Berdamai dengan Masa Lalu


Obrolan / Wednesday, July 25th, 2018

Beberapa tahun lalu seorang sahabat pernah bilang kepada Saya; “Jangan kotori tanganmu dengan balas dendam kepada orang-orang yang sudah menyakiti”.  Saat itu, saya dalam kondisi mental yang tidak terlalu baik karena satu kejadian yang membuat saya seperti menjadi orang apatis. Meski senang curhat kepada teman-teman dekat, sejatinya saya lebih banyak menyimpan semuanya sendiri. Pengalaman membuktikan, bercerita terlalu banyak dengan banyak orang bukan sebuah solusi yang baik. Menenangkan? Tidak juga, karena sifatnya semua sementara. Tidak mudah bersikap tenang, sabar dan ikhlas saat ada di posisi yang penuh dengan kemarahan, kebencian, kekecewaan dan sakit hati yang membuncah. Apalagi kalau kamu tidak punya Tuhan sebagai pegangan.

Saya masih ingat betul, ada teman yg berapi-api menasehati; “Tutup semua komunikasi dengan orang-orang yang membuat lo sakit hati”. Does it work? Yes, but it is temporarily and for me,  I didn’t do that and won’t do that!. Saya membiarkan semua berjalan seperti biasa. Menahan amarah, menahan caci maki dan menahan keinginan untuk berbuat yang sama jahatnya.  Saya percaya; the best revenge is life well. Dan pelan tapi pasti, itu terbukti. But, yes.. It takes time!

Hampir sewindu berlalu, hingga tiba suatu masa semua sakit itu sendirinya hilang termakan waktu. Menguap entah kemana. Memang, ibarat kaca yang sudah tergores, goresannya tidak akan pernah hilang sampai kaca itu ikut hancur berkeping-keping. Tapi guratannnya makin pudar, dikaburkan oleh sisi lain yang kian bersinar. Saya pernah bilang dengan orang yang menyakiti itu, “Suatu saat kamu akan melihat saya di satu tempat yang tinggi dan kamu akan merasa menyesal sekaligus bangga karena kamu pernah menjadi bagian dari hari-hari Saya”. Yah, itu memang Cuma kata-kata biasa, bukan sumpah, namun kini hal itu terbukti.

Di hidup baru saya saat ini, entah bagaimana ceritanya dia atau mereka tiba-tiba saja hadir. Bukan dalam sosok yang dulu, tapi sosok baru yang lebih bersahabat dan memberi banyak dukungan kepada hari-hari Saya. Tentu dengan konsep hubungan yang berbeda dari jaman dulu. Saya menerima semua dengan damai. Banyak teman yang berkomentar negatif, tapi buat saya itu justru salah satu cara menilai mental seseorang.  Saya akhirnya menyadari, di balik semua indikator kedewasaan, berdamai dengan masa lalu adalah salah satu yang paling berat. Dan Saya sekarang ada disana.

Sudahkah kamu sampai di titik itu?

 

 

(Visited 110 times, 1 visits today)

2 Replies to “Berdamai dengan Masa Lalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *