagi anaknya. Saat saya datang, sehari sebelumnya Ibu Sri bertemu seorang Ibu di pinggir jalan yang iba melihat kondisi Nia. Ibu itu kemudian membawa Nia ke seorang dokter dengan biaya yang ditanggung si Ibu. Namun Nia tetap perlu dirawat secara intensif di rumah sakit. Dokter menjanjikan memberi rujukan, dan si Ibu donatur berupaya membuatkan BPJS untuk Nia dan orang tuanya. Saya kemudian pamit, sedikit memberi oleh-oleh dan berjanji suatu saat akan main lagi mengunjungi Nia.

Kemarin, Ibu Sri menghubungi saya, Alhamdulillahirrabiilalaminn… sudah ada donatur yang mau menanggung biaya pengobatan Nia di RSUD Cibitung. Hebatnya, Ibu itu adalah sesama penumpang bis yang kebetulan melihat Nia bersama Ibunya. Saya ikut berucap syukur yang dalam, masih ada orang yang peduli. Saya mungkin belum bisa seperti Ibu itu, saya masih sibuk mikirin gimana caranya agar Nia bisa dapet pelayanan kesehatan dari Pemerintah, sementara si Ibu sudah bertindak lebih nyata.

Terakir, Ini bukan riya, ini cuma cerita kecil biasa, Wong saya juga belum ngapa-ngapain kok :p Namun minimal, moga-moga sedikit bisa melunakkan hati kita di tengah keras dan kejamnya Ibukota. Kalau saya, kepedulian -yang masih kecil bangett ini-, cuma cara saya untuk bersyukur dan cara saya menghilangkan rasa bersalah atas “kemewahan” hidup saya. Now, its depend on you….

*Berharap dibaca Ibu Mensos Khofifah….

 

Hits: 705

Eforia pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, awalnya pembatalan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi, September 2015 lalu adalah keputusan final. Namun tiba-tiba mengemuka di media, bahwa proyek ini dilanjutkan dengan menggandeng satu konsorsium dari China. Kenapa China, karena hanya China yang mau menggunakan skema B2B (Business To Business), sementara Jepang sebagai kandidat lawan tidak dapat menggunakan skema ini, karena menghendaki adanya campur tangan negara dalam bentuk jaminan dari Pemerintah. Mungkin itulah alasan Jokowi membatalkan di awal, karena tentu saja jaminan itu akan memberatkan APBN.

Jujur, Saya tidak sependapat dengan gagasan proyek ini. Alasan utama saya, kenapa harus Jakarta-Bandung? Kenapa tidak daerah lain? Pada saat pembatalan, jelas Jokowi bilang: jika dibebankan ke APBN tidak adil proyek ini tetap dilaksanakan di jalur dengan moda transportasi yang sudah padat sementara daerah-daerah lain masih belum terjamah pembangunan.

Dalam rencana Menteri BUMN, ada lima stasiun yang akan menghubungkan Jakarta dengan Bandung yaitu: Gambir, Manggarai, Walini, Bandung Kopo dan Gede Bage. Kita semua tahu, moda transportasi apa yang tidak ada  dari Jakarta menuju Bandung? Gojek pun kalau sanggup, bisa diorder ke Bandung. Kenapa harus tambah kereta cepat lagi?.

Alasannya dengan adanya jalur ini diharapkan terjadi multiplier effect terhadap ekonomi di daerah sekitarnya.  Tapi menurut saya tetap kurang adil jika fokus pembangunan “seolah” hanya ada di wilayah ini saja. Sebagai catatan,  PAD Kota Bandung adalah yang terbesar di Jawa Barat pun daerah-daerah lain di Jawa Barat yang secara rata-rata lebih tinggi dari Kabupaten/Kota lain di Indonesia.

Entah bagaimana hitung-hitungan Bu Menteri, dengan kondisi “given” yang ada sekarang, menurut saya pembangunan jalur kereta ini tidak akan berdampak signifikan terhadap multiplier effect Bandung dan sekitarnya. Bandung adalah daerah  yang -tidak saja sudah berpotensi menangguk PAD besar- tapi juga punya SDM yang lihai mendatangkan investor secara mandiri.  Mau tidak mau harus diakui jika keterbasan SDM dan kualitas pimpinan yang tidak seragam, membuat banyak daerah lain masih memerlukan “pertolongan” pemerintah pusat.

Belum lagi masalah lingkungan, berapa banyak lahan hijau yang harus dikorbankan? Lagi-lagi jika bicara data, apakah benar pertumbuhan mobilisasi orang dari Jakarta-Bandung semakin meningkat sehingga memerlukan moda transportasi baru. Jangan-jangan (salah satu contoh) malah akan berdampak terhadap bisnis travel Jakarta-Bandung yang marak pertumbuhannya dalam lima tahun terakhir. Opini ini mungkin terlihat sederhana, soalnya saya orang awam, namun dalam pandangan saya sejatinya proyek ini cuma proyek mercusuar pemerintah (baca: menteri BUMN)

Mungkin memang daerah ini jadi primadona investor, tapi kenapa pemerintah tidak “jualan” daerah lain? Sebagai contoh, menteri PU pernah menjelaskan bahwa pembangunan Tol Trans Sumatera dalam waktu paling singkat atau tiga tahun hanya baru bisa mengerjakan bagian dari Bakauheni – Bandar Lampung – Palembang – Tanjung Api Api (MBBPT), sepanjang 434 Km. Bayangin, tiga tahun cuma bisa sampai Lampung! Yakin Pak Jokowi akan awet sampai 5 tahun? Sementara panjang tol Sumatera adalah 2.400 Km. Memang secara hitung-hitungan bisnis, bikin kereta cepat terhitung “murah” hanya sekitar Rp70 Triliun. Lah, tapi duit segede itu, kalau dipake buat bangun jalan lebih baik di Sumatera, apakah multiplier effect-nya tidak lebih baik daripada bangun Jakarta-Bandung yang sudah sangat penuh?!

Dari sisi pendanaan, dalam Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta-Bandung, Presiden menegaskan tidak akan menggunakan dana APBN ataupun jaminan pemerintah. Oleh karena itu BUMN harus pinter pinter cari duit sendiri. Kemudian muncullah China Development Bank (CDB) menawarkan jatuh tempo pinjaman 40 tahun, di mana 10 tahun masa tenggang dan 30 tahun pengembalian untuk pinjaman sekitar Rp56 Triliun. Hemm, iyaa sih tidak menjadi beban APBN, tapi tetap saja wujudnya menjadi hutang negara. No, saya tidak anti dengan hutang, konteks saya tetap sama, lebih baik nilai sebesar itu di-oper ke daerah lain, yang sudah megap-megap butuh bantuan.

Aduh, Bu Menteri dan Pak Presiden, sejujurnya saya juga ingin merasakan naik kereta cepat super keren ini. Tapi nanti deh, gw ke Jepang ajah.. :p Kita masih  punya PR besar yaitu masalah kesenjangan. Jangan membuat kejomplangan dan kesenjangan pembangunan makin besar. Hal yang sedikit terlupa diukur oleh rezim lama. Indikator ekonomi yang naik terus tidak berarti mempersempit kesenjangan antara si miskin dan kaya. Di kota besar mungkin iya, tapi di daerah lain, banyak yang hidupnya masih tergantung pemerintah pusat.

Sudah masanya pembangunan makin digerakkan ke daerah. Saya saja sudah bosen bu, tinggal di macetnya Jakarta, tapi mau gimana… daerah belum tentu memberikan kesempatan sebaik di Jakarta.

Terus membangun Bapak/Ibu,.. kalo masih bisa dibatalkan atau minimal ditunda dululah proyek ini hingga lima tahun kedepan. Tanpa punya kereta cepat, kalau petani kita makmur, distribusi hasil alam lancar, sarana tranportasi di daerah makin mapan, kita tetap jadi Indonesia yang keren!

Hits: 994

Ada yang hilang dalam diri sendiri akhir-akhir ini. Pertama, nyaris tidak pernah traveling yang jauh-jauh hampir satu tahun lamanya. Kedua, hidup kayak robot. Pergi subuh, pulang malam dan melakukan pekerjaaan yang (sangat) menjemukan. Ketiga, miskin kreativitas!! Entahlah, karena ini Oktober dan saya lagi berulang tahun dan kian tambah dewasa (baca:tua) yang kesemuanya menimbulkan pertanyaan baru: Am I in a crisis of midlife?! Tiba-tiba (eh, gak tiba-tiba juga sih) saya mempertanyakan kembali tujuan hidup saya. Benarkah saya harus menjalani masa depan (bahkan mungkin) hingga pensiun di satu lembaga keuangan di Indonesia (katanya) terbesar sejagat Indonesia Raya. Benarkah saya masih mengejar karir yang -bukan saja harus dikejar dengan kerja super keras- tetapi juga harus “pendekatan” dengan para pemangku posisi strategis plus plus mengikuti politik politik kantor yang bagi saya sangat tidak menarik. Jauh lebih menarik mengamati tingkah pola (lucu) politikus asli kita di gedung bundar sana.

Ada pula saat saya merasa bingung. Ini kemunduran atau kemajuan?! Di satu sisi tentu saja ini kemajuan. Saya belajar dunia yang totally baru dari yang sebelumnya. Prinsip saya, bekerja adalah sekolah. Ilmu baru, teman baru, keluarga baru. Namun di sisi lain, saya pernah melakukan banyak hal yang lebih besar, lebih penting bahkan lebih strategis dari ini. Tentu saja dengan teknologi yang lebih sophisticated. Dan ini sebagai keroco baru, saya harus memulai semua dari bawah. Oke, fine! Tapi itu menyiksa. Bukan karena saya enggan mulai dari bawah, tapi karena situasinya yang tidak mendukung saya untuk bebas bereksplorasi. Aduh maaf, saya mulai sombong… Saya dibebani pikiran bahwa saya harus melakukan hal yang terbaik sebagai seorang profesional meskipun kian hari semuanya kian menjauh dari kata hati. Terbayang pula rencana-rencana saya di 2016 yang nampaknya sulit terealisasi jika jalan yang ini tetap saya pilih.

images

Kemudian, pada satu masa ketika saya sudah merasa cukup dari banyak sisi. Maaf, jangan bilang cukup dari sisi materi, karena tanpa bersyukur seberapa pun yang kita punya rasanya selalu tidak cukup. Cukup dikelilingi kasih sayang keluarga, teman dan sahabat terbaik yang selalu ada di garda depan. Tapi di sisi lain saya merasa belum punya banyak manfaat buat orang banyak. Padahal sejatinya arti hidup terbaik adalah berbagi. Right?! Lah, saya sudah ngapain? Ngasih sumbangan “doang”? Hehehe…Kasian deh gw…

Pertanyaannya kembali berulang. Am I on the right track? I think I am not! But tidak pernah ada kata terlambat, kan? Kata seorang sahabat, pun tidak ada yang namanya kesalahan, karena definisi kesalahan yang sebenarnya adalah pembelajaran. Dan hidup ini pilihan. Saya ingin mengembalikan pilihan hidup saya pada Tuhan. Semua keputusan ada baiknya dan selalu ada konsekuensi buruknya. Saya sudah sampai pada satu kesimpulan. Hidup saya tidak disini. Ini adalah batu singgahan pembelajaran, cobaan dan tentu saja latihan kesabaran. God, bring me back my passion… I want to face monday with bright smile and a fully charge energy….

Ada satu kutipan dari satu tokoh, begini:  Berbeda dengan orang pintar, orang idiot percaya bahwa kreativitas adalah syarat mutlak untuk mencapai kekayaan finansial. Kreativitas tidak muncul saat kita sedang dan serius, kreativitas muncul saat kita sedang bersantai dan bersenang-senang. Cari waktu luang, pergilah ke tempat favorit Anda bersama-sama teman-teman terbaik Anda dan bersenang-senanglah. *So, Am I idiot as well ?  *btw, libra memang suka galau.

Thanks for the birthday wishes. Surprisingly I still got some wishes at the mid night and early morning of October 11 *beside automatic greetings from my hospital, credit card, insurance, job mailing list and some discount cards merchant. Hahahaha..

 

Hits: 775

Saya lupa pastinya kapan biji biji hitam itu mengisi separuh hidup saya. Yang saya ingat sekitar tujuh tahun lalu, meminumnya dengan campuran susu yang banyak saja sudah membuat jantung berdebar debar sepanjang hari. Saya terheran heran jika bertemu pencandu kopi yang bahkan meminumnya lebih banyak daripada air putih. Mbah Surip kata saya. Saya juga bingung menerka kenikmatan apa dibalik si hitam yang digandrungi dunia itu. Hingga kepindahan saya ke Aceh setelah itu merubah semuanya.

Dan kemudian saya tidak bisa lagi menghitung berapa tulisan di blog ini yang tercipta di warung kopi. Bahkan sebuah buku pernah terselesaikan hanya dengan duduk dengan segelas latte hangat. Sulit juga mengukur bagaimana segelas kopi telah membantu saya memberi banyak energi dan inspirasi untuk pekerjaan saya. Kata seorang teman kopi dan ngopi-ngopi adalah cara baru pembagi perspektif. “Ngopi-ngopi”-lah yang mampu menjernihkan pikiran dari virus-virus media yang mampu membelokkan pola pikir. Kopi juga ibarat pembasmi lemak jahat, sesekali kita perlu diet dari informasi yang simpang siur. Dan kopilah obat diet itu. Lucunya, kini makna kata “ngopi” seolah telah meluas. Seorang teman bertanya pada saya; dimana tempat ngopi yang enak di Bogor. Dengan bersemangat saya merekomendasikan beberapa tempat beserta ulasan tentang rasa dan keragaman kopinya. Eh, dia justru memilih resto yang menurut saya bukan kopi banget. Oh, baiklah,.mungkin saya saja yang memendekkan arti kata ngopi.

aroma-of-heaven_20150411_113123Sayangnya saya bukan pencinta kopi berlogo kepala manusia berwarna hijau -yang menenteng gelasnya ketika antri di lift- memuat derajat sosial pembawanya seperti naik dua kali lipat. Senang rasanya karena tahun-tahun belakangan mulai muncul gerai gerai kopi asli Indonesia. Dua tiga tahun yang lalu saya kenal dengan seorang Bapak yang membuka kedai kopi di garasi rumahnya. Bapak separuh baya ini telah lama malang melintang membantu petani kopi di belahan Aceh sana. Dia bilang, sebenarnya harga kopi yang dijual di kedai hijau tadi bisa lima kali lipat dari harga kopi yang bisa kita racik sendiri. Saya paham idealismenya. Kopi Indonesia berkualitas terbaik di jual di gerai-gerai Internasional. Branding yang luxury membuat harganya naik berkali lipat. Kopi telah menjelma menjadi bagian gaya hidup modern. Namun semua itu belum sejalan dengan nasib petani kopi kita. Pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan swasta untuk membuat negara penghasil kopi terbesar ke-empat di dunia ini menjadi kaya karena kopi, Memangkas jalur pemasaran yang ribet dan berliku dan membuat petani kopi kita bangga karena hasil kerja mereka diakui dunia.

Ah, kopi. Urusan kecilmu jadi panjang, karena kamu tidak hanya bagian dari saya dan mereka tapi juga bagian dari negara dan dunia. Namun sejatinya Ini bukan hanya tentang kopi. Ini bukan hanya tentang dimana kita menikmati kopi itu. Ini adalah cara kita berbagi cerita, cari kita berbagi rasa. Ini adalah tentang kamu, dia dan mereka yang kita cinta. Kopi adalah suara hati., karena kopi adalah bahasa yang tidak terucap. Kopi adalah potongan rindu.

Semalam aku bermimpi
Kamu menjemputku di suatu tempat yang ramai
Kamu kelihatan segar sekali dengan kaus hitammu
Aku menyuguhkanmu secangkir kopi kesukaanku
Katamu:  “rasanya pahit… “
Kamu meminta aku menambahkan gula
..dan.. aku pun terbangun..
Is that true, when somebody appears in your dreams, its because that person misses you?

Tulisan ini dibuat untuk turut meng-kampanye-kan Pencanangan Hari Kopi Internasional di Indonesia, 1 Oktober 2015. Baca juga tulisan teman-teman saya dibawah ini:

 

Hits: 1301

Kejadian ini sebenarnya sudah agak lama sekitar tahun 2005 -2006. Tapi boleh jadi, ini salah satu cerita paling “bersejarah” dalam hidup saya.  Pada tahun itu saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Baranangsiang Bogor. Tidak ada kesan yang menyeramkan, karena rumahnya di kompleks pegawai yang cukup padat namun asri. Saya memang lebih sering sendiri di rumah karena keluarga saya memang tinggal di kota lain.

http://serba-serbi.pantura.us/page/3/

Saya terbiasa tidur dengan mematikan lampu. Suasana gelap memang membuat tidur lebih nyenyak karena produksi hormon albumin di tubuh (semoga tidak salah) menjadi lebih banyak.  Malam itu pun demikian, saya tidur menghadap kiblat dengan lampu yang total gelap. Menjelang subuh, saya tiba tiba terbangun sebelum jam weker  yang biasa berbunyi tepat pukul lima pagi, berdering. Tanpa sadar saya melihat sesosok tubuh diujung kasur saya menatap saya dalam dalam dengan rambut tergerai panjang nyaris menutupi wajahnya. Karena baru bangun dari tidur, saya pun belum sepenuhnya sadar hingga dalam hitungan beberapa detik saya bertatapan dengan mahluk itu.  Ketika tersadar, saya langsung membaca beberapa ayat yang saya tahu dan berdiri menyalakan lampu kamar saya. Tepat setelah itu azan subuh pun berkumandang.

Read More

Hits: 3131

Ketika orang rame-rame mengubah profile picture-nya di Fesbuk dengan latar warna pelangi, saya gak ikut-ikutan latah. Awalnya saya pikir, itu buat lucu-lucuan aja. Kekinian gitu. Belakangan saya baru tahu, bahwa itu adalah campaign dukungan kepada LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) dimana Amerika Serikat baru saja mengesahkan pernikahan bagi sesama jenis di 50 negara bagiannya. Kalau ditanya pendapat pribadi, Yaah,..saya ini sejujurnya orang kampung yang konvensional, tentu saja saya tidak setuju adanya pernikahan dengan sesama jenis. Tapi saya tetap respek dengan keputusan yang dirayakan oleh banyak kaum LGBT tersebut .

Seorang teman saya yang ikut memeriahkan momen ini –dengan memasang foto pelangi- berujar: Ah, selama dia gak ganggu gw sih, gw gak masalah.. gw respek aja! Nah.. kata kuncinya respek, bukan mendukung. So, bagi saya respek tidak sama dengan mendukung, dan ikutan latah membuat foto pelangi bagi saya adalah salah satu bentuk dukungan!

LGBT-PRIDE

Oke..oke, jangan rame dulu… Saya mau jelasin kenapa saya respek, tetapi tidak mendukung. Ada ceritanya. Cerita yang lumayan panjang. Hahaha.. Saya punya beberapa teman gay, salah satunya baca disini.  Ada diantara mereka yang menjadi sahabat dekat saya. Saya tahu kehidupan pribadinya, keluarganya, teman-temannya. Pun saya sering menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah pertemanan. Ada yang aneh? Gak.. saya tahu mereka gay, diantara mereka pun kerap bercerita tentang kehidupan pribadi mereka, pacar-pacar mereka, pola hubungan mereka hingga urusan seksual (seriously!). Its your own personal business! Sebagai sahabat pun, mereka sangat baik! Pertemanan itu memang seperti pelangi, berbeda-beda di semua aspek termasuk beda di orientasi seksual, tapi esensi sebagai seorang mahluk sosial dalam pertemanan tidak boleh hilang. Lebih penting lagi, saya tidak menganggap mereka “berbeda”, they are human being. Bagi saya itu adalah bentuk respek dan penghargaan saya yang paling tinggi. Meski lucunya mereka sendiri yang sering menyebut dirinya “sakit”. Hehehe..

Anehnya, meski sebagian besar menyadari dirinya sakit, mereka tidak mencari obat penyakit itu, justru mendekati pemicunya dan malah menikmati.

Hingga pada satu titik, setelah berbagai peristiwa terjadi dalam persahabatan itu (yang tidak mungkin di-ekspos) saya merasa kian mengingkari hati nurani saya dengan memberikan respek yang lama-kelamaan seolah “mendukung”. Karena saya seolah “membiarkan” virus ini terus menyebar dan komunitas ini terus bertambah. Saya takut. Saya belum siap jika nanti anak-anak saya bisa menikah dengan sesama jenis, saya belum siap melihat anak-anak yang punya orang tua dari kelamin sama. Lebih mengerikan lagi saat ini banyak kaum gay yang menikah karena status saja dan itu mulai dianggap “lumrah”. Memang sih, dua hal tersebut debatable, pasti ada yang merespon: Loh, daripada anak-anak hidup dalam keluarga broken home? Hehehe.. silakan saja…

Banyak yang bilang (bukan saya loh…) bahwa mostly LGBT, deep inside hati mereka sebenernya menyadari ini dosa. Tapi dosa sering diukur dengan cara manusia yang bisa berubah dan subyektif. Saya bukan ahli agama, bukan kapasitas saya juga menghubung-hubungkan dengan agama. Saya menahan diri untuk gak bilang itu dosa apa gak. Apalah saya ini. Namun fakta menyedihkan yang ada di depan mata saya, adalah teman gay saya yang sibuk mengomentari hubungan yang tidak syariah antara laki-laki dan perempuan sementara ia sendiri tinggal serumah dengan pasangan gay-nya. Oh, come on..… kamu punya kaca gak sih? Fakta tadi cuma secuil anomali dan sangat subyektif personal bukan penilaian untuk kaum gay secara keseluruhan. Selebihnya, biar mereka yang lebih kompeten saja yang berkomentar dari sisi ini.

Meskipun ada yang bilang LGBT itu masalah genetis yang artinya bawaan orok, kenyataan yang berkembang LGBT itu bisa menular. Artinya, lingkungan juga sangat berpengaruh. Pengakuan seorang teman, ia “memilih” menjadi penyuka sesama jenis karena merasa kurang memiliki figur ayah dalam hidupnya. Pasti selalu ada alasan dan latar belakang (sosial) kenapa akhirnya mereka memilih menjadi  kaum ini. Dan menurut saya belum ada angka statistik yang menunjukkan bahwa faktor genetik lebih besar dari pengaruh lingkungan. Bahkan dari beberapa obrolan, mereka bisa “mengajak” orang lain yang heteroseksual menjadi homoseksual. Nah Lo?!!

Namun sekali lagi, saya menghargai keputusan siapa pun untuk menjadi kaum LGBT. Ketidak-mendukung-an saya hanya bentuk untuk kembali ke hati nurani. Saya tidak ingin mengingkari hati nurani sendiri karena masih tetap percaya kodrat manusia itu berpasang-pasangan, tetapi bukan dari sesama jenisnya.

Hits: 814

Saya percaya setiap orang punya periode sendiri-sendiri dalam hidupnya, dan periode itu tidak sama dengan orang lain. Kalau saat ini saya bahagia dan teman saya tertimpa masalah, bukan berarti hidup saya lurus-lurus saja tanpa pernah punya masalah. Begitu pun sebaliknya. Bahagia pun ukurannya sangat relatif.  Ada seorang temen yang kelihatannya punya hidup yang sempurna. Fisik yang rupawan, pasangan yang sejajar, orang tua yang mampu dan pekerjaan yang sukses, sebut saja namanya Reni. Teman  yang lain bernama Wati, hidupnya menurut saya lurus dan aman sekali. Ia besar dalam keluarga yang lumayan berada, mengenyam pendidikan tinggi terbaik, karirnya pun mengikuti. Urusan percintaan Wati pun datar (mungkin sedikit hambar), karena nyaris tanpa riak.  Secara kasat mata mereka semua seperti punya hidup sempurna. Seperti ungkapan rumput tetangga selalu lebih hijau, wajar jika seorang teman yang lain yang bernama Yanti sedikit iri dengan segala yang Reni dan Wati punya.

tunasSaya?!, Wah, jangan dibandingin. Sejak kecil hidup saya jatuh bangun. Mulai keluarga yang bangkrut, sekolah yang penuh perjuangan sampai urusan percintaan yang tragis bin dramatis (sinetron amat sih…) Kalau pun sekarang “keliatannya” enak, itu sebenarnya semua adalah “template” yang harus saya tunjukkan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas semua pasang surut yang sudah Tuhan berikan kepada saya. Entah itu terjadi memang takdir saya, atau sesuatu yang terjadi karena kecerobohan saya sebagai manusia biasa. Saya percaya nilai-nilai hidup yang saya dapatkan saat ini sebagian besar bukan dari teman-teman bukan juga karena membaca buku self development, tapi dari banyaknya lika liku perjalanan hidup saya sendiri.

Kemudian, Reni dan Wati tertimpa masalah (baca: cobaan besar) dalam hidupnya. Saat itulah saya makin menyadari bahwa semua manusia punya fase yang berbeda dalam hidupnya. Sayangnya kesadaran seperti ini, belum tentu ada di semua orang pun bagi Reni dan Wati. Ketika terbiasa hidup dengan tanpa nyaris masalah, cobaan bertubi-tubi sering disikapi sebagai ketidakadilan bagi hidup mereka yang terbiasa baik kepada semua orang. Saya gak bilang, masalah mereka ringan, tapi tempaan kehidupan yang saya alami, membuat saya selalu pengen bilang: Oh,..I was there!. Justru dunia yang terbolak balik, seperti roda yang berputar menunjukkan bahwa semesta ini adil.

Seorang teman yang lain pernah bercerita, ia berulang kali melamar pekerjaan baru dan mengikuti banyak proses untuk itu. Sayangnya, tidak ada satu pun yang berhasil. Lucunya, pekerjaan baru justru datang tiba-tiba tanpa melalui proses yang njelimet. Dia bilang ke saya: Wah, kalau tau begini, kenapa kemaren gw repot amat ngelamar ke tempat yang lain. Sepertinya ia lupa, proses njelimet yang tadi ia lalui adalah bentuk effort pay in advance untuk mendapatkan yang mudah belakangan itu.

Alhamdulillah, Tuhan memberikan bermacam-macam cobaan itu kepada umatnya. Saya yakin, sebenarnya itu adalah kunci pembuka pintu kebahagiaan di masa mendatang. Dan untuk memiliki kunci itu, saya sudah “pay in advance” dengan melewati semua cobaan tadi. Kalau pun di depan nanti masih banyak tantangan lain, gakpapa.. karena sebagian yang berat sudah terlewati. Dannn… kalau saat ini kamu bahagia dengan segala yang kamu punya dan itu (menurutmu) sudah ditata dengan teramat apik, jangan bangga dulu, tidak ada jalan tanpa polisi tidur dalam kehidupan. Semua ada masanya dan itu bisa terjadi di luar kuasa dan prediksi kita.

Saya percaya kedewasaan itu bukan selalu dari usia dan intelektualitas, tapi dari seberapa banyak jalan berliku yang sudah kita lalui. Semua ada masanya. Tidak ada masa seneng terus dan tidak juga ada masa susah terus.

Hits: 965

Dulu saya berpikir, karena sudah rutin membayar pajak, artinya urusan saya dengan negara ini selesai. Saya bebas komplain, bebas memprotes semua hak saya sebagai warga negara yang belum sempurna. Macet dikit, saya sudah ribut ngomongin ketidakbecusan pemerintah mengelola lalulintas. Pelayanan kesehatan yang amburadul saya omelin. Belum lagi kalau nonton koruptor ditangkep KPK. Langsung terucap “Oh, jadi uang pajak gue, dipake buat membiayai hidup mewah para koruptor?”

pajakSekarang pun sebenarnya masih begitu. Tapi akhir-akhir ini saya mulai menguranginya. Saya membaca banyak sumpah serapah dan caci maki masyarakat di sosial media. Sebagian diantaranya memang banyak yang asbun. Contoh menggelikan adalah pada pelaksanaan KAA minggu lalu. Selama sekitar tiga hari, jalan-jalan protokol di Jakarta terkena jadwal buka tutup untuk memberikan kelancaran bagi delegasi tiap negara. Saya yang berkantor di bilangan Semanggi pun terkena imbasnya. Selama tiga hari, ongkos ke kantor naik signifikan karena saya males jalan kaki, mau tidak mau harus berputar arah dengan biaya lebih mahal. Lucunya, saat begitu ada saja meme di sosial media yang menyebutkan kondisi begitu sebenarnya cuma pencitraan ke para tamu, bahwa Jakarta itu tidaklah macet. Memang sih, Panitia juga tidak menyediakan alternatif seperti bis tambahan. Tapi tau gak kalau dalam pelaksanaan acara kenegaraan ada Pro-tab yang harus dilakukan? Dan penutupan jalan itu adalah salah satunya. Jelas itu bukan pencitraan tapi bentuk tuan rumah menjaga keamanan para tamunya. Lebih konyol lagi ada yang menimpali: loh, saya sudah bayar pajak..harusnya gak begini!. Hahahha.. Ngakak sendiri. Apa hubungannya?! Kikiki.. Justru saat-saat seperti itulah, negara minta kita “berkorban” sedikittt dan sebentar saja di luar pajak yang kita bayar, untuk kebaikan nama bangsa sebagai tuan rumah.

Jika sering menonton program TV Kick Andy, sering sekali kita melihat “orang-orang” biasa yang memberi arti bagi lingkungan sekitar. Dari supir bis malam yang bisa mendirikan madrasah, petani kecil yang membangun pembangkit listrik hingga anak lulusan SMA yang membuka sekolah kecil untuk anak jalanan. Mereka mungkin tidak mengerti politik, mereka juga tidak paham hitungan pajak. Bisa jadi mereka juga belum sepenuhnya paham hak-hak mereka sebagai warga negara. Tapi menurut saya mereka-lah sebenarnya yang lebih memberi berkontribusi daripada mereka berpikir njelimet, komplain dan sibuk menyebarkan kekecewaannya di sosial media.

Saya juga salut dengan gerakan Indonesia Mengajar. Anak anak muda berprestasi lulusan perguruan tinggi terkemuka, rela mengorbankan karir mentereng di kota besar demi mengajar di pelosok negeri, yang kadang listrik pun belum tentu ada. Bahkan seorang rekan saya, rela meninggalkan karirnya di sebuah perusahaan multinasional di Singapura demi memenuhi idealisme untuk mengajar putra bangsa di pedalaman Maluku. Saya memang belum bisa seperti mereka. Tapi minimal saya menyadari bukan berarti gara-gara  bayar pajak (yang banyak itu), lalu semua urusan selesai dan saya bebas mem-bully pemerintah. Saya menyadari belum bisa berkontribusi banyak untuk lingkungan.. Jangankan untuk mengajar anak-anak di kampung sebelah, bertegur sapa dengan tetangga saja, bisa dibilang sangat jarang. Mimpi saya, suatu saat bisa mempunya satu pekerjaan yang bisa memberikan lapangan pekerjaan juga buat orang lain. Saya juga masih berkhayal untuk lebih banyak berkegiatan sosial.

Eh, bukan berarti saya melanggar orang protes atau komplain ya,. Tapi saya ingin mengajak agar kita sama-sama menelaah, melihat lagi peran kita dimana. Komplain pada tempatnya dan yang paling penting tahu dulu masalahnya baru komplain. Bukan asbun. Bayar pajak saja tidak cukup bikin macet kelar. Coba, apakah kita masih sering bawa mobil dengan penumpang yang cuma satu? Atau apalah contoh-contoh lain yang kira-kira sebenarnya penyebabnya kita-kita juga? Pemerintah memang masih banyak carut-marutnya, tapi tanpa kepercayaan masyarakat niscaya pekerjaan mereka tidak akan berjalan baik.

Hits: 929

Libur tiga hari kemarin mungkin menjadi salah satu masa paling nelongso bagi saya. Gimana gak, ditengah suntuk dan bingung ngadepin kerjaan baru yang TOTALLY baru saya pun bokek berat. Diiitung-itung saya juga sudah beberapa bulan gak naek pesawat yang norak norak bergembira (baca: pergi jauh-jauh). Harusnya saat-saat seperti ini yang dibutuhkan adalah liburan, semisal ngopi ngopi di pinggir pantai, baca buku sambil dengerin lagu mellow. What a perfect combination!

Sudahlah, terima nasib saja yaa sis… :p

Mendadak seorang teman mengajak jalan-jalan ke Taman Wisata Alam Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK) -yang sekarang lagi hits menjadi alternatif wisata di Jakarta- yang memang nyaris tidak punya wisata alam. Sebenernya saya juga kurang paham ini jalan-jalan ngajak seneng bareng-bareng atau temen saya itu butuh hiburan karena lagi galau berantem sama pacarnya. Hahaha.,. gak penting!! Yang penting akhirnya saya bersama dua orang teman yang lain (jadi ber-empat) sangat menikmati tempat ini. Sabtu itu jalanan dari Bogor menuju Jakarta Utara lanjar jaya banget, kami hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam (itu pun pake acara mampir-mampir dan nyasar salah keluar tol). Wohoo…

Pasti sudah banyak yang menulis tentang spot wisata yang terhitung baru ini, jadi saya rasanya tidak perlu menjelaskan detail tempat ini lagi. Saya melihat konsep taman ini menekankan ke edukasi pentingnya mangrove bagi ekosistem. Di awal masuk, kita akan melihat banyak bibit mangrove yang ditanam dan sebagian besar merupakan donasi dari berbagai organisasi baik perusahaan maupu lembaga pendidikan. Tempatnya sudah ditata cukup baik, hingga dilengkapi dengan penginapan berkonsep alam, restoran dan jogging track. Saking indahnya, kami sampai menjumpai sedikitnya lima pasangan calon pengantin yang berfoto prewedding disini.. Huh, sebel (jomblo sirik…)!

blog3 r

Jaman dulu, karena saya kuliahnya di Fakultas Perikanan Kelautan, istilah mangrove atau bakau mungkin hanya diketahui segelintir orang. Bahwa fungsi utama mangrove sebagai penahan abrasi pantai dan feeding ground, nursering ground bagi banyak biota laut bisa jadi hanya diketahui mahasiswa-mahasiswa belaka. Bisa jadi juga, jaman dulu yang “piknik” ke mangrove ya…cuma mahasiswa-mahasiswa pencari sampel laboratorium itu. Tidak terbayang kalau sekarang hutan mangrove bisa disulap jadi tempat jalan-jalan yang edukatif begini. Saya mulai bangga, pelan-pelan mata orang Indonesia mulai terbuka akan pentingnya mangrove bagi manusia.

ada masjid terapung yang bagus banget
ada masjid terapung yang bagus banget

Melihat hutan mangrove di tengah kota ini adalah kali kedua untuk saya. Kali pertama tahun lalu di Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Di PIK, sepertinya spesies mangrove yang tumbuh tidak sebanyak di Tarakan. Vegetasi tumbuhan dan spesies hewan lain pun jauh lebih banyak di Tarakan daripada di PIK. Tentu saja, di Tarakan luasnya juga jauh lebih besar. Sangat terasa sisa-sisa pencemaran laut di Teluk Jakarta sudah merusak sebagian ekosistem pesisir-nya.

when narsis is a must :)
when narsis is a must 🙂

Saya tiba-tiba teringat tesis saya tentang Mitigasi bencana di Banda Aceh. Pada satu kesempatan dosen saya bertanya, seharusnya penerapan mitigasi itu dilakukan bukan fokus di Aceh lagi, tetapi juga di daerah pesisir lain yang juga rawan, dan salah satunya adalah Jakarta. Aceh paling tidak sudah punya pola mitigasi bencana yang lebih baik dari daerah lain. Mereka belajar dari bencana mahadahsyat tsunami 2014. Sayangnya Aceh belum punya hutan mangrove di tengah kota seperti PIK atau Tarakan. Atauu, sekarang sudah ada? Hmm, semoga… Karena saya sudah dua tahun tidak “pulang” ke Aceh.. Lebih penting lagi, harusnya semua kota pesisir di tanah air punya hutan mangrove di tengah kota seperti ini. Selain buat lingkungan tentu saja, bisa jadi tempat piknik asyik yang mendidik. Bukan malah direklamasi terus dibikin apartemen…

Karena lingkungan bukan warisan dari nenek moyang kita,

tapi pinjaman dari anak cucu kita..

Hits: 1291

Gara-gara punya kantor baru yang tepat di pinggir jalan tol, saya sempat kepikir untuk sesekali bawa kendaraan ke kantor. Biarpun tol juga tetep ada macetnya, alternatif ini boleh dicoba karena keliatannya cukup praktis, gak perlu nyambung ojek dan lain-lain. Namun karena sering naik ojek juga saya akhirnya mengurungkan niat itu. Saat macet, saya melihat ratusan mobil di sekeliling saya yang hanya berisi 1 orang! Bahkan kalau iseng dihitung, mungkin yang berpenumpang lebih dari satu orang bisa dihitung dengan jari. Tiba-tiba saya mengurungkan “niat mulia” nyetir sendiri tadi.

Di hujan deras yang mengguyur Jakarta malam lalu, saya sempat stag di jalanan sampe nyaris lumutan, padahal saya sudah menumpang bis APTB yang sangat nyaman, meski AC nya lumayan mencekik. Jakarta-Bogor yang biasanya maksimal dua jam dengan bis -yang melalui jalur busway ini-, semalam ditempuh HANYA 5 jam sajahh! Saya pun landing dengan sukses di rumah pukul 2 pagi. Pengalaman yang luar biasa.. atau mungkin “biasa” buat sebagian warga Jakarta.

Kalau beberapa waktu lalu, saya sebel sama motor yang ugal-ugalan kali ini saya “sebel” sama mobil berpenumpang satu yang jumlahnya mungkin ratusan ribu di Jakarta ini. Iseng, saya mencoba sms Gubernur Ahok melalui nomer yang tertera di akun twitter beliau. Isinya, meminta Pemda DKI untuk menggagas Kampanye Naik Kendaraan Umum. Entahlah, saya juga belum tahu apakah program seperti ini sudah ada atau belum. Yang saya tahu, semasa Pak Jokowi masih Gubernur ada program yang mengharuskan PNS di lingkup Pemda DKI tidak menggunakan kendaraan pribadi di hari-hari tertentu.

Coba bayangkan, data Polda Metro Jaya menyebutkan ada 16-17 juta kendaraan yang beredar di Jakarta setiap harinya. Ambil nilai kecil, mobil misalnya hanya 1 juta unit dan jika 30%-nya hanya diisi oleh 1 orang, jadi tau kan siapa yang bikin macet? Percuma pemerintah tiap tahun menambah ruas jalan, karena pertumbuhan penjualan mobil lebih besar dari penambahan jalan. Eitss, saya gak “nyalahin” naiknya penjualan mobil ya.. Yang saya garis bawahi adalah mobil yang berpenumpang HANYA 1 ORANG, yang berkontribusi besar terhadap kemacetan Jakarta.

Bagaimana dengan penduduk Jakarta, eh.. lebih tepatnya mereka yang mencari nafkah di Jakarta? Mau gak naik kendaraan umum? Pasti beberapa diantara kalian langsung ngomelin saya sambil bilang: ngapain nyusahin diri, kendaraan umum di Jakarta tidak nyaman, tidak aman, bla-bla… Sebentarrr sabar dulu, saya ceritanya loncat-loncat nih.. Saya sempat miris ketika beberapa waktu lalu ada seorang teman yang posting foto lagi di dalam Commuter Line yang nyaman banget (saat gak penuh) dan menulis seperti di Jepang. Ada satu lagi teman yang langsung bercerita enaknya naik APTB ke kantor dari rumahnya di lingkar luar Jakarta. Catat, dua orang teman tadi adalah mereka yang biasa naik kendaraan pribadi. Rasanya sedih, karena artinya mereka tidak pernah tahu, pemerintah sudah banyak sekali berupaya membuat kendaraan umum kita lebih baik. Bahasa gaulnya: Eh, kemana aja luuu ? Baru tau? Kesian banget deh..

Pastilah naik kendaraan umum tidak senyaman mobil pribadi. Naik bis, kereta kadang emang bikin susah, tapi terus-terusan naik kendaraan pribadi apalagi yang hanya sendirian juga bikin susah orang! Memang harus diakui lagi-lagi kendaraan umum disini belum sepenuhnya nyaman dan yang nyaman pun masih terbatas. Namun, alangkah indahnya kalau mereka yang punya uang lebih, bermobil bagus menurunkan sedikit kenyamannya dengan naik kendaraan umum minimal 1 kali sajaa dalam seminggu. Gak usah tiap hari kok! Coba kita lihat, saya yakin banget..macetnya pasti berkurang.

Saya salut tuh dengan kerjaan beberapa orang kreatif yang membentuk komunitas seperti Nebengers. Komunitas ini membuat para pengendara mobil yang biasa sendirian bisa ngajak orang yang searah dengannya. Menurut saya ini solusi yang cerdas daripada mereka yang sendiri di belakang kemudi, lalu ngomel-ngomel menyalahkan banyak pihak karena Jakarta yang muacett. Heyy, wake up! Kalau kamu nyetir sendirian, berarti ada ribuan orang lain yang seperti kamu juga! Dan sadarkah, bahwa kalian juga berkontribusi terhadap kemacetan itu?

Sebuah artikel menyebutkan satu mobil pribadi menghasilkan 250 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km, sementara bus hanya menghasilkan 50 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km. Artinya dengan naik kendaraan umum, kita juga sudah menjaga lingkungan.

Terakhir, bagi saya ukuran kemapanan bukan dengan membawa mobil pribadi, tapi kemauan berbaur dengan banyak orang lain.

Kata Rumi: Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today, I am wise, so I am changing my self. 🙂

 

Hits: 1275

Ketika ditawarkan untuk mengisi sebuah posisi di salah satu bank terbesar di tanah air, saya merasa geli sendiri. Saya pikir, mantan atasan saya di Aceh yang menawarkan pekerjaan itu salah memilih orang (Piss, Pak Ed!) Dari jaman dahulu kala, tidak pernah sedikit pun terbayang bekerja di dunia perbankan. Rasanya kok jiwanya bukan “gue banget”. Gue yang kadang jutek, gak bisa ramah seperti teller bank, yang gak bisa dandan rapih dan susah bangun pagi karena harus duduk manis di meja sebelum jam 8 pagi. Apalagi tujuh tahun terakhir saya bekerja di beberapa organisasi yang sebagian besar bersistem kontrak dengan gaya kerja yang cenderung casual dan bukan organisai permanen yang punya ribuan karyawan di ribuan cabang.

turning pointTanpa mengurangi respek saya ke si Bapak, saya tetap mengirimkan CV saya, toh saat itu posisi saya memang sedang mencari pekerjaan baru setelah selesai masa bakti di sebuah unit kerja pembantu presiden yang eksis di masa Presiden SBY. Ternyata prosesnya menyenangkan, karena selama wawancara saya justru lebih banyak dipaparkan apa yang bisa saya lakukan disana dengan kemampuan saya dan ternyata itu menarik!! Pelan-pelan paradigma kekakuan pikiran saya terhadap akronim “bekerja di bank” mulai tergeser. Setelah melalui beberapa proses, saya dinyatakan diterima di salah satu Indonesian Most Admired Company itu. Agak bimbang awalnya, apalagi ada beberapa tawaran lain yang cukup menarik. Namun setelah dipertimbangkan, saya memilih menerima tawaran bank itu.Alasannya pertama karena ini adalah jenis pekerjaan yang “paling beda sendiri” dibandingkan kesempatan yang lain. Kalau masalah imbalan memang oke sih, tapi bisa dibilang so-so lah.. Gak terlalu luar biasa banget. Pertimbangan utama lebih karena ini kesempatan berharga, saya belum pernah bekerja di perusahaan raksasa seperti ini, di dunia yang berbeda 180 derajat dari yang sebelumnya sementara kesempatan pekerjaan lain cenderung di kuadran dimana saya sudah “khatam”. Hidup ini tantangan kan? Dan tantangan ini tidak datang dua kali. Meski ada sedikit ketakutan saya akhirnya setuju untuk menandatangani kontrak kerja. Saya pikir jika mantan atasan saya saja percaya saya mampu, kenapa saya ragu terhadap diri saya sendiri? Kata Pak Kuntoro di Bukunya Bintang Laut yang berserak: ketakutan dalam pekerjaan itu wajar, tetapi ketakutan itu untuk dihadapi bukan dihindari.

Lebih dari itu, saya sudah lama tidak merasakan “kesetaraan” posisi dan kesempatan dalam sebuah pekerjaan. Ada pekerjaan dimana orang didalamnya digolongkan lebih eksekutif bukan didasari oleh jabatan dan performance pekerjaannya tetapi karena ada “atribut” yang melekat pada personilnya. Misal karena ijazahnya dari negara yang bersalju, karena ia lebih banyak ngomong Bahasa Inggris dari Ibu, karena ia lebih dekat dengan atasan, bla..bla. Anehnya performance personil juga tidak pernah dinilai secara regular sehingga kesempatan untuk mendapatkan peluang berkembang lebih baik hanya ada pada orang-orang yang beratribut tadi. Sementara saya dan teman-teman dari kasta di bawahnya, makin demotivasi karena pekerjaan yang saya lakukan tidak pernah dinilai dan diukur. Seperti ada kasta dalam sebuah kantor. Not to mention kasta itu antara pimpinan dan bawahan ya. Kondisi yang hanya melahirkan segelintir orang-orang sombong. Ah, tapi sudahlah…

Dulu, saya tidak pernah mau bekerja di luar kota, sampai akhirnya nyasar di Aceh, yang kemudian merubah hampir separuh hidup saya.Dari dulu juga saya tidak pernah melamar ke pemerintahan, karena saya tidak suka dan tidak ngerti politik sampai akhirnya saya cukup lama di organisasi pemerintahan. Dan… sekarang saya menclok di perbankan yang jauh sekali dari bayangan saya.

Mungkin pesan moralnya; rejeki dan jodoh bisa datang dari sesuatu yang tidak kita suka. Life is unpredictable. This is my new turning point.

Hits: 683

Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, berdesak-desakan di tengah ribuan orang mencari tempat paling tepat untuk bisa bersalaman dengan Presiden ke 7 Republik Indonesia. Selama ini jika menonton “tingkah serupa” orang lain di TV saya paling cuma ketawa sambil berucap: “Ih, mau mau aja sih..panas-panasan sampe kejepit jepit begitu”… Apalagi sampai akhir tahun lalu, saya sempat bekerja di lingkungan Istana Negara yang punya pass bebas masuk areal Istana tanpa dipelototin dan ditanya-tanyain Pasmpres. Meskipun selama hampir tiga tahun itu, gak pernah selfie sama SBY, bisa keluar masuk dan foto-foto di lingkungan Istana saja sudah jadi prestise tersendiri yang mungkin tidak mudah didapatkan orang lain.

Kerumunan Massa menanti Pak Presiden. Gimana bisa lolos, cobaa??
Kerumunan Massa menanti Pak Presiden. Gimana bisa lolos, cobaa??

Again…takdir berkata lain. Kemarin, dalam pagelaran Festival Cap Go Meh di Bogor, saya niat banget cari jalan agar bisa selfie dengan Presiden. Niat awalnya cuma mau nyobain HP baru saya yang super keren kamera-nya, bak fotografer profesional dan bisa dipake selfie dengan resolusi tinggi cuma dengan melambaikan tangan atau nyengir di kamera. *Ssst, sumpah ini gak beli..ini pinjemin seumur hidup dari seroang sahabat* Saya pikir, okeh juga nih kalau dipake moto barongsai dan atribut-atribut perayaaan Cap Go Meh yang merah meriah. Ternyata perayaan tahunan ini dibuat lebih meriah dari sebelumnya karena diperluas menjadi Festival Budaya Bogor yang juga diisi pawai berbagai budaya lokal dan nasional.  Lebih serunya lagi, Pakde Wiwi alias Om Jokowi, Presiden kita ikutan membuka acara. Beliau memang saat ini lebih banyak bermukim di Bogor, rasanya keluar pagar istana yang cuma berjarak sekitar 200 meter dari tempat lokasi sih gak susah-susah amat lah!

Di lokasi yang dipenuhi ribuan umat itu, saya dan seorang teman kelimpungan mencari tempat yang pas. Kejepit sana-sini, panassss, rebutan tempat dan kaki keinjek-injek.  Tiba-tiba saya sirikkk banget sama panitia dan tamu-tamu yang duduk santai di tenda khusus sambil minum teh botol.Huhh..rasanya pengen nonjok! Dan pengen bilang: Eh, I was there yaa!! Enak amat luu duduk-duduk aja!!  Tidak kurang akal, teman saya yang mantan anggota Resimen Mahasiswa bilang bahwa kita harus melihat posisi strategis dari atas. Kebeneran deket tempat acara ada mall. Meski pintu utama masuk mall dijaga polisi dan ditutup, ternyata pintu belakang dan samping, tidak sodara-sodara! Horeee.. Kami lalu naik ke lantai paling atas dan memantau posisi kosong dari sana. Di posisi itu, akhirnya saya melihat pintu keluar Presiden dan kami pun mulai berpiki bagaimana caranya bisa ada di jejeran paling depan. Singkat cerita, dengan kaki yang udah lumayan pegel, kami turun lagi dan mulai sedikit sedikit masuk ke gerbang utama Kebun Raya Bogor

Selfie sama Paspamres sudah bahagia..
Selfie sama Paspamres sudah bahagia..

Entah baca doa apa, kami pun akhirnya berada pas di belakang pagar betis Paspamres. Huhh..rasanya lega… Sekitar 15 menit sebelum Presiden keluar saya sibuk ngetes kamera keren tadi. Utak atik..klak..klik.. Pokoknya sibuk!! Untungnya Paspamresnya ramah-ramah, malah saya sempat bercanda dengan mereka. Saya juga melihat penampakan Pak Anies (Mendikbud) dan Pak Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar) dan tentu saja Kang Bima Arya, Walikota Bogor.

Jreng-jreng..saking sibuknya dengan kamera tadi, saya sama sekali lupa bahwa Pak Jokowi sudah keluar, sampai akhirnya saya balik badan dan Ia tepat ada di belakang saya, menyodorkan tangannya untuk bersalaman! Sumpah kaget banget, karena beliau hanya nyamperin barisan saya di kanan, bukan barisan seberangnya (di kiri). Duhhh..gak sempet lagi moto-moto, saya udah gak inget menu kamera-nya, malah bengong! Bego gak sihh ???? Lalu Ia berlalu begitu saja, meninggalkan saya dan teman saya yang masih cengok gak percaya. Dipikir-pikir mungkin dia nyamperin barisan kanan, karena kasian ngeliat saya yang sibuk dengan kamera yang tak seberapa (bukan kamera Bu Ani). Hahahaha

Mungkin buat sebagian orang, ketemu Presiden itu biasa. Buat saya juga biasa! Tapi “kurang kerjaan” memburu beliau dengan cara begini rasanya luar biasa!! Bukan sombong, dulu saya sering ikut acara-acara kenegaraan yang dihadiri banyak pejabat penting, tapi memburu orang penting ala “rakyat jelata” kemarin beda banget dengan yang biasa duduk manis kemudian antri salaman dengan fotografer khusus. Meski mendukung beliau ketika Pemilu, eittt jangan salah, Saya bukan orang yang mendewakan beliau. Tapi mau gak mau sekarang dia Presiden kita kan… Terlalu naif menilai negatif padanya saat ini, karena ngurus negara bukan kayak memelihara tuyul, ada masalah sekarang besok selesai. Dari keisengan pengen selfie ini saya makin merasa beliau (berusaha) sangat dekat dengan masyarakat. Jadi saya masih tetap menitipkan kepercayaan besar padanya.

Bangunan Antik di Suryakencana, Bogor
Bangunan Antik di Suryakencana, Bogor

Oya, setelah gagal selfie dengan Pak Jokowi itu, niat untuk menonton pawai tetap berlanjut dong. Seru dan meriah. Baru kali ini nonton pawai di Bogor isinya yang hampir sama dengan Pawai 17 Agustus di Istana Negara. Jalan Suryakencana, kawasan Pecinan di Bogor, ditutup hingga pukul 12 malam untuk acara ini. Sekedar informasi, dedung-gedung di daerah ini masih banyak yang mempertahankan bentuk aslinya. Suryakencana sejak dulu jadi pusat kuliner di Bogor. Konsepnya bukan restoran, kebanyakan pedagang kaki lima yang sudah berjualan hingga puluhan tahun. Di sini ada seorang pedagang martabak manis, Bapak tua berumur sekitar 70 tahun yang masih memasak dagangannya dengan arang!. Dagangannya laku, meski kita harus nunggu luaaammaa banget.. Ya, bayangin lah bo..masaknya pake areng! Hebatnya meski laris, ia tidak berjualan berlebihan. Jika adonannya sudah habis, ia tidak akan menambah adonan lagi, meski masih ada yang minat membeli.

Perayaan ini tidak hanya menjadi milik warga keturunan Tionghoa tapi juga seluruh orang Bogor. Bahkan jadi atraksi turis yang menarik sekali. Saking universal-nya keramaian ini, ketika waktu sholat magrib tiba, pawai berhenti sementara, alasannya Barongsai-nya sholat magrib dulu. Hahahaha..

Ah, jarang-jarang jadi turis di kota sendiri…

Hits: 1012

Kalau kamu berpikir mereka yang hebat adalah mereka yang “menjual” CV nya kemana-mana lalu, bekerja di kantor bergengsi dan mendapatkan gaji besar, mungkin pikiran itu harus dievaluasi ulang. Di banyak kesempatan, akhir-akhir ini saya bertemu banyak teman yang bagi saya lebih hebat dari mereka yang punya CV mentereng. Mungkin secara akademis mereka biasa-biasa saja, tidak masuk golongan Top 10 di kampusnya, boro-boro deh.. masuk golongan mahasiswa juara berbagai lomba. Oya, tulisan ini bukan teori tentang enterpreneurship (yang membosankan). Ini cuma uneg-uneg saya ke diri sendiri yang belum bisa mengoptimalkan potensi diri sendiri. Lah, kalau yang lain dengan semua keterbatasan mampu,.. kok saya nggak? Saya sempat bercita-cita berjualan sepatu online yang sepatunya dibuat customize. Saya sudah sempat survei sentra industri pengerajin sepatu di Bogor. Saya memilih sepatu, karena benda ini adalah hobi saya. Katanya kalau mau mulai masuk bisnis kreatif, mulailah dari hobi. Kenyataannya sampai tulisan ini dibuat rencana itu seperti selalu menjadi wacana yang jalan di tempat. Nah kalau ini, alasan utamanya adalah malas! Jangan ditiru!!

Read More

Hits: 936

Pernah merasakan betis pegel seperti habis membajak dua hektar sawah? Atau meladeni ponsel yang berbunyi nyaris setiap satu menit? Belum lagi ada kondisi yang membuat saya harus menyalakan ponsel selama 24 jam dan pada pukul 2 pagi,  hanya untuk menjawab pertanyaan: “Besok, Bapak pakai baju apa?

20130123_173933
Jakarta, Januari 2013

Ini adalah bagian pengalaman paling unik dan berkesan selama hampir tiga tahun bekerja di lingkungan Istana negara. Bisa dibilang, saat itu pekerjaan saya “serabutan”. Divisi saya mengelola satu aplikasi online pemantauan realisasi dan evaluasi APBN dan APBD yang membuat kami semua intens berkomunikasi dengan para pelaksana negara ini. Kami bergerak di hampir semua level, dari melakukan pelatihan untuk para peng-entry data hingga melakukan pendekatan kepada pimpinan di level Gubernur, Bupati dan Walikota agar meningkatkan kepemimpinannya terhadap upaya ini. Oleh karena itu, mengumpulkan para pejabat tersebut sudah menjadi kegiatan reguler saat itu. Dengan alasan penghematan, kami tidak boleh menggunakan Event Organizer, meskipun hampir semua kegiatan merupakan kegiatan nasional yang bisa mengundang hingga seribu orang! Jangan tanya honor, uang lebih didapatkan jika acara diadakan di luar kota (Jakarta), itu pun hitungannya uang perjalanan dinas (artinya termasuk transport lokal) dan uang makan. Jika diadakan di Jakarta, tentu saja tidak ada tambahan income, karena sudah dianggap pekerjaan sehari-hari.

Bergaya ala Menteri, Yogyakarta, Agustus 2013
Bergaya ala Menteri, Yogyakarta, Agustus 2013

Bayangkan repotnya mengurus semua tetek bengek yang bener-bener dari A sampai Z. Dari urusan materi, mencari pembicara hingga konsumsi semua dikerjakan sendiri. Dengan jumlah panitia rata-rata di setiap kegiatan hanya 30 orang, kami harus jungkir balik plus akrobat melayani hingga seribu orang. Walau pernah terjadi gesekan diantara panitia, lama-lama kami jadi mahir sendiri menyikapi semua tantangan. Belum lagi  beberapa kegiatan sering dibuka oleh Wakil Presiden dan jajaran menteri. Itu saja protokolernya sudah bikin ribet- bet, dengan pasukan khusus semua pernak pernik acara tidak ada yang lepas dari sensor mereka.

Bali, Desember 2013
Bali, Desember 2013

Tantangan pertama setelah proposal dibuat adalah menyebarkan undangan. Ini repot loh! Tidak semua daerah punya infrastruktur canggih yang bisa cepat menerima email/fax (yg dikirim via email). Ajaibnya beberapa daerah masih lebih mempercayai undangan yang dikirim via pos/kurir daripada yang melalui kabel. Jadi jika kami mengundang 450 Bupati/Walikota, bisa hadir 75% saja itu sudah merupakan prestasi besar. Bersyukur kita punya jaringan di 34 provinsi, mereka-lah yang menjadi kepanjangan tangan pihak pusat. Indonesia ini memang luas banget, bro. Pernah juga (malah dua kali) acara mengalami perubahan lokasi, setelah semua undangan terkirim. Akibatnya hampir semua proses harus diulang. Repotnyaaa… Oya, undangan dari Istana harus dibubuhi semacam emboss sebagai penanda  keaslian undangan yang kemudin ditukar dengan tanda peserta,

Jakarta, September 2014
Jakarta, September 2014

Tantangan lain adalah “meladeni” pejabat yang (seolah) sudah menjadi raja kecil di wilayahnya. Tingkah ajudannya pun beragam dari sibuk mengatur kursi pimpinannya hingga menelepon malam-malam hanya untuk menanyakan dimanakah toko batik yang buka 24 jam, karena si bos lupa bawa baju batik sebagai dresscode acara esoknya. Kalau soal pembagian kursi, ajudan-ajudan ini suka kreatip banget. Meski panitia sudah menentukan tempat duduk setiap undangan, mereka bisa seenaknya memindahkan nomer kursi agar si bos bisa duduk di sebelah teman dekatnya sesama pimpinan daerah yang lain. Keliatannya, sepele, tapi ini merepotkan banget dan mengacaukan peta duduk yang sudah dibuat njelimet oleh panitia. Note, posisi duduk ini penting banget dalam acara-acara yang menghadirkan pejabat negara. Perlu dicatat, karena mereka adalah orang-orang VVIP panitia harus memperlakukan mereka dengan customize, saya pun akhirnya hapal dan punya komunikasi yang baik dengan orang-orang di belakang mereka.

Gempor di Belakang Panggung
Gempor di Belakang Panggung

Ada beberapa Kepala Daerah yang mempunyai permintaan khusus. Seorang Gubernur pernah minta harus ditemani asistennya ke dalam ruang acara, karena beliau sedang dalam kondisi sakit lengkap dengan kursi roda sendiri. Ada yang minta ruang khusus untuk transit. Terkadang panitia memang tidak menyediakan ruang seperti ini, tapi para ajudan selalu repot menanyakan. Seringnya sih, ajudannya saja sih yang repot, ketika para pimpinan hadir mereka lebih sering berbaur dengan undangan lain, bukan ngumpet secara ekslusif di ruang khusus.

Paling repot adalah urusan penandatangan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas), beberapa daerah sering menyebutnya dengan “visum”. Surat ini ibaratnya nyawa untuk melakukan perjalanan dinas. Tanpa pengesahan dari panitia pengundang, bisa-bisa mereka membayar sendiri semua biaya perjalanan dinas. Coba dihitung, jika kami mengundang 3 orang dari 450 kabupaten/kota, katakanlah yang hadir ada 1000 orang. Maka panitia harus melakukan pengesahan terhadap 1000 SPPD yang setiap dokumen bisa dibuat 3-5 rangkap!. Itu dilakukan manual!! Penandatangan SPPD pun tidak bisa oleh sembarang orang, haruslah mereka yang punya posisi struktural. Untuk hal ini saja harus ada 15 orang yang standby. Yang paling menyebalkan disini adalah, banyak banget undangan yang minta SPPD diberikan duluan sebelum acara selesai. Yang seakan menunjukkan mereka “cuma hadir” demi SPPD yang ada uangnya dibanding duduk mendengar pembekalan materi. Berbagai alasan mereka kemukakan untuk bisa pulang duluan. Tidak jarang panitia berantem dengan mereka-mereka itu. Hemm, saya gak bilang semua Pemda begitu ya, banyak juga kok yang antusias, tidak macem-macem dan bersemangat Semangat yang membuat saya yakin, Indonesia akan lebih baik di masa mendatang.

UNDP-1409-52

Seru, repot, capek tapi rangkaian kegiatan tersebut “ngangeni”. Mungkin besok-besok saya sudah tidak bersentuhan lagi dengan urusan pemerintahan, tapi semua itu tetap menjadi pengalaman penting bagi saya 🙂

Hits: 892