A New Turning Point


Obrolan, Opini / Saturday, March 21st, 2015

Ketika ditawarkan untuk mengisi sebuah posisi di salah satu bank terbesar di tanah air, saya merasa geli sendiri. Saya pikir, mantan atasan saya di Aceh yang menawarkan pekerjaan itu salah memilih orang (Piss, Pak Ed!) Dari jaman dahulu kala, tidak pernah sedikit pun terbayang bekerja di dunia perbankan. Rasanya kok jiwanya bukan “gue banget”. Gue yang kadang jutek, gak bisa ramah seperti teller bank, yang gak bisa dandan rapih dan susah bangun pagi karena harus duduk manis di meja sebelum jam 8 pagi. Apalagi tujuh tahun terakhir saya bekerja di beberapa organisasi yang sebagian besar bersistem kontrak dengan gaya kerja yang cenderung casual dan bukan organisai permanen yang punya ribuan karyawan di ribuan cabang.

turning pointTanpa mengurangi respek saya ke si Bapak, saya tetap mengirimkan CV saya, toh saat itu posisi saya memang sedang mencari pekerjaan baru setelah selesai masa bakti di sebuah unit kerja pembantu presiden yang eksis di masa Presiden SBY. Ternyata prosesnya menyenangkan, karena selama wawancara saya justru lebih banyak dipaparkan apa yang bisa saya lakukan disana dengan kemampuan saya dan ternyata itu menarik!! Pelan-pelan paradigma kekakuan pikiran saya terhadap akronim “bekerja di bank” mulai tergeser. Setelah melalui beberapa proses, saya dinyatakan diterima di salah satu Indonesian Most Admired Company itu. Agak bimbang awalnya, apalagi ada beberapa tawaran lain yang cukup menarik. Namun setelah dipertimbangkan, saya memilih menerima tawaran bank itu.Alasannya pertama karena ini adalah jenis pekerjaan yang “paling beda sendiri” dibandingkan kesempatan yang lain. Kalau masalah imbalan memang oke sih, tapi bisa dibilang so-so lah.. Gak terlalu luar biasa banget. Pertimbangan utama lebih karena ini kesempatan berharga, saya belum pernah bekerja di perusahaan raksasa seperti ini, di dunia yang berbeda 180 derajat dari yang sebelumnya sementara kesempatan pekerjaan lain cenderung di kuadran dimana saya sudah “khatam”. Hidup ini tantangan kan? Dan tantangan ini tidak datang dua kali. Meski ada sedikit ketakutan saya akhirnya setuju untuk menandatangani kontrak kerja. Saya pikir jika mantan atasan saya saja percaya saya mampu, kenapa saya ragu terhadap diri saya sendiri? Kata Pak Kuntoro di Bukunya Bintang Laut yang berserak: ketakutan dalam pekerjaan itu wajar, tetapi ketakutan itu untuk dihadapi bukan dihindari.

Lebih dari itu, saya sudah lama tidak merasakan “kesetaraan” posisi dan kesempatan dalam sebuah pekerjaan. Ada pekerjaan dimana orang didalamnya digolongkan lebih eksekutif bukan didasari oleh jabatan dan performance pekerjaannya tetapi karena ada “atribut” yang melekat pada personilnya. Misal karena ijazahnya dari negara yang bersalju, karena ia lebih banyak ngomong Bahasa Inggris dari Ibu, karena ia lebih dekat dengan atasan, bla..bla. Anehnya performance personil juga tidak pernah dinilai secara regular sehingga kesempatan untuk mendapatkan peluang berkembang lebih baik hanya ada pada orang-orang yang beratribut tadi. Sementara saya dan teman-teman dari kasta di bawahnya, makin demotivasi karena pekerjaan yang saya lakukan tidak pernah dinilai dan diukur. Seperti ada kasta dalam sebuah kantor. Not to mention kasta itu antara pimpinan dan bawahan ya. Kondisi yang hanya melahirkan segelintir orang-orang sombong. Ah, tapi sudahlah…

Dulu, saya tidak pernah mau bekerja di luar kota, sampai akhirnya nyasar di Aceh, yang kemudian merubah hampir separuh hidup saya.Dari dulu juga saya tidak pernah melamar ke pemerintahan, karena saya tidak suka dan tidak ngerti politik sampai akhirnya saya cukup lama di organisasi pemerintahan. Dan… sekarang saya menclok di perbankan yang jauh sekali dari bayangan saya.

Mungkin pesan moralnya; rejeki dan jodoh bisa datang dari sesuatu yang tidak kita suka. Life is unpredictable. This is my new turning point.

(Visited 118 times, 1 visits today)

One Reply to “A New Turning Point”

  1. Thanks for the words of encouragement, Dave! It means a lot to us that you mention the sound quality getting better. We spent a little bit of money upgrading our equipment, and we can hear the difference. Glad others can hear it as well.As for Frank Garner, I remember him well. Yes, there was a little romance brewing, and then he just faded out of the picture. No explanation was ever given. I’m curious to see if the next time the Collins need to call in their attorney, will it still be Garner, Sr. or Jr., or someone completely different!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *