Jalan Jalan

Membunuh Cemas di Telaga Warna

Pagi ini Bogor masih basah karena hujan yang mengguyurnya sejak tadi malam. Setiap tetes hujan yang jatuh memberi bermacam cerita. Bogor kini sudah banyak berubah. Lima-sepuluh tahun lalu saya masih harus tidur berkaus kaki di siang hari, dinginnya air di kamar mandi membuat Bogor selalu ngangeni. Ini adalah minggu terakhir saya menikmati Bogor tanpa  berbarengan dengan rombongan turis Jakarta yang saban akhir pekan membuat Bogor sesak. Mulai minggu depan, Jakarta (kembali) akan menjadi bagian hari-hari saya dan Bogor hanya tersisa untuk tidur pulas di akhir pekan.

blog-101

Seharusnya laporan yang banyak itu hari ini sudah selesai. Tapi saya sedang malas.  Apalagi ada beberapa masalah yang belum juga terselesaikan. Mumet. Hmm, saya perlu mood booster. Rasanya sudah mulai bosan duduk di kafe ditemani secangkir kopi sembari jari-jari sibuk mengutak-ngatik keyboard. Tiba-tiba saja tercetus ide menuju Telaga Warna di Cisarua Puncak. Berharap disini ada adrenalin dan hormon endorphin bisa memacu otak melahirkan ide-ide baru.

blog-102Menuju Telaga Warna sangat mudah. Letaknya kira-kira 200-300 meter sebelum Restoran Rindu Alam di Puncak Pass. Papan tulisan Telaga Warna memang agak kecil, jadi jika sudah melewati Pasar Cisarua dan jalan makin menanjak, ada baiknya selalu melihat ke kiri, biar gak kelewatan. Jalan masuknya ada di kiri jalan yang didepannya penuh dengan tukang sayur. Kalau lewat daerah Puncak, saya paling suka dengan deretan tukang sayur. Sebagai sahabat si kambing, sebelum masuk ke lokasi saya sempatnya juga membeli sayuran yang menggairahkan itu. Di kanan jalan ada beberapa warung nasi masakan Sunda yang mengundang selera. Dari sini tinggal jalan 200 meter di tengah kebuh teh dan kita akan ketemu sebuah telaga kecil yang memukau. Konon air di sini sering berubah tanpa diketahui dengan pasti apa penyebabnya. Itulah sebabnya dinamakan Telaga Warna. Di sekelilingnya hidup berbagai hewan yang dilindungi. Hutannya lebat, meski hanya berjarak 200 meter dari jalan raya. Konon lagi, ada macan tutul yang hidup di hutan itu.

Benar saja, Telaga Warna memberi warna baru di imajinasi saya. Airnya yang hijau karena pantulan warna pohon-pohonan di sekelilingnya seperti menarik semua kemalasan dan kecemasan yang tadi pagi masih memenuhi kepala. Memandang alam tanpa batas seolah mengecilkan arti semua masalah yang kita hadapi. Saya makin percaya tidak ada masalah yang permanen dalam hidup ini. Hari berganti, matahari selalu terbit di pagi hari tanpa pernah ingkar janji. Begitu pun dengan harapan, selalu ada harapan di tengah semua kerumitan urusan, selalu ada jalan saat semua seolah buntu.

Ah, hari ini menyenangkan. Setelah puas bertafakur di alamNya, saya bersama dua orang teman menikmati sebonggol jagung bakar yang pedas dipadu dengan semangkuk sekoteng hangat. Hemmm.. Life is beautiful..

(Visited 314 times, 1 visits today)

Indonesia Lover & Penikmat kopi

4 thoughts on “Membunuh Cemas di Telaga Warna”

  1. dulu waktu masih kerja di jakarta ( bintaro dink sebenere ) sering banget ke bandung via puncak bogor.
    dan selalu di jalan puncak membaca plang ” telaga warna ” tapi pengen mampir g pernah kesampean 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *