Ada rencana ke Sydney? Bingung mau bikin itinerary? Berikut saya rekomendasikan beberapa agenda yang bisa dilakukan di Sydney. Tenang, semuanya bisa dilakukan cukup dengan jalan kaki saja di pusat kota Sydney. Ngapain aja? Yukk, cekidot…!

1. Tour Gedung Antik hingga Opera House

Yah, kalau ini mah gak usah dibilangin sih sebenernya. Opera House memang sudah jadi maskot alias landmark Kota Sydney. Kalau mau kesini, lebih baik naik kereta dan turun di Central Station lalu lanjut jalan kaki. Agak jauh memang sekitar 2 km, tapi sepanjang jalan banyak obyek foto yang menarik. Banyak gedung-gedung bergaya Mediterania yang sangat instagram-able.

opera
must taken!

Contohnya; museum, taman, perpustakaan, gedung pemerintahan bahkan disinilah lokasi Gereja Saint Mary yang sangat megah dan indah. Siapa pun boleh masuk loh melihat-lihat dalamnya. Saya aja yang pake kerudung, masuk dengan santai kok! Asal tetap tidak mengganggu yang sedang beribadah yah..

perpus1
National Library
gereja
Saint Mary

Kan asyik, satu tujuan tapi bisa dapat beberapa obyek. Sekalian juga bisa melihat lalu lintas dan kehidupan kota Sydney.

2. Eksplore Sydney Harbour Bridge

Deuh, segitu banget ya.. pake kata “berlayar”. Hehehehe. Harbour Bridge sebenarnya satu pandangan mata dengan Opera House. Pilih port Circular Quay sebagai titik awal untuk menjelajah Harbour Bridge. Dari atas ferry melihat sisi lain Sydney dari lautan, foto dengan latar belakang Harbour Bridge dari atas ferry pasti keren banget. Rebutan ambil posisi di geladak kapal. Saya sarankan kesini pada pagi hari sebelum pukul 12 siang, agar pencahayaan fotonya tidak backlight.

bridge
Harbour Bridge

Sepanjang perjalanan dengan feri ini ada beberapa poin-poin menarik yang bisa dikunjungi, seperti Luna Park, Sydney Aquarium, Maritime Museum atau sekedar foto-foto di Pyrmonth Bay Wharf.

Luna Park
Luna Park
pantai apaa...lupa namanya, heheheh..
pantai apaa…lupa namanya, heheheh..

Oya, sempatkan hari minggu saja keliling Sydney. Kenapa?? Karena hari minggu kita cukup mengeluarkan AUSD 2 saja untuk menggunakan seluruh moda transporartasi, tanpa batasan. Mau naik trem, bis, atau ferry berkali kali selama di hari minggu, ongkos cuma dua dollar saja, dipotong saat perjalanan pertama menggunakan kartu transportasi yang namanya Opal Card. 

3. Nonton Kembang Api di Harbour Darling

Pernah nonton kembang api di Hongkong? Kurang lebih di Sydney sama deh dengan disana. Pertunjukan ini ada setiap malam minggu di tepian Harbour Darling. Disini juga ada deretan café lengkap dengan mall. Cuma memang makanan disini agak lebih mahal, kalau mau irit kita bisa membawa cemilan sendiri dari rumah, atau beli di tempat lain dan dinikmati di tepi darmaga sembari memandang kerlap kerlip lampu-lampu kota. Eh, sayangnya waktu saya kesana…sedang ada renovasi jadi untuk sementara show kembang api tidak berlangsung. Tapi duduk-duduk di tepi port, memandang gemerlap lampu-lampu gedung di Sydney sudah sangat menyenangkan kok! 

darling

4. Berfoto di Gedung Sydney University

Entah kenapa saya suka banget bangunan ini. Gedung kuno yang mirip Istana Harry Porter ini ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 km dari Central Station yang berlawanan arah dengan Opera House. Aduh, sampai disini saya terkagum-kagum sendiri. Rumputnya hijau seperti karpet, bangunannya megah seperti di film film. Gedung indah itu dibangun pada 1850 dan dinobatkan sebagai salah satu kampus tercantik di dunia. Menuju kesini juga ada taman yang luas dan bagus. Benar-benar seperti back to past! Saat saya kesana, sedang gerimis mengundang tapi sama sekali tidak menghalangi niat saya untuk berfoto. Ternyata tempat ini memang sering jadi lokasi foto, bahkan ada sepasang calon pengantin yang tengah melakukan foto prewedding.

blog1

blog2

Saya juga sempat masuk ke dalam gedung, bagus banget. Speechless deh! Sempat kepikiran, kalau saja dulu saya pinteran dikit, pasti bisa deh kuliah disini. Hehehehe

5. Ngopi ngopi cantik!

Seperti biasa, kalau ke luar negeri, titipan yang paling sering saya terima adalah aksesoris Starbucks. Mulai dari mug sampau membercard. Thank God! di Sydney ternyata Starbucks-nya gak sebanyak di Amerika (Ya iyalah, kan Amerika emang asalnya….), jadi saya gak repot nyari titipan. Tapi sebagai gantinya, setiap sudut Sydney punya warung kopi yang autentik! Meski kedai-kedainya, tidak mengusung merek mahal, tapi kopinya dijamin mantep surantep! Mengingatkan saya dengan Aceh Lon Sayang. #uhuk

ngopi3

Saya sempat menjajal beberapa kedai kopi dan semuanya memuaskan. Di Jakarta atau Bogor, saya sering coba-coba warung kopi yang baru dibuka. Hasilnya sih lebih sering mengecewakan, sampai akhirnya saya hanya punya satu dua tempat ngopi langganan. Tapi di Sydney semua warung kopi asyik buat berlama-lama dan kopinya bikin saya -yang pencinta kopi ini-, sakau! Bahkan di ferry harbour bridge, saya sempat iseng membeli secangkir kopi di cafeteria yang posisinya agak nyempil deket toilet. Kirain akan dikasih kopi instan, ternyata di kapal pun, kopinya di-grill di tempat itu juga! Luar biasa!! Harga secangkir latte atau cappuccino rata-rata AUSD 3, sekitar 30 ribuan Standarlah yaa… gak jauh beda dengan kopi enak di tempat kita.

ngopi1

Oya, kalau mau pesan makanan samping/cemilan di kedai kopi, jangan kaget kalau porsinya geudee banget. Memang hampir semua makanan di Australia porsinya besar-besar. Jadi kalau sama teman, mending beli seporsi dan bagi dua. Hehehhe.. (irit ala anak kost)

6. Belanja di Paddys Market

Ini dia nih…liburan ala orang Indonesia. Belanja, belenjong, shopping dan ngabisin duit! Kebetulan banget, hostel saya menginap hanya beberapa blok dari Paddys, jadi deh saya belanja (seadanya) di Paddys juga. *Maklum horang kayahh…* Hehehe.. Pasar yang serupa hanggar besar dengan lapak-lapak ini, menjual berbagai barang mulai dari pernak pernik, souvenir, baju kaos, sepatu hingga kosmetik. Catat, Paddys hanya buka dari hari Rabu hingga Minggu. Kalau di Sydney, Paddys memang rekomendasi utama untuk membeli oleh-oleh. Tapi jangan terkecoh, untuk dapat harga murah lebih baik muter dulu seluruh bagian, cari perbandingan harga baru belanja, karena para pedagang disana tidak memiliki standar harga untuk satu barang.

Di Melbourne, ada Queen Victoria Market yang harganya lumayan lebih murah dari Paddys. Jadi, kalau masih mau ke Melbourne setelah dari Sydney, tahan tahan dulu deh belanjanya.

paddys1

Di lantai atas gedung yang sama dengan Paddys, ada mall yang tidak seberapa besar. Serunya, disini ada beberapa Factory Outlet baju dan sepatu merek-merek terkenal disini. Kalau punya uang lebih, silakan mampir. Lumayan bisa dapat kaos branded seharga 5 dollar alias 50 ribu saja.

paddys2

Oya, yang kangen makanan Indonesia, ada restoran bernama Podomoro, jalan sedikit sekitar 100 meter dari seberang Paddys. Tapi porsinya tetep gede, seperti porsi orang Australia pada umumnya. Biar aman (dan irit) pesen seporsi buat berdua aja (kan jadi romantis tuh…).

7. Nongkrong di Taman Kota

Enaknya di kota maju yang tetap mengutamakan kenyamanan penghuninya, adalah tersedianya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Begitu juga di Sydney, banyak sekali taman-taman yang bisa jadi tempat mencari inspirasi saat galau (hmmm…). Asyiknya, taman-taman ini ada di pusat kota, yang bisa dijangkau dengan mudah karena transportasi yang memadai bahkan bisa cukup dengan jalan kaki.

taman1

Emmm.. tapi, kalau saya sih senang liburan yang gak too rush alias buru-buru kayak harus ngabsen di kantor. Saya lebih senang liburan yang santai dan bisa dinikmati. Bisa berlama-lama di satu tempat, mengamati lingkungan, melihat tingkah polah penduduknya dan belajar dari banyak hal baru di sekeliling kita. Saya gak mau jadi turis check list. Itu loh, yang datang ke suatu tempat cuma buat sekedar udah sampe disana dan cekrek foto sekali, lalu berlalu.

taman3

Nah, karena itulah kalau kalian liburan yang tidak dikejar deadline, bawa buku, cemilan dan segelas kopi (dalam paper cup), di taman, pasti akan jadi sangat menyenangkan.

Hits: 1365

Mencari hotel yang dekat dengan pusat kota, tapi berstandar internasional sebenarnya susah-susah gampang. Jangankan di kota kecil, di Bali yang jumlah hotelnya sudah gak kira-kira pun tetap jadi tantangan sendiri. Ada yang ekonomis, tapi fasilitas dan pelayanannya pun ekonomis. Ada juga yang murah, tapi posisinya kurang strategis. Mau lebih bagus dikit, siap-siap deh merogok kocek lebih dalam

Bulan lalu, saya beruntung banget bisa mencicipi bermalam di dua hotel dalam jaringan Best Western Internasional (BW). Oya, dua bulan sebelumnya saya juga sempat menginap di Best Western Premier Solo Baru. So, ini adalah kali kedua saya merasakan fasilitas BW. Di Kuta Bali sendiri, ada tiga jaringan yaitu: BW Kuta Villa, BW Kuta Resort dan BW Kuta Beach. BW Kuta Resort dan Kuta Beach berkonsep hotel seperti pada umumnya, sedangkan BW Kuta Villa, selain kamar hotel berstandar bintang 4, juga ada villa villa yg dilengkapi kolam renang pribadi. Hari pertama saya dan teman-teman menginap di BW Kuta Resort, hari kedua kami pindah ke BW Kuta Beach.

BW Kuta Villa
BW Kuta Resort

Ini dia beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan kenapa kalian harus memilih Best Western Kuta Bali.

Berstandar Internasional

Buat saya, poin ini penting banget! Kadang kita suka terkecoh dengan foto-foto keren dari sebuah hotel di situs-situs booking online. Kalau pilihannya di hotel yang memiliki jaringan worldwide, gak usah repot deh nanya-nanya atau baca review tentang fasilitasnya bagaimana, kebersihan gimana dan lain-lainnya. Nama besar BW yang sudah hadir di puluhan negara pasti jadi jaminan. Bahkan BW Kuta Resort beberapa tahun terakhir berturut-turut mendapat penghargaan Service Excellence dari Head Quarter BW di Arizona, USA.

Deluxe Room BW Kuta Beach
Deluxe Room Best Western Kuta Beach
Deluxe Room BW Kuta Villa
Deluxe Room Best Western Kuta Resort

Lokasi Strategis

Yes, BW Kuta Beach letaknya hanya sekitar 200 meter saja dari bibir pantai Kuta. Bagi yang memang liburannya penuh aktivitas di sekitar Kuta dan Jimbaran, udah paling pas deh memilih BW Kuta Beach. Cocok banget buat yang ke Bali pengen seseruan merasakan atmosfir keramaian dan hedonisme ala Kuta. Sementara BW Kuta Villa dan Kuta Resort posisinya memang tidak tepat di pinggir jalan, namun sesuai bagi yang menginginkan suasana tenang, private dan senyap tetapi tetap dekat pusat keramaian Bali. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke Ubud atau Nusa Dua.

Best Western Kuta Beach
Best Western Kuta Beach
bw10
Best Western Kuta Villa

Makanan Enak

Sarapan pagi di BW Kuta Resort dan BW Kuta Beach menunya sangat beragam. Saya paling suka soalnya varian sambel-nya buanyakk..Hehehe. Saya ini kan penggemar sambal matah khas Bali, sampe-sampe bisa nambah beberapa kali karena sambelnya bikin gak mau berhenti makan. Heheheh.. Jangan khawatir, sebagai hotel international chain tentu saja menu internasionalnya juga komplit.

