Raim Laode: Inspirasi Anak Bangsa

“Malam ini, saya tidak menunduk. Saya menatap lampu-lampu studio Indosiar yang terang ini, karena saya yakin suatu saat pasti akan kembali kesini.  Uang 100 juta hanya nominal yang akan habis di kemudian hari. Tapi setelah ini masih banyak yang akan saya lakukan, so tetap temani Saya”

Namanya Raim Laode, saya jatuh cinta saat pertama menonton audisinya melalui Youtube untuk Talent Show Stand Up Comedy. Pemuda berusia 22 tahun membuat saya hobi bolak balik nonton rekamannya. Komedinya renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Ternyata saya tidak sendiri, ia digemari banyak orang. Dan tiba-tiba saja saya tidak mau terlewatkan satu episode pun penampilannya. 

Sampai akhirnya mata saya malam tadi berkaca-kaca. Seumur hidup yang bukan ABG alay lagi, baru kali ini saya begitu emosional akan hasil sebuah talent show. Raim Laode tereliminasi setelah diunggulkan oleh banyak pihak. Yah, harus diakui dua kali terakhir penampilannya memang bukan yang paling prima. Namun jika diukur rata-rata sejeblok-nya penampilan Raim Laode, masih tetap memiliki ambang bawah yang lebih baik dari beberapa kontestan lain. Masalahnya, ada kontestan lain -yang lolos”menurut saya” jauh sekali kualitasnya dibawah Raim. Materi kontestan yang satu ini, garing, tanpa pesan, tanpa wawasan dan (maaf) keliatan cetek. Harus diakui, pada beberapa penampilan sebelumnya, dia memang bagus. Tapi makin kesini, keliatan makin membosankan, tidak ada “isi” dan sangat monoton.

Dann…ternyata “Patah Hati” karena Raim tereliminasi jauhhh lebih sakit dibandingkan ketika tahu Jokowi mengeliminasi Menteri idola saya, Jonan dan Anis Baswedan. Serius!! Hahaha..

Yah, komedi memang masalah selera. Tapi bagi saya; komedi yang bagus itu: komedi yang cerdas dan berwawasan, bukan cuma lucu cengar cengir dengan subyek yang absurd. Dan semua itu ada pada Raim Laode. Mungkin dia memang “orang kampung”, tapi keliatan sekali pola pikirnya tidak “kampungan”.  Sementara tetangga sebelah? Entahlah…

Saya yang jarang banget nonton TV, awalnya berharap program ini, tidak sekedar komedi tetapi ada inspirasi dan pesan untuk anak-anak muda agar kian berkreasi, makin kenal negerinya dan makin cinta bangsanya. Raim membawa pesan itu, kehadirannya membuat kita jadi makin yakin bahwa Indonesia ini kaya. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. Beberapa orang teman saya, bahkan penasaran banget hingga merencanakan ke Wakatobi. Bahkan, ada teman saya yang baru tau bahwa Wakatobi itu terletak di Sulawesi Tenggara bukan di Papua. Hahaha..

Setelah eliminasi itu, sosial media pun ramai. Saya pikir hanya saya yang kecewa dengan hasilnya. Saya pikir saya ini penonton biasa, saya gak ngerti teknik tenik nasihat juri. Saya taunya cuma; lucu, terhibur dan terselip “pesan” di dalamnya. Twitter penuh dengan ungkapan kekecewaan, kesedihan bahkan bully-an terhadap juri. Juri memang pakar, tapi di komedi, menurut saya JURI SESUNGGUHNYA ADALAH PENONTON! Anggaplah kami ini orang awam, tidak paham teori penilaian stand up comedy. Tapi saya kira juri harusnya cukup cerdas untuk menambah bobot acara ini dengan memilih peserta yang pantas ke babak final. Ada idealisme juri yang ternyata digadaikan (mungkin) demi…entahlah demi apa…

Dan.. kompetisi adalah tetap kompetisi. Ada yang kalah, ada yang menang. Ada kompetisi yang sebenarnya, ada pula yang setting-an. Ada pula yang tak jauh berbeda dengan sinetron drama. Kompetisi pun bukan akhir justru awal dari dunia yang sebenarnya. 

Hanya sedikit saya sayangkan, kenapa anak-anak seperti Raim tidak diberi kesempatan lebih lama untuk lebih banyak menginspirasi melalui ajang ini. Sadarkah sudah begitu banyak porsi telah kita berikan kepada selebgram yang gaya hidupnya jauh dari tata krama bangsa kita. Sementara, ada Raim dan (mungkin) Raim lain dan Raim selanjutnya yang “terpaksa” turun panggung, karena penilaian yang entah dasarnya apa…

Finally, Tetap semangat Raim, ini cerita manis untuk awal yang lebih manis. Indonesia bangga punya anak muda seperti kamu. Jangan lelah memberi inspirasi bagi banyak anak negeri. Maju terus! Saya yakin kamu bahkan jauh jauh lebih baik dari para juara. 

 

 

(Visited 313 times, 1 visits today)

11 Comment

  1. Noor says: Reply

    Saya bukan pendukung dari siapa-siapa, tapi saya sebagai penikmat komedi. Stasiun tv di indonesia memang begini adanya, saya pun suka dengan komedi raim laode, tapi saya tidak setuju dengan opini kalo orang depok yg cengengesan itu anda nilai tidak pantas untuk masuk 3 besar, karena menurut saya orang yg tadinya pemalu dan gak bisa apa-apa kyk dia baru beberapa bulan saja didunia stand up dan perjalanan dia masuk ajang stand up ini sudah banyak menginspirasi banyak orang, walaupun memang saya akui akhir-akhir ini beliau memang lagi jelek-jeleknya, dan terlepas dari itu, stand up adalah komedi cerdas yang berawal dari keresahan dan kritikan terhadap kehidupan yang sedang terjadi disekitar kita, dan teknik stand up sangat banyak, absurd salah satunya, saya bukannya sok tau, tapi absurd ini memang ketika dipakai di stand up awalnya memang bercerita keresahan, tapi pada punchline kalimat diberi dengan guyonan yang aneh dan cenderung gak nyambung, karena banyak sekali teknik stand up ini, sebagian komika punya ciri khasnya masing-masing, dan absurd ini memang sudah ada komika yg pernah membawakannya sperti indra frimawan/kemal pahlevi, terlepas dari bagus atau tidaknya dia membawakan stand up, itu tergantung selera dari para penonton seperti kita, Dan terlepas dari itu semua, komedi adalah sesuatu yang bisa membuat kita tertawa, karna ada kalanya saya pun tidak tertawa ketika melihat salah satu komedian atau komika yang memang menurut saya tidak lucu. Apapun itu semua, intinya kita dihadapkan dengan dunia entertain yang memang akan terlihat nantinya ketika siapakah yang akan membuat penonton lebih terhibur, jadi jangan heran jika rating di sebuah stasiun televisi adalah gambaran dari kita sebagai penonton yang lebih terhibur dengan sosok seseorang yang ada di dalamnya, semakin sering seseorang itu ada di tv, maka penonton pun memang banyak yang menyukainya. Well, Selamat datang di dunia entertain.

    1. Vika says: Reply

      Setuju banget kakak..

  2. Any Sha says: Reply

    Di medsos mmang bnyk yg mengungkapkan kekecewaannya.. Pantas (bahkan sangatlah pantas). Apapun alasannya keputusan juri sangatlah tidak fer (meskipun tentu beralasan… Mgkn Rating, supporter d studio, rumor terrkait radit, dll.. entah) ketidak fer-an itu Terlalu jelas. Jangn ptus asa & tetaplah SEMANGAT utk RAIM, semoga akan jauh lebih sukses k depan…

    1. Nona Manis says: Reply

      Setelah Raim keluar, saya akhirnya sadar,.. SUCA ini hanya acara TV biasa seperti sinetron2 drama, bukan kompetisi yang sebenarnya…

  3. Stand Up Comedy bukan hanya show ttg ‘jokes’, tetapi juga acara yg membawa kebahagiaan bagi orang – orang yg menontonnya. Semangat itu ‘runtuh’ ketika juri yang begitu cerdas mulai bermain DRAMA dengan menawari hadiah – hadiah , bahkan ada acara ulang tahun… which is so silly ! and let’s be honest .. bukankah itu bukan inti acara yg katanya premise kekuatan menulis dan delivery-nya lah yg jadi parameter penilaian para juri (judges says).

    “Dunia entertainment bukan dunia politisi.”

    Mematikan karakter brilian on stage bukanlah hal yg keren untuk dilakukan.

    Pastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi di SUCA 3, itupun jika masih ada yg berminat untuk menonton. Trend akan berganti.

    1. Fans Raim says: Reply

      Yah itulah, mas.. tiba2 saya pun kehilangan respek sama juri-jurinya. Beda masukan, beda penilaian… Menyedihkan. Atau mungkin memang kita tidak tau apa yg terjadi di backstage. Entahlah. Penonton seperti dibodohi. Saya yakin Raim akan jadi bintang besar. Cuma itu satu-satu cara utk membuktikan bahwa dia mampu.

  4. johar says: Reply

    Bukan hanya kehilangan respect, tapi stasiun televisi tersebut juga sudah memberikan arafah “hadiah” berupa rentetan hujatan yang kini harus ditanggungnya, walau bagaimanapun, jika pengelola kompetisi tersebut professional, akan banyak pemuda seperti raim yang seharusnya diberikan banyak kesempatan untuk menginspirasi indonesia. Setelah selesai kompetisi ini, semoga kalian para muda mudi yang telah banyak berkontribusi bisa membuktikan kepada dunia bahwa kalian memang pantas!!!.

    Televisi Nasional Perlu Revolusi!!!!! Jangan Hanya Untuk Meraih Keuntungan Pribadi Saja, Sampai-Sampai Memberikan Sebuah Beban yang Harus banyak ditanggung oleh Korban Kalian!!! #RevolusiMental mana?????

    1. vika says: Reply

      Udah makin susah percaya saya TV nasional.. orang bodoh pun tau, siapa yg lebih pantas…

  5. bunga says: Reply

    Bener mbak sakitnya tu disini karena Jonan dan Anis diganti.

    1. Vika says: Reply

      lebih sakit raim gak jadi juara…hahaha..

  6. ArafahLovers says: Reply

    Arafah sama persis dgn fatin saat di xfactor..diawal kompetisi menerima banyak pujian dan diakhir dpt banyak sekali hujatan..semoga dgn ini membuat mentalnya semakin teruji..smoga dia bsa membuktikan klo dia layak berada di posisi ini #MajuTerusKomikaWanita #VivaLaKomtung #GoToNextLevel

Leave a Reply