kartini-ku…

Kemarin kan hari Kartini, lagi mikir-mikir kapan yah terakhir aku pake kebaya atau pakaian daerah lain menyambut 21 April ? Wah…udah jama dahulu kala banget. Seingatku, waktu  dulu Mama malah gak pernah make-in baju kebaya, tapi baju bodo khas Sulawesi Selatan. Bajunya warna hijau dan mama jahit sendiri . Trus pake kain warna agak oranye kemerah-merahan. Sayang, jaman dulu belum ada kamera digital. Moga-moga kalo nanti pulang ke Lahat, fotonya bisa aku scan dan dipamerin disini. 😀

 

Kalo sekarang aku agak kurang mengikuti perkembangan jaman. Apakah generasi muda yang baru, masih punya eforia merayakan hari lahir Ibu Kartini ini seperti belasan atau bahkan puluhan tahun yang lalu. Masih ada gak sih  foto foto pahlawan terpampang di dinding kelas ? Ibu Kartini dengan sanggulnya yang segede bagong?  Pangeran Diponegoro dengan kuda-nya atau Pattimura dengan pedang terhunus atau Sultan Hasanuddin dengan kumis Pak Raden-nya?   Masih ada gak sih pelajaran Sejarah (Nasional) atau PSPB yang mengungkapkan ke-heroik-an pahlawan-pahlawan itu ?  Masih ada gak sih figure pahlawan-pahlawan itu di hati anak sekolahan jaman sekarang ?  Jangan-jangan sudah tergantikan oleh Power Rangers, Fantastic  4 atau bahkan Naruto! Hemmm….

 

Tapi ngomong-ngomong, balik ke perayaan Kartini, masih perlukah  sih esensi emansipasi  ditanamkan ke anak-anak bau kencur  itu?  Pada Jaman Kartini,  tidak bisa kubayangkan jika perempuan belajar membaca saja adalah hal yang tabu. Dulu pernah sih aku baca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, tapi masalah penyetaraan sex (baca: jenis kelamin) yang bener-bener membuat aku terhina sebagai perempuan justru aku dapat di Novel Pope Joan karangan Donna WoolFolk Cross. Dimana di novel yang bersetting abad pertengahan itu, perempuan hanya dianggap pabrik anak, perempuan adalah pembawa kesialan dan meng-edukasi-kan perempuan adalah aib. Fuihh,…. Itulah yang menurutku layak dan wajib diperjuangkan.

 

Jujur, sampe sekarang aku masih belum terlalu nangkep makna “emansipasi” itu. Mungkin karena aku sudah terlanjur dibesarkan di masa dimana emansipasi sudah tercipta.  Masa dimana aku merasa tidak punya perbedaan hak terhadap kaum lelaki.  Sekarang? Apa anak-anak masih punya “sense” sama emansipasi, dimana sebagian besar Ibu (khususnya di kota besar), adalah wanita bekerja bahkan lebih sibuk dari Bapaknya atau malah lebih ekstrim lagi tidak sedikit yang menjadi single parent.  Hemm..suatu saat kalo aku udah jadi orang tua, aku harus tau, apa yang dicekokin oleh para guru tentang hari Kartini itu.  Jangan jangan hanya menjalankan ritual tahunan alias tradisi saja ? Tapi tradisi yang mungkin kehilangan makna.

 

Walau begitu,  Aku  tetap menghargai perjuangan Kartini,  termasuk karena dia harus mati muda karena melahirkan anaknya. Gila ya..melahirkan bisa jadi perjuangan antara hidup dan mati dan itu menambah satu point lagi keistimewaan wanita (jangan bilang dulu gak ada operasi cesar ya…). 

 

Bagiku, tanpa emansipasi sekalipun perempuan itu adalah mahluk yang istimewa.   Istimewa karena ia punya hati untuk memberi ketegaran kepada orang-orang yang dicintainya. Menjadi labuhan terakhir keluarganya dalam duka, punya ketulusan untuk mencintai dan punya kekuatan untuk menumbuhkan kekuatan  dalam setiap langkah  orang-orang yang mencintainya.  Lebih Istimewa karena aku percaya pada anak-anak yang hebat ada ibu-ibu yang hebat di belakang mereka dan di belakang setiap laki laki hebat pasti ada wanita yang lebih hebat.

 

I love being a woman…

(dreaming to become a mother, one day..)

 

(Visited 89 times, 1 visits today)

1 Comment

  1. gembiL says: Reply

    Perempuan punya hati untuk memberi ketegaran kepada orang-orang yang dicintainya. Menjadi labuhan terakhir keluarganya dalam duka, punya ketulusan untuk mencintai dan punya kekuatan untuk menumbuhkan kekuatan dalam setiap langkah orang-orang yang mencintainya. Lebih Istimewa karena aku percaya pada anak-anak yang hebat ada ibu-ibu yang hebat di belakang mereka dan di belakang setiap laki laki hebat pasti ada wanita yang lebih hebat…

    kata2 yg indah.. dan memotivasi agar menjadi perempuan yg lebih menghargai diri sendiri dan perannya.. soalna byk banget skrg pere2 yg tidak menghargai diri sendiri dan alhasil u know lah.. say yes to everything..

    one day yaaa.. me too.. tp skrg dikau jg jadi nyaakk kok hihihihi

Leave a Reply