Saya juga sempat mencicipi soto ayam khas BW Kuta Villa yang disajikan di tempurung sejenis kelapa kopyor. Rasanya??!!. Hemmm.. soto ayam dengan bumbu spesial terasa unik karena berbaur dengan air kelapa yang masih menempel di tempurungnya. Minuman andalannya Pinacolada, sejenis jus nanas yang dipadukan dengan susu. Enak? Enak pake bangedd!

bw8

Oya, di BW Kuta Beach, sebelum sarapan pagi kita bisa ikut latihan yoga. Ada instrukur yang sabar banget membantu kita berlatih. Tempat latihannya pun dekat kolam renang dan restoran. Pas deh, habis yoga biasanya kita kelaperan dan langsung deh makan!

bw3

Harga Bersaing

Ini dia poin yang mungkin paling penting. Siapa sih, yang gak mau hotel terjangkau, lokasi oke, makanan enak, fasilitas keren dan berstandar internasional? Beneran deh, silakan cek rate BW di beberapa situs booking online.

Yuk Cuss… kalau ke Bali ajak-ajak saya lagi yaa!!

 

 

Hits: 1174

Hayo, kapan terakhir kali kamu piknik? Iyaa, piknik! Makan dan bercengkerama di alam terbuka, duduk santai di atas tikar dan menikmati makanan yang dibawa dari rumah. Saya sih, kalau tidak salah sekitar satu setengah tahun lalu bersama beberapa orang teman dari Bogor menuju Gunung Padang di Cianjur. Di tengah perjalanan, kami singgah tepat di tepi kebun teh, menikmati nasi goreng berbumbu Aceh yang dibawa dari rumah. Nikmat banget! Lupa deh sama makanan mall.

Nah, ceritanya minggu lalu saya menyempatkan piknik di alam terbuka. Tidak tanggung-tanggung, kali ini pikniknya di Melbourne, Australia. Jauh banget yaaa!! Setelah nonton Coldplay, muter-muter di Melbourne (yang ini akan saya tulis terpisah), seorang teman mengusulkan untuk piknik di sebuah taman di tepi danau bernama Lysterfield Park, sekitar 45 menit dari pusat kota Melbourne. Jadilah sore itu kami membeli kebutuhan piknik termasuk daging halal di sebuah toko produk-produk Timur Tengah. Niatnya pengen barbeque (bbq) di tengah rimbun pepohonan sembari memandang danau.

blog4

Disana disediakan meja-meja persegi yang besar lengkap dengan bangku yang melingkar sehingga kita tidak perlu gelar tikar lagi. Hebatnya, di beberapa bagian sudah disediakan perlengkapan bbq yang lengkap dan kita tinggal pakai. Wow! Kirain harus bawa perlengkapan dari rumah (kali aja rempong kudu bawa arang segala…)

blog20

Kami memilih satu meja yang paling dekat dengan sebuah tungku bbq.  Ternyata yang piknik, bukan hanya saya dan teman-teman. Di samping kami, berkumpul satu keluarga lengkap dari nenek hingga cucu yang tengah bertukar kado. Di sisi lain, sekumpulan anak muda yang nampaknya sedang reuni, asyik dalam gurau canda. Di ujung sana masih ada satu keluarga dengan dua anak balita. Ramai memang, tapi tetap tenang dan masing-masing kelompok memiliki privacy.

Di sekeliling taman, terdapat jogging track, terlihat beberapa orang sedang berolahraga, walau suhu saat itu hanya sekitar 15 derajat celcius saja. Tepat di depan mata terbentang danau buatan, yang membuat pemandangan makin cantik. Selain untuk estetika, ternyata danau itu juga merupakan sumber pembangkit listrik.

blog11

Di arah berlawanan dengan danau, ada tanah lapang dan hutan yang masih alami dan itulah habitat asli kanguru. Disini kanguru dibiarkan hidup bebas, loncat loncatan kesana kemari. Sedang asyik ngobrol, tau-tau seeokor melintas di depan kami. Cepat-cepat saya ambil kamera. Sayang, loncatannya lebih cepat daripada bidikan kamera Saya. Hahaha..

blog5
kanguru yang kabur

Tempat ini memang disediakan oleh Pemerintah Melbourne. Tidak hanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) semua fasilitas seperti meja dan kursi taman, tempat bersantai, tungku bbq dan toilet yang bersih. Bahkan disediakan perahu-perahu untuk berkeliling danau yang sangat friendly terhadap para disable.

blog7

blog1
fasilitas toilet

Sambil bbq-an, Doddy teman kami yang memang menetap di Melbourne bercerita tentang dukungan pemerintah Australia terhadap keharmonisan keluarga.  Australia menerapkan prinsip Triple delapan (888), yaitu delapan jam bekerja, delapan jam istirahat dan delapan jam pleasure. Sangat jarang ada karyawan overtime alias lembur, karena bayar tenaga kerja untuk lembur muahaalll banget. Tiba-tiba teringat para karyawan bank yang senangnya lembur dan kalau gak lembur, berasa gak kerja. Heheheh..

blog2
rombongan piknik

blog10

Di Brisbane dan Sydney -mall yang tutup jam 6 sore saja- sudah cukup bikin saya shock! Di Jakarta, biasanya jam 7 malem baru nongkrong di mall. Lebih parah lagi di Melbourne, toko-toko rata-rata tutup jam 4 sore! Jadi hampir tidak ada istilah anak mall disini. Belum lagi, transportasi yang mapan membuat tidak ada kamus nongkrong di mall, sembari menunggu macet berakhir. Setelah bekerja selama delapan jam, pilihannya ya cuma satu: pulang berkumpul dengan keluarga.

Kata Doddy, semuanya merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memenuhi prinsip triple 8 tadi. Pemerintah konsisten mendukung komunikasi dan interaksi keluarga, salah satunya dengan tidak ada lembur dan tidak banyak keramaian yang buka sampai malam.

blog11

Saya salut, di tengah maju dan canggihnya fasilitas negara ini, pemerintah “masih percaya” bahwa keluarga adalah pondasi utama majunya bangsa  dan meyakini piknik sebagai salah satu cara mendekatkan hubungan keluarga. Komunikasi dalam keluarga didukung oleh aturan jam kerja dan fasilitas yang memadai. Bener sih, kata sebuah riset, berinteraksi di alam terbuka akan membuat kekerabatan makin baik.

Bahkan pemerintah Australia setiap tahun memberikan dua kali voucher gratis jalan-jalan domestik bagi setiap keluarga. Sambil bercanda, Doddy bilang; kalau ada pasangan yang mau pisah, coba pindah deh ke Melbourne, dijamin bisa baikan lagi.  Tidak heran angka perceraian disini cukup rendah.

blog12

Herannya kok kesadaran begini malah banyak di negara maju ya… Di Jakarta (baca: maskot Indonesia), ruang terbuka hijau tidak banyak, boro-boro deh yang lengkap dengan alat bbq, yang bisa digunakan untuk berkumpul saja sangat jarang. Kita yang dalam kenyataannya “lebih tradisional” malah lebih senang berkumpul di café-café ber-AC dan pusat perbelanjaan. Rasanya bangga kalau bisa nongkrong di café mahal, padahal disana pun seringnya masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing.

blog13

Kalau saja Jakarta lebih banyak RTH dan masyarakatnya suka menikmati alam, artinya keluarga makin harmonis. Artinya lagi,keluarga akan mencetak generasi-generasi yang madani yang siap memajukan bangsa. Wah, panjang ya, dampaknya. Ternyata duduk-duduk di taman bersama keluarga bukan cuma menghabiskan waktu, tapi cara kita menjaga keutuhan bangsa.

Bagaimana, kapan kita piknik?

Hits: 2086

Pesawat Wings Air yang membawa kami dari Makassar, mendarat dengan mulus di Bandara H. Aroepalla Selayar. Burung besi bertenaga baling-baling dan bermuatan tidak lebih dari 50 orang ini, hanya punya satu kali penerbangan per hari dari Makassar. Beberapa bulan lalu, malah seminggu hanya tiga kali. Selain terbang, jalur transportasi menuju Selayar satu-satunya hanya menyebrang dari Pelabuhan Bulukumba selama sekitar 5 jam setelah sebelumnya harus menempuh perjalanan darat sekitar 3 jam dari Makassar. 

Buat saya yang punya darah Bugis dan pernah menetap di Makassar, Selayar sangat tidak asing. Namun sebagian orang di luar Sulawesi, bisa jadi belum mengenal daerah ini. Jadi gak heran deh, masih banyak yang bilang:  “Haa ? Selayar? dimana tuh?” kata seorang teman. Sayangnya, meski pernah lama menetap di Makassar, saya belum pernah sekalipun mampir ke Selayar. Makanya, ketika diundang kesini, saya bersemangat sekali. Horeee…!!

Sunset courtesy @agus_syaiful_arief_es
courtesy IG @agus_syaiful_arief_es

Secara geografis Kepulauan Selayar yang tepat di bawah Pulau Sulawesi dan masuk dalam provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini terdiri dari pulau-pulau kecil yang kaya potensi maritim. Selayar berbatasan langsung dengan NTT dan Wakatobi yang lebih dulu tenar wisata bahari. Nah, kalau sudah pernah dengar Taman Nasional Laut Takabonerate, Yes…itu masuk wilayah Kepulauan Selayar. Takabonerate adalah salah satu surga diving, yang ditempuh sekitar 2 jam dengan kapal cepat dari Banteng, ibukota Selayar.

Kaya Situs Sejarah

Tapi apakah, potensi wisata Selayar cuma wisata bahari? Ternyata Selayar juga kaya akan situs situs sejarah, yang mungkin belum banyak dikenal.

Baru tiba saja, saya dan teman-teman sudah diajak ke Kampung Bitombang, kampung tertua di Selayar yang konon sudah ada sebelum Islam masuk ke Selayar. Menuju Bitombang, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Benteng, ibukota Selayar, dengan jalan mendaki dan berliku ditemani pemandangan kebun kelapa, cengkeh dan jambu monyet di sepanjang jalan. Cukup jauh untuk ukuran pulau kecil ini dan posisinya pun seperti terisolir. Namun setiba disini, rasanya seperti berada negeri atas awan. Posisinya yang berada sekitar 2500 mdpl membuat pemandangan sekitarnya indah sekali.

blog4

Rumah-rumah di kampung ini berdiri di atas tiang setinggi minimal 10 meter. Kata orang, selain mengikuti kontur daerahnya yang berbatu, rumah bertiang tinggi ini dulunya sebagai tempat perlindungan dari musuh dan binatang buas. Uniknya lagi, ada beberapa rumah yang sudah berusia ratusan tahun dan masih kokoh terawat. Kayu penopang yang kuat itu, disebut holasa oleh penduduk setempat dengan seluruh atap rumah terbuat dari daun kelapa dan rumbia. Konon, mereka tidak menggunakan genteng dari tanah liat, karena filosofinya tanah adalah tempat kembali (tempat manusia dimakamkan) dan harus terletak dibawah, bukan diatas (sebagai atap) Hemmmm…

bitombang

Kami sempat berbincang dengan Bapak Kepala Dusun yang mengaku sudah berusia 75 tahun. Ia bercerita banyak tentang kampungnya, dimana sebagian besar penduduk hidup dari pertanian. Ingatannya masih sangat jelas, bicaranya pun runut dengan bahasa Indonesia yang bercampur dengan Bahasa Selayar.

DCIM100MEDIA
Bitombang

Wah, si Bapak panjang umur juga, pikir saya. Tiba-tiba di tengah obrolan kami, muncul seorang Bapak yang kelihatannya lebih tua dan ternyata lelaki itu adalah mertua Bapak Kepala Dusun. Wow, berarti usianya sudah lebih dari 90 tahun! Ternyata, populasi manula di Kampung Bitombang memang cukup tinggi. Saya lupa menanyakan datanya sih, tapi keunikan lain kampung ini, memang dihuni banyak orang yang berusia lebih dari 70 tahun. Konon, mereka panjang umur karena menerapkan hidup yang sangat alami. jauh dari makanan instan dan jauh dari polusi udara. Hmm, sayang saya hanya mampir beberapa jam saja. Kalau ada rejeki lagi, ingin rasanya menginap satu dua malam untuk belajar tentang kearifan lokal kampung kecil ini. Pasti banyak yang bisa digali.

blog5

Tidak cuma Bitombang, Selayar juga punya sisa-sisa peninggalan sejarah lain seperti nekara dari jaman perunggu yang berbentuk seperti gong dengan gambar berbagai hewan dan simbol kehidupan sekelilingnya. Banyak filosofi kehidupan yang tergambar di gong tersebut. 

Ada pula jangkar jangkar raksasa peninggalan kapal besar asal Tiongkok milik saudagar kaya bernama Gowa Liong Hui yang pernah singgah ke pulau ini. Uniknya, awak kapal Liong Hui kemudian menetap dan berakulturasi dengan penduduk asli. Tidak heran jika penduduk Desa Padang banyak berkulit hitam tapi bermata sipit,

 jangkar

Pantai yang Meneduhkan

Selayar adalah salah satu daerah penghasil kopra di tanah air, tidak heran karena pantainya memang dikelilingi pohon kelapa yang banyak dan sangat teduh. Inilah yang menurut saya, menjadi pembeda utama pantai-pantai Selayar dengan daerah lain. Pantai-pantai itu bisa ditempuh tidak lebih dari 30 menit dari pusat kota.

blog8
Pantai Sunari

Salah satu pantai yang wajib dikunjungi untuk sekedar ngopi-ngopi cantik adalah Pantai Sunari. Pantainya landai meski tidak berpasir putih tetapi bersih sekali. Kita juga bisa bermalam di resor yang baru saja dibangun disini. Duh, rasanya saya gak mau nulis tentang ini, takut makin banyak yang datang kemudian mengotori pantai-pantai cantik ini. Jangan yaaa. Nikmati semua, tapi menjaga lingkungan tetap nomer satu. 

DCIM100MEDIA

Saya juga sempat main ke pulau kecil bernama Liang Kereta yang bisa ditempuh sekitar 40 menit dari kota Benteng, Pulau tidak berpenghuni ini, berpantai sangat tenang dengan air laut biru toska yang menggoda. Garis pantainya memang tidak panjang, tetapi unik karena dipisahkan oleh beberapa tebing. Kita bisa piknik diatas tebing dan memandang laut lepas dari ketinggian. Sayang, pengelolaan pulau ini belum optimal. Namun menurut Saya, tidak perlu pengelolaan yang canggih-canggih, cukup kebersihannya tetap dijaga dan fasilitas seperti toilet diperbaiki. Biarkan Liang Kereta tetap dengan kealamiannya, tanpa banyak pembangunan fisik.

liang kereta
liang kereta
liang-kareta
liang kereta

Sedikit keluar dari kota Benteng, juga masih banyak pantai yang nyaris jarang tersentuh pendatang. Ingin wisata edukasi? Bisa mampir ke Kampung Penyu di Desa Tulang. Posisinya tepat di tepi pantai lengkap dengan nyiur melambai dan hutan mangrove. Disini dilakukan penangkaran ratusan telur penyu berbagai jenis hingga menetas dan siap untuk dilepas ke laut bebas. Menariknya, kegiatan ini awalnya digagas oleh masyarakat sekitar yang melihat keberadaan penyu yang makin lama makin langka. Mereka sadar, berkurangnya populasi penyu akan menganggu siklus kehidupan di laut bebas.

penyu

 Akomodasi

Jangan berharap ada hotel chain nasional apalagi internasional di Selayar, dan sepertinya hotel-hotel yang ada pun belum berkolaborasi dengan situs-situs travel hotel online. Namun kalian bisa googling dan pesan melalui telepon. Di pantai Sunari sudah ada resor sederhana tapi cantik dan menyatu dengan alam. Fasilitasnya pun sudah oke, kalau lagi cari inspirasi dan butuh  ketenangan, cocok banget kesini. Jangan khawatir, harganya masih sangat bersahabat  (lihat kontakanya di bawah tulisan ini).

sunari
Sunari Resor

Transportasi umum di Selayar juga tidak banyak, karena turis yang datang umumnya ikut rombongan travel. Namun kalau mau jalan sendirian juga tidak masalah, pihak hotel akan dengan senang hati mencarikan mobil sewaan. Tenang, kemana-mana di Selayar ini deket banget. Tujuan yang jauh rata-rata bisa ditempuh kurang dari satu jam. Bahkan di dalam kota, kemana-mana paling cuma lima menit dan bisa jalan kaki, hehehe.. Gak habis buat dengerin satu lagu! Beneran!

hotel
rombongan jalan jalan di depan hotel.

Terakhir, kuliner daerah pantai apalagi kalau bukan seafood. Ada tempat makan asyik seperti Muara Karang disini. Food court tradisional yang menghadap langsung ke pantai. Asyik buat tempat dinner. Pun masih banyak rumah-rumah makan yang sajian khasnya memang seafood. Tidak sulit kok dicari, karena kota Benteng relatif kecil.  Duduk santai sore di tepi pantai sambil menunggu matahari terbenam sambil menikmati sarabba (sejenis bandrek) dan pisang goreng juga bisa menjadi pilihan. 

img20161128174358
kongkow di pantai kota

Saya merekomendasikan Selayar buat yag mencari tempat libur yang benar-benar masih alami. Belum banyak sentuhan manusia, belum banyak tangan-tangan jahil yang merusak lingkungan. Tenang, damai dan waktu seolah berhenti berjalan. Tapi kalau kesini, alamnya sama-sama kita jaga ya.. Jangan selalu mengharapkan pihak ketiga (pemerintah) untuk berbenah. Mulai dari diri kita sendiri untuk merawat alam Indonesia yang kaya ini.

 

Kontak Resor Pantai Sunari, Selayar; Pak Gede Eka (081223808669)

 

 

 

 

 

 

 

 

Hits: 1358

Kalau mendengar kata Brebes, apa yang ada dalam pikiranmu? Hanya bawang dan telor asin saja? Atau justru kejadian macet berhari-hari di Gerbang Tol Brebes alias Brexit lebaran lalu? Sama dong!! Hehehe… Beruntung banget beberapa minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengeksplore Brebes lebih luas yang akhirnya membuat saya tidak lagi mengira bahwa Brebes hanya bawang dan telor asin. 

Emang ada apa aja?! Wisata Brebes banyak! Brebes punya hutan mangrove yang unik, kalau biasanya di wisata hutan mangrove kita hanya bisa berjalan-jalan saja, di Brebes saking luasnya kita bisa berlayar di area hutannya. Brebes juga punya kebun teh seperti puncak, punya perbukitan yang instagramable seperti Kalibiru dan Tebing Keraton (bahkan lebih keren), punya hutan pinus yang ciamik, ada canyon seperti Green Canyon di Pangandaraan dan hamparan sawah-sawah cantik terasering seperti di Ubud. Gak percaya?!

Plus tentu saja banyak kuliner khas yang jadi daya tarik lain bagi para wisatawan. Semua juga sudah tahu, telur asin khas Brebes itu rasanya gurih dan “masir” kata orang Brebes. Masir artinya bertekstur seperti ada butirannya, tidak amis sama sekali dan enak dimakan dengan nasi panas mengepul lengkap dengan sambal dan lalapan. Buat penggemar rawon apalagi, paling pas deh kalo makannya ditambahi telor asin Brebes. Tidak kalah tenar, Brebes juga memiliki makanan khas sate kambing (muda). Tidak heran jika di setiap sudut Brebes ada yang jual sate. Hemmm, untuk yang ini saya gak bisa komentar panjang deh…soalnya saya gak doyan daging kambing. Hihih…

Kabupaten yang bertetangga dengan Tegal di Jawa Tengah ini, sekarang bisa ditempuh kurang dari empat jam saja dari Jakarta melalui Tol Cipali. Mau mencoba kenyamanan lain, sekarang juga sudah ada kereta eksekutif langsung dari Gambir ke Brebes. Mau dari Cirebon juga bisa, Brebes ke Cirebon bisa ditempuh kurang dari satu jam saja.

Ini beberapa tempat yang highly recommended kalau mau ke Brebes

Hutan Mangrove Pandansari, Desa Kaliwlingi.

Saya sudah mengunjungi beberapa hutan mangrove wisata di Indonesia, yang paling dekat tentu saja di Pantai Indah Kapuk (Jakarta), kemudian Hutan mangrove kota di Tarakan, di Selayar dan di Bali. Bedanya, hutan mangrove ekowisata Brebes luasnya hampir mencapai 300 Ha. Kebayang gak gedenya? Lokasinya ditempuh sekitar satu jam dari pusat kota Brebes. Disini, pengunjung bisa menyusuri hutan mangrove dengan perahu yang disediakan oleh pengelola. Kalau berkunjung menjelang senja, selain bisa menikmati matahari terbenam, kita juga bisa menyaksikan kawanan ribuan burung camar yang terbang dan berkumpul di pulau pasir dengan gerakan yang seperti berirama. Di sisi lain, ada ribuan burung bangau putih yang cantik sekali untuk obyek fotografi. Dengan ongkos masuk hanya 15 ribu rupiah, kita bebas berlama-lama menikmati semua itu.

blog2

Nah, yang harus mendapat apresiasi adalah hutan mangrove ini dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat desa sendiri. Sampai-sampai desa ini sempat menyabet beberapa penghargaan tingkat Provinsi dan Nasional untuk Kelompok Masyarakat Sadar Hutan.

blog2

Kok bisa? Ceritanya sekitar dua dekade lalu, daerah ini merupakan tambak udang windu yang sangat luas. Namun di beberapa kejadian, ketiadaan hutan mangrove sebagai penahan abrasi membuat ombak besar dapat masuk ke desa dan membahayakan kehidupan penduduk. Alhasil beberapa tokoh dan pemuka masyarakat bergerak untuk berubah. Mereka sadar, pembabatan hutan mangrove yang besar-besaran untuk tambak udang, pada akhirnya hanya mendatangkan bencana. Bersyukur, masyarakat pun tergerak untuk membangun kembali desanya dan bahu membahu menanam mangrove secara massal. Perjalanan panjang dan penuh perjuangan itu kini semua membuahkan hasil. Bahkan berbagai lembaga pemerintah dan swasta tergerak untuk memberi dukungan dana pengelolaan. Masyarakat pun sudah banyak yang mulai bermatapencaharian dari ekowisata ini. Inspiring ya?

mengejar sunset di kaliwlingi
mengejar sunset di kaliwlingi

Kebun Teh Kaligua

Siapa bilang Brebes yang panas tidak punya daerah sejuk bak Puncak? Bisa dibilang ini maskotnya wisata Brebes. Lokasinya di Kecamatan Bumiayu, yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Brebes. Kebun yang dikelola oleh PTPN IX ini, berada di kaki Gunung Slamet dengan ciri khas produksi Teh Hitam. Rasa teh-nya agak pekat memang, tapi enak banget dinikmati dengan sepiring pisang goreng yang disantap hangat-hangat. Suasana pegunungan yang asri dengan udara sejuk pasti membuat kita betah berlama-lama disini. Banyak permainan juga yang bisa dicoba seperti flying fox dan permainan outbond lainnya.

img20161118104330

img20161118110955

Tidak jauh dari sana, ada Gua Jepang yaang dibangun di bawah Kebun Teh Kaligua sebagai tempat persembunyian tentara Jepang yang dulu berusaha merebut kebun teh yang dimiliki Van De Jong tersebut.Bonusnya nih, saat menuju Kaligua kita akan disuguhi pemandangan sawah dan kebun bawang yang memanjakan mata. Walau jalannya naik turun dan berliku, tapi mata rasanya enggan berkedip melihat keindahan hamparan hijau bak permadani.

img_20161118_100124_hdr

Sekitar 15 menit sebelum tiba di Kaligua, jangan lupa mampir sejenak di Telaga Ranjeng dan hutan pinusnya. Dari luar sepertinya telaga ini biasa-biasa saja, namun seperti ada aroma mistis didalamnya. Konon, telaga ini dihuni oleh mahluk gaib yang dipercaya akan terganggu jika ada manusia yang berenang atau bersampan di atasnya. Emmm….

Uniknya, di tepi telaga pada waktu-waktu tertentu ada ratusan bahkan ribuan ikan mas dan lele yang berebut meminta makan dari pengunjung. Persis seperti kumpulan ikan mas siap goreng yang sering kita temui di rumah makan Sunda. Ikan-ikan ini hidup bebas, berkembang biak tanpa boleh diambil seekor pun. Katanya sih.., siapa yang berani menangkap ikan-ikan tersebut akan mendapat musibah. Wallahualam. 

img_20161118_101813_hdr

img_20161118_101659_hdr

Kalibaya, Puncak Lio

Ini dia tempat main yang kekinian di Brebes. Kalibaya adalah obyek wisata yang dikembangkan mandiri oleh penduduk sekitarnya. Menurut saya sih akan jadi trend tempat selfie baru setelah Tebing Keraton di Bandung dan Kalibiru di Yogyakarta.

Dari ketinggian sekitar 2000 mdpl, kita bisa melihat pemandangan alam Brebes yang menentramkan hati. Bahkan kita bisa ngopi-ngopi di tatanan bambu yang dibuat tepat di pinggir jurang. Di tempat ini juga dibangun mini ouutbond lengkap dengan motor-motor mini offroad. Yang mau camping juga bisa loh!! Taman Kalibaya dilengkapi area camping dengan fasilitas toilet dan air bersih yang cukup.

c360_2016-11-18-17-51-06-231

Masih ada beberapa wisata alam di seputaran Kalibaya seperti rafting di Ranto Canyon dan Hutan wisata Panenjoan yang semuanya berada di Kecamatan Salem. Tapi tidak usah pergi kemana-mana, alam Salem saja sudah menggoda. Sejauh mata memandang ada hamparan sawah yang membentang indah. Beberapa diantaranya tersusun seperti sawah terasering di Bali. Ya, sayangnya ini bukan Bali, jadi belum ada satu pun hotel apalagi resor disini.

Di Salem juga ada pengerajin batik tulis rumahan yang murni menggunakan bahan-bahan alami. Ibu-ibu pembatik itu sebagian besar adalah buruh tani yang bekerja di sawah pada pagi hari dan membatik di waktu senggangnya. Hasil batik mereka masih bertema dan bermotif “old fashion”, namun justru itulah yang menjadi keunikannya. Cerita lengkap tentang batik Salem akan saya tulis terpisah ya….

img20161118154552
batik salem

Menuju Salem cukup perjuangan, karena jalannya yang mendaki dan berkelok. Namun ketika tiba disana bahkan sepanjang perjalanan, rasa lelah pasti terbayar. Mata sudah dimanjakan oleh pemandangan yang mendamaikan hati. Bagi yang sedang wisata alam yang masih benar-benar alami, wajib deh datang ke Salem!

Jadi kapan ke Brebes?

Kontak Taman Kalibaya; Arie (0819-0212-5551)

 

 

Hits: 1537

Kalau berkunjung ke Bali untuk menenangkan diri, saya pasti memilih Nusa Dua sebagai alternatif pertama. Jika bosan dengan keramaian dan hedonisme ala Kuta, Nusa Dua adalah tempat yang paling tepat untuk menyepi, meditasi dan menulis tentu saja! Pucuk dicinta ulam tiba, minggu lalu saya dan beberapa teman blogger menerima undangan dari Inaya Putri Bali. Cocok banget, lokasinya memang ada di kawasan Nusa Dua yang eksklusif dengan private beach.

blog1

Inaya Putri yang Bali Banget…

Baru masuk lobi saja, mata sudah dimanjakan oleh pemandangan di sekitar hotel. Dari lobi yang berkonsep open air, kita bisa melihat penjuru seluruh area resor. Di kejauhan nampak pohon nyiur dan pantai yang seolah memanggil-manggil saya untuk bercengkerama. Arsitektur lobi yang megah, dengan dominasi paduan material kayu, berbaur dengan nuansa eksotis. Lobi keren itu dirancang oleh Ridwan Kamil yang sekarang jadi Walikota Bandung. Ya, siapa sih yang kenal beliau ini… Polanya mengadopsi bentuk lumbung padi yang dalam Bahasa Bali dinamakan Jineng. Detail atap dan tonggak-tonggak pendukung yang mencitra sisi tradisional merefleksikan pentingnya lumbung padi bagi masyarakat tradisional Bali.

blog11

 

Akomodasi yang ditawarkan Inaya Putri Bali juga tidak lepas dari nafas kehidupan tradisional Bali dengan ikon jantung resor, yang diberi nama area Penglipuran. Tamu yang memasuki area Panglipuran seolah berjalan di desa yang terletak di area Kintamani dan Gunung Batur tersebut. Ketujuh bangunan di Panglipuran memiliki nama berdasarkan Tujuh Dewi yang menjadi jiwa INAYA Putri Bali. Ketujuh dewi tersebut adalah Rukmini (Dewi Kecantikan), Saraswati (Dewi Pengetahuan, Seni Spiritualis dan Musik), Sri Laksmi (Dewi Kemakmuran), Dewi Sri (Dewi Kesuburan), Parwati (Dewi Alam Semesta), Uma (Dewi Tanpa Batas), dan Sinta (Dewi Cinta dan Kemurnian). Total ada 460 kamar, dengan beberapa pilihan kamar dan suite yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan para tamu.

Makan enak, Tidur nyaman

Kamar saya terletak di Puri 6 yang terhubung langsung dengan private pool kamar-kamar lain di sebelahnya. Siang itu, Nusa Dua memang panas banget, belum apa-apa rasanya saya sudah ingin nyemplung dan tidak ingin pulang. Kamar dengan dua bed besar tersebut, cocok banget buat liburan keluarga. Kamar mandinya juga luas, lengkap dengan bathub dan toiletris premium. Tidur pun rasanya pasti bermimpi indah. Hehehe..

private pool
private pool

blog9

Nah, penting banget… di setiap kamar ada meja tulis yang langsung menghadap ke kolam renang. Cocok banget buat saya yang saat itu lagi punya banyak deadline pekerjaan. Eitss,..jangan bingung dulu…buat saya memang pekerjaan dan liburan itu satu paket! Soalnya memang pekerjaannya butuh suasana yang seperti ini. Penting juga nih, setiap kamar di Inaya Nusa Dua sangat colokan friendly dan tentu saja free wifi! Yang kece banget adalah jaringan wifi-nya sampai di tepi pantai loh! Di sore hari, saat duduk-duduk di private beach-nya, saya tetap bisa menikmati wifi, padahal jaraknya lumayan jauh dari gedung utama hotel. 

kolam renang utama
kolam renang utama
tell me how to move on from the beach...
tell me how to move on from the beach…

Setelah siangnya menikmati semua fasilitas hotel, di malam hari saya dan teman-teman blogger mencicipi sajian khas Nusantara di Homaya Restaurant. Saya memesan Ikan bakar bumbu dabu-dabu sebagai main course. Enak banget, kalau kurang pedas kita bisa memesan sambal matah khas Bali untuk membuat santapan lebih “nendang”. Sambil diiringi live music, malam itu kami makan di bawah super moon. Hmmmm romantis! Sarapan pagi disediakan di Gading Restauran, lokasinya oke banget untuk menikmati matahari pagi dengan pemandangan pantai, kolam renang  dan taman Inaya yang tertata apik. Karena hotel ini dirancang buat tinggal berlama-lama, tersedia juga Ja’Jan Bistro yang berada tepat satu level di bawah area lobi. Tempat yang pas untuk menikmati suasana santai dan kasual tanpa harus keluar hotel.

makan malam bersama
makan malam bersama

Bagi Saya menghabiskan waktu di Inaya adalah mengkombinasikan liburan dan pekerjaan. Malamnya sebelum tidur, saya masih menyempatkan membuka laptop, mengecek beberapa email. Di luar hujan cukup deras, suara rinainya jatuh dengan cantik di kolam yang berada tepat di depan meja kerja. Saat-saat seperti itu, buat saya adalah waktu terbaik untuk mencari inspirasi dan mengembangkan imajinasi. Paginya setelah sarapan, saya masih bisa duduk di tepi pantai, selonjoran sambil menulis. Sebelum check out, saya sempatkan berenang di kolam yang laksana milik pribadi. Priceless! Kali lain, saya mesti kembali dengan keluarga.

blog8

 

INAYA Putri Bali

Kawasan Wisata Nusa Dua Lot S-3

Bali – Indonesia

Phone: +62 361 774 488

www.inayahotels.com

Hits: 1042

Membayangkan macetnya tol Jagorawi di Senin pagi sama sekali tidak membuat semangat saya hilang untuk segera tiba di Solo. Jarang-jarang nih bisa mengeksplore salah satu daerah heritage Indonesia ini, apalagi akan menginap di Best Western Premier Solo Baru (BWPSB), salah satu hotel chain terbesar di Solo. Bersama Mas Disgiovery, pagi pagi banget saya sudah nangkring di Bandara Halim Perdana Kusuma. Biarpun blogger keren ini sudah hampir menjelajah seluruh Indonesia, ternyata dia baru pertama kali ke Solo, loh!. Klop deh, saya juga pertama kali untuk liburan!

bandara
Welcome to Solo!

Pesawat Citilink yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sumarmo Solo. Hmmm, ngomong-ngomong Adi Sumarmo siapanya Adi Sucipto, ya? Kalau kakak beradik, hebat yaa,..masing-masing punya bandara, pasti orang tua mereka bangga banget. Stop!! Garing!! Hehehe. Kami dijemput oleh staf BWPSB dan langsung menuju hotel.  Sepanjang jalan -persis lah kayak turis sok keren- semua sudut kota Solo tidak luput dari pertanyaan kami. Untungnya Mas penjemput yang baik hati, tetap melayani semua celotehan kami dengan senyum manis.

***

Rencananya, selama dua hari saya dan beberapa teman blogger akan mengeksplore kota Solo. Bagian ini akan saya ceritakan di tulisan terpisah ya, sekarang saya mau cerita dulu tentang BWPSB yang terhitung hotel baru di Solo. Awalnya, Saya tahu chain hotel internasional ini justru saat berkunjung ke Phoenix, Amerika Serikat. Disana Best Western (BW) hampir ditemui di setiap sudut kota di negara bagian Arizona. Ternyata, headquarters BW memang ada disana. Makanya standar fasilitas dan pelayanan BWPSB pun mengikuti standar Amerika. Sekedar informasi, BW mempunyai tiga tipe hotel yaitu; Best Western Core, Best Western Plus dan Best Wester Premier. Jadi kebayang dong, fasilitas BWPSB pasti lebih baik dari dua tipe lainnya. Hebatnya BW tipe Premier justru lebih banyak di Asia daripada di negara asalnya. Artinya pasar kelas premium di Asia termasuk Indonesia; cukup besar. Oh ya.. dari 12 hotel di Indonesia, BW Premier ada di dua kota lain selain Solo yaitu; Jakarta dan Bandung.

blog1
welcome greetings

Nyaman, Strategis, Lengkap

Konsep yang dibangun oleh BWPSB adalah kenyamanan dan kelengkapan fasilitas di tengah pusat kota. Posisinya juga strategis karena dikelilingi dua mall besar, dekat dengan pusat kota dan ke depannya tidak jauh dari lokasi akan dibangun rumah sakit berskala internasional. Cocok buat siapa saja yang berkunjung ke Solo baik untuk urusan bisnis atau liburan. 

lobi
lobi dari lantai 2

Dari sejak masuk lobby, BWPSB sudah memberikan rasa feel hommy.  Lobby-nya luas, mewah dan cozy. Kalau tiba disini sebelum jam check in, kita bisa menunggu sambil main billiard, atau mencicipi wine di Chrysolite Lobby Lounge. Eh, ada wine yang sudah lebih dari 10 tahun loh!

Lobby luas lengkap dengan meja billiard
Lobby luas lengkap dengan meja billiard

Total ada 384 kamar dengan 5 type di BWPSB, yaitu Superior, Deluxe, Super Deluxe, Suite dan Premier. Range harganya cukup terjangkau kok untuk Hotel Bintang 4+. Ssst,…Room Premier sering digunakan oleh beberapa petinggi negara, salah satunya adalah Presiden RI yang sudah purna tugas. 

Kamar saya ada di lantai 18, di koridornya ada kaca besar yang membuat kita bisa berlama-lama memandangi kota Solo. Cantik sekali. Kamar Superior ini sangat nyaman, dengan tempat tidur yang bikin kita betah plus ada meja kerja! Ini penting banget buat saya yang sering menghabiskan malam dengan menulis. Kamar mandinya pun cukup luas dengan toiletris yang lengkap plus segala perlengkapan kecil-kecil yang kadang kita lupa bawa dari rumah. Asyiknya, buat yang banci colokan, kamar-kamar di BWPSB punya colokan dimana-mana. So, kalau traveling bersama teman dan keluarga, tidak perlu membawa kabel ekstension atau gantian nge-charge gadget. Setiap tamu juga diberikan internet berkecepatan tinggi dengan akses yang sama di seluruh penjuru hotel. Jadi kita tidak usah repot-repot login ulang jika keluar kamar.

deluxe room
deluxe room
Bocoran nih buat para budget traveler yang ingin mencicipi BWPSB; sering-sering mengunjungi website-website booking hotel, karena di beberapa waktu tertentu BWPSB menawarkan smart room, yang harganya miring tapi fasilitasnya tetap sama seperti kamar-kamar lain. Lumayan kann…

Hari pertama di Solo, belum apa-apa saya sudah capek mengelilingi Pasar Klewer dan Keraton. Panasnya Solo itu benar-benar panas, sampe matahari juga mungkin kepanasan..hehehe.. (menirukan anekdot seorang komika), tapi rasa penasaran dengan Solo membuat semua lelah menjadi tak terasa. Apalagi ketika kembali ke BWPSB, fasilitasnya benar-benar memanjakan. Ada Bhuvana Spaluxe yang siap membuat tubuh lentur kembali, setelah itu kita bisa lanjut nongkrong-nongkrong cantik di Skyline yang terletak di lantai 22. Di malam-malam tertentu ada live music akustik yang keren dengan sajian makanan unik dan berganti-ganti setiap minggu. Hmmm, memandang keindahan Solo dari ketinggian, ditemani lagu-lagu Glenn Fredly dari live music, bisa membuat kita memasuki masa galau, loh! Makanya kalau kesini, jangan sendirian yaa… *senyum 🙂

fitness-center
fitness center

 

 

kolam

Paginya setelah pulas beristirahat kita bisa mencoba fitness center dan berenang di lantai 3. Kolam renangnya bermodel infinity alias seperti tak berbatas. Kekinian dan sangat instagramable! Sayang, kemarin saya lupa membawa bikini eh,..baju renang muslimah. Jadilah saya cuma duduk sendirian di pinggir kolam yang menyatu dengan bar. Asyik deh, kita bisa berenang dan pesan minuman tanpa beranjak dari kolam renang. Kalau tidak sempat keluar hotel, boleh juga menunggu sunset atau sunrise di area kolam renang yang katanya yang paling bagus di Solo.

Fasilitas MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) Terbaik di Solo

BWPSB kini menjadi salah satu pilihan terbaik untuk kegiatan-kegiatan konfrensi dan seminar di Solo. Dengan variasi ruang meeting dan konferensi, hotel ini bisa menjadi alternatif untuk kegiatan-kegiatan korporasi. Tidak tanggung-tanggung ruang konferensinya yang paling besar bisa menampung 2500 orang sekaligus dan ini adalah ruang konfrensi terbesar di Solo. Tidak heran kalau beberapa artis ternama pernah mengadakan konser disini. Parkirannya gimana?! Jangan khawatir, tempat parkirnya pun luas dan lega. Jadi kalau ada kegiatan massal, kita tidak perlu rebutan tempat parkir atau sampai harus parkir di luar gedung.

blog5
satu sudut ballroom

Buat yang mau kawinan, ini juga boleh jadi alternatif, loh!. Selain daya tampung yang besar tadi, dijamin AC-nya paling dingin karena didukung oleh eternit yang tinggi. Biasanya kalau kita kondangan di gedung, jika tamu sudah membludak, pasti akan terasa panas dan tidak nyaman. BWPSB menjamin, sirkulasi udara di Ballroom-nya sangat baik.  Nah, yang memang lagi hunting gedung pesta pernikahan di Solo, buruan booking! Untuk 2017 ball room BWPSB hampir fully book!

Ini nih yang paling penting! Makan!! Dua hari bermalam disini, saya puas sekali dengan sajian makanannya. Tidak hanya suguhan makanan nasional dan internasional, chef-chef berpengalaman di BWPSB juga mahir mengolah berbagai makanan khas Solo. Pokoknya kalau sibuk dan tidak sempat mencari makanan lokal, tenang…. hotel bisa menyediakan semuanya. Oya, saat sarapan pagi, jangan lupa mencoba jamu beras kencur dan cream yogurt-nya. Seger banget!

dessert yang menggoda
dessert yang menggoda
Penyajian makanan tradisional
Penyajian makanan tradisional

Terakhir, ditengah menjamurnya hotel hotel baru di Solo, BWPSB bisa jadi rekomendasi terbaik. Dengan segala kelebihannya; lokasi, fasilitas, berstandar internasional dan kenyamanan yang ditawarkan, bolehlah BWPSB disebut hotel all in one.

Jadi Kamu kapan main ke Solo?

narsis sebelum pulang, terima kasih BWPS!
narsis sebelum pulang, terima kasih Best Western!

Best Western Premier Solo Baru

Tel : +62 271 621 666   Fax : +62 271 788 0921
Email : reservation@bwpremiersolobaru.com
Address : Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Sukoharjo – 57552, Jawa Tengah – Indonesia

 

 

Hits: 2186

“Saya membatasi penggunaan teknologi untuk anak-anak di rumah” ungkap Steve Jobs seperti dikutip oleh New York Times 2010 lalu. Pada masa-masa bermain, Jobs membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu di luar rumah, bercengkerama dengan alam bukan games online yang membuat mereka seperti tidak kenal dunia lain. Jobs ngeri membayangkan hilangnya kehangatan di meja makan, karena anak-anak mulai kecanduan gadget. 

45d7772b-ff4d-4a94-b44b-ffa9c0d6a167

Jika Steve Jobs saja masih percaya alam adalah tempat bermain terbaik, kita sendiri kapan terakhir bermain di luar ruang? Mungkin generasi yang lahir setelah tahun 2000 apalagi anak-anak yang tinggal di kota metropolitan, tidak tahu namanya engklek, tidak pernah main kelereng dan tidak tahu apa itu gobag sodor. Kini mana ada lagi anak-anak yang bermain petak umpet di halaman rumah. Mana ada lagi anak-anak berpeluh mengejar layangan putus di sore hari.  Sudah sulit mencari anak-anak perempuan bermain tali dan bermain bekel di teras rumah, karena update status dan posting foto di sosial media (yang ternyata tidak sosial) lebih diminati. 

lagi kerja ini..bukan main games online..
lagi kerja ini..bukan main games online..

Mengurangi kerinduan akan masa-masa itu, Sabtu 8 Oktober 2016 lalu saya dan beberapa teman blogger mendapat kehormatan dari Menpora untuk meliput Tafisa (The Association For International Sport For All) Games 2016. Berbanggalah, pada 2016 Indonesia jadi Tuan Rumah perhelatan akbar olahraga tradisonal yang dihadiri oleh 87 negara ini. Tafisa merupakan satu-satunya pesta olahraga internasional yang berisi berbagai perlombaan dan eksibisi olahraga tradisional dan rekreasi dengan keunikan kultural. Ajang empat tahunan ini menjadi media pertemuan dan penjalinan persahabatan yang erat antar seluruh warga dunia yang mencintai olahraga tradisional. 

bersama Pak Menteri sebelum muter muter...
bersama Pak Menteri sebelum muter muter…

Satu hari penuh Pak Menteri mengajak kami berkeliling Ancol, melihat dari dekat berbagai perlombaan yang digelar. Bahkan beberapa kali Pak Menteri dengan asyik mengajak kita mengikuti beberapa lomba. Beliau semangat banget mencoba hampir semua permainan. Salut saya dengan staminanya! Gak ada capeknya!! Cuaca mendung dan sedikit gerimis sama sekali bukan halangan. Dari naik perahu naga, mencoba permainan lempar bola ala Perancis, jalan kaki keliling Ecopark, main dengan Enggrang, mencoba lembar batu ala Polan hingga menonton pagelaran tari asal Jambi. Belum lagi melayani ratusan pengunjung yang mau selfie. Aduhhhh…..begitu toh kalo jadi menteri! *Siap siap kali aja besok-besok ditelpon Jokowi lagi. Hahahaha.. 

197f7060-02ba-480c-9b56-6bf3d8479e4e
salah satu tarian lokal…

Saya baru tahu ternyata permainan engklek  juga ada di Spanyol dan Perancis. Itu loh, permainan dimana kita harus meloncati tanah atau batu yang sudah dibentuk persegi atau bulatan. Buat yang gak tau, bisa jadi kalian “terlalu anak kota” sehingga mungkin tidak pernah main di luar rumah. 😀  Engklek Indonesia lebih sederhana, kita tinggal loncat pada batu  yang berurutan, bisa dengan satu atau dua kaki. Sementara engklek Spanyol, harus jalan mundur dengan satu kaki pada kotak-kotak yang sudah diberi nomor. Kalo diperhatikan memang lebih mudah engklek Indonesia, seolah jadi cermin bangsa kita memang senang yang “mudah mudah” saja. Hehehehe.  

Pak Menteri main engklek..
Pak Menteri main engklek..

Uniknya, -meskipun seperti turnamen- Tafisa bukan seperti olympiade.  Tidak ada juara dan medali. Juaranya adalah kebersamaan, sesuai dengan tagline Tafisa : Unity in Divesity. Puluhan atlet berkumpul dari berbagai negara berbagi kebersamaan dengan keceriaan dan kegembiraan. Di satu sisi, sekelompok bule bertanding menyodok bambu panjang dengan beberapa pria lokal. Persis seperti main tarik tambang, tapi tambangnya diganti bambu serupa yang sering digunakan dalam panjang pinang. Hmm, kebayang gak?!

Sementara itu di pantai karnival, siapa pun boleh mencoba volley pantai asal bisa mengumpulkan pemain sendiri. Boleh juga mencoba perahu naga pun bersama siapa pun yang kita mau. Lintas bahasa, lintas negara. Wah, ternyata, permainan tradisional bisa juga menjadi bahasa yang universal. Kostum unik dan lucu dari para delegasi, membuat kegembiraan terpancar jelas di wajah mereka. Ya, ini memang bukan seperti kompetisi.

6bb60653-3359-444e-b917-8efbf70eaea2

Salah satu yang juga menarik adalah sekelompok orang Bandung yang menamakan diri Komunitas Hong. Saya sempat berbincang dengan salah seorang pendiri satu-satunya komunitas yang melestarikan permainan tradisiona ini.  Katanya, komunitas ini juga mempelajari banyak permainan tradisional dari negara lain. Tidak main-main loh, mereka melakukan riset yang serius untuk mengetahui makna dan filosofi dibalik sebuah permaianan.

a046886c-261f-4d16-aaa6-c330c9112386
di barak komunitas hong..

Sayang,  gaung acara ini tidak terlalu kinclong. Namun bagi saya, bukan masalah publikasinya, tapi semangat Tafisa-lah yang harus lebih banyak ditularkan. Kita mungkin lupa berapa banyak kultur  dengan “local wisdom” diperoleh dari bermain, dan bagaimana semua itu hampir tinggal cerita, saat nyaris semua permainan telah menjelma dalam format digital.  

Tafisa 2016 jadi awal kita bernostalgia, mengenang masa-masa dimana kekerabatan ada tanpa sekat dan masa  saat kuota internet bukan segala-galanya. Lebih penting lagi sebenarnya ini adalah cara kita menjaga budaya bangsa.  Cara kita “menjual” Indonesia yang kaya akan budaya, nilai dan filosofi. Kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Credit Picture to:

www.obendon.com

www.adlienerz.com

www.peekholidays.com

www.thetravelearn.com

www.bawangijo.com

www.tindaktandukarsitek.com

www.winnymarlina.com

www.parah1ta.jalanjalanyuk.com

missnidy.blogspot.co.id/

 

Hits: 1224

Kalau ada yang bilang home is where the love is, mungkin Museum Peranakan Penang bisa menjadi contoh rumah yang penuh cinta.

Museum ini awalnya rumah biasa, kediaman seorang keturunan Tiongkok bernama Chung Keng Kwee yang didirikan pada akhir abad ke-19. Babah, sebutan untuk Chung Keng Kwee konon merupakan orang paling kaya di Penang pada masanya. Babah menikah dengan beberapa wanita lokal Melayu, karena itulah museum ini sering juga disebut Museum Babah Nyonya. Hebatnya istri-istrinya itu, dulu hidup rukun di rumah yang kini sudah menjelma menjadi museum tersebut. Kalau jaman sekarang ada gak yaaa, para madu yang mau tinggal serumah begitu?  Ada sih pasti ya, apalagi kalau suaminya semapan dan sekaya Baba. Hehehe.. 

museum9
Ruang Utama di Pintu Masuk

Salah satu itinerary jalan-jalan saya ke Penang beberapa waktu lalu adalah berkunjung kesini. Awalnya saya tidak memang terlalu banyak berekspektasi. Saat tiba di lokasi pun, museum ini hanya seperti rumah Melayu yang dari luar terlihat biasa saja, bahkan tidak tampak seperti museum. Halamannya sempit dengan kapasitas parkir tidak lebih dari lima enam buah mobil saja. Saya sempat berpikir: apa sih istimewanya sih tempat ini…

Ruang Keluarga
Ruang Keluarga

img-20160814-wa0155

Ternyata memang istimewa…

Ada dua bagian utama  yang saling terhubung di museum ini. Bagian pertama dulunya merupakan tempat tinggal keluarga Babah sementara bagian kedua menjadi tempat untuk mengelola bisnisnya. Pengunjung terlebih dulu akan memasuki rumah utama di bagian pertama sebelum menjelajah sisi bangunan yang lain. Baru masuk, sebuah ruang besar akan menyambut kedatangan pengunjung. Bagian tengah ruangan ini dibiarkan kosong dan terbuka tanpa plafon agar cahaya matahari bebas lepas masuk ke dalam rumah. Konsep ini sebenarnya ditemukan juga di kelenteng atau vihara. Fungsinya, selain memperlancar sirkulasi udara, juga mengandung filosofi  rejeki yang yang lebih lancar mendatangi empunya rumah.  

 

museum7

Berhadapan langsung dengan ruang terbuka itu, ada meja besar yang berfungsi selain sebagai meja makan keluarga, juga sering digunakan untuk menerima tamu bisnis. Uniknya, di kiri dan kanan meja tersebut, diletakkan dua kaca berukuran besar yang berfungsi layaknya CCTV. Seluruh aktivitas ruangan utama terpantul pada kedua cermin tersebut. 

Masih di lantai satu, berdampingan dengan ruang utama ada jalan tembus menuju vihara pribadi dan masih digunakan hingga saat ini. Konsepnya masih sama, kosong di bagian tengah, namun penuh ornamen khas Tionghoa. Bedanya hanya tidak didominasi warna merah, melainkan warna abu-abu dengan ukiran-ukiran besar yang didominasi warna hijau, abu abu dan emas.

vihara
vihara

Hampir seluruh sudut rumah penuh dengan guci antik dan kristal-kristal mahal. Semuanya dipajang pada lemari-lemari kaca yang tidak boleh disentuh. Lukisan lukisan bergaya tiongkok terlihat di beberapa bagian ruangan. Dengan penataan yang cenderung minimalis, dipilih perabot yang berkesan klasik dan menunjukkan kelas sosial sang pemilik rumah. Walau dipenuhi aksesoris, tata letak keselurahan tetap memberi kesan luas, yang membuat pengunjung bebas mengamati barang-barang koleksi. Mungkin dulunya memang dibuat leluasa, agar anggota keluarga dapat nyaman bercengkarama.  Secara total jumlah koleksi museum ini mencapai 1000 buah. Benar-benar gila dan gak tanggung-tanggung buat semua “rumah biasa”.

museum2

Dari lantai dua, seluruh aktivitas di lantai satu bisa dipantau, karena keduanya dibuat terbuka dan dihubungan dengan tiang kayu yang sangat eksotis. Lantai dua sebenarnya tidak terlalu luas, namun penempatan kaca-kaca yang nyaris sebesar dinding membuat ruangan tampak lebih leluasa. Disini juga ada kamar tidur utama, lengkap dengan seperangkat kursi dan dipan antik yang berkelambu. Pada satu sisi dipajang pula koleksi kain milik Nyonya Rumah. 

Ruang Tidur Utama
Ruang Tidur Utama

Nah, bangunan kedua yang terletak di belakang rumah utama dulunya memang digunakan sebagai workshop empunya rumah. Salah satu bisnis Baba dulunya adalah pembuat perhiasan emas. Di satu sisi, dipresentasikan perangkat pengerajin emas. Sementara pada sisi berdampingan, dipamerkan koleksi perhiasan keluarga ini. Wah, sampe tak berkedip mata ini melihat kinclongnya deretan perhiasan mahal dalam kaca-kaca kristal yang tebal. dengan pengamanan berlapis.

menempa emas..
menempa emas..

Kebayang dong harganya,… kalau jadi warisan kita di Indonesia, bisa gila bayar tax amnesty-nya!! Hehehehe. Sementara itu dinding workshop dihiasi koleksi  tekstil dan busana perempuan melayu kuno yang tertata apik dalam bingkai tembus pandang. Tidak itu saja, belok sedikit dari workshop, dipamerkan deretan perangkat dapur yang kini mungkin hanya bisa kita temui di rumah nenek. Uniknya, lantai di bangunan kedua, konon didatangkan dari Inggris. Motifnya memang unik, seperti ada karpet yang nempel di lantai.

museum8
Ruang Koleksi Perhiasan

Keseluruhan, isi museum ini menakjubkan. Pantas saja menjadi salah satu bagian dari World Heritage Site of Georgetown. Tampak depan yang biasa-biasa saja, ternyata tidak mencerminkan isi dalamnya. Buat yang mau ke Penang, saya rekomen deh tempat ini. Bukan cuma keren buat foto, tapi juga edukatif banget, pas untuk liburan keluarga.

 source featured image: www.kasublog.com

 

 

Hits: 1433

“Sabar ya, ini mesti dipukul-pukul biar bulu babi-nya keluar” kata petugas hotel. Sementara Saya masih tetap berusaha tenang sambil menahan perih. Ifan, teman perjalanan Saya, malah menyarankan untuk segera googling. Padahal boro-boro googling, bahkan sinyal sms pun susah!! Dasar orang kota!! Apapun masalahnya, solusinya cuma satu: googling!

Nah.. kebayang gak sih rasanya keinjek bulu babi? Buat yang biasa main ke laut, berenang saja maupun snorkeling apalagi diving, pasti tau banget nih ranjau satu ini. Hewan laut bernama internasional Sea Urchin ini memang pembunuh berdarah dingin. Dari jaman masih kuliah di Fakultas Perikanan yang praktikumnya sering ke laut, bulu babi adalah monster yang harus dihindari. Keinjek dikit, duri-duri tajamnya bisa masuk ke dalam kulit, bikin nyeri, badan panas dingin dan racunnya bisa membunuh. Serius!

Dua bulan lalu.. saat jalan jalan ke Pantai Ora, di Maluku saya kena kecelakaan kecil. Ceritanya, selepas eksplor Desa Saleman, di hari kedua kami pindah ke Ora Beach Resort. Biar  merasakan liburan agak berkelas gitu loh! Secara lumayan mahal sih, buat satu malem nginep di disini. Ketika kapal kecil kami merapat di darmaga resor tersebut, sontak semua teman-teman segera mengangkut barang-barangnya ke kamar karena tidak ingin menunggu untuk menikmati air biru tosca Ora yang memancing siapa pun untuk nyebur.

dari google
dari google

Kamar di Ora Beach, asyik banget.. bikin betah berlama-lama (apalagi buat yang honeymoon…upsss..) Dasarnya saya emang mental asisten RT, ketika teman-teman saya sudah sibuk nyari spot snorkeling, saya masih asik bebenah bagasi dan rapih-rapihin kamar (yang padahal sudah rapih) plus menikmati matahari dari kamar saya. Dilala, ketinggalan-lah gw!

Ah, gak masalah..kan saya biasa snorkeling sendirian. Nggak perlu juga jauh-jauh… toh di bawah kamar pun bisa tinggal loncat kok! Dan inilah pangkal awal cerita. Saya nekad nyebur, tanpa pakai pelampung, tanpa fin…Toh dalamnya paling cuma setinggi dada orang dewasa… Eh, sial! belum sampai 10 menit tiba-tiba..Nyesss.. serasa ada yang menusuk-nusuk telapak kaki kanan saya.  Udah pasti deh, ini bulu babi pikir saya. Cepat-cepat saya naik ke jalanan bambu yang menghubungkan antar kamar. Rasanya sih ketusuknya hanya dalam beberap detik, ternyaataaa banyak banget bulu babinya, saudara-saudara!! Syerem deh..

Beberapa tahun yang lalu, di Sabang Aceh saya juga pernah mengalami kejadian serupa. Tapi karena cuma satu duri saja yang menancap, mengeluarkannya pun tidak ribet. Sudah umum diketahui, step pertama adalah menghilangkan racunnya. Gimana caranya? Dikencingin alias dipipisin! Boleh pake air pipis sendiri atau kalau ada yang mau jadi volunteer pun boleh. Hehehe…  Kenapa? Karena air seni yang mengandung amoniak memang ampuh mematikan racun bulu babi.

Tak berapa lama, petugas hotel (yang sepertinya merangkap P3K) mendatangi saya. Ia membawa kayu gede yang mereka sebut kayu kapah kapah lengkap dengan jarum dan botol alkohol. Ternyata menurut kebiasaan disana, anggota tubuh yang terkena bulu babi harus dipukuli hingga berdarah. Beneran dipukuli loh! Katanya, ini bertujuan agar mengeluarkan bulu babi menjadi lebih mudah, karena rongga kulit akan terbuka. Alhasil, saya yang awalnya masih bisa cengengesan, benar-benar merasa kesakitan. Bukan karena sengatan bulu babi, tapi karena pukulan kayu kapah tadi. Ampun banget….

dipukul dan dicungkil...
dipukul dan dicungkil…

Setelah 30 menit berkutat dipukuli dan dicungkili, ternyata bulu babinya  tetap tidak keluar. Dari sekitar 20 buah duri yang menancap, tak satupun berhasil tercungkil. Bahkan beberapa duri hanya meninggalkan lubang yang berdarah. Akhirnya saya pun menyerah. Saya bilang ke petugas hotel dan pemandu kapal kami. Adakah dokter atau mantri di dekat-dekat situ? Mengingat itu hari Sabtu dan sudah sore, kemungkinan Puskesmas sudah tutup. Satu-satunya alternatif adalah mantri desa. Singkat cerita, saya dibawa dengan kapal menyebrang kembali ke Saleman untuk menemui Mantri Desa.

Mantri Desa buka praktek di rumahnya yang hanya sekitar 50 m dari bibir pantai. Di rumah kayu khas Saleman ini, ia juga membuka warung. Ketika menunggu, saya berbincang dengan beberapa penduduk asli. Seorang Bapak, menertawakan Saya. Dengan santai Ia bilang: “Wah…saya sih sudah bisa, tiap malam juga kena!” Yah, wajar, karena pekerjaan si Bapak ini memang nelayan. Sambil bercanda Ia melanjutkan, mungkin dirinya sudah kebal, cukup dengan air kencing, dan dipukul-pukul biasanya sudah hilang sendiri. Ada lagi Ibu-ibu yang mengusulkan lebih baik disuntik, dijamin mantap dan bisa main bola lagi besok. Saya tertawa, keramahan mereka membuat sakitnya pun jadi tidak terasa. Kata mereka, masih untung kena bulu babi yang berwarna hitam. Ada bulu babi berwarna biru dan ungu yang racunnya lebih mematikan. Untung sih untung..tapi kan tetep aja sakit…:p

Tibalah saat bertemu Pak Mantri. Ia orang Ambon asli, wajahnya datar, tanpa ekspresi, tidak ada basa-basi, bahkan bertanya kenapa pun tidak. Hmmm…sejujurnya agak kurang meyakinkan sebagai mantri. Ia hanya menawarkan untuk disuntik agar bulu babi keluar dengan sendirinya dan tidak perlu dicungkil-cungkil lagi. Saya menurut saja, sambil memastikan bahwa jarum suntik yang digunakan masih baru.

Eng..ing..eng.. tau kan rasanya ketusuk bulu babi ? buat yang belum pernah silakan dicoba deh.. TAPIII… itu belum seberapa jika dibanding suntikan Pak Mantri. Suntikan yang tepat di telapak kaki itu.. SAKITNYAA LUAR BIASAAAA… bisa 100 kali lipat dibanding kena bulu babinya sendiri. Saya sampe tinggal diem dan udah gak bisa nangis (saking sakitnya). Setelah 5 menit akhirnya rasa sakitnya mereda. Pak Mantri memberi saya semacam parasetamol dan antibiotik, katanya buat jaga-jaga kalau demam.

Kami pun kembali ke Ora. Ajaib,.. dalam waktu 15 menit saja, nyerinya hilang blasss!!  Ternyata bulu-bulu babi itu luruh sendiri akibat disuntik. Pak Mantri memang joss! Meskipun jalan saya masih terpincang-pincang dan sedikit diperban, besok paginya saya sudah bisa main main di laut lagi. Ya, tau gitu kan tadi gak usah pake drama pemukulan ,..kan???

korban bulu babi...
korban bulu babi…

Cerita selesai?! Belum. Sepulang dari Ora, selama dua minggu saya tetap menghabiskan antibiotiknya untuk membersihkan racun. Di minggu kedua, kok berasa ada yang aneh di telapak kaki kanan. Kesenggol dikit, seperti ada beling yang menancap. Iseng saya ke klinik di kantor. Jrenggg…ternyataa masih ada sebatang bulu babi di di telapak kaki Saya. Rupanya ia betah dua minggu dibawa kemana-mana. Melintas Maluku, Sulawesi hingga tiba di Pulau Jawa.

Lalu Bu Dokter bilang, jika posisinya terlalu dalam, saya harus dibius dan dilakukan operasi kecil. Duh, tiba tiba terbayang wajah Pak Mantri yang sudah “menganiaya” saya dua minggu sebelumnya. Takut banget,.. disuntik lagi.. Alhamdulillah, setelah dicek sekitar 30 menit, tidak perlu dibius dan sebatang bulu babi itu pun keluar dengan manis…

Pyuhhhh… Akhirnya..drama ini pun benar-benar berakhir… 🙂

Hits: 4338

Sering sekali saya tulis di blog ini, bahwa Yogyakarta adalah salah satu kota yang membuat saya “feel hommy”. Mungkin karena Saya dilahirkan di kota ini, tapi tentu saja karena banyak hal lain. Atmosfer Yogyakarta yang nyaman dan bersahabat membuat siapa pun tidak enggan untuk berkali kali datang kemari. 

Enaknya, Yogya menawarkan semua jenis akomodasi, dari level backpacker hingga hotel berbintang. Dari makan di kali lima hingga makan gaya bintang lima. Apapun gaya liburan kamu, dijamin Yogyakarta menyediakan semua pilihan. Nah, beberapa waktu lalu, sekali kali dong mencoba gaya libur horang kayaah.  Saya menginap di Hotel Grand Aston Yogyakarta, hotel berbintang lima ini terletak di Jalan Urip Sumohardjo 37, Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis, terletak di tengah dan dekat dengan berbagai obyek wisata. Ada 141 kamar termasuk suites yang disediakan pihak hotel, dan semuanya didesain dengan elegan. Sementara untuk tipe suites, hotel ini memberikan tiga tema unik yang berbeda yaitu tipe Jawa, Cina, dan Barat. 

674_453_astonyogyakarta_WesternSuiteMainRoom
source: aston-international.com

Seperti jaringan hotel Aston lainnya, fasilitas Grand Aston Yogyakarta pun tak kalah menarik. Saffron Restaurant, merupakan tempat makan utama, disini disajikan berbagai makanan nasional dan internasional. Uniknya di restoran ini pun disediakan penjual jamu tradisional. Bukan cuma botol-botol jamunya loh, ini si embok pedagang jamunya pun ikut melayani para tamu.

Kemana-mana, saya selalu ditemani laptop kecil saya. Pas banget, saat malam saya nongkrong di Vanilla Sky Bar yang berada di lantai 9. Tempat ini menyediakan minuman ringan seperti kopi plus makanan ringan sebagai teman ngopi dan menulis. Pada waktu-waktu tertentu, Vanilla Sky Bar juga menyediakan Live Music dan Live DJ sebagai hiburan bagi para tamu. Sayangnya, ketika Saya mampir, Live Music-nya sedang tidak main. Ada dua bagian di bar ini, yaitu indoor dan outdoor. Indoor keren, outdoor juga pastinya keren, karena kita bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta di malam hari.

source: aston-international.com
source: aston-international.com

Seperti hotel bintang 5 pada umumnya, Grand Aston Yogyakarta juga dilengkapi kolam renang dengan tempat bersantai dan sundeck untuk berjemur. Setelah capek keliling Yogya, kita bisa santai disini atau menikmati layanan pijat tradisional Jawa dan Spa di Pejamata Spa.

Banyak lokasi-lokasi menarik dekat hotel ini diantaranya; Ambarrukmo Plaza. Pusat perbekanjaan setinggi tujuh lantai ini memiliki lebih dari 200 toko. Mulai dari toko buku, toko pakaian, kosmetik, dan juga terdapat pusat perawatan badan dan kecantikan. Di Plaza ini juga ada arena bermain anak, food court, plus bioskop pastinya. Gedungnya, meskipun memiliki design gaya Jawa klasik namun interior yang digunakan cukup modern dan mewah. 

Tidak jauh dari situ, apalagi kalau bukan Malioboro. Siapa sih yang tidak kenal jalan yang sudah jadi maskot Yogyakarta. Turis asing maupun lokal selalu menyempatkan untuk mendatangi jalan Malioboro. Sehingga rasanya tak lengkap jika berkunjung ke Yogyakarta tapi tak mengunjungi Jalan Malioboro. Jalan sepanjang 2,5 km tak pernah sepi dari wisatawan. Di sisi kanan dan kiri jalan bisa ditemukan berbagai macam penjual makanan, souvenir, pakaian, pelukis, dan banyak hal unik lainnya. Di Malioboro juga ada wisata sejarah Benteng Vredeburg; museum yang berisi berbagai macam benda peninggalan masa perjuangan.

Pokoknya, Malioboro adalah miniatur kehidupan Yogya. Batik, becak-becak tradisional dan makanan-makanan khas Yogya semua ada disini. Pastikan kalau pulang dari Malioboro, tidak lupa untuk membeli oleh-oleh khas Yogyakarta seperti batik, bakpia, yangko, geplak, gudeg kering, dan masih banyak lagi.!

soure: www.inditourist.com
soure: inditourist.com

Nah, ini dia tempat yang kaya nuansa seni bernilai tinggi. Kenal Affandi kan… Museum ini memiliki koleksi hasil karya pelukis tanah air yang sangat terkenal itu. Dilengkapi pula dengan karya pelukis-pelukis lainnya. Museum ini empat galeri, dua studio, dan Café yang bernama Café Loteng. Selain lukisan, disini juga terdapat barang barang berharga Affandi semasa hidupnya, seperti mobil yang dibentuk seperti ikan.

Museum Affandi Source: Pegipegi.com
Museum Affandi
Source: Pegipegi.com

Mumpung di Yogya, sempatkan juga berkunjung ke  Taman Pintar Yogyakarta yang memadukan antara rekreasi dan edukasi anak dalam saty tempat. Terdapat banyak arena bermain yang memiliki sarana edukasi yang baik. Selain edukasi, ada juga penjualan buku, theater empat dimensi, taman, dan juga museum. Taman Pintar ini sangat cocok bagi anak usia dini untuk memacu imajinasi dan meningkatkan ketertarikan kepada ilmu pengetahuan.

 

Source: www.reportaseharga.com
Source: reportaseharga.com

Itulah sedikit ulasan tentang Hotel Grand Aston Yogyakarta dan tempat-tempat menarik di sekitarnya. Kamu bisa pesan sekarang, mumpung liburan masih lama. Hotel ini rekomendasi banget buat yang liburan dengan keluarga, rasakan liburan yang mewah, nyaman dengan harga yang terjangkau. Dijamin, biarpun lelah keliling Yogya, setelah kembali ke hotel, kita pasti akan merasa lebih fresh dan siap kembali bekerja dengan ide-ide segar!

Hits: 1196

“Gue mau ke Penang, minggu depan”…kataku ke seorang teman.

“Oh ya, siapa yang sakit?” responnya.

Begitulah, bagi sebagian teman-teman terutama yang bermukim di Medan dan Aceh, ke Penang aka. Pineng identik dengan berobat. Tidak heran, selain pelayanan kesehatan disana diakui banyak orang lebih baik (dan lebih murah), secara geografis jarak Medan, Aceh ke Penang memang lebih dekat. Kalau ke Jakarta butuh terbang sekitar 3 jam-an, ke Penang kurang dari 1,5 jam saja. Belum lagi sekarang makin banyak pilihan pesawat langsung kesana. Tapi…sekarang saya bukan mau cerita tentang Rumah Sakit di Penang, loh!

senja di Penang
senja di Penang

Saya sudah beberapa kali jalan-jalan ke Malaysia, tapi untuk negara bagian Penang, ini adalah kali pertama. Kepergian (ciyee kepergian…macem bahasa puisi) saya minggu lalu, memang dalam rangka sebuah short weekend gateway. Jika biasanya barengan para backpacker atau budget traveler kemarin bersama Ibu Ibu “Sosialita” kantor. Kalau biasanya dengan rombongan ber-carrier segede gaban lengkap dengan peralatan snorkeling, kali ini dengan Ibu-ibu berkoper cantik warna-warni. Jika biasanya dengan teman-teman blogger berkamera besar profesional, kemarin dengan Ibu-ibu ber HP canggih. Dan kalau biasanya dengan teman-teman yang tanpa kostum liburan yang jelas (baca: amburadul) kali ini dengan rombongan Ibu Ibu yang liburan dengan dresscode! Serius!!

blog18
heboh, tapi seru…

Dulu-dulu kalau ke Malaysia, saya jalan sendiri ngalor ngidul dan tidak menggunakan jasa travel. Nah.. kali ini, Ibu Ibu yang baik baik tadi membuat perjalanan lebih ter-organisir dengan semua yang sudah dipesan lebih dulu. Pun karena ini private tour jadi kami ber-8 bisa mengatur sendiri itinerary-nya. 

Tapi itulah yang membuat liburan kemarin berbeda! 

***

Kesan pertama ketika tiba di George Town, Ibukota Penang adalah: Bersih Banget. Hampir tidak ditemui pedagang kaki lima yang buka lapak sembarangan dan menganggu pemandangan. Lalu lintas yang teratur dan nafas kota wisata yang sangat terasa. Sama seperti Malaka, Penang juga kaya dengan bangunan heritage yang dijaga dengan baik. Bedanya, Malaka itu kental dengan bangunan Portugis sementara Penang sering disebut perpaduan tempat berpadunya tiga budaya sekaligus yaitu Inggris, Tiongkok dan Melayu dengan campuran budaya India yang kuat. Salah satu jalan di pusat kota dijuluki Harmony Street, karena di jalan ini berdiri gereja, kelenteng dan Masjid yang didirikan oleh muslim India. Kata driver kami, Penang bahkan lebih ramai di hari libur karena kunjungan turis, dibandingkan hari kerja.

Kami mampir ke beberapa tempat wisata seperti Museum Pinang Peranakan, Kek Lok Si Temple, Bukit Bendera, Armenian Street hingga Taman Kupu Kupu. Museum Pinang Peranakan akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.  

kupu kupu di Enthopia
kupu kupu di Enthopia

Tujuan pertama kami dihari kedua adalah Kek Lok Si Temple. Mungkin ini adalah salah satu kuil Budha terbesar di Asia. Bangunannya terletak di perbukitan dan untuk sampai di puncaknya, kita harus menumpang trem kecil. Kuil ini sangat megah, luas dan terkesan mewah.  Di salah satu sisi, terdapat jejeran batu berwarna kuning emas, yang nampaknya menjadi perlambang para dewa. Jalan menuju lokasinya memang berkelok kelok, kalo gak kuat bisa membuat mabok. Mirip-mirip deh sama jalanan menuju tulisan Hollywood di LA (Los Angeles bukan Lenteng Agung) Dan…Alhamdulillah, saya sudah beberapa kali gitu  ke LA (eh…intermezzo sombong dikit..). 

Kek Lok Si Temple
Kek Lok Si Temple

Kami juga melipir ke Bukit Bendera, Penang Hill. Saya pikir,  ini cuma perbukitan biasa. Ternyata kontur, lokasi, pemandangan bahkan trem-nya mirip dengan The Peak di Hongkong. Dari ketinggian sekitar 700 dpl, kita bisa melihat pemadangan Pulau Pinang. Keren banget! Sepertinya sih, ini juga salah satu peninggalan Inggris. Tempatnya dikelola sangat baik, bersih, rapih, modern dan meninggalkan kesan yang dalam. Di bukit ini saya belajar (serius amaat sih..), bahwa Malaysia sangat sangat serius mengelelola pariwisata-nya. Padahal dengan lokasi dan kontur serupa, saya yakin di Puncak atau Lembang bisa dibuat obyek yang sama.

view di Penang Hill
view di Penang Hill

Dari semuanya, saya paling terkesan dengan Armenian Street. Namanya memang berbau Rusia, tapi akulturasi tiga budaya tadi sangat kental terasa disini. Bisa dibilang inilah pusat turis di Malaka. Jalan kecil yang panjangnya kurang dari 500 meter ini, menyajikan gedung gedung tua cantik, kelenteng antik dan mural-mural yang jadi ciri khas Penang. Bangunan-bangunanya diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke18-19. Sebagian besar memang sudah direnovasi, tapi tidak membuang ciri khas lama-nya. Rumah-rumah toko bertiang kokoh berarsitektur Eropa, dibuat warna warni bervariasi. Ornamen-ornamen tiongkok menghiasi berandanya. 

satu toko unik di Armenian Street..
satu toko unik di Armenian Street..

Padahal nih ya,..mural-mural di Armenian Street itu biasa banget, entah kenapa jadi begitu tenar. Mungkin karena banyak foto (editan) yang viral yang kemudian mengundang orang untuk antre foto di satu lokasi.

antre foto depan mural yang tak seberapa...
antre foto depan mural yang tak seberapa…

Kalau saya lebih melihat Armenian Street sebagai bagian dari perkembangan peradaban. Harus diakui, Tiongkok adalah satu satu peradaban tertua di dunia yang membuat banyak keturunannya tersebar hampir di seluruh belahan dunia. Coba deh sebutin, mana sih kota besar di dunia yang tidak memiliki China Town? Penang pun memiliki China Town sendiri, namun Armenian menjadi lebih kaya karena berbagai budaya yang menjadi satu. 

Wefie Armenian Street
Wefie Armenian Street

Oya, secara gw “enganged” banget sama Aceh, di dekat Armenian Street ada jalan dan Mesjid Aceh. Memang disini banyak warga keturunan Aceh yang bermigrasi. Bahkan ada kampung nelayan yang isinya orang Aceh semua. Wajar karena itu tadi…secara geografis keduanya memang berdekatan.

blog8
Masjid Aceh

Soal kuliner, makanan paling tenar sejagad raya Penang namanya nasi kandar.  Awalnya saya kira, mungkin makanan ini dulunya dipopulerkan oleh Iskandar (ngarang banget….) hahahaha.. Kemudian tenar dengan nama Nasi Kandar. Ternyata saya salah!! Nasi kandar ibarat sebutan buat nasi padang, terdiri dari bermacam lauk pauk yang rempah dan bumbu Hindi-nya sangat terasa.  

antre nasi kandar
antre nasi kandar paling tenar se-Penang

Penang adalah penghasil durian terbesar di Malaysia. Gak heran deh bermacam-macam jenis durian dijajakan disini. Selain dibudidayakan, daerah pesisir Pulau Pinang sendiri adalah kebun durian original. Kami yang awalnya cuma pengen nyoba satu biji, keterusan hingga 3 biji. Enak sih.. Isi daging yang tebal, varian yang beragam, dari yang super manis hingga agak pahit semua tersedia. Yummy!

blog7 

Nah, bagian paling absurd neh, namanya jalan sama rombongan Ibuk-Ibuk, dilala gw lebih banyak jadi tukang foto. Yah, itung-itung cari pahala. Beneran, rombongan jalan-jalan kali ini foto-foto selfie dan wefie-nya bisa masuk MURI. Sampe-sampe foto landscape lokasi amat sangat sedikit, karena ternyata ponsel kamera saya penuh dengan foto wefie. Hahaha..

tukang foto karbitan..
tukang foto karbitan..

***

Terakhir, memang harus diakui, pariwisata kita harus harus belajar banyak dari Malaysia. Tahun lalu, pendapatan Malaysia dari Pariwisata  mencapai USD 21,8 miliar bahkan melampaui Singapura dan sangat jauh dari Indonesia yang hanya sekitar USD 9.8 miliar. Padahal destinasi wisata kita adalah yang terbanyak di Asia Tenggara. Malaysia mampu mengemas potensinya yang sebenarnya biasa-biasa saja dengan luar biasa. 

Tempat yang bersih, teratur, biaya yang murah dan masyarakat yang sudah sadar wisata menjadi kekuatan mereka. Satu lagi, mungkin promosi sih…yang membuat orang berduyun duyun datang kemari. Mau bicara promosi pariwisata digital, silakan buka Kama Digital Nusantara disini!

Ayooo..belajar dari Malaysia!

Hits: 1151

Kalau bisa dapat harga murah, kenapa harus beli yang mahal? Betul gak? Dengan frekuensi traveling yang cukup kerap, memesan hotel melalui internet menjadi pilihan saya beberapa tahun terakhir ini. Praktis, murah dan mudah. Lebih asyik lagi banyaknya situs yang menawarkan memesan kamar hotel secara online membuat harga makin bersaing yang tentunya akan menguntungkan kita sebagai pelanggan.

Nah, akhir-akhir ini dengan kondisi kantong yang mepet, hasrat buat liburan sulit terlawan. Iseng-iseng saya mengecek Pegipegi.com yang memang sudah jadi langganan Saya. Dari sekian banyak situs pemesanan hotel, harganya yang lebih murah dan pilihan hotelnya banyak. Bahkan hotel-hotel baru yang belum terdaftar di situs lain, sudah ada di Pegipegi.Com.  Tidak usah traveling jauh-jauh, saya sering sekedar mampir satu-dua hari untuk menyegarkan suasana ke kawasan Puncak di Bogor atau leyeh leyeh di Bandung. Beberapa waktu lalu saya malah memesan hotel di Semarang dan Yogyakarta untuk mampir sebentar setelah menghadiri sebuah pernikahan. Jadi lebih super irit lagi, karena Saya perginya rame-rame yang artinya bayar kamar pun bisa sharing. Duh, ini sih udah emak-emak tapi masih bergaya anak kos… Uniknya lagi, dengan menjadi anggota Pegipegi.com, kita terus mendapatkan potongan jika membagi pengalaman kita melalui situsnya. Never ending diskon deh!

 

jangan lupa piknik!
jangan lupa piknik!

Baru-baru ini saya diberi tahu oleh seorang teman tentang situs Paylesser.Com. Ternyata situs yang bermarkas di India ini sudah menjalin banyak kerjasama dalam bentuk pembelian voucher diskon dengan berbagai e-commerce di Indonesia. Dan salah satunya Diskon Voucher Pegipegi Indonesia. Yess!! Rejeki anak sholeh banget nih! Hehehe.. Jadi deh short escape saya bulan lalu di Bandung menggunakan Paylesser voucher juga.  Paylesser juga bekerja sama toko-toko online terkenal di Indonesia, tidak hanya pembelian tiket dan hotek untuk traveling. Jadi jangan khawatir, kita bisa dapet paylesser voucher untuk barang-barang yang mungkin selama ini kita idam-idamkan. 

payless1

Mau nyontek resep hemat ala saya?  Yuk, hunting Diskon Voucher Pegipegi Indonesia !! Cukup ikuti langkah-langkahnya. Sekarang lagi ada ada promo potongan hingga 50% di beberapa destinasi utama wisata di Indonesia. Plus bisa juga sekalian mencari potongan untuk beli tiket kereta api. Untuk pemegang kartu kredit dari beberapa bank, silakan juga dicek. Lumayan loh! Menghemat biaya traveling sama dengan kita bisa jalan-jalan sepanjang tahun. Yeay!!

payless2

Hits: 843

Satu setengah tahun yang lalu, saya sudah pernah merencanakan untuk mengunjungi Pantai Ora ini. Sudah siap tiket, tinggal packing tiba-tiba kepergian itu batal, karena saya harus mengikuti proses akhir pekerjaan yang sekarang. tentu saja keputusan mendadak itu membuat Ifan, sahabat saya kecewa berat. Tak disangka, satu bulan yang lalu, Ifan menawarkan lagi, untuk kesini.  Mumpung waktunya pas banget sama liburan, akhirnya bertepatan dengan hari kedua Idul Fitri, bersama tiga orang teman lainnya, kami pun meluncur ke Pulau Seram.

Di tulisan sebelumnya, saya sudah bercerita gimana melelahkannya untuk sampai ke Desa Saleman yang menjadi titik awal kami mengeksplore keindahan Pantai Ora dan sekitarnya. Tapi, baru mencium wanginya air laut saja, rasa capek akibat perjalanan lebih kurang 15 jam dari Jakarta, menguap seketika. Sungguh, Saleman membuat saya jatuh cinta.

fffff

Hari pertama, kami menginap di sebuah homestay penduduk yang sangat nyaman di Saleman. Keluarga Bang Andre pemilik “Moluccas Tour” homestay, bahkan yang mengatur seluruh akomodasi islands hoping, antar jemput ke Masohi plus menjadi guide kami selama disana. Lebih mantep lagi, karena makanan yang disajikan di homestay ini, super enak! Serius!! bahkan jauh jauh lebih enak dari makanan di Ora Resort. Hari kedua, demi merasakan “maskot” pantai ini kami pindah ke Ora Beach Resort. Memang harganya lumayan merogoh kocek, untuk seorang budget traveler seperti saya. Tapi apa yang kita rasakan dan temukan disana, dijamin spektakuler. Hanya ada kurang dari 10 cottage di atas air di resort ini. Harganya dihitung per orang bukan per kamar. Fasilitas yang didapat makan 3 kali, jika perlu bisa sekaligus dengan antar jemput dari dan ke Masohi plus pelayanan islands hoping di seputar Ora.

best home ever...
best home ever…

Di bawah kamar, ikan dori berenang bergerombol kesana kemari. Selama ini  semua  cuma saya lihat dari film animasi Amerika; Finding Dory. Di bagian lain sekelompok ikan bergaris garis yang dengan santai menghampiri manusia yang duduk di pinggir darmaga. Di tepi pantai, kumpulan ikan kecil-kecil seperti teri bisa ditangkap semudah menciduk air dengan gayung. Deuhhh kayaknya enak banget dibikin perkedel! Sepanjang mata memandang, air biru toska tanpa gelombang dan cuaca cerah membuat langit makin biru. Semua itu dilengkapi dengan latar belakang pemandangan bak kalender; bukit karang yang dipenuhi hutan tropis. 

hhhhhhh

Saya baru saja pulih dari sakit gejala typus ketika berangkat ke Ora. Namun, ketika melihat tenangnya biru laut, ada hasrat untuk segera menikmati air dan pemandangan bawah lautnya. Agak ragu-ragu juga awalnya, bukan karena gak bisa berenang dan nerpes (baca: nervous), tapi kepikiran sampai Jakarta harus makan lagi obat yang buanyakk. Namun seperti ada kekuatan magis akhirnya byurrr…nyebur juga! Lupa deh sama  yang namanya sakit! (Dont try this at home!)

IMG-20160710-WA0055

Islands hoping di Ora bukan cuma melihat indahnya taman bawah laut, tapi paket komplit dengan kontur atas lautnya. Tebing-tebing tinggi menjulang membentuk lekukan-lekukan eksotis dan gua-gua laut yang menantang untuk dieksplore. Ketenangan air laut Ora dan sekitarnya membuat siapa pun bisa menikmati sejuknya air laut disini. Tidak perlu khawatir ada ombak besar, bahkan di beberapa tempat, dasar laut yang dipenuhi pasir putih nampak jelas dari permukaan. Ibarat kolam raksasa yang menyatu dengan laut lepas.

must have picture..
must have picture..

Ada banyak spot yang menarik untuk islands hoping di Ora. Pada beberapa titik sudah dibangun semacam gazebo di tengah laut, sebagai titik awal snorkeling. Tebing tebing karang tinggi memanjakan mata dan sangat instagramable. Uniknya, banyak gua-gua di tengah tebing yang lautnya sangat dangkal dan asyik banget sebagai tempat berendam. Lokasi paling menantang adalah spot yang sering disebut “Gua Tebing”. Gua ini serupa kolam kecil berada di bawah tebing dengan kedalaman laut sekitar 6-8 meter. Untuk masuk kesini kita harus melewati bawah tebing, yang artinya harus menyelam beberapa detik dan harus super hati-hati, agar kepala tidak terbentur ujung bawah tebing. Kalau mau berfoto, harus diambil dari sisi lain, oleh orang yg sudah pengalaman, karena harus naik ke bagian tebing yang lebih tinggi dan menyerupai jendela. Hati hati ya!

Gua Tebing
Gua Tebing

Satu hal yang sangat otentik dari Ora adalah kandungan air tawarnya yang banyak. Mungkin karena dikelilingi banyak gunung, mata air tawar sebagai kebutuhan pokok jumlahnya sangat berlimpah. Tidak ada air payau sedikitpun. Ajaibnya ada satu mata air yang disebut penduduk sekitar; mata air Belanda. Letaknya tepat di pinggir pantai dan menyatu dengan air laut! Bayangin, di tengah gelombang pantai, ada air tawar yang melebur dengan air laut. Mata air besarnya hanya sekitar 10 meter dari tepi pantai, kita bisa mandi dan berendam disana. Lucunya suhu air tawar ini dinginn bangett, sangat kontras dengan air laut yang hangat. 

berendam di air tawar super dingin..
berendam di air tawar super dingin..

Duh,Tuhan, maafkan..saya hampir lupa.. kalau Engkau-lah Sang Maha Arsitek di muka bumi ini 🙂

Buat yang senang hiking atau treking, banyak lokasi cihuy yang bisa dijajal di Ora. Saya sempat ikut rute pendek, treking sekitar 10-15 menit di salah satu tebing. Memang semua tebing, lokasinya terjal dan berbatu tajam. Tapi, ketika tiba di puncak, huaaaaa… pengen rasanya gak pulang karena mata dan hati tidak henti-hentinya terkagum-kagum atas surga yang tersembunyi ini.. 

nongkrong cantik abis treking..
nongkrong cantik abis treking..

Terakhir, buat yang bertanya-tanya gimana kesini (sebenernya udah banyak yg nulis juga), ini saya kasih ancer-ancernya. Dari Jakarta naik pesawat ke Ambon (rata-rata via Makassar), ambil penerbangan malam agar bisa tiba di Ambon pagi harinya. Saya sarankan pilih penerbangan Garuda, harganya tidak beda jauh dari Lion namun yang pasti lebih nyaman, karena kita perlu saving energy yang cukup menuju Ora. Dari Bandara Pattimura, menuju Pelabuhan Tulehu (bisa sewa mobil) sekitar 30 menit lanjut menyebrang ke Pulau Seram dengan kapal cepat (hanya ada 2 kali sehari). Dari Pelabuhan Masohi di Pulau Seram masih perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk tiba di Saleman. Bagi yang suka mabok, siapin diri baik-baik..karena jalanannya berliku, meliuk-liuk, naik turun dan berbatu.  

Total tiket pesawat PP sekitar Rp2,5-3 juta PP. Kalau sendirian atau berdua, sangat disarankan ikut open trip alasannya biar lebih hemat, itinerary-nya jelas dan bisa dapat teman baru. Kalau mau pergi berkelompok, bisa arrange sendiri dengan kisi-kisi yang tadi saya jelaskan. Total jenderal siapin kocek yang “aman” sekitar 5-6 juta untuk perjalanan 3 hari 2 malam (plus satu malam perjalanan).

Kalau perlu bantuan, jemputan dan lain-lain, silakan kontak Bang Andre di 0853-54506962! Dijamin memuaskan!

 

 

 

 

Hits: 2